Profil instastories

Masihkah Terbuka Jalan Hijrah Untukku?

Masihkah Terbuka Jalan Hijrah Untukku?

Aku memutuskan untuk mencari kebebasan. “Jalan hijrah ini terlalu mengekang”, kalimat itulah yang selalu terngiang di telingaku. Sore ini, ku sampaikan semua hal yang mengganjal di hati kepada Bunda. Beliau adalah pembimbing jalan hijrahku. 

“Bunda, aku ingin merasakan kebebasan, mencari jati diriku sendiri, berhentilah untuk mengatur dan mengekang hidupku.” pintaku. “Apa yang membuatmu menjadi seperti ini?” tanya Bunda. “Aku ingin seperti teman-temanku yang bisa merasakan perkembangan zaman modern Bunda.” jawabku. “Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu, bunda berharap semangat hijrahmu akan kembali, do’a bunda selalu menyertaimu nak.” kata Bunda. 

Kini hidup bebas telah aku rasakan. Aku bebas pergi ke tempat manapun, berteman dengan siapapun, menonton film apapun yang aku suka tanpa harus memfokuskan pikiran untuk menonton film sejarah yang membosankan. Sirnalah sudah aturan yang selalu mengekangku.

Beberapa bulan kemudian, terdapat satu titik dimana aku mulai jenuh dengan semua kebebasan ini. Aku rindu dengan jadwal kajian-kajian Islami yang aku pikir sering mengganggu aktivitasku, rutinitas shalat berjama’ah dan mengaji bersama, bangun malam hanya untuk berkeluh kesah kepada Rabbku, membaca dan menonton film sejarah hidup Nabi Muhammad SAW., aku rindu dengan semua rutinitas yang aku lakukan di rumah bersama bunda dan saudari-saudari hijrahku lainnya. Ternyata kebebasan yang aku cari selama ini hanya membuatku semakin jauh dari Rabbku.

Akhirnya ku putuskan mengunjungi rumah Bunda. Menemui Bunda dan menceritakan semua yang terjadi selama aku memilih untuk hidup bebas. Ternyata hidup bebas tanpa aturan hanya akan membuatku bingung, lupa akan tujuan utama diciptakannya manusia. Sebagaimana dalam QS. adz-Dzariyat [51]: 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaku.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 56).

“Bunda, apakah bunda masih bersedia membimbingku kembali?” tanyaku sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi. “Apakah telah hilang semua keraguan di hatimu nak? Jalan hijrah itu bukan permainan yang seenaknya engkau tinggalkan begitu saja.” tegas Bunda. “Masihkah terbuka jalan hijrah untukku Bunda?” tanyaku. “Apa landasanmu untuk kembali berhijrah nak? tolong jelaskan pada Bunda! Apakah kau masih ingat dengan ayat-ayat al-Qur’an yang telah Bunda sampaikan?” tanya Bunda kembali. 

“Masih Bunda, ayat al-Qur’an yang menjadi landasanku untuk kembali berhijrah adalah QS. al-Baqarah: 208 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

yang artinya: wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh ia musuh yang nyata bagimu” jawabku dengan yakin.

Suasana menjadi haru, Bunda serta saudari-saudariku memelukku dengan kasih sayang dan air mata kebahagian karena Allah telah mempersatukan kami kembali.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.