Profil instastories

Menantu Abal-Abal

Dosa nggak sih, ngeracunin mertua yang ikut campur mulu urusan rumah tangga anaknya? Kalau nggak dosa, aku mau ngasih sianida di minuman ibu mertua. Sayangnya sianida itu tidak bisa dibeli bebas, ya.

Kalian tahu? Dia sok banget jadi teman dekat gitu. Okelah kalau teman yang menyenangkan. Nah, ini. Dia itu bisanya mengkritik apa saja yang aku lakukan. Mulai cara berpakain, cara memasak sampai cara tidur dengan anaknya. Harus ikut caranya dia. Gila, ya!

Nah, sekarang aku mau masak untuk buka puasa nanti. Lihat, ya! Ntar si Catwoman pasti datang ngeresuhi. Tuh, benar! Dia udah melenggang-lenggong ke arah sini.

 

"Eh, eh. Kok, motong sayurnya gitu."

Tuh, sampai cara memotong sayur pun harus versi dia.

 

"Ya, udah. Ibu aja yang potong."

 

"Kamu mau jadiin ibu pembantu di rumah anak sendiri?"

Aku menarik napas pelan. Diam mungkin lebih baik. Bukannya aku sabar, hanya saja sekarang bukan waktu yang tepat untuk ribut. Mending masak daripada adu mulut sama mertua yang aduhai itu.

Dengan tenang aku pun memotong sayur versi dia. Biar dia diam. Eh, nyatanya aku salah. Dia malah marah-marah karena aku mendiamkannya. Telingaku sampai sakit karena ocehannya yang super puanjang. Mungkin aku butuh headset buat nyumbat kuping. Biar aja dia ngoceh sampai mulutnya berbusa, asalkan telingaku nggak sakit.

"Gini-gini saya ini ibu mertuamu. Jangan kurang ajar, ya. Kalau bukan karena perempuan dihadapanmu ini, suamimu yang ganteng itu nggak akan sesukses sekarang. Saya yang mendidik dia. Saya selalu mendoakan dia. Lah, sekarang istrinya berlaku kurang ajar pada saya."

Aku menghentikan aktifitas memotong sayur. Penginnya sih tak tancapkan saja pisau dalam genggamanku di mulutnya. Biar mulutnya berhenti mengoceh. Sayangnya, aku takut dicerai kalau berani melakukan ini. Duh, jadi janda itu bukan cita-citaku. Jadi, yang kulakukan hanyalah menatap mata mertua.

"Siapa yang mau kurang ajar sama Ibu, sih? Ibu aja kali yang curigaan mulu."

"Kamu ngebantah saya?"

Diam salah. Ngomong salah. Lalu aku harus ngapain? Kalian tahu, aku ini bukan menantu baik hati dan selalu sabar. Biasanya aku membalas ocehannya dengan kata-kata yang lebih tajam. Namun, tidak untuk hari ini. Aku tidak ingin berdebat dengannya. Aku berdiri dan meninggalkannya yang masih ngoceh.

Lupakan saja urusan masak. Mending ke kamar ambil dompet dan pergi ke pasar Ramadhan. Beli sayur matang aja. Percuma juga aku masak dengan mood jelek, ntar berpengaruh pada rasa masakan. Disalahkan lagi nanti.

Tiba di kamar, suamiku yang ganteng senyum-senyum nggak jelas. Wajah cemberutku tambah kusut. Aku tahu dia mau menggodaku. Kalian tahu, suamiku ini tahu segalanya dengan perilaku Ibu. Namun, dia nggak berpihak pada salah satu di antara kami. Pernah dia ngakak saat aku dan ibu berantem.

"Jangan cemberut gitu. Mukamu yang jelek tambah jelek."

"Ih, kamu ngatain aku jelek? Kamu punya selingkuhan yang lebih cantik, ya?"

Dia malah ketawa kencang banget. Aku ingin menjambak rambutnya. Punya suami ganteng, tapi kelakuan gini amat. Aku mendengus lalu duduk di tepian ranjang. Dia mendekat setelah menyelesaikan tawanya. Dia duduk di sampingku. Tangannya membelai rambutku. Hatiku mendadak hangat. Mood-ku yang jelek tadi sudah melayang entah kemana.

"Minta duit. Aku mau beli sayur mateng aja. Nggak jadi masak."

"Emangnya kamu bisa masak? Biasanya juga kita beli di pasar. Kamunya aja yang sok-sokan masak tiap Ibu berkunjung ke sini."

Aku terdiam. Sadar diri kalau aku yang bersalah di sini. Pantas saja ibu ngerusuh mulu. Lah, cara potong sayur aja nggak tahu.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani