Profil instastories

MAWAR UNTUK AISYAH

Cepen NURWAHIDAH

 

MAWAR UNTUK AISYAH

Rasa sayang itu tumbuh direlung hati  menghiasi tiap mimpi yang pernah ada, sejak rambutmu masih dikepang dua dan berponi sejajar alis tebalmu.

Kening Restu berkerut, mengingat Aisyah, gadis kecil berkulit hitam manis itu kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik dan mempesona setelah delapan tahun meninggalkan kampung halaman, mengikuti ayah yang betugas di kota sebagai pegawai, saat itu Restu masih duduk di bangku SMP dan sekarang baru saja lulus kuliah dan kembali ke kampung hendak mempergunakan ilmunya untuk kesejahtraan  masyarakat di desanya.

Sungguh! Restu sempat terkesima melihat Aisyah yang dulu sering dia cubit pipinya dengan gemas, kini berubah menjadi gadis cantik, dengan bola mata coklat kucingnya yang mempesona. Ah! Aisyah, dari semenjak rambutmu dikepang dua dengan poni lurus sejajar alis tebalmu itu aku sudah punya mimpi tentangmu, entahla ... Terdengar sangat lucu dan naif bila gadis berumur lima tahun waktu itu sudah ada cowok bau kencur yang menaruh simpati. Tapi kini, Restu sudah kembali  setelah delapan tahun berlalu ....

     "Aisyah ..." 

Teguran Restu memaksa gadis yang sedang berjalan sendiri itu menoleh pelan, setelah dilihatnya seorang cowok berkacamata hitam keluar dari mobil putih sambil melepas kacamatanya dengan senyum sumringha mendekati Aisyah.

"Siapa, ya?"

Aisyah memicingkan mata seperti sedang berusaha mengingat-ingat seseorang.

"Aku Restu, Aisyah,"

"Restu?"

Aisyah balik bertanya setelah memorinya gagal mendeteksi cowok gagah di depannya  yang begitu mengakrabinya seperti orang sudah sangat kenal lama.

"iya, Restu, anak tante Linda yang ngajar kamu di sekolah TK dulu."

Aisyah tersenyum, memperlihatkan sederet gigi putih tertata rapi, gadis itu manggut-manggut seolah paham maksud Restu, padahal gadis itu hanya berusaha membuat cowok jangkung  yang ada di depannya  tidak merasa canggung, apalagi Aisyah menolak tawaran Restu untuk mengantarnya pulang. Gadis itu lebih memilih jalan kaki di bawah terik matahari sepulang sekolah SMK yang berjarak setengah kilometer dari rumahnya.

Restu menggaruk kepalnya yang tak gatal setelah membiarka Aisyah berlalu dari hadapannya, detik berikutnya  cowok jangkung itu membelokkan mobilnya ke arah  berlawanan dengan jalan yang di tempuh Aisyah, diinjaknya pedal gas dengan kencang, sedikit kecewa menyelimuti perasaannya, tapi Restu tidak putus asa akan ada saat dimana perasan itu bisa terungkap kepada Aisyah. Sungguh, sekarang Restu merasa telah jatuh cinta kepada gadis bermata coklat kucing itu. Berusaha dicarinya kesempatan supaya bisa bertemu Aisyah dan menyampaikan isi hati terdalamnya, hingga suatu hari dengan tampa sengaja Restu melihat Aisyah sedang duduk di taman seorang diri, entah apa yang dilakukan gadis itu. Bergegas turun dari mobil dan berjalan pelan kearah Aisyah yang sedang asyik menyeruput segelas jus anggur yang baru saja dipesan kepada pengelola taman. Ditangannya tergenggam sekuntum mawar merah untuk Aisyah sebagai ungkapan perasaannya. Cowok jangkung itu komat-kamit, entah apa yang dibaca agar rasa canggung tidak bisa menguasai dirinya, ditepisnya resah  untuk kemudian berlindung dibalik tameng keberanian sebagai sosok cowok yang baru saja lulus sarjana, walaupun dirinya sadar itu belum tentu cukup untuk cinta Aisyah. Namun tiba-tiba Restu menghentikan langkah sebab seorang laki-laki sebaya dengan Aisyah mendekati gadis itu kemudian duduk didekatnya, tampa canggung mereka berdua saling tertawa dan bercanda, keakraban itu terjadi tepat di depan Restu membuatnya urung melangkah lebih lanjut karena yakin itu pasti pacar Aisyah, pantas gadis hitam manis itu tak pernah mau diajak jalan atau nonton layar tancap. 

Kini Restu sekarang benar-benar memeluk rindu, mawar merah ditangan pun tak tega diremas apalagi dibuangnya, , mawar merah itu akan disimpan karena yakin suatu hari nanti Aisyah pasti akan mau menerimanya, walaupun hati kecilnya berbisik,  Aisyah itu sudah punya pacar.

Memeluk rindu untuk Aisyah sudah dianggap Restu sebagai karunia, karena diberi kesempatan untuk bisa merasakan perasaan cinta yang selamah ini tak  pernah hadir disudut hatinya, meski mama sering memperhatikan bahkan terang-terang mempertanyakan kapan Restu punya pacar, adakah mama khawatir, Restu tidak normal? hingga sampai sarjana dan telah menjelma menjadi pemuda mapan belum juga punya pacar. Entahlah sejak meninggalkan kampung delapan tahun yang lalu, Restu membawa satu kenangan tentang gadis kecil berkepang dua berponi sejajar alis tebalnya itu pergi, dengan harapan semesta akan memelihara untuk dirinya.

"Sudahla, ma, berhenti bertanya soal pacar kepadaku,"

"Tapi, masa sih, diusia kamu sekarang kamu tidak pernah suka sama cewek?"

mama berhenti sejenak menyiram bunga di halaman memperhatikan Restu yang duduk di teras rumah sambil membaca koran. Restu cukup kaget mendengar penyataan mama yang seperti kepikiran tentang keadaan psikologis  anaknya.

     "Kenapa, ma, emangnya mama kebelet punya mantu?"

Restu memperbaiki posisi duduknya sembari meletakkan koran, lalu memandang mama yang menarik bibirnya mengulum senyum.

"Mungkin ..."

Mama kembali melanjutkan pekerjaannya dan membiarkan Restu dalam angannya sendiri, bahwa dirinya sudah jatuh cinta sejak lama, tapi sayang, gadis itu sudah  jadi pacar orang lain. Bukan tak berani mengungkapkan perasaannya kepada Aisyah, tetapi sangatlah tidak etis jika sudah mengetahui sudah punya pacar, tapi masih saja menawarkan cinta, Restu tak ingin seperti itu, biarkan dirinya memeluk rindu dengan damai sambil memperhatikan Aisyah dari jauh, tetapi untuk tidak membuat mama khawatir Restu akhirnya berterus terang kepada mama bahwa sebenarnya dia mencintai Aisyah, gadis kecil berkepang dua berponi sejajar dengan alis tebalnya itu, yang dulu mama ajar di sekolah TK delapan tahun lalu. Mata mama memicing.

     "Aisyah, anak pak jun, yang masih sekolah di SMK itu?"

Alis mama terangkat tiga centi, seperti keheranan.

"Iya, ma, tapi Aisyah sudah punya pacar, saya tidak mungkin mengganggu hubungan mereka."

Penuturan Restu memaksa mama berpikir, betapa cinta tidak bisa diduga akan tertambat di mana, bukankah Restu selamah delapan tahun hidup dan bergaul di kota besar, teman-teman kuliahnya  cantik-cantik dan keren, tapi justru jatuh cinta kepada gadis desa yang jauh dari sebutan modis untuk seorang gadis. 

"Restu-Restu ... banyak gadis mapan, tapi cinta sama gadis bau kencur?"

Mama menarik nafas panjang, mencoba memahami anaknya, dengan menghadirkan wajah Aisyah, gadis hitam manis memiliki  mata coklat kucing harus mama akui kalau gadis itu cukup cantik.

"Dari mana kamu tahu kalau Aisyah sudah punya pacar?

".Restu melihatnya sendiri, ma."

Restu menjawab seadanya membuat mama tersenyum lucu,

"Jadi ceritanya patah hati, nih?"

Restu terdiam membuat mama melangkah mendekati Restu.

"Kamu belum bicara dengan Aisyah, jadi semua belum jelas, iya kan?"

Ucapan mama memompa semangat Restu hingga ratusan ful, membuatnya semangat hari ini untuk mengatakan segalanya kepada Aisyah, bahwa sudah sejak lama dirinya memeluk rindu dan baru sekarang tersampaikan.

"Trimakasih, kak Restu, cinta yang kau berikan bersama mawar merah ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupku sebelum aku pergi."

Aisyah menengadah ke atas langit naun jauh disana, sejenak lalu menunduk, mata coklat kucingnya berkilau seperti berair. Restu memasang mimik lebih serius melihat Aisyah seperti sedang bersedih.

"Apakah cintaku ini justru melukai hatimu, Aisyah?"

"Tidak, kak, aku hanya menyesal kenapa Tuhan tidak memberiku kesempatan untuk merawat mawar ini."

"Maksud, Aisyah ... ?"

"Kak Restu datang pada saat aku akan pergi ..."

     "Kemana, Aisyah?"

Gadis bermata coklat kucing itu meremas jarinya sendiri, lalu berusaha menenangkan hati yang bergemuruh.

"Aku akan kembali kepada Tuhan ..."

Restu terperangah, darahnya berdesir, dengan wajah memias,  cowok itu menatap dalam kewajah Aisyah yang tiba-tiba menangis sesak.

"Aku mengidap kanker darah stadium akhir ..."

Pengakuan Aisyah seperti halilintar menyambar dan memporak-porandakan seluruh mimpi yang pernah Resti rajut. Kenangan masa kecil Aisyah yang berkepang dua berponi sejajar dengan alis tebalnya itu menyeruak, dan kenangan itu rasanya baru kemarin. Sesaat Restu terdiam seribu bahasa, berusaha memperbaiki persangkaannya kepada Tuhan, Aisyah masih terlalu muda untuk menjalani ini semua.

     'Sejatinya kehilangan adalah suatu keniscayaan dalam hidup, karena hanya orang yang memilikila yang akan kehilangan, tapi yakinlah Tuhan sudah menyiapkan pengganti yang jauh lebih baik."

Aisyah menguatkan Restu sesaat sebelum akhirnya Aisyah pingsan dan kemudian dilarikan ke rumah sakit.

     "

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani