Profil instastories

Malam

   Malam begitu pekat. Awan gelap yang menggumpal menjadi penghalang cahaya purnama. Kerlip ratusan bintang juga ditelan olehnya. Meski begitu, tidak menghalangi suara binatang malam untuk bersenandung riang.

   Seorang gadis nampak berjalan seorang diri menembus sepi. Tidak nampak kecemasan di wajahnya, padahal hanya gulita yang menemani. Justru dirinya nampak bahagia menikmati kesendirian.

   Sosok pria paruh baya berlari dengan membawa tas kantung hitam di tangan. Beberapa orang mengejar sembari berteriak,

   "Pencuri! Berhenti di sana!" 

   Gadis yang mereka lewati hanya diam melihat semua itu. Tidak lama kemudian, ia menyusul mereka. Terdesak rasa ingin tahu apakah si pencuri tertangkap atau bisa meloloskan diri.

   "Ampun, ampun," pinta sang pencuri saat para warga berhasil mengejar dan mengepung. Mereka nyaris menghajar dan mengeroyok saat seseorang menghalangi.

   "Jangan! Jangan main hakim sendiri!" serunya.

   "Tapi dia telah mencuri barang di rumah Anda, Pak, masa mau dibiarkan begitu saja?" tukas seorang lelaki yang ikut mengejar berang.

   "Saya yakin dia punya alasan untuk melakukan ini," ujar pria yang menghalangi.

   "Itu benar ... itu benar, Pak! Ini semua untuk biaya berobat istri saya yang sedang sakit keras. Anak kami juga kelaparan. Mereka menunggu saya pulang membawa obat dan makanan," tukas si pencuri dengan suara bergetar.

   Beberapa orang nampak tidak percaya. Pencuri itu mungkin berbohong untuk menyelamatkan dirinya. Namun, sang korban pencurian justru percaya dan merasa iba. Dia lalu menyuruh orang-orang bubar dan memberi sejumlah uang kepada pencuri itu.

    Lelaki pencuri tersebut mengucapkan terima kasih berulang kali dengan air mata berlinang. Pria pemilik barang hanya mengangguk dan menyuruh pencuri itu pulang.

   "Sungguh orang yang baik," gumam Rara pelan.

 

***

 

   Lelaki pencuri itu berjalan melalui gang sempit. Senyum cerah terlukis di wajahnya. Tidak lama, dia sampai di tempat yang dituju.

   "Orang-orang bodoh," bisiknya.

"Hari ini, aku bisa bermain judi sampai puas."

   Ia tertawa terbahak-bahak dan masuk ke dalam bangunan menyerupai bar tersebut. 

   Tidak lama, dia sudah keluar dengan wajah berkerut masam. Ditendangnya tempat sampah di depan bar kecil tersebut, sehingga isinya berhamburan.

   "Sial! Lagi-lagi kalah! Sekarang malah berutang, bagaimana aku bisa membayar, sedang uangku sudah habis semua?" teriaknya kesal sambil terus menendang sampah-sampah itu dengan marah.

   Gadis yang sedari tadi melihat bergegas menghampiri.

   "Ayah, ternyata kau sama sekali belum berubah," tukasnya.

   Pria itu menoleh.

   "Kau? Apa maksudmu? Aku tidak punya putri!" teriaknya.

   "Tentu saja sekarang kau tidak punya. Kau sudah membunuhnya lima belas tahun lalu," sahut gadis itu lagi.

   "Kau! Darimana kau tahu ...?" 

   Kata-katanya terhenti. Ia mengamati gadis itu lebih lama.

   "Rara? Tidak! Tidak mungkin! Kau sudah mati! Aku sudah membunuhmu dan ibumu lima belas tahun lalu!" serunya sambil menggeleng.

   "Aku memang sudah mati, tetapi jiwaku tidak. Aku tidak bisa tenang, karena kau masih tetap sama. Padahal, aku sudah memberikan waktu lima belas tahun untuk bertobat, tetapi kau tidak juga sadar!" seru Rara marah.

   "Tidak! Aku pasti bermimpi! Ini halusinasi! Pasti karena minuman itu!" teriaknya sambil berlari. Orang-orang yang berada di situ hanya melihat sambil menggeleng. Mengira pria itu pasti mabuk berat, sehingga berteriak-teriak sendiri.

    "Aku melepasmu karena Risa. Adikku itu, dia masih sangat membutuhkanmu, tetapi kau malah terus saja menyiksanya. Kau bahkan menjual dia menjadi wanita malam," ujar Rara sembari melangkah mendekat.

"Kesalahanmu itu tidak lagi bisa termaafkan!" teriak gadis itu marah sambil mengacungkan jari kepada lelaki itu.

    "Tidak! Maafkan aku! Aku bersalah pada kalian! Aku janji akan menjadi orang baik! Kumohon maafkan aku!" ujar pria tersebut sembari berlutut dan menangis.

    Rara hanya diam dan menatap pria itu dengan dingin. Tangannya terulur untuk mencekik. Tiba-tiba, lelaki bertubuh kurus tersebut berteriak,

   "Tidak! Aku tidak mau mati!"    

   Ia lalu bangkit dan berlari. Rara hanya diam menatap. Ayahnya telah hampir sampai di ujung jalan, saat sebuah truk menabrak tubuhnya.

   Rara berjalan menghampiri tubuh sang ayah yang tergeletak di jalan dan berlumur darah. Tangan beliau menggapai dan matanya menatap sang putri.

   "Bukan aku yang membunuhmu," tukas gadis itu.

"Tetapi kau yang telah memilih jalan kematianmu sendiri."

   Tubuh yang terbaring tersebut mengejang, kemudian diam tidak bergerak. Matanya kosong menatap Rara yang berjalan menjauh, kemudian menghilang dalam kegelapan malam diiringi suara burung hantu memecah keheningan.

 

Tamat

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Kalisdaa - Apr 20, 2020, 3:43 PM - Add Reply

Bagus kak. Salam kenal dari aku😊 Aku mau nanya, story kaka ini kaka buat kapan? Dan butuh berapa waktu untuk menunggu pengertiannya?

You must be logged in to post a comment.
Kalisdaa - Apr 20, 2020, 3:44 PM - Add Reply

Maksud aku butuh berapa lama untuk menunggu penerbitan nya?

You must be logged in to post a comment.
KRISMANTO ATAMOU - Apr 21, 2020, 2:56 AM - Add Reply

Mantap

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani