Profil instastories

Just Cha Nara Love her family Love Harry Potter and Detective Conan Writing, Reading, Singing, Tradisional Dancing, Cooking

Kutukan Banshee - Part 1

Kutukan Banshee - Part 1

Disclaimer : Alur cerita, tokoh dan ide murni dari Author Author : Cha Nara Genre : Horor[Legend](?), Friendship, Family Warning : Typo, typo, dan typo. Dan masih banyak kekurangan lainnya.

***** Lagu itu mengalun di sepanjang jalanan kota Dublin. Membaur dengan raungan suara mesin yang menjadi satu dengan dentuman angin di luar mobil. Tidak ada suara orang sedang bersenda gurau atau sekedar berbincang. Hanya lagu Enya - I want tomorrow yang mengiringi setiap hembusan nafas di dalam mobil Ferrari warna silver itu.

Dawnbreaks, there is blue in the sky. Your face before me though I don't know why. Thoughts disappearing like tears from the Moon. Waiting here, as I sit by the stone, they came before me, those men from the Sun. Signs from the heavens say I am the one.

“Bagaimana kabarmu?” tanya laki-laki yang sejak tadi memegang kemudi di samping seorang gadis, yang sejak awal hanya menatap keluar kaca mobil, berusaha memecah keheningan. “Hmm? Oh, aku baik.” Gadis itu menoleh ke arah bangku kemudi. Dia tersenyum tipis. “Bagaimana suasana di Tralee? Sudah sangat lama ibumu tidak mengunjungimu di sana kan?” Laki-laki setengah baya itu tersenyum sambil terus menatap ke depan. Gadis itu tersenyum kecil. Matanya menatap ke depan, tapi seakan kosong. “Di sana yang terbaik.” Mata gadis itu menerawang jauh, tapi di wajahnya tersungging senyum indah penuh kepuasan. “Udara di sana masih sangat segar. Bahkan setiap liburan aku dan sahabat-sahabatku selalu menghabiskan waktu untuk pergi ke tempat-tempat seperti; Semenanjung Dingle dan Ring of Kerry dengan Taman Nasional Killarney.” Gadis itu bercerita dengan semangat. “Di sana banyak hal-hal menarik lainnya, seperti Theater Siamsa Tíredan Festival Rose of Tralee. Aku, Cyrill, Sean dan Calvin sangat suka berpetualang, bahkan mereka janji akan mengunjungiku di Dublin nanti.” Gadis itu langsung berhenti. Dia langsung menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. Menatap wajah laki-laki itu. “Apa boleh?” Gadis itu bertanya sedikit takut. “Emm, apa?” tanya laki-laki itu yang masih focus menyetir. “Mereka, err... maksudku teman-temanku. Apa boleh mereka mengunjungiku di rumah kalian?” “Oh, tentu saja. Tentu saja boleh, Abby. Ibumu juga pasti akan sangat senang, kalau melihatmu senang.” Laki-laki itu tersenyum menenangkan. Abby bernafas lega. Dia menegakkan tubuhnya. Berusaha membuat tubuhnya senyaman mungkin duduk di mobil itu. Dia menyandarkan kepalanya. “Apa masih lama?” “Tidak lama lagi. Kita hanya tinggal melewati beberapa belokan saja.” Laki-laki itu tersenyum sambil menatap Abby sekilas. Abby mengangguk. Gadis manis berambut coklat gelap itu menatap kembali keluar jendela. Dublin, yeah, kota ini bisa dibilang sangat menawan. Di sepanjang jalan banyak dihiasi gedung-gedung bergaya arsitektur Georgian. Banyak sekali restoran, bar, kafe dan pub yang bertebaran di hampir setiap sudut kota ini. Abby bahkan melihat beberapa tempat-tempat terkenal yang sering dia dengar dari ibunya saat perjalanannya itu. Seperti taman St Syephen’s Green dan St Patrick’s Cathedral. Dia tersenyum kecil di sepanjang perjalanan. Sesekali melirik ke arah pengemudi di sampingnya.Yeah, bicara soal ibunya dan laki-laki yang sejak tadi menjadi supirnya itu. Mereka baru saja menikah beberapa bulan yang lalu. Ibunya, Amelia Pugh bercerai dengan ayahnya tiga tahun lalu. Dan bertemu dengan John Meakin, laki-laki yang sekarang jadi suaminya, sekitar satu tahun lalu. John sangat baik, dia menyayangi Amelia begitu juga Abby. Selama ini Abby tinggal bersama ayahnya di Tralee, Kerry, barat laut Irlandia. Ibunya hanya sesekali mengunjunginya di sana. Sebenarnya dia lebih suka tinggal bersama ayahnya dan menghabiskan banyak waktu bersama para sahabatnya, daripada harus terus mengawasi ibunya bersama John. Bukan berarti dia tidak menyukai John, dia sangat menyukai laki-laki itu. Tapi ini lebih ke 'tidak mau mengganggu privasi mereka'. Pasti akan sangat kikuk saat melihat mereka duduk berdua saja tanpa melihat ada orang lain yang memperhatikan mereka. Sesekali terdengar helaan nafas dari Abby. Dia masih terus mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil sambil terus merenungkan. Bagaimana keadaan ayahnya jika dia harus tinggal bersama ibunya dalam waktu yang lama? Selama ini, ayahnya sangat bergantung padanya dalam hal rumah tangga. Ini pasti akan sulit bagi ayahnya. Lagipula belum apa-apa dia sudah merindukan pondok kecilnya di Tralee. Dia pasti tidak akan merasakan kenyamanan seperti di sana lagi. Karena sesungguhnya Abby yakin, bahwa rumah ibunya dan John pasti tempat tinggal yang bisa dibilang ‘lumayan’ besar. Mungkin seperti apartement? Melihat di kota apa mereka tinggal. Siapa yang tahu? ***** Terdengar suara decit ban bergesekan dengan jalan yang di paksa berhenti. Mobil Ferrari itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana dengan pagar kecil yang mengelilinginya. Abby melangkah keluar dari mobil. Matanya langsung menyisir tempat dia berhenti. Kakinya menapak, menuju jalan desa yang terbuat dari beton dengan pepohonan kering berjajar di sepanjang jalan. “Apa ini rumah kalian?” tanya Abby, terlihat sangat kagum dengan pemandangan yang terpampang jelas di depan matanya. “Yeah, di sinilah tempat kami membangun rumah kecil kami.” John tersenyum puas. Menatap lurus rumah kecilnya bersama Amelia, ibu Abby. Tidak seperti yang diperkirakan Abby sejak awal. Dia sempat berpikir kalau ibunya akan memilih tempat tinggal yang ramai dan penuh sesak di sekitaran gedung-gedung besar di Dublin. Tapi tempat ini sangat berbeda dengan perkiraannya sejak awal. Tempat ini sangat asri. Masih banyak pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitarnya. Abby juga bisa melihat pemandangan perbukitan yang indah, jauh di balik pepohonan. Tempat ini sepertinya berada tidak jauh dari The Rock Mountain. “Masuklah!” Abby sedikit tersentak. Seperti terbangun dari mimpi indahnya. Dia menatap John. “Masuklah! Ibumu pasti sudah menunggumu di dalam” John tersenyum. Dia menurunkan barang-barang Abby dari bagasi mobilnya. Abby, mengangguk. Dia melangkah memasuki rumah yang terbuat dari bata merah itu. Dia membuka pintu perlahan dan mengamati seisi rumah itu. “Seperti rumah impianmu?” sahut John yang masuk sambil menenteng koper-koper kecil milik Abby. “Yeah…. ” Abby menatap John tidak percaya. “Ibumu sendiri yang mendesignnya, dia ingin tempat ini membuatmu nyaman saat kau setuju tinggal bersama kami nantinya.” Abby mengangguk mengerti. Dan terus menatap ke seisi ruangan yang terasa kecil namun terlihat sangat elegan. Beberapa detik kemudian, seorang wanita cantik paruh baya keluar dari ruang yang menurut perkiraan Abby adalah dapur. Wanita yang sangat mirip dengan Abby, tapi dengan rambut berwarna coklat terang. Matanya biru terang sangat persis dengan mata Abby. “Mama!” seru Abby. Dia segera berlari menghambur ke pelukan ibunya. “Sayang! Hai, bagaimana kabarmu? Mama benar-benar merindukanmu.” Amelia memeluk Abby sangat erat. John hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Dia bersandar di ambang pintu sambil menatap lembut ke arah Amelia dan Abby. ***** Sudah hampir satu minggu Abby berada di Dublin. Dia banyak menghabiskan waktunya untuk berjalan-jalan. Menyusuri jalanan desa sendirian, menghirup udara pedesaan yang segar. Sesekali dia berjalan melewati ladang-ladang gandum yang sudah mengering sehabis di tuai. Sore ini dia hanya duduk-duduk di bangku kebun belakangnya. Dia mulai sedikit bosan. Ibunya dan John sedang tidak berada di rumah. Mereka sedang menyelesaikan urusan entah apa yang menurut mereka sangat penting. Mungkin urusan membuatkanku bocah pengganggu kecil yang akan membuntutiku setiap saat? Abby menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak mau memikirkan hal seperti itu. Dia terus saja mendengus seharian ini. Moodnya sedang tidak bagus. Tadi pagi dia mendapat pesan dari teman-temannya, yang mengabarkan bahwa mereka tidak jadi mengunjunginya di Dublin. Abby memutar-mutar ponselnya sebal. Menatap lurus ke arah pegunungan di belakang rumahnya. Dia mendesis marah sambil melempar batu ke sembarang arah. Terus saja melakukan itu sampai terdengar bunyi berkecipak dari lemparannya. Dia menatap ke arah batu itu terjatuh. Batu itu terjatuh di sebuah sungai kecil yang berada tak jauh dari rumahnya. Abby berdiri. Ada rasa ingin tahu yang sangat besar dalam dirinya. Dia menatap sekilas rumahnya dan memutuskan untuk berjalan ke arah sungai itu. Sungai kecil itu hanya berjarak 50 meter dari rumahnya. Di sekitaran sungai itu di tumbuhi rumput-rumput tinggi yang melingkar di setiap tepi sungai. Seluruh permukaan airnya tertutupi oleh daun-daun teratai. Abby menatap berkeliling. Dan matanya langsung tertuju pada hamparan tanah luas yang ditutupi banyak sekali bebatuan.Tempat itu seperti sebuah reruntuhan. Mungkin reruntuhan kastil kuno. Rasa penasaran Abby semakin besar. Dia berjalan ke arah sisa-sisa reruntuhan itu. Masuk semakin jauh ke dalamnya. Naluri petualang dalam dirinya membuat penemuan ini semakin memicu adrenalinnya. Bersemangat, dia menyingkirkan sedikit bebatuan dengan kakinya. Menyibak rerumputan yang menutupi permukaan tanah di reruntuhan itu. Siapa tahu saja dia akan menemukan sesuatu yang lain? Sesuatu yang bisa dia pamerkan kepada sahabat-sahabatnya nanti. Mungkin harta terpendam? Dan benar. Ada sesuatu yang berkilau beberapa langkah di depannya. Dalam hati dia bersorak, sepertinya dia benar-benar menemukan harta karun. Dia berlari ke arah benda – entah apa – itu. Dan mendapati sebuah sisir perak indah yang memantulkan sinar matahari yang sudah hampir tenggelam. Dia memungut sisir itu dan melihat berkeliling. “Sisir yang indah.” Abby menyunggingkan senyum. Dia terus memperhatikan sisir perak itu. Ada perasaan aneh yang sekarang sedang menggelanyutinya. Tapi dia tidak tahu jelas perasaan apa itu. Abby menimbang-nimbang, apakah sebaiknya dia mengembalikan sisir itu ke tempatnya atau membawanya pulang? Tapi jujur saja, keindahan sisir itu membuatnya takjub dan seakan ada dorongan dalam hatinya untuk memiliki sisir itu. Sisir perak dengan ukiran bunga teratai di setiap pegangannya itu terlihat sangat menggoda bagi Abby. Dia mengedarkan pandangannya ke sekitar reruntuhan dan sungai sekali lagi. Sepertinya tidak ada yang memiliki sisir ini, setidaknya tidak untuk sekarang. Pikir Abby. Mungkin saja ini milik penghuni kastil atau apalah tempat itu dulu. Abby tersenyum. Dia memutuskan untuk segera kembali ke rumah sebelum langit jadi semakin gelap. Berjalan sambil terus mengamati sisir perak yang dia pegang. Abby sudah memasuki kebun belakang rumahnya saat sedetik kemudian, entah dari mana ada suara nyanyian. Suara seorang wanita menyanyi, sangat merdu dan syahdu. Lagu yang terdengar sangat memilukan dan sangat menyayat. Abby sedikit tersentak dari tempatnya berdiri. Dia mencoba menajamkan pendengarannya, mencari asal suara itu. “Mama?” Abby berputar di tempatnya, berharap kalau suara itu hanya suara ibunya yang sedang menyanyi. Abby semakin menajamkan telinganya. Dia baru menyadari kalau lagu yang dia dengar ini adalah lagu kematian. Caoineadh atau jerit tangis. Mata Abby membelalak lebar, jantungnya berdegup kencang. “Lagu ini, lagu ini adalah….” Belum sempat dia melanjutkan kalimatnya. Dia mendengar desir angin semakin mendekat ke arahnya. Dia memicingkan matanya. Mencoba menatap arah angin itu mendekat. Lagu syahdu yang dia dengar tadi, lama-kelamaan berubah bernada keras dan menyeramkan. Abby mundur perlahan. Desiran yang semula dia kira angin, ternyata adalah sesosok wanita dengan rambut indah yang sangat panjang, wajahnya yang kabur membuatnya terlihat semakin menyeramkan. Dengan gaun panjang berwarna abu-abu menjuntai sampai menutupi kaki. Melayang di udara, bergerak sangat cepat melebihi kecepatan puting beliung. Semakin cepat dan meninggalkan hembusan kabut keruh di belakangnya. “MAMA…!” Abby sedikit berteriak. Tiba-tiba tubuhnya seakan-akan membatu. Terpampang jelas ketakutan di matanya. Dan yang terakhir kali dia dengar dan rasakah adalah hantaman sangat keras yang dia rasakan sampai merasuk ke sendi-sendi tulangnya. Sebuah hantaman yang berasal dari sekelompok angin besar yang menabrak tubuhnya sangat keras dengan diiringi jeritan mengerikan yang melengking sangat tajam di sekitarnya. Abby menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya rapat-rapat. Matanya terpejam erat. Dan sesaat kemudian, dia sudah tersungkur di tanah dengan kedua tangan masih menutup erat kedua telinganya yang terasa sakit karena jeritan tadi. “Abby!” Amelia, ibu Abby berdiri kaget di ambang pintu belakang rumah mereka, saat mendapati anaknya sudah jatuh tersungkur di tanah sambil memegang erat kedua telinganya. Dia segera berlari menghampiri anak gadisnya. Perasaan khawatir mulai menyelimutinya. Dengan cepat dia meraih tubuh Abby yang gemetaran hebat. Mata Abby masih terpejam erat. Dia samar-samar bisa mendengar suara ibunya yang bernada ketakutan dan suara langkah kaki yang semakin mendekatinya. Bukan hanya suara sepasang langkah kaki, tapi ada beberapa langkah kaki yang berlari menghampirinya. Abby masih belum berani membuka mata dan telinganya. Pikirannya masih belum terfokus sepenuhnya. Sensasi tadi sudah benar-benar membuatnya tertekan. “Sayang, ada apa? Apa yang terjadi?” Suara Amelia terdengar panik. “Mama…." Abby langsung menghambur ke pelukan ibunya. Tubuhnya masih bergetar hebat. Dia masih belum berani membuka matanya. Dia takut, saat matanya terbuka nanti yang dia dapati adalah sosok wanita misterius itu lagi. “Tenanglah! Apa yang telah terjadi denganmu? Apa yang membuatmu sampai ketakutan seperti ini?” Amelia membelai lembut punggung Abby. Abby hanya menggelengkan kepalanya. Dia masih belum bisa mencerna kejadian yang baru saja menimpanya. Sosok apa yang sebenarnya dia lihat tadi? Selang beberapa detik Abby baru menyadari ada suara-suara lain yang menyuarakan namanya. John? Bukan, ini bukan suara John. Abby membuka matanya perlahan, dan sesaat kemudian dia mendapati Cyrill, Sean dan Calvin sudah menunduk khawatir di sekelilingnya. “Kalian?” ucap Abby sedikit histeris dan segera melepaskan pelukan ibunya. “Abby, kau membuat kami khawatir.” Cyrill sudah memeluk Abby saat mengatakan itu. “Bukankah dia selalu seperti itu selama ini?” tanya Sean sambil mendengus kesal. Sedangkan Calvin hanya menatap lembut gadis itu tanpa bersuara. “Apa gara-gara kami berpura-pura tidak akan mengunjungimu, kau jadi sinting?” olok Cyrill. “Yeah, dia pasti sudah gila karena tidak ada kita.” Sean nyengir. “Oh, aku sangat senang kalian datang. Walaupun, aku memang sedikit sebal pada kalian karena membohongiku.” Abby seperti sudah melupakan apa yang terjadi padanya tadi. Dia memeluk ketiga sahaabatnya itu dan menghabiskan waktu bersama mereka semalaman suntuk. __To be continue__

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani