Profil instastories

Menikah dengan Oh Sehun

Kejadian malam itu membuat hidupku hancur, aku ingin mati, aku sudah tidak kuat dengan hujatan dari keluargaku sendiri.

Aku memang sampah, aku tidak pantas hidup, aku hanya menjadi aib keluarga Kim, dan selamanya akan selalu begitu.

Amma maafkan aku telah membuatmu kecewa.

Apa yang akan orang pikirkan jika seorang gadis SMA tahun kedua hamil? Mungkin orang akan mengecapku anak nakal.

Jika aku berkata sejujurnya, bahwa yang menghamiliku adalah Sehun?
Mungkin orang akan menyebutku GILA.

"Dasar jalang! Sehun oppa adalah lelaki yang baik, dia tidak akan melakukan hal menjijikan seperti itu."

"GILA!"

"Bilang saja kau ingin menikah dengan Sehun oppa?! Hingga kau rela tiduri oleh lelaki lain dan setelah itu kau mengaku-ngaku jika anak yang kau kandung adalah anak Sehun."

"Kau menjijikkan! Kami tidak mau berteman dengan mu!"

"Jadi kau anak Tuan Kim si pengusaha sukses itu? Hhh Murahan"

"Ku harap wanita itu tidak mati di tangan para sasaeng fans"

"Kami akan membunuhmu. Jalang!"

Kalimat itu terus teringang di otakku. Saat membaca komentar-komentar di salah satu postingan media gosip. Aku tidak menyangka jika berita ini akan cepat sekali menyebar.

Aku takut!

Oh Sehun. Persetan dengan lelaki itu, dia seorang idol terkenal yang tidak punya hati. Memperlakukanku layaknya sampah setelah mengambil kehormatanku.

Semua berawal pada malam itu, malam ketika kota Seoul tengah bersalju. SM Entertaiment mengadakan konser tunggal bertabjuk Singing Of Winter.

Sekaligus untuk memperkenalkan album MV terbaru Sehun yang judulnya sama seperti tema konser, Singing Of Winter.

Walau harga tiket konser mahal, namun tetap banyak orang yang datang menonton, entahlah aku lupa berapa nominalnya yang jelas aku membeli tiket konser itu seharga uang menabungku selama 2 tahun.

Dan semata-mata semua itu kulakukan demi Sehun, lelaki yang pernah menjadi idolaku dan sekarang menjelma menjadi banjingan yang ingin sekali ku musnahkan.

Aku membencinya!

"Yoora, kau yakin akan mendatangi apartement Sehun oppa?" So Hyun bertanya padaku dengan ekspresi wajah murung, mungkin dia khawatir.

Aku lupa memberitahumu, Sehun adalah teman baik Kim Jong in~kakak kandungku, mereka satu agensi dan dulu menjalani masa trainee bersama. Jadi wajar saja kalau aku berani mengunjugi apartement Sehun.

Sebelumnya aku pernah ke apartement Sehun bersama kakakku. Aku tak tau apa yang mereka bicarakan, karena terlalu fokus memandangi wajah tampan Sehun.

Kali ini keputusanku salah! Harusnya aku tidak berkunjung sendirian.

"Aku yakin, aku ingin sekali berfoto dengannya. Kau tau aku ingin sekali memajang foto ku dengan Sehun di semua akun media sosial ku. Ahh, pasti aku akan dijuluki lucky fansgirl"

"Kim Yoora aku tau itu. Tapi ini sudah larut malam, kau masih pelajar, jika ada yang tau... Kau pasti akan dapat masalah" Sahut Hyun, masih berusaha mencegahku keluar dari mobil.

Aku menyesal tidak mendengarkan ucapan Hyun, aku terlalu keras kepala.

"Sudahlah Hyun, kau pulang saja dulu, sampai jumpa besok" Aku keluar dari mobil Hyun dan segera berlari memasuki apartement Sehun.

Aku berjalan menyusuri lorong apartement, mataku terus menatap nomor-nomor yang ada di pintu apartement.

Aku berhenti di depan pintu nomor 94, dan menekan bell yang ada dihadapanku.

Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Penampilan Sehun nampak kurang baik, rambutnya berantakan sedangkan pakaian yang ia kenakan masih sama seperti di konser tadi.

Tapi tetap saja tampan.

"Sehun~ah" Sapaku, melambaikan tangan.

"Kim Yoora, masuklah" Sehun sedikit menyingsing ke samping dan mempersilakanku untuk masuk.

"Kau tadi begitu menabjukkan Sehun, keren sekali" Puji ku seraya menjatuhkan bokongku di atas sofa.

Sehun duduk di sampingku, ia menatapku dengan tatapan aneh yang sulit diartikan. "Oppa kau kenapa? Ada yang salahkah denganku?"

"Kau cantik" Pipiku sontak memerah karena ucapan Sehun. Aku memang sudah sering di bilang cantik oleh orang-orang. Namun entah mengapa hatiku merasa senang dan malu saat Sehun yang mengatakannya.

"Gomawo Sehun~ah"

Sehun meletakan kedua tangannya di atas bahuku. Manik mata kami saling bertautan, aku seperti terhipnotis.

Aku merasa sebuah benda kenyal menyentuh bibirku, keparat! Sehun menciumku, ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi kasar. Dia membuatkan tak berdaya.

Aku melenguh saat ciuman itu turun ke leher. Benar-benar seperti terhipnotis, aku sama sekali tidak melawan, aku diam dan mengikuti setiap permainan Sehun.

"Sehun. Hentikan!" Aku menempelkan kedua telapak tanganku di depan dada bidang Sehun dan mendorongnya sekuat tenaga.

Namun gagal, kekuatanku tidak sebanding dengan kekuatan Sehun.

Sehun tidak menghiraukan, ia terus bermain-main dengan leherku. Sedangkan salah satu tangannya masuk ke dalam sweeter ku, meremas lembut aset berhargaku yang masih terbungkus bra.

Aku terlonjak, saat bibir Sehun kembali melumat bibir ku. Aku bahkan tidak sadar, jika tangan Sehun sudah berada di punggungku dan melepas kaitan Bra.

Sehun meremas aset ku lagi, kali ini kasar hingga membuatku melenguh beberapa kali.

Aku menutup mataku, Sehun benar-benar membuatku tak berdaya.

Mataku kembali terbuka, sejak kapan aku berada di atas ranjang? Entahlah aku tidak tahu. Sehun mencium keningku, melepas sweeter yang ku kenakan lalu menindih tubuhku yang sudah polos tanpa satu pun benang.

"Maaf aku tidak bisa berhenti" Bisik Sehun samar-samar.

Setelah itu semua terlihat gelap, aku tidak tahu apa yang terjadi setelahnya.

Yang pasti, Sehun telah membuatku hamil, dan aku membenci kenyataan ini. Aku membenci anak yang ada di rahim ku. Kau tau nak? karena kau mama menderita!

"Yoora, kau harus makan. Sudah seharian ini kau belum makan, aku mengkhawatirkanmu" Aku menoleh ke arah sumber suara.

"Aku tidak lapar oppa"

Aku memiringkan tubuhku, membelakangi Jongin yang duduk di sisi ranjang.

Maafkan aku Jongin, maafkan adikmu yang kotor ini. Maaf aku telah mengecewakanmu.

"Aku akan selalu ada untukmu Ra, ini bukan salahmu, ini salah ku yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Aku sayang padamu Ra, tolong jangan begini.... Aku mohon".

"Aku akan melindungimu dari mereka Ra, kalau perlu aku akan menjebloskan laki-laki brengsek itu ke penjara".

"Kita besarkan anak yang ada di rahim mu bersama-sama" Jongin mengakhiri kalimatnya, lalu mencium pelipisku.

Air mataku kembali menetes, ucapan Jongin menohok hatiku. Ternyata aku salah, aku tidak sendiri, aku masih mempunyai Jongin.

Jongin maafkan aku.

Tapi ini tidak semudah yang kau bayangkan, aku rapuh, aku lemah dan yang ingin ku lakukan adalah mengakhiri penderitaan ini.

"Terimakasih oppa"

"Kau makan ya?" Tawar Jongin lagi, aku pun mengangguk pelan.

Jongin menuntunku ke ruang bawah menuju meja makan. "Tunggu disini, aku akan membuatkanmu bubur".

Tidak, aku tidak ingin makan bubur, itu membuatku merasa semakin mual. Aku segera mencekal tangan Jongin, "oppa aku ingin makan apa yang ada di meja makan saja"

"Kau harus makan bubur Ra, kau sedang sakit"

"Aku tidak sakit, aku lapar cepat suapi aku" Aku menarik lengan Jongin agar duduk di sampingku.

"Arasso adik kecil" Jongin tersenyum manis.

***


Amma dan appa, dua orang yang ku sayang itu tiba-tiba mengajakku jalan-jalan. Aku sedikit merasa lega, karena mereka sudah tidak marah lagi padaku.

Aneh memang, mereka tiba-tiba bersikap manis padaku padahal kemarin mereka baru memarahiku habis-habisan.

Pipiku juga masih lebam karena tamparan keras appa, dan hatiku juga masih sakit karena perkataan kasar yang amma katakan.

Tapi ya sudahlah lupakan saja, yang penting sekarang mereka sudah tidak marah padaku. Aku bersyukur.

Amma membelikanku pakaian baru, sebuah dress selutut berwarna merah. Lalu mempoles wajah ku dengan make up tipis. Sebenarnya mereka akan mengajakku kemana?

Apa mereka akan mengajakku ke pesta? Aku masih menerka-nerka.

Mobil appa memasuki pekarangan rumah yang entah milik siapa, mungkin lebih pantas disebut dengan istana. Huh, rumah ini begitu besar dan mewah, dinding-dindingnya berwarna putih. Terlihat bersinar saat diterpa sinar matahari.

"Amma ini rumah siapa?" Tanyaku pada Amma setelah menginjakkan kaki di teras rumah tersebut.

"Nanti kau juga akan tau"

3 pelayan wanita mengarahkan kami untuk masuk ke rumah itu.

Amazing!


Aku terpukau dengan arsitektur rumah yang begitu mewah. Aku menjadi penasaran siapa pemilik rumah ini, mungkin pemiliknya adalah seorang miliader.

"Annyeonghaseo"

Aku sontak menatap ke arah sumber suara. Dadaku terasa sesak, kakiku lunglai dan mungkin sebentar lagi tubuhku akan terjatuh.

Mengapa wajah itu kembali muncul dihadapanku? Sehun, lelaki itu bahkan masih bisa tersenyum lebar setelah apa yang ia lakukan.

Aku takut, Jongin tolong aku.

"Mulai sekarang kau tinggal bersama Sehun" Kata appa.

"Aku tidak mau, aku mau tinggal bersama kalian saja"

"Kau mengandung anak Sehun, jadi kau harus tinggal bersama Sehun. Untuk urusan pernikahan biar appa yang mengurus" Appa tersenyum simpul.

"Amma...." Aku menatap amma, aku yakin amma tidak akan tega membiarkan aku tinggal dengan lelaki brengsek itu.

"Sehun jaga Yoora dan cucuku ya" Sehun terlihat mengangguk.

"Baiklah, kami pulang dulu. Jaga dirimu sayang" Appa mencium singkat keningku.

Aku menatap punggung appa dan amma yang mulai menjauh, rasanya sakit sekali, aku kira mereka akan melindungiku, tapi kenyataannya mereka malah menyerahkanku pada Sehun.

Andai Jongin ada disini, pasti dia akan melindungiku. Tapi sayangnya, kakak tercintaku itu sedang ada di Cina untuk 3 bulan kedepan.

Kim Jongin, bisakah aku bertahan selama 3 bulan di rumah ini?

Bolehkah aku membenci appa dan amma ku sendiri?

"Kau mau makan?" Tanya Sehun. Aku menggeleng tanpa menatap matanya.

"Saat sedang berbicara kau harus menatap mata lawan bicaramu" Dari nada bicara Sehun dia terlihat kesal, tapi aku tidak peduli.

"Aku mau istirahat" Final ku, lagi-lagi tanpa menatap Sehun. Aku sudah terlalu muak dengan Sehun.

Sehun menyuruh seorang pelayan wanita untuk mengantarku ke kamar.
Aku berjalan mengikuti langkah pelayan itu, hingga sampai ujung tangga Sehun kembali memanggilku. "Yoora..."

Aku hanya balik badan dan menatapnya, tanpa berniat untuk menjawab.

"Malam ini tidurlah bersamaku, ada hal yang ingin ku bicarakan"

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani