Profil instastories

Lazy Girl vs OCD Boy ~ part 1

Dirty Si Gadis Pemalas

Byurr

"Hmph hemhp hmmph." Dirty terbangun dengan gelagapan saat dia sadar wajahnya basah penuh dengan air. Dirty menoleh pada sosok di sampingnya. Wanita cantik dan anggun yang dipanggilnya Kakak itu berkacak pinggang dengan mata melotot tajam.

"Tahu ini sudah jam berapa?" 

"Jam berapa ya?" Tanya Dirty kembali sembari menggaruk rambutnya yang berantakan dengan asal.

"Kamu niat sekolah gak sih Dirty?"

"Sekolah? Apa itu? Sejenis makanan ringan kah?" Ucap Dirty tanpa merasa bersalah kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut basah akibat ulah Kakak tersayangnya.

"Kamu gak usah bercanda, Kakak tunggu lima belas menit lagi. Kalau kamu gak turun, Kakak bakal potong uang jajan kamu."

"Uang jajan?" Lirih Dirty dibalik selimut. Oh tidak, dia pasti rela di hukum apa saja oleh sang Kakak asal bukan yang satu itu. Uang jajan adalah hal paling berharga bagi Dirty. Tanpa itu dia tidak akan bisa hidup dengan damai.

Demi album Bts yang harganya lima kali lipat uang sekolahnya. Dirty memilih bangkit dari tempat tidurnya. Dilihatnya sang Kakak sudah tidak berada lagi di kamarnya. Ah Kakaknya itu paling tahu kelemahannya.

Dirty menurunkan kakinya, namun urung saat ia merasa telapaknya menyentuh sesuatu yang kasar, bukan lantai dingin yang menjadi dasar rumahnya seperti biasa. Penasaran Dirty melongokkan kepalanya. 

Wah, bahkan dirinya pangling melihat lautan sampah dan tumpukan pakaian di bawah kasurnya saat ini. Sungguh suatu kemajuan, mengingat kemarin dirinya hanya bisa menyerakkan setengah dari isi kamarnya.

Kini, sempurna sudah. Dengan berbagai snak berserakan, tumpukan pakaian kotor satu minggu yang lalu. Jam weker kesayangannya bahkan sudah teronggok dengan beberapa pecahan kaca di sampingnya. Ingatan Dirty memutar, memorinya kembali saat dua jam yang lalu, saat jam wekernya berbunyi. Ia mencampakkannya dengan sengaja hingga membentur lemari kacanya.

"Its perfect," ucapnya sembari melihat sekeliling kamarnya. Untuk kesekian kalinya Dirty menguap sebelum beranjak dari kasurnya. Ia harus bergegas jika tidak ingin uang jajannya di potong.

Dan sepertinya, Dirty harus memutuskan untuk tidak mandi mengingat Kakaknya hanya memberikan waktu lima belas menit. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Dirty tidak mempermasalahkan hal itu. Bahkan ia sangat senang, karena air adalah musuh terbesarnya.

"Hoahmmm."

Ng ng ng 

Plak

"Ganggu banget." Dirty menepuk-nepukkan tangannya. Satu lalat penyet tidak berdaya jatuh ke lantai. Bergabung bersama dengan barangnya yang berserakan. Syukur-syukur lalat itu sempat tertangkap sebelum masuk ke mulut Dirty yang belum gosok gigi.

Kalau tidak, bisa-bisa pagi ini akan muncul di berita. Gadis cantik bernama Dirty mati seketika di kamar tidurnya karena tersedak lalat. Kan tidak lucu.

***

"Besok kalau pergi sekolah mandi ya ty." Dirty menghentikan gerakannya menutup mobil, ia menoleh dan menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk kanannya.

"Ya kamulah, kamu gak tahu Kakak dari tadi udah berusaha tahan nafas dekat kamu. Belum lagi saat kamu salim sama Kakak. Bau rambutmu itu loh, astaga. Gak dicuci berapa lama sih. Lepek, bau, kusam, berketombe."

"Baru juga dua minggu," ucap Dirty ketus, sementara sang Kakak mendelik dalam hati membatin. Dua minggu? Pantas saja.

"Udah ah, nanti aja protesnya. Aku mau masuk nih." 

"Oke-oke, Kakak pergi dulu ya. Baik-baik di sekolah dan jangan buat ulah. Kakak nanti jemput kamu." Dirty menggangguk patuh, setelah melambaikqn tangan mobil sang Kakak pun melaju dan menghilang setelah masuk ke kelokan jalan.

Dirty tersenyum, ah lebih tepatnya menyeringai. Banyak siswa dan siswi yang berlalu lalang di depan pintu gerbang menatapnya dengan tanda tanya di kepala. Sementara sang empunya masih juga menyeringai.

Dirty berbalik arah, tapi bukan menuju gerbang sekolah. Padahal bel akan berbunyi satu menit lagi. Dirty berjalan santai menuju gedung belakang sekolah. Tempat biasa murid yang terlambat masuk apabila pintu gerbang sudah ditutup. Temboknya rendah, dan ada batu yang cukup tinggi di luar tembok yang bisa digunakan sebagai pijakan.

Dibalik gedung itu juga, tempat dimana anak kelas IPA yang terkenal karena kepintarannya belajar. Gedungnya terpisah dengan IPS. Sengaja, kata kepala sekolah. Para murid pintar harus mendapat perlakuan khusus mengingat fasilitas gedung belakang sekolah cukup lengkap dan memadai.

"Ternyata temboknya gak serendah yang gue bayangin. Pantas saja batu ini terkenal banget. Ini toh rahasianya," gumam Dirty memandang batu di bawah tembok. 

Menurunkan celana olahraga yang sudah digulungnya dibalik rok. Dirty bersiap memanjat.  Ia tidak sabar, ini pengalaman baru untuknya. Dan ia sengaja melakukan ini, karena penasaran dengan cerita tentang batu yang menjadi pijakannya saat ini cukup melegenda di sekolah. Serta gedung kelas IPA yang katanya sangat bagus dan terawat. Berbeda dengan gedung kelasnya, IPS.

"Neng mau bolos?" 

Dirty menoleh, seorang pria paruh baya dengan seragam petugas kebersihan lingkungan sedang menatapnya. Dirty yang sudah menaikkan salah satu kakinya kemudian menurunkannya kembali. Sebelum membalas pertanyaan pria paru baya itu, Dirty menghembuskan poninya lebih dahulu. Ah merepotkan sekali pak tua ini.

"Bukan Pak, saya cuma lihat-lihat," ucap Dirty kemudian.

"Lihat apa? Setahu Bapak teh dibalik tembok itu cuma ada bak sampah."

Dirty menautkan kedua alisnya dan menatap pria tua itu lekat-lekat. Sambil menyilangkan tangan di depan dada Dirty menyeluk, "Bapak sok tahu nih."

"Neng, puluhan tahun Bapak kerja di sini. Neng ini siswi sekolah ini kan? Masa tidak kenal sama Bapak?" Dirty menggeleng.

"Bapak ini teh petugas kebersihan sekolah kamu. Lah mosok kowe ora kenal." 

Dirty tetap menggeleng, dua tahun ia bersekolah di sini. Tidak pernah sekalipun melihat Bapak tua ini, apalagi dia juga tidak mengerti apa yang diucapkan Bapak petugas kebersihan di depannya. Kue? Kue apa? Dan siapa yang jualan kue?

"Wes terserah, tapi ingat pesan Bapak," ucap Bapak tua itu mendekat satu langkah ke arah Dirty. Tiba-tiba aura kegelapan muncul, angin bertiup dengan sangat kencang, dedaunan kering bahkan banyak yang berjatuhan tiba-tiba dan asap-asap hitam mulai keluar dari tubuh Bapak tua di depannya. Dirty bergidik, bulu kuduknya berdiri tanpa diminta.

"Di balik sebelah kanan tembok yang akan kamu lompati ini, ada bak sampah organik, dan di sebelah kirinya bak sampah an-organik. Ingat ini baik-baik, usahakan jangan pernah jatuh ke dalam bak sampah organik bagaimanapun caranya."

"Kenapa memangnya?" Potong Dirty takut.

"Karena jika kamu jatuh ke dalam bak sampah organik dan setelah itu seharian bertemu serta memupuk kebencian pada orang yang pertama kali kamu temui setelah keluar dari situ. Percayalah, kamu akan mendapatkan takdir buruk bersama dengan orang yang kamu benci. Eha ahaha hahha."

Tawa Bapak tua di depan Dirty semakin keras dan bertambah keras diiringi dengan angin yang semakin kencang.

"Percaya atau tidak, bak sampah itu punya kutukan." 

Bapak tua petugas kebersihan berlalu setelah mengucapkan satu kalimat yang menurut Dirty sangat tidak masuk akal. Sepeninggal Bapak itu pergi, aura mencekam yang ia rasakan sudah normal kembali. Angin yang bertiup juga sudah berganti dengan angin sepoi-sepoi.

Dirty merenung, "masa iya bak sampah punya kutukan seperti itu?" Gumamnya, namun kala ia melihat lagi ke jalan dimana tempat Bapak tua itu berlalu. Alangkah kagetnya Dirty saat melihat Pak tua itu sudah menghilang. Padahal hanya satu menit berlalu, bukankah Pak tua itu terlalu cepat menghilang.

Dirty berbalik melihat Tembok yang akan dia panjat tadi. Hasrat memanjatnya belum hilang bahkan ia bertambah penasaran karena ucapan Pak tua yang mengaku sebagai petugas kebersihan sekolah itu.

"Yang penting kan, jangan masuk ke dalam bak sampah organik." Dirty mengangguk kemudian bermonolog, "aku bisa melihat dulu saat akan melompat ke bawah. Kan tidak mungkin aku masuk ke dalam bak sampah begitu saja. Hellow gini-gini Dirty itu pintar." Dirty mendengus sembari melihat jalan yang dilewati Pak tua tadi.

"Baiklah, aku akan hitung sampai tiga. Satu...dua...tiga. Hup!" Dirty berhasil melompat ke atas tembok. Namun...

"Astaganagabonar, kenapa bak sampahnya luas lagi lebar serta panjang lagi tinggi begini? Kalau enggak kan gue bisa lompat lebih jauh supaya gak jatuh ke dalam. Mana kaki gue pendek lagi."

"Kalau begini, sekalian aja deh." Dirty melompat, namun saat kakinya sudah melayang dan hampir menuju bak sampah. Dirty teringat sesuatu.

"Organik itu yang plastik bukan sih?" Ucapnya saat sudah terjun ke dalam bak sampah yang di penuhi dedaunan dan makanan-makanan sisa.

Sudah kepalang jatuh, Dia tidak ingin berlama-lama di dalam bak sampah ini. Dirty keluar dengan tangan di rentangkan hingga dedaunan di tubuhnya berserakan.

 "Aaaa astaga setan sampah, jorok banget."

Dirty kaget, ia membuka matanya. Seorang lelaki sedang memandangnya dengan jijik sembari mengusap-usap tubuhnya yang terkena lemparan sampah organik yang tidak sengaja Dirty lemparkan.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.