Profil instastories

Malaikat Pesek

21 Februari 2018, KA Taksaka – Kereta 4 seat C1

“Permisi, karcisnya Pak?” pinta si kondektur sopan. Aku memberinya selembar, lalu dilubangi dan dikembalikan lagi.

“Terima kasih, Pak” “Sama-sama”  balasku.

Aku buang pandangan keluar jendela-lagi. Hamparan padi kuning yang siap panen masih mendominasi. Sesekali dari kejauhan terlihat-sekelebat orang-orang bercaping di antaranya. Ada juga sungai, jalan raya, pintu perlintasan, rumah-rumah, mesjid juga sekolah.  

Sudah hampir 3 jam, sudah sampai di daerah Ajibarang. Aku tahu dari plang stasiun yang baru saja terlewat. Dari dulu aku memang paling suka naik kereta dibanding moda transportasi yang lain. Apalagi pesawat. Aku benci pesawat. Aki juga. Kami punya alasan yang cukup kuat untuk membenci benda besar bersayap itu, rasa-rasanya.

Aku, aku memang sudah takut ketinggian dari dulu. Alasan yang tak keren sama sekali, memang, tapi masuk akal bukan?. Tapi Aki, sebenarnya aku agak bingung. Buatku dia itu malaikat, juga menurut orang-orang disekitarnya. Malaikat harusnya suka terbang. Aki malah sebaliknya. Aku tidak pernah tahu apa alasannya, bukan dia yang tidak pernah bilang, aku yang bodoh dan tidak paham. Aku akui Aki memang beda dari kebanyakan, dari dulu dia sudah teramat spesial, bahkan untuk ukuran malaikat sekalipun.

Aku memejam. Pikiran berlari-lari jauh ke belakang–liar. Sekejap adegan-adegan di masa dulu kembali terputar, sesaki kepala.

 

 

 

***

5 Oktober 2013, Masjid Raya Bekasi

“Saya terima nikah dan kawinnya, Aini Annisa binti Rasyid Rofiq dengan mas kawin yang tersebut, Tunai.”  

Sunyi sejenak, aku berdebar.

“bagaimana saksi? Sah?”

“Sah”

“Alhamdulillah” kata semuanya hampir serempak tanpa  dikomando, aku menghela nafas panjang, ragaku masih kaku terduduk tapi jiwa terasa melayang-layang-terbang. Fuh akhirnya, aku resmi jadi seorang suami sekarang.

Pukul dua tiga lebih lima belas. Kamar Pengantin. Rumah Mertua

 “aku menjaga diriku, utuh, untuk malam ini, saat ini, semua milikmu, suamiku.”

Senyum tersimpul penuh. Kecup mendarat di kening, lalu di banyak tempat lain. Nada lirih bisik-bisik dan deru tersengal-sengal penuhi telingaku, sepanjang malam. Berulang-ulang. Berulang-ulang.

Kami menyatu.

12 Januari 2014, Mlati, Sleman

Kotak persegi merah marun, agak kecil, di ikat pita tosca dengan simpul rapih, menarik diantara tumpukan berkas-berkas berantakan di atas meja. Siapa gerangan? Apa isinya?

Simpul ku tarik lepas, tutup kuangkat perlahan. Sebatang benda asing, mirip sumpit, aku tak pernah lihat ini sebelumnya. Apa ini? kecil panjang setengah biru setengah putih, ada garis warna merah, ada dua. Sesaat ku paksa otak bekerja lebih keras untuk menebak, Ah tak dapat!

Sebentar, ada suratnya…

Sudah, tidak perlu terheran-heran begitu, benda itu namanya testpack,

Sayang, kau sudah lihat garis merahnya? ada dua bukan? kalau satu itu artinya negatif, dan pasti kau tahu arti sebaliknya jika garisnya ada dua.

Aku sudah ke dokter pagi tadi, dia membenarkan analisa benda itu, juga dugaanku.

Selamat, kamu calon ayah baru!

Maaf membuatmu kaget, semoga asmamu tak kambuh ya, sayang. Aku akan masak enak nanti malam, untuk merayakan.  Pulanglah lebih cepat..

Aini istrimu

Nafasku jadi pendek-pendek, Aku butuh inhaler, segera, sekarang. Beberapa hirupan dalam-dalam sampai akhirnya aku bisa merapal syukur.

“Terima Kasih Tuhan! Terima Kasih! Terima Kasih!”

22 Oktober 2014, Kamar 004 Lorong Anggrek

DZAKY ALMAIR JAMIL – Pangeran tampan dan cerdas,

sedang tidur pulas mulutnya mangap di dalam gendongku.

Aki, begitulah kami memanggilnya.

“Aki agak pesek ya, Ai?”

“Ih dasar, mentang-mentang idung kamu gede!”

Kami terkekeh-kekeh. Aku jadi ingat rumah-rumahan yang sering dimainkan di taman kanak-kanak, mirip sekali. Tapi ini dengan istri dan anak sungguhan. Bukan boneka atau bantal guling.

Ini hari terbaikku, setidaknya sampai saat ini. Entahlah, semua hari seolah berlomba menarik perhatianku dengan hal hebatnya masing-masing.

Aku menghela. Lalu menatap dan mulai mengeja setiap jengkal sosok di dalam gendongan, satu demi satu-mulai dari rambut tipis sampai kuku diujung kelingking mungil., Entah hanya aku atau Aini juga, Mataku menyalin hal yang aneh dari tubuhnya. Iya, ini tidak biasa! Sekejap, Aku berusaha mengabaikan penglihatanku, mendinginkan kepala lalu mengusir khawatir yang datang ramai-ramai sembari terus mengrim syukur pada Tuhan . Ku kecup pangeran kecil ini kemudian meletakkannya di graco biru langit di sebelah ranjang.

2015, Sleman

Hari hari melintas di jalur lambat. Detik-detik kian mempertebal garis-garis perbedaan. Pada setiap senyum, tawa, tatap bahkan pelukan jari-jarinya. Sepasang mata yang berjarak, pangkal hidung lunak, bibir kecil dengan lidah kebesaran, kelingking berbelok ke dalam, kepala yang tak begitu simetris.

Awalnya kukira hanya khawatir biasa, tapi tidak nyatanya.. Setiap kata yang kuajarkan tak mampu dilafalkannya dengan sempurna, gelagat tubuh, cara berjalan, begitu menakutkan.

2017, Sleman

“A..yah..!” Aki memegangi kakiku. Ditusuk-tusuk betis dengan telunjuk. Senyum sumringah tersungging dari garis bibir yang memecah penat. Meski sesekali di ujung bibir menetes liur dari dalam mulutnya yang memang kerap terbuka.

Usianya sudah sampai angka 3, namun apa yang terlihat begitu jauh dari yang seharusnya. Yaa.. Pangeran kecilku terjebak dalam tubuh yang kian tumbuh, namun berjalan sendiri tinggalkan akal yang merangkak pelan.

Disabilitas.

Aku juga Aini selalu berusaha menjawab teka-teki atau mungkin juga lelucon yang garing dari Tuhan kepada keluarga kecil kami. Tapi aku sulit memahami. Terlebih saat Aki begitu senang dengan kertas dan alat tulis. Begitu banyak teka-teki dalam dirinya, aku tidak berani menebak.

**

“berapa lama?”

Aini menatap dengan mata sembab, lalu basah.

“7 bulan, tapi tanpa pulang” kataku pelan.

“apa tidak ada pilihan lain lagi?”

“pilihannya cuma dua, aku pergi atau dipecat”

“kalau begitu cari saja kerja ditempat lain, dikota ini. Pikirkan soal Aki. Dia butuh kamu disini dan–”

“dan apa? seharusnya kamu juga mengerti. Ini demi keluarga kita, bagaimana kita membeli semua obatnya nanti?”

“baiklah”

Aini menghapus air matanya lalu duduknya bergeser ke kiri–kearahku. Kami berpelukan seperti remaja belasan yang baru balikan. Hangat.

***

Pandanganku berkeliling. Ah tidak ada yang berubah dari stasiun ini. Kursi kayu panjan hijau yang keras,lantai keramik licin, juga mbok gudeg di samping mushola,  Semua masih ada—masih sama. Pengeras suaranya juga masih sember. Hanya ada beberapa tong sampah baru di peron jalur 3.

Aku keluar lewat pintu utara. Lalu naik taksi yang memang sudah mangkal disana. Dengan kecepatan yang normal, tidak ngebut juga tidak terlalu pelan–menuju tempat dimana aku akan pulang: Rumah.

*

Perlahan kubuka pintu coklat muda , yang ternyata benar tak dikunci. Entah kenapa, aku hanya ingin memberi mereka kejutan, dengan tak mau banyak memberitahu bagaimana dan kapan aku akan pulang. Aku hanya menyuruh mereka menunggu.

“Assalamu’alaikum.” Seruku. “Wa’alaikumsalam.” Sahut seseorang perempuan dari dalam. Pasti istriku. Suaranya belum berubah, aku hapal suara merdu itu.

Perempuan dengan hijab marun menawan keluar bersama bocah besar yang digendongnya. Aku senang melihat wajah istriku yang kaget. Kusambut dia dengan pelukan hangat rindu yang tak lagi kulakukan sejak tahun lalu. Lalu menggambil Aki dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

*

Ada yang berbeda dengan kamar ini. Aku melempar pandangan pada ranjang tempatku menyepah letih, “Ahh… Aini baru mengganti sepreinya.” Pikirku. Masih ada perasaan asing dengan ruangan ini. Ku buang lagi pandangan diantara dinding-dinding. Banyak kertas yang menempel diantaranya. Apa itu?

Ku dekati kertas-kertas itu, ku teliti. Huruf demi huruf yang menyatu dalam tulisan bersambung. Indah sekali. Siapa yang melakukan? Aku masih belum mampu menerka. Kemudian ku raih kertas itu dari dinding dan membawanya kepada istriku yang tengah membongkar isi kopor.

“Aki yang membuat.” Jawab Aini, istriku, sembari memandangi Aki yang duduk di atas sofa yang berhadapan dengan layar televisi, dari balik pintu kamar yang terbuka. Entah ia paham akan yang dilihatnya atau tidak, aku tetap yakin itu menghiburnya.

“Kau ingat, ia sangat senang dengan alat tulis, ia memang tak mampu melafalkan kosa kata dengan cepat, namun mampu melihat gambar dengan lugas. Ini jawaban teka-teki itu, sayang.”

“Kaligrafi Aki juga ditawar seorang redaktur.” Sambung Aini.

“Darimana Ia tau?”

“Teman ibu yang kebetulan mampir kesini bersama ibu untuk menjenguk Aki.”

“Lalu?”

“Aku butuh jawaban suamiku. Ini menyangkut malaikat kita berdua.”

Aku berdiri dan berbalik menuju Aki. Memeluknya erat-erat. Liurnya membuat kemejaku basah. Air mataku membuat kaosnya basah. Dia menepuk-nepuk pundakku seolah ingin menenangkan. Bukan, dia memang ingin lakukan itu. Tak akan ada lagi seolah ini dan seolah itu, Aku harus lebih peka. Mulai sekarang–selamanya.

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani