Profil instastories

Ig:@chahikmah_nr wp:@pigeonmaa_

Me And You

❤Me[n]You❤

. .

"Persahabatan akan indah jika kita saling mengetahui kekurangan, namun itulah yang nantinya akan menjadi penguat sebuah persahabatan."

. . .

                     

                     

What! apa, Dad? aku harus nikah? ohh Good. Aku muak dengan semua ini." Monella berlalu menuju pintu keluar, mengabaikan papanya yang masih terdiam.

Mobil hitam mewah terparkir cantik di halaman rumahnya. Seakan seperti ABG yang tengah patah hati, Monella melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Klapson yang dibunyikan oleh beberapa mobil diabaikannya begitu saja.

Pejalan kaki yang terlihat ingin menyebrangpun lebih memilih menyingkir ketepi jalan, sebelum nyawa yang melayang. Marah, kesal, sedih, semuanya menjadi satu dalam raga seorang gadis yang tengah berada dibalik kemudi.

Gimana rasanya? ketika orang yang kita anggap pahlawan, malah membuat orang yang kita sayang menangis, karena pengkhianatan. Hati ini rasanya hancur. Ingin marah namun tak berdaya, tak ada pilihan lain selain diam dan memendam amarah.

Brukkkkkkk

☆☆☆☆

Drtttt....drtttt....

"Apa pak? Dia baik-baik sajakan? saya segera kesana pak." Panggilan terputus, bersamaan dengan napas yang tercekat. Dia segera berlari menuju parkiran untuk mengambil mobilnya.

Jalan yang lenggang, memudahkannya dalam mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Detak jantungnya tak beraturan lagi, Sungguh berita yang begitu buruk dihari ini.

Derap langkah kaki beradu dengan lantai putih-menyisakan keheningan. Wajah putihnya menampakkan kekhawatiran penuh, Namun sebisa mungkin ia samarkan dengan senyuman.

"Monel! Kamu nggak apa-apakan? ish lagian bawa mobil kebut-kebutan, jadinya gininih. Dasar!" Ocehan demi ucehan terus Deyra lontarkan. Namun tak ayal terselip kekhawatiran.

"Berisik! Mending kamu nggak usah datang aja deh Ra. Kuping aku sakit dengar ucehan kamu." Monella membalikkan tubuhnya, membelakangi Deyra.

Deyra. Dimana ada Monella, disitu ada Deyra. Layaknya saudara kembar, mereka tidak pernah terpisahkan. Tidak di kantor, tidak dimanapun mereka selalu berdua. Benar-benar kembar.

Namun sifat mereka sungguh bertolak belakang. Deyra termasuk orang yang suka gonta-ganti pasangan, katanya biar pas nyari suami tidak salah pilih. Sedangkan Monella? jangankan mau gonta-ganti pasangan. Dekat cowo aja udah bikin dia marah-marah, Eitss kecuali bosnya. Garis bawahi, kecuali bosnya ataupun atasan-atasannya saat Di kantor.

"Ish teman apaan ini. Dijenguk malah ngusir, mending mati aja sono."

"Iya entar aku cari tali buat gantung diri." Ketus Menolla.

"Nggak usah capek-capek.  Nih ada pisau buah, tajam kok." Deyra dengan tampang tak polosnya menyodorkan pisau buah Ke hadapan Monella.

"Teman nggak ada akhlak. Mending kamu beliin aku minuman dingin gih di kantin."

"Sakit aja masih nyusahin, gimana kalau sembuh coba?" Tidak mau mendegar ocehan Monella yang kelewat warasnya, Deyrapun memilih pergi, menuju kantin.

☆☆☆☆

"Aww......."

"Eh. sorry ya, tadi nggak liat kalau di belakang ada kamu."

Deyra masih berusaha membersihkan sisa makanan yang tumpah dikemejanya.  "Harusnya lia-" kata-katanya menggantung begitu saja, ketika matanya bersitatap dengan pemilik mata brown yang tengah berdiri didepanya.

"Sekali lagi maaf ya, nanti saya ganti kemeja kamu dengan yang baru."

"Eh. Nggak apa kok, lagian ini juga cuma noda kecil mudah hilang kok." Deyra mengerling kearahnya. Membuat lelaki itu terdiam.

Suara dering telepon terdengar disaku kemeja hitamnya. Tak menunggu waktu lama, iapun mengangkatnya.

"...."

"Oke. Aku segera kesana."

"...."

Sambungan terputus. Menyisakan keheningan diantara keduanya. Helaan napas terdengar begitu berat, hingga memunculkan rasa penasaran dalam benak Deyra.

Diliriknya arloji yang melingkar ditangan kirinya, handphone yang tadinya ia pengang kini ia kantongi lagi. Mata Deyra tak lepas dari semua gerak gerik yang lelaki itu lakukan.

"Hmm. Maaf, sepertinya saya harus pergi dulu. Ini kartu nama saya, nanti kamu sebutin saja berapa nominal yang kamu butuhkan untuk mengganti kemeja kamu ini." Dia berlalu. Tanpa menunggu balasan dari Deyra.

Seakan teringat sesuatu, Deyra menyusul lelaki itu.

"Tunggu! nama kamu siapa?"

Lelaki itu menghentikan jalannya, namun tak membalikkan badannya. "Nama saya sudah tertera di sana." Ia kembali melanjutkan langkahnya.

"Areemo." Gumam Deyra.

Deyra memukul keningnya. "Astaga Monel!" ia bergegas kembali keruang inap Monalla, tanpa membersihkan kemejanya yang kotor.

"Ra, ra. Kamu beli minimun di negara mana sih? lama banget." Cetus Monella.

"Bawel amat dah. Harusnya bersyukur sudah aku beliin. Oh iya, tadi aku ketemu cowo ganteng tau. Aduh dikasih kartu namanya lagi, liat nih." Deyra memperlihatkan sebuah kartu berwarna gold kearah Monella dengan begitu senang.

"Halah. Paling kayak cowo-cowo kamu yang lainnya, brengsek semua." Sindir Monella.

Jleb.

Deyra bungkam. Namun hanya sebentar, ia kembali berucap, "Aku jamin, kalau yang ini itu beda sama cowo-cowo aku sebelumnya."

Monella memutar bola matanya malas. Tak ingin mendegar ocehan ngawur Deyra, ia lebih memilih menyibukkan diri membuka kaleng minuman dingin.

"Hallo Monel. Aku dengar kamu kecelakaan, makanya aku kesini buat jenguk kamu. Ini buat kamu, semoga cepat sembuh ya." Sevano Lion Georgeo, CEO dari perusahaan Lion Geor's-tempat Monella dan Deyra bekerja. Monella sudah tahu kalau CEO muda ini tengah menyukainya, namun berkebalikan dengannya.

"Bapak kok tidak mengabari saya kalau mau kesini?"

Vano mengembuskan napasnya pelan, "Aku sudah kabarin kamu Monel, tapi kamu nggak read . Cek aja."

Monella buru-buru mengecek ponselnya. Damn it! dia benar. 5 panggilan tak terjawab, dan 10 pesan masuk yang isinya hampir sama semua, Monel kamu kecelakaan ya? aku mau jenguk kamu ya.

Vano menyilangkan tangannya, menunggu Monel bicara. Namun hanya cengiran tak bersalah yang Monel tampilkan.

"Maaf pak. Ponsel saya mati tadinya, jadi nggak tau apa-apa."

"Akukan sudah bilang kalau diluar kantor jangan pakai bahasa formal. Ah sudahlah, lupakan. Gimana keadaan kamu sekarang?"

"Baik-baik aja pak."

"Oh. Syukurlah. Oh iya Deyra, kamu sudah kasih laporan yang kemarin sama pak Sonio?"

"Belum pak, tadi pas dengar kabar kalau Monel kecelakaan saya langsung kesini, jadi lupa ngasih bapak laporannya. Nanti habis ini saya langsung kirim kebapak."

Deyra dan Vano terlibat perbincangan urusan kantor, membuat Monel bernapas lega. Mampu terlepas dari yang namanya Vano, walaupun hanya sehari.

"Syukurlah." Kahakan, 29 Juni 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.