Profil instastories

Lahir 18 April, lulusan sarjana pendidikan sastra Indonesia, IKIP Surabaya. Menulis dalam genre puisi, cerpen, esai/opini/artikel bertema sejarah, sastra, budaya, pendidikan, dll. Telah menerbitkan beberapa buku baik buku puisi atau buku referensi. Pernah mendapat penghargaan di bidang penulisan di tahun 2010, 2013, 2016. Sekarang tinggal di Ngawi. Sambil sesekali menjadi guru di beberapa SMA.

MENGAPA HARUS MENULIS DAN MEMBACA?

Menulis kreatif, juga menulis dalam bentuk lain, tak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca. Menulis dan membaca adalah sepasang suami isteri. Betapa merananya seorang suami dipisahkan dari isterinya, juga demikian dengan sang isteri ia akan tersiksa sepanjang hidupnya. Sebagai suami isteri, aktivitas membaca dan menulis tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. Tidak mungkin kita bisa menulis tanpa melalui aktivitas membaca. Demikian juga dengan aktivitas membaca, segala hal yang kita baca, yang kita tumpuk dalam otak kita dari hasil pembacaan tidak akan berguna bagi orang lain kalau kita tidak menuliskannya.

  Dalam realitasnya, bangsa kita belum menjadi bangsa yang memiliki tradisi baca dan tulis yang baik. Bangsa kita masih jauh dari reading society dan writing society, padahal  dua hal tersebut ( tradisi baca dan tulis) merupakan syarat yang harus dimiliki oleh masyarakat yang kompetitif di era global.

Dari berbagai penelitian dan berbagai sumber statistik nasional dan internasional bisa diketahui bahwa kemampuan membaca dan menulis di kalangan akademis kita, baik di sekolah menengah maupun pendidikan tinggi,  masih sangat rendah. Dalam masyarakat kita bahkan ada sebuah anggapan bahwa membaca dan menulis adalah aktivitas yang menjemukan. Hal tersebut menunjukkan bahwa membaca dan menulis belum menjadi tradisi di masyarakat  kita.

 Mengapa kita harus menulis dan membaca? Sebegitu pentingkah aktivitas menulis dan membaca bagi kehidupan kita?

Banyak alasan mengapa kita harus menulis. Ada alasan filosofis, praktis, ekonomis, idealis bahkan  klinis (kesehatan).    

Sebagai alasan filosofis marilah kita lihat apa yang disyaratkan oleh Al Quran surah Al ‘Alaq: Bacalah dengan menyebut asma Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tak diketahuinya. Pada ayat tersebut, diksi bacalah diulang sampai dua kali (pada kalimat pertama dan kalimat kedua), dan selanjutnya pada kalimat keempat diikuti dengan kata pena (Al Qalam). Perintah membaca pada ayat tersebut jelas dan konkret. Diksi perintah membaca tersebut jelas menunjukkan bahwa membaca hukumnya wajib bagi umat manusia.

Ibnu Duraid seorang cendikiawan dan sufi Islam yang masyhur pernah bersyair: kalau semua orang rekreasinya adalah biduanita, juga gelas yang dituangkan dan ditenggak maka hiburan dan rekreasi kami adalah, berdiskusi dan menelaah kitab. Dari syair di atas Ibnu Duraid menegaskan bahwa tempat rekreasi yang paling indah itu adalah membaca. Kalau kita bayangkan, jika semua orang Indonesia menjadikan buku sebagai tempat rekreasi dalam hidupnya, maka dapat dibayangkan kualitasnya.

Aktivitas membaca selalu dipersandingkan dengan aktivitas menulis (demikian juga sebaliknya) sebagaimana yang tersirat dalam surat Al ‘Falaq di atas yang menyandingkan membaca dengan pena (kalam): yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Ayat tersebut  menyimbolkan bahwa kemampuan menulis sebagai salah satu sarana pembelajaran. Diksi pena (kalam, menulis) dalam surat tersebut menekankan proses dialogis dalam pembacaan sebelum terekspresikan dalam tulisan.

Secara filosofis jikalau budaya membaca telah tercipta maka budaya menulis pun akan segera tercipta. Kedua aktivitas tersebut akan membawa kita dalam kehidupan yang lebih baik dan lebih bermartabat.

Dalam bukunya Writing with a Purpose, Joseph  F. Trimer, mengetengahkan sebagai kelanjutan aktivitas membaca adalah aktivitas menulis yang sangat berperan dalam masalah psikologis atau kejiwaan. Dalam sudut pandang klinis dan psikologi, menulis adalah  “kesempatan” yang memungkinkan seseorang mengekspresikan diri, menyampaikan ide, dan menanggapi orang lain. Dengan menyusun dan mengorganisasikan ide serta mendapatkan kata-kata yang tepat untuk mengekspresikan diri akan memberikan kekuatan diri. Kekuatan untuk percaya diri dan memiliki kemampuan mengatasi tekanan emosi, karena kesumpegan  di dada tercurahkan dalam tulisan.

Pennebaker dan Seagal, dalam sebuah jurnal psikologi klinis internasional menulis sebuah artikel berjudul Forming a Story: The Health Benefits of Narrative,  menyatakan bahwa menulis sebuah pengalaman pribadi yang penting secara emosional hanya dengan 15 menit selama tiga hari membawa perbaikan di bidang kesehatan mental dan fisik. Tulisan dalam jurnal tersebut lebih lanjut menguraikan bahwa mereka yang menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam mengenai pengalaman traumatis dalam hidup, melepaskan dan mengeksplorasi emosi mereka, secara drastis dapat mengurangi beban emosi. Dengan menulis, suasana hati akan lebih baik dan menciptakan cara pandang hidup yang lebih positif.

Hal yang senada, diungkapkan oleh Baikei dan Wilhem dalam sebuah tulisannya Emotional and Physical Health Benefit of Expressive Writing, bahwa menuliskan peristiwa-peristiwa traumatis, penuh tekanan, dan emosi bisa menghasilkan perbaikan kesehatan fisik dan mental. Dari hasil penelitian mereka, peserta yang rutin menulis mengalami perbaikan hasil yang bermakna terhadap kesehatan fisik dan mental dibandingkan mereka yang malas menulis.

Beberapa waktu lalu, sekitar tahun 1998-an, penulis pernah bertemu dengan seorang cerpenis senior dari Surabaya, bernama Moeslindong. Beliau bercerita bahwa dia pernah mengalami sakit yang parah. Oleh dokter, ia ditanya apakah memilki sebuah hobi. Di jawabnya bahwa ia dulu pernah memiliki kesukaan menulis. Dokter itu menganjurkan agar ia kembali menulis. Setelah menekuni kembali hobi menulisnya ternyata ia kembali sehat.

Dari sudut ekomomis bisa kita lihat dari situasi berikut. Saat ini adalah era global yang memacu peradaban manusia memasuki dunia informatika yang tak terbatas. Kebutuhan akan informasi-informasi dan pengetahuan baru sudah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat global. Perkembangan informatika ini menunjukan pula indikasi adanya perluasan kesempatan kerja, terutama yang berkait dengan media massa cetak. Dengan kata lain,  tumbuh pesatnya kebutuhan  informasi-informasi baru menyediakan lapangan kerja yang luas yaitu kerja penulisan.

  Dunia media massa berhasil mewadahi segala bentuk kerja yang berkait dengan dunia kepenulisan. Industri media massa berkembang dengan amat pesat sejalan dengan luasnya kebutuhan informasi dan pengetahuan masyarakat global. Industri media massa muncul sebagai salah satu bentuk industri raksasa yang memunculkan berbagai peluang bisnis. Jumlah oplah media massa, baik surat kabar harian, majalah, tabloid, dan sebagainya, terus meningkat dari tahun ke tahun.

Media massa surat kabar misalnya, pada tahun 1977 di seluruh Indonesia hanya beroplah 2 juta eksemplar namun di tahun 1980 melonjak menjadi 4,5 juta. Di tahun 2000 menjadi 7 juta, dan diperkirakan pada tahun 2010 nanti mencapai angka lebih dari  12 juta. Pada catatan akhir tahun 2011, Dewan Pers mencatat sebanyak 564 media massa cetak yang terbit di Indonesia, dan jumlah ini akan terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Jumlah tersebut masing-masing terdiri atas 305 surat kabar harian, 132 tabloid dan 127 majalah.

Peluang ini merupakan awal pekerjaan yang baik bagi kita semua yang bisa melakukannya. Sebagaimana yang diungkapan oleh John Keats, "Menulis yang baik adalah awal pekerjaan yang baik..." Dengan kata lain, tidaklah kita dapat membaca peluang (meminjam istilah Pamudji MS) untuk berwiraswasta jadi penulis ?.

Diungkapkan oleh Zaenuddin HM dalam bukunya, "freelance Media: Cara Gampang Cari Uang", honor sebuah tulisan artikel atau opini (atau tulisan lain) di koran-koran, tabloid atau majalah yang sudah mapan dan terkenal berkisar antara Rp. 300.000 sampai Rp. 750.000 per tulisan. Penulis cerita pendek honornya antara Rp. 750.000 hingga Rp 1.000.000 per cerita. Sedangkan honor tulisan di majalah-majalah perempuan atau remaja, besar honornya berkisar antara Rp. 200.000 hingga Rp. 600.000. Sebuah puisi biasanya dihargai Rp. 100.000 hingga Rp. 500.000. Tentu untuk mendapatkan honor yang besar bia­sanya tergantung dari siapa kita dan media mana tempat kita mengirimkannya. Pada media massa lokal, honor biasanya lebih kecil, antara Rp. 60.000 hingga 150.000. Namun, jika kita rajin menulis dan dimuat, tentu honor tetap bisa besar, apalagi jika  sudah menjadi seorang ahli, sudah memiliki nama jual (brand name). Seorang pengamat politik, pakar ekonomi atau pemerhati masalah-masalah sosial, bila menulis artikel/esai di surat kabar atau majalah nasional, bisa mendapatkan honor Rp. 1.500.000. Semakin besar nilai jual dan terkenal seseorang, semakin besar pula honor yang akan diterimanya. Untuk tulisan pesanan konon honornya mencapai Rp 2.000.000 hingga Rp  3.000.000 per tulisan. Tentu jumlah yang tidak sedikit!

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani