Profil instastories

Lelah

Lelah

Mungkin ketika semua anak berlari ketika pulang sekolah dan mengibarkan selembar kertas berisi nilai, mereka akan berkata, 

   "Pa, Ma nilaiku A". Namun sayang, itu semua tak akan terjadi padaku. Baik nilaiku A atau bahkan Z pun mungkin mereka tak tahu atau bahkan tak mau tahu. 

Semua itu terjadi satu tahun yang lalu. Sejak aku mukai menghabiskan siangku di sekolah. Sejak itupun komunikasi di antara kami perlahan pudar. Aku bukan anak broken home , bahkan keluargaku terlalu harmonis untuk diriku yang begitu dingin. 

Aku tahu mereka bekerja keras untukku. Untuk memenuhi kebutuhan lahirku, namun tidak dengan kebutuhan batin yang masih terasa kosong. Aku memang hidup bersama mereka, namun hari-hariku terasa seperti hidung dengan orang asing yang tak kukenal. 

   "Bagaimana soalnya? Susah atau tidak?" seharusnya pertanyaan itu yang terlontar dari bibir Mama setelah aku melaksanakan ujian. Namun sekarang tak pernah terucap kalimat itu barang sekalipun setelah aku menempuh ujian terberat dalam hidupku. 

Berkali-kali aku terjatuh dan berniat untuk mengakhiri hidup ini. Aku tak berarti dalam hidup, aku merasa bahwa aku tak pernah diharapkan untuk melihat dunia yang begitu kejam. Namun aku sadar, bahwa aku adalah salah satu dari jutaan ribu sperma yang berhasil memenangkan sel telur. 

Dan aku berpegang teguh untuk mati ketika semua tugasku di dunia telah usai. Sekarang tugasku hanya untuk membahagiakan mereka. Walaupun mereka tak mau mendengarkan ceritaku, bukan tak mau hanya saja belum ada waktu. 

Bukan cerita panjang yang ingin kuceritakan, hanya satu kalimat dengan dua kata. 

   "Aku lelah"

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.