Profil instastories

Lelaki penyuka hujan, kebun, buku, dan kopi.

Leo Tolstoy Pun Membaca Novel Agatha Christie

Leo Tolstoy beberapa kali mampir di Kedai Kopi Litera. Dia pelahap berbagai jenis buku. Dari buku bagus sampai buku yang teramat bagus. Dari syair karya Goethe sampai novel misteri Agatha Christie. 

Berbeda dengan anak muda seusianya. Nyaris tidak pernah dia ikut "bertempur" di arena PUBG maupun Free Fire.  Mungkin Si Leo sesekali juga bermain game online. Namun sejauh ini, lebih sering dia mendekap buku-buku. Membaca dan membincangkannya dengan saya. 

Di tengah pandemi, saya agaknya memiliki hobi baru yakni suka menulis hal-hal di sekitar buku dan kopi. Dua benda mati tapi "bikin hidup" itulah yang paling berpengaruh, setidaknya sepanjang bulan Maret-April yang paling banyak tanggal merahnya ini. 

Pada akhirnya saya cenderung suka menulis tentang orang-orang yang tidak dikenal publik. Orang-orang yang berhubungan dengan kopi dan buku.  Mungkin saja kelak mereka sangat terkenal bahkan melampaui imajinasinya sendiri. 

Semisal saya menulis tentang seorang anak muda yang berkali-kali saya temukan dan sebaliknya juga kerap menemukan saya. Namanya Arfan M Palippui. Anak muda yang pernah meminta bunga terompet yang bertumbuhan di samping Rumah Putih. Saya tidak paham untuk apa bunga itu sebab dia tidak bermaksud menanamnya di lain tempat. Saya sempat menduga, bunga itu bisa dihisap dengan cara tertentu dan efeknya serupa tapi tak sama dengan efek "ngelem." Dugaan saya mungkin tidak sepenuhnya tepat. Sebab bertahun-tahun kemudian anak muda ini datang ke Dihyah PROject dengan perubahan sangat mencengangkan. Dia meminjam dua lusin buku. Butuh waktu seminggu saja dia lahap. Dan sejak saat itulah saya kerap mendengar dia membincang buku-buku karya Tolstoy, Goethe, dan sederet penulis besar lainnya. 

Anak muda ini sekarang kutu buku kelas wahid. Jauh lebih cerdas dibanding rata-rata anak muda seusianya. Saya  pun menduga dia memang terinfluence dengan Cossack,   judul sebuah buku karya Lev Nikolayevich Tolstoy.

Tolstoy sebenarnya seorang  pangeran. Namun lebih kesohor sebagai sastrawan Rusia, pembaharu sosial, pasifis, anarkis Kristen, dan vegetarian dari keluarga Tolstoy.

Cossack diyakini agak berbau otobiografi, sebagian berdasarkan pengalaman Tolstoy di Kaukasus selama tahap terakhir Perang Kaukasia. Tolstoy mengalami masa-masa sulit di masa mudanya, terlibat dalam banyak pasangan bebas, masalah minuman keras dan judi; banyak yang berpendapat Tolstoy menggunakan masa lalunya sebagai inspirasi bagi protagonis Olenin.

Merasa kecewa dengan kehidupannya yang istimewa di masyarakat Rusia, bangsawan Dmitry Andreich Olenin bergabung dengan tentara sebagai kadet, dengan harapan dapat lolos dari kedangkalan kehidupan sehari-harinya. Dalam pencarian untuk menemukan "kelengkapan," ia dengan naif berharap menemukan ketenangan di antara orang-orang "sederhana" di Kaukasus. Dalam upaya membenamkan dirinya dalam budaya lokal, ia berteman dengan seorang lelaki tua. Mereka minum anggur, mengutuk, dan berburu burung pegar dan babi hutan dalam tradisi Cossack, dan Olenin bahkan mulai berpakaian seperti Cossack. Dia lupa  dan jatuh cinta dengan Maryanka muda, meskipun tunangannya Lukashka.

Beberapa hari lalu anak muda ini mampir lagi ke Kedai Kopi Litera. Tidak lama namun kami sempat mendiskusikan salah satu versi dari corona, yaitu perang dagang dan perang biologi. Tidak lupa kami membincang adegan tembak menembak di sebuah pasar di Cina dan mengakibatkan tumpahnya sebotol sampel virus. 

Rupanya dia pun punya mimpi terkait kopi. Dan dia berbicara tentang teks perkopian yang instagramable sambil  menyimak cara saya melayani pembeli kopi susu botolan. Dan lagi-lagi dia membincang Tolstoy. Akhirnya saya simpulkan bahwa saya harus memanggilnya dengan nama Olenin atau bahkan Leo Tolstoy. Lagi-lagi dia meminjam setumpuk buku. Dan lagi, di sana ada novel Agatha Christie yang bercerita tentang pembunuhan di Mesopotamia. 

Arfan mungkin tidak sepenuhnya mirip atau meniru kisah Cossack. Tapi saya yakin dia tidak sengaja mengadaptasi gaya Tolstoy dalam menulis. Apakah Anda pernah membaca salah satu tulisannya? Mungkin belum. Tapi saya pernah. Beberapa tahun mendatang pasti akan berbeda lagi ceritanya. Yang jelas bukan Olenin yang menghisap bunga terompet. 

* sepenggal dari naskah buku yang mulai agak serius berjudul sementara "Melarutkan Indonesia Dalam Secangkir Kopi" (catatan barista pinggir jalan)

Kedai Kopi Litera-Dihyah PROject, 18 April 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jun 27, 2020, 3:05 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jun 25, 2020, 3:02 PM - Lilis Puji Astuti
Jun 25, 2020, 2:09 PM - Erbin Simanjuntak
Jun 24, 2020, 1:54 PM - Lilis Puji Astuti