Profil instastories

Mahya Ainun Bercerita

BAB 1 : SANG MOTIVATOR

Saat usiaku 7 tahun

"Ibu,kalau sudah besar nanti, aku ingin jadi seperti dia," kata ku kepada wanita paruh baya yang sibuk merapikan baju sekolah putih merah yang sedang ku kenakan.

"Mau jadi siapa?" Tanya ibu, yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Itu di TV" tanganku menunjuk kearah televisi tua yang sudah lama tak pernah diganti. "Kalau besar nanti, aku ingin seperti dia. Mengobati siapa saja yang membutuhkan."

"Iyah iyahh, ibu akan selalu mendoakan mu."

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

Ibu berlalu meninggalkan ku, dengan seragam yang sudah lengkap ku kenakan.

Hari ini, adalah hari pertamaku masuk sekolah dasar. Aku sangat senang bisa bersekolah seperti teman-teman yang lain. Hari ini, aku juga sangat senang, bisa diantar ibu dihari pertama ku sekolah. 

"Ibu, sudah jam berapa sekarang?" Tanyaku kepada ibu yang sejak tadi sibuk di dapur.

" Masih terlalu pagi untuk pergi ke sekolah nak, ini masih jam 5 pagi. Ibu akan selesai beberapa menit lagi setelah  menyiapkan makan untuk bapak mu." Kata ibu menjelaskan dengan suara yang beradu dengan penggorengan.

Tidak butuh waktu lama, makanan sudah tertata dengan rapi di meja makan. Kayu lebar dan panjang yang diletakkan di atas dua batu besar sebagai penyangga, kami sebut sebagai meja makan. Meskipun sudah mulai lapuk kayunya, namun masih bisa diletakkan masakan ibu untuk beberapa tahun kedepan. Ibu ku memang handal soal urusan memasak. 

Makanan sederhana saja bisa ibu sulap menjadi makanan seperti di restoran.

"Seperti seorang koki profesional saja bu," pujian aku lontarkan kepada ibu sambil menarik kursi untuk duduk di depan meja makan.

"Ayah mu kemana?" Tanya ibu tanpa menghiraukan pujian ku. 

"Mungkin di depan bu, sambil minum kopi." kataku asal menjawab. 

"Yasudah, ini bekalmu. Ibu mau siap-siap dulu."

"Iya bu," jawab ku sambil memasukkan bekal makanan yang diberikan ibu kedalam tas sekolah ku.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5.30, aku dan ibu sudah siap untuk berangkat ke sekolah di hari pertama. Tak lupa sebelum aku pergi, aku berpamitan kepada bapak. Rona wajah bahagia tergambar jelas di wajah pria paruh baya yang kupanggil bapak. 

"Hati-hati dijalan ya nak," pesan bapak saat aku mulai berlalu meninggalkan rumah. 

Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sekolah dengan berjalan kaki. Tak ada kendaraan yang bisa ditumpangi. Lagipula jika ada, sangat sulit melewati jalan menuju ke sekolah. 

Kami harus melewati dua sungai dulu agar bisa sampai ke sekolah yang kami tuju. Beruntung, debit air sungai yang kami lewati tidak terlalu tinggi. Hanya setinggi mata kaki. Jika musim penghujan tiba, debit air bisa mencapai setinggi lutut orang dewasa. Namun, aku sangat beruntung bisa bersekolah. Walaupun jarak dari rumah ke sekolah harus ditempuh dalam waktu setengah jam. 

Di sela-sela perjalanan, ibu banyak bercerita tentang masa kecil ibu. Ibuku tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah. Karena dulu tidak ada sekolah yang dibangun di sekitar kampung ku. Ibuku hanya ikut berladang bersama nenek dan kakek saat itu. Hingga ibuku menikah, ibu tak pernah tahu membaca. Hanya berhitung yang ibu tahu. 

Tak terasa perjalanan yang cukup jauh telah aku lewati. Kini, aku dan ibu sudah berada di depan sekolah ku. Disini lah,  awal mula perjalanan yang akan mengantarkan ku menuju masa depan yang cerah.

Di halaman sekolah, Hanya nampak dua orang siswa bersama orang tuanya yang sudah lebih dahulu sampai. 

"Sepertinya, yang lain masih dalam perjalanan untuk menuju kemari," lirihku dalam hati.

"Assalamu'alaikum bu," sapa seorang wanita berjilbab yang sudah berdiri di depan ku.

"Waalaikumsalam bu," jawab ibu dengan ucapan yang ramah.

"Semoga anak ibu bisa betah bersekolah disini"

"Iya, Bu." 

Kring...kringgg..kringggg

Suara lonceng dari arah kanan berbunyi dengan nyaring. Kami lalu dikumpulkan di halaman sekolah oleh beberapa guru. Aku berada dibarisan paling depan. Ada empat anak lagi yang berdiri berjejer di sampingku. Sekitar 20 siswa telah berkumpul di halaman sekolah. 

Seorang wanita dengan wajah cukup menakutkan bagiku, berdiri di depan barisan kami.

"Assalamu'alaikum anak-anak, perkenalkan nama ibu Wirda Setyaningsih. Ibu adalah seorang kepala sekolah di sekolah ini," Ia memperkenalkan diri dengan tegas. 

SDN 1 Ngira Entikong adalah nama sekolah ku. ibu Wirda yang mengatakan nya. Katanya, kami sangat beruntung bisa bersekolah disini. Karena dulu, belum ada donatur yang ingin menyalurkan bantuan untuk membangun sekolah ini. Dan Alhamdulillah sekarang telah banyak donatur yang ikut bahu membahu membangun sekolah di kampung ku.

Sekitar lima menit ibu Wirda menyampaikan informasi terkait sekolah ini.

Setelah ibu Wirda selesai, beberapa guru lalu mengantarkan kami ke kelas masing-masing. 

Hanya ada tiga ruangan dalam sekolah ini. satu ruangan untuk guru, dan dua ruangan lagi untuk ruang kelas. Untuk membedakan setiap ruangan, sekolah ku hanya menggunakan papan tulis sebagai sekat pembatas antar ruangan. Di sekolah ku ini, belum menyediakan toilet. ketika ingin buang air kecil, kami terpaksa turun ke sungai yang berada di dekat sekolah. 

Aku dan anak-anak yang lain dituntun oleh seorang guru perempuan untuk masuk kedalam ruangan yang disebut sebagai kelas itu. Dengan berdindingkan bambu dan beralaskan tanah, bukan lah masalah besar untuk menimba ilmu. 

Di dalam ruangan itu, hanya terdapat lima kursi panjang dan meja panjang yang diisi masing-masing dua anak. 

Aku kebagian tempat duduk di barisan kedua. Disebelah ku, duduk seorang anak perempuan dengan rambut terkuncir sama seperti ku. Bedanya, rambutku lurus dan dia sedikit keriting. 

kata ibu guru, hari ini kami belum belajar. Hanya memperkenalkan diri dan cita-cita. 

Dua anak sudah maju ke depan untuk memperkenalkan diri dan cita-cita nya. Setelah itu, anak perempuan yang duduk di sampingku dipanggil untuk maju ke depan.

Nama anak itu Hana, dan ia bercita-cita menjadi seorang guru. 

"Nak, sekarang giliran mu," ucap ibu guru sambil menunjuk ke arah ku. "Ayo maju kedepan." 

Aku sedikit takut dan pemalu, namun ku beranikan diri untuk maju kedepan. Sekarang aku sudah berdiri di depan teman-temanku. 

"Assalamu'alaikum, ha..halo semua. Namaku Mahya Ainun," kataku dengan gugup sambil menghela nafas panjang. Lalu kulanjutkan lagi perkenalanku. "Cita-cita ku, hmm aku ingin menjadi seorang dokter," kataku dengan rona wajah yang sudah memerah.

"Masya Allah, sungguh mulia cita-cita mu nak," puji ibu guru padaku.

" Terima kasih Bu."

Satu persatu anak sudah maju memperkenalkan diri. Sekarang, tiba saatnya ibu guru berjilbab itu memperkenalkan namanya. Ia terlihat sangat baik dan ramah. Namanya ibu Faradila Miftah. Katanya, kami boleh memanggilnya ibu Faya.

Kini, ia bercerita tentang perjuangan nya untuk bisa menjadi seorang guru. Sama seperti kami, ibu Faya juga berasal dari kampung dengan segala keterbatasan akses untuk mengeyam pendidikan. Namun, berkat kegigihan dan kesabaran, ibu Faya bisa menggapai cita-cita nya untuk menjadi seorang guru.

Di sekolah ini, ibu Faya mendedikasikan dirinya untuk kesejahteraan masyarakat dalam bidang pendidikan. Karena menurutnya, pendidikan adalah hal yang penting untuk meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik.

Kata Ibu Faya, ia tidak mementingkan berapa besar gaji yang diberikan kepadanya. Tetapi, senyum dan semangat dari anak-anak lah yang menjadi upah terbesar nya.

Kami begitu memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut ibu Faya. Saat itu, aku mulai termotivasi untuk belajar sungguh-sungguh agar bisa menjadi orang sukses. Kulihat dibalik jendela, ibu menatap ku lekat dengan senyum yang tergambar diwajahnya. Dibalik senyum itu, Ada harapan yang besar yang ibu titipkan padaku.

Kring.. kringgg... kringgg

Suara lonceng sekolah kembali berbunyi. Itu tandanya sekolah hari ini sudah berakhir.

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, dengan memberikan pelajaran pertama yang sangat berkesan.

...

Hari ini, sama seperti kemarin. Aku pergi sekolah dengan berjalan kaki. Tapi kali ini tidak dengan ibu. Aku berangkat ke sekolah bersama ibu Faya. 

Kalau tidak bersama ibu Faya, mana mungkin ibu mengizinkan anak umur 7 tahun sepertiku untuk pergi ke sekolah seorang diri.

Guru yang kemarin menceritakan tentang diri nya dengan begitu luar biasa, sungguh sangat ramah.

Ibu Faya ternyata sekampung denganku. Rumahnya juga tak begitu jauh dari rumahku. Ibu Faya tadinya hanya melintas. tapi karena melihat ku, Ibu Faya lalu berkunjung dan menawarkan untuk pergi bersama.

"Bapak, ibu, Mahya pergi ke sekolah dulu yah. Doakan Dita agar bisa jadi orang sukses." kataku sambil mencium punggung tangan ibu dan bapak di teras rumah.

"Iyah nak, bapak dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu." jawab bapak dengan mata yang menahan tangis haru bahagia.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah pamit kepada ibu dan bapak, aku lalu berjalan beriringan bersama ibu Faya.

Di sela perjalanan, ibu Faya banyak memberikan ku motivasi untuk belajar dengan giat dan sungguh-sungguh. Katanya, aku harus selalu sabar dan terus bekerja keras agar bisa mewujudkan cita-cita ku menjadi seorang dokter yang profesional. 

Setelah berjalan sekitar 10 menit, sampai lah kami di sungai pertama yang harus kita lewati. Debit sungai hari ini sepertinya mulai mengering. Kata ibu Faya, sekarang tiba musim kemarau. Jadi, debit air sungai akan berkurang dan bisa saja mengering. 

Di tengah perjalanan, aku bertemu beberapa anak-anak yang juga ingin ke sekolah. Ibu Faya mengajak anak-anak itu untuk pergi bersama-sama. 

Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya kami sampai juga ke sekolah. Kami datang cukup pagi hari ini, tidak seperti kemarin. Mungkin lebih cepat lima menit. 

Ibu Faya lalu meninggalkan kami untuk menuju ke ruang guru. Ibu Faya juga menyuruh kami agar masuk ke kelas saja. 

Aku langsung masuk ke kelas untuk istirahat dari lelahnya perjalanan tadi. Kuletakkan tas ransel berwarna biru diatas meja. Tas ini adalah tas pemberian paman ku yang tinggal di Jakarta. Sambil menunggu bunyi bel masuk, aku sempat kan untuk makan bekal yang ibu berikan. 

Ku keluarkan kotak bekal makanan berwarna coklat dari dalam tas ku. Tak lupa pula, ku keluarkan sebotol air minum berwarna senada dengan tempat bekalku.

Nasi dan sayur bayam adalah bekal ku hari ini. Bukan hanya sehat tapi juga ekonomis. Bayam ini bapak ambil dari kebun, jadi bebas bahan berbahaya seperti yang diberitakan di televisi.

Tidak terasa, setengah bekal sudah habis ku  makan dengan lahap. Sekarang, tersisa nasi tanpa lauk saja. Lelahnya perjalanan tadi, membuat ku lupa untuk menyisahkan lauk saat jam istirahat tiba.

Setelah minum, ku masukkan kembali kotak bekal dan botol minuman ku kedalam tas. Aku kembali bersandar di tempat dudukku untuk menunggu bel berbunyi.

Dari arah pintu, tampak seorang anak laki-laki berambut ikal berjalan menuju kursinya dengan sedikit tergopoh-gopoh. Baju anak itu tampak sedikit kusut dan kotor. Ia lalu duduk di kursi tepat di depan ku.

"Arya, kamu kenapa?" Tanyaku kepada anak itu dengan penasaran. Namanya ku ketahui dari perkenalan diri kemarin.

"Eh mahya" katanya sambil menoleh ke belakang.

"Kamu tadi jatuh?" Tanyaku dengan sedikit menerka apa yang terjadi.

"Iya mahya, tadi aku terjatuh di seberang jalan sana. Ini karena aku terlalu terburu-buru ke sekolah." katanya dengan wajah yang lesuh.

Aku hanya menggeleng sambil membuka tas sekolah ku.

"Ini minum dulu, kau tampak sangat haus" kataku sambil menawarkan sebotol minuman yang sudah berkurang setengahnya.

"Terima kasih mahya" kata Arya sambil meneguk sebotol minuman yang ku berikan. 

Aryaa tampak sangat kelelahan, buktinya ia hanya menyisakan sedikit air untukku.

"Oiya, maaf mahya airnya tinggal sedikit" katanya dengan wajah bersalah.

"Tidak apa, lagipula itu masih banyak" kataku dengan ramah.

Mataku lalu tertuju pada jam dinding yang terpasang di atas papan tulis. Masih menunjukkan pukul 06.50, 10 menit lagi kami akan mulai belajar. Beberapa siswa mulai berdatangan masuk ke kelas. 

Hana, anak perempuan berambut keriting yang kemarin duduk disampingku sudah tiba. Ia lalu menarik kursi dan duduk disampingku dengan wajah yang memerah.

"Kamu kenapa Hana?" Tanyaku dengan dahi yang mengerut.

"Tadi aku usil untuk mengganggu para lebah, akhirnya mereka menyerang ku karena merasa terganggu ," jawab Hana menjelaskan dengan wajah yang penuh penyesalan.

"Haa..haaa." aku dan Arya sontak tertawa mendengar Hana bercerita.

Beberapa anak menatap ke arah kami. Refleks, kami hanya diam sambil saling menatap. Kami hanya menutup mulut dengan tangan, agar kami tidak jadi pusat perhatian lagi.

Kringg...kringg.. kringgg

Bunyi bel telah berbunyi,itu tandanya kita akan mulai belajar. Satu persatu anak mulai masuk ke dalam kelas. Sama seperti kemarin, 20 anak sudah ada dalam ruangan yang kami sebut kelas ini. 

Kelas menjadi sangat hening, dengan wajah-wajah yang sangat antusias untuk belajar. Aku lalu melihat keluar jendela, tampak seorang wanita berjilbab coklat berjalan ke arah kelas kami. Ia membawa banyak sekali buku dan beberapa alat tulis. Itu ibu Faya, guru perempuan satu-satunya di sekolah kami.

Ibu Faya masuk ke kelas kami lalu meletakkan beberapa buku dan alat tulis yang ia bawa di atas meja.

"Assalamu'alaikum anak-anak, apa kabar kalian?" Sapa ibu Faya kepada kami 

"Waalaikumsalam ibu, Alhamdulillah baik bu." balas kami secara serempak.

"Ohiya anak-anak, hari ini kita akan mulai belajar berhitung." kata ibu Faya menjelaskan.

"Horeee" teriak kami kegirangan sebelum ibu Faya melanjutkan.

"Nah anak-anak sebelum kita belajar, ibu akan membagikan buku dan pensil ini untuk kalian. di buku ini, kalian bisa belajar berhitung dan membaca di rumah kalian masing-masing." kata ibu Faya sambil membagikan buku dan pensil kepada kami satu persatu. 

"Lalu, kami tidak akan belajar di sekolah lagi Bu?" Tanya salah satu anak kepada ibu Faya.

"Kita tetap akan belajar di sekolah Atma, buku ini hanya dijadikan penunjang kalian belajar," kata ibu Faya menjelaskan.

"Penunjang itu apa Bu?" Tanyaku lagi kepada ibu Faya.

"Penunjang adalah alat untuk membantu kita, contohnya seperti buku berhitung dan membaca ini. Disamping kalian belajar di sekolah, kalian juga bisa belajar di rumah. Sehingga kalian akan cepat untuk bisa berhitung dan membaca." kata ibu Faya menjelaskan dengan sabar.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

Setelah selesai membagikan buku dan alat tulis kepada kami, ibu Faya terlebih dahulu mengajari kami cara berhitung.

Setelah dirasa cukup kami berlatih berhitung,  satu persatu anak di panggil maju kedepan untuk mengulang kembali apa yang kami pelajari tadi. Tidak terasa kami semua sudah maju kedepan dan menjawab pertanyaan dari ibu Faya.

"Anak-anak, kalian luar biasa," puji ibu Faya dengan jempol dua kepada kami. "berhubung proses belajar kalian sangat cepat, sekarang kita lanjutkan untuk belajar membaca yah anak-anak."

"Horee, asikk." Kami bersorak bahagia.

Aku sangat senang bisa belajar bersama teman-teman dan guru yang sangat ramah.

 

BERSAMBUNG..

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Fayra - Okt 5, 2020, 9:10 PM - Add Reply

🤗🤗

You must be logged in to post a comment.
Fayra - Okt 5, 2020, 9:11 PM - Add Reply

Ditunggu lanjutannya 😍

You must be logged in to post a comment.
Andi Widya - Okt 5, 2020, 9:14 PM - Add Reply

Iyahh, siapp😂

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.