Profil instastories

KUTEMUKAN CINTAKU DIRERUNTUHAN GEMPA

 KUTEMUKAN CINTAKU DIRERUNTUHAN GEMPAH

 

“Letih sudah hatiku mengembara

Lelah sudah anganku menerawang

Harapanku kian pupus dari tiap langkah pencarian jejak cintaku yang hilang”

                                                   Sebab

Kemanapun aku menatap hanya seraut wajah yang tiada mampu kutepis.

 

Berusaha berdiri ketika terjatuh dan bangkit kembali dari keterpurukan menata tiap serpihan hati agar bisa kembali utuh, hingga menjadi sebuah bingkai yang indah, sembari menanti matahari guna menjemur luka kehilangan yang masih basah dan belum bisa kering dengan berlalunya waktu. Tak mudah bagiku untuk melakukan itu semua. Aku butuh pegangan yang kuat. Dan irama takdir membawaku kepada cintaku, kepada cinta yang jauh lebih indah, lebih berwarna dari apa-apa yang pernah hilang dari hidupku. Saat kutemukan “Dia”.

Aku menemukan sosok Shela dalam diri Sabrina. Shela, gadis berwajah indo, cantik cerdas dan ceria, telah menarik hatiku memasuki sebuah lorong waktu yang dipenuhi aroma cinta menggandeng tanganku menyusuri tiap jalan yang berliku yang kami lalui bersama. Organisasi bersama, kuliah bersama, seminar bersama, sampai mematahkan tiap susah dan rintangan yang datang menghadang dalam mengejar impian kami berduapun bersama-sama.

Impian menjadi seorang sarjana, punya pekerjaan yang mapan kemudian hidup bersama dalam suka dan duka mengarungi kehidupan yang tak mudah sampai kemudian taqdir datang menghempas asa, memporak-porandakan tiap tonggak yang kami susun dengan susah payah. Menghancurkan segalah mimpi-mimpi kami berdua.

Maut adalah kata kedua dari taqdir yang memisahkan aku dan Shela, saat kami berdua dalam ikatan pertunangan. Dan aku menyerah pada ketentuanNya dan mengikhlaskan Shela dalam pangkuanNya.

Namun hatiku ini… bagai sebuah cermin yang hancur berkeping-keping dan tak bisa diutuhkan lagi. Tak ada bayangan yang bisa hadir disana. Tak ada nama yang bisa kutulis disana kecuali nama Shela. Tiap kali kucoba menghadirkan riak-riak kerinduan itu. Menghadirkan yang bisa menggantikan Shela semuanya hambar dan hanya menorah angan-angan hampa!

Menyibukkan diri dengan bergabung diberbagai kegiatan kemanusiaan telah menggiringku kepada kekuatan hati, serta kebesaran jiwa bahwa disana… di kehidupan lain, aku pasti akan dipertemukan Shela kembali. Tuhan... pintaku dalam hat.

“Aduh sakit… sakit…! Samar-samar aku mendengar sebuah rintihan kecil, kemudian hilang ditelan hiruk-pikuknya suasana yang mencekam sehabis gempa dahsyat yang mengguncang Palu beberapa waktu yang lalu. Dan tanpa sadar aku menemukan sosok seorang perempuan yang tertelungkup itu dengan balutan jilbab maron yang melilit kepala perempuan muda itu. kuangkat, “Masya Allah… ! Shela…?! Kau kah itu Shela…?! Kenapa kamu bisa berada di sini…? Kuguncang tubuh mungil itu dengan keras sembari memeluknya erat. Sementara darah yang mengucur dari dahinya mewarnai pakaianku.

“Bangun Shela… bangun Shela…! Aku bagai terhipnotis. Seperti menemukan kembali Shela. Aku menemukan jejak cintaku yang hilang. Tapi bagaimana mungkin? selama 2 bulan Shela dirawat di rumah sakit dengan penyakit kanker ganas yang menggerogoti tubuhnya, yang kemudian penyakit itu pula yang mengharuskan Shela kembali kepangkuan Ilahi, dan Shela sudah terkubur di sana… Nan jauh di tanah Sulawesi Barat dan aku sendiri ikut menguburkannya sampai hatiku ikut terkubur bersamanya. Lalu siapa yang ada di hadapanku sekarang?.

“Hei… ! Apa yang kamu lakukan, cepat angkat korban ke mobil ambulans” seorang teman relawan menghentakkanku, aku terkejut. Aku bergegas mengangkat tubuh gadis itu dengan berbagai perasaan berkecamuk dalam hatiku. 

Cemas, takut, bingung bercampur jadi satu, jika sampai nyawa gadis itu tidak tertolong. Aku sendiri yang mendampingi gadis itu sampai ke rumah sakit sampai gadis itu mendapatkan perawatan. Busana yang digunakannya penuh dengan percikan darah membuat hatiku kian miris, dan saat dia tersadar, dia menatap di sekelilingnya. Tak ada siapa-siapa kecuali diriku. Gadis itu memanggil-manggil keluarganya. Semua diam, para perawat, dokter, tim sar dan relawan, hanya menggelengkan kepala karena ternyata seluruh keluarganya telah tewas tertimbun reruntuhan bangunan saat gempa dahsyat itu terjadi. 

Gadis itupun terkulai lemas dan kemudian kembali tak sadarkan diri begitu menyadari keadaan seluruh keluarganya.

Hanya aku, yang setia mendampingi gadis malang itu. aku tak tahu dorongan apa yang membuat aku mau saja begadang semalaman di rumah sakit menjaganya, sampai aku harus mondar-mandir rumah sakit dan lokasi gempa demi melaksanakan tugas sebagai relawan, kalau bukan karena tugas dan tanggung jawab aku pasti tidak akan meninggalkannya sedetikpun. Aku ingin melindunginya dari segala macam hal yang akan membuatnya terluka karena aku bisa merasakan penderitaan gadis yang kini sebatang kara itu.

“Aku tahu sakitnya kehilangan orang terkasih kita…” siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu begitu memperhatikan aku…? gadis itu membalas ucapanku dengan wajah yang agak kecut. Aku melebarkan bibir mencoba memberikan seulas senyum untuknya. “Nama saya Fahri, saya adalah salah satu relawan yang bertugas di sini.” Aku menyebutkan nama dengan mengulurkan tangan dengan maksud berkenalan. Gadis itu tak membalas senyumku tapi justru air matanya yang menetes membasahi sudut bibirnya yang tentu mewakili kepedihan hatinya. Tapi alhamdulillan dengan tangan berat gadis itu menyambut tanganku dengan menyebutkan nama. 

“Sabrina… Nama yang sangat indah sesuai dengan orangnya” ujarku mencoba membuka pembicaraan yang hangat dengannya. “Tapi tak seindah nasib dan takdirnya”

Aku terdiam seribu bahasa mendengar ungkapannya yang menyayat hati. Sejenak kami terdiam dan menerawang dengan pikiran masing-masing dan sebentar kemudian salah seorang perawat datang mengganti botol infusnya yang mulai habis, setelah selesai kemudian Sabrina memulai lagi pembicaraan.

“Kenapa kamu begitu memperhatikan aku… ? pertanyaan yang dilontarkan Sabrina kali ini membuatku salah tingkah. Mana mungkin dalam kondisinya seperti ini aku akan mengatakan bahwa aku seperti melihat Shela kekasihku hidup kembali. Wajahnya, caranya berbicara, tatapannya, semuanya benar-benar mirip Shela bahkan cara Sabrina ketika memandangku sama seperti Shela.

“Sudah aku katakana aku ini relawan, dan anggap saja aku ini keluargamu yang datang dari jauh untuk menemanimu dan boleh lebih dari itu, misalnya malaikat yang dikirim Tuhan untukmu.” Tambahku penuh semangat. Sabrina sedikit tersenyum walau terlihat sangat berat. Membuatku menerawang jauh, dimana aku dan Shela setiap kali berhasil menyelesaikan satu masalah maka kami berdua saling melempar senyuman. Dan kini aku dan Sabrina melakukan hal yang sama, melemparkan senyum sebagai tanda kami punya rasa simpatik satu sama lain.

Sungguh Tuhan punya rencana yang sulit kita duga. Aku kehilangan Shela bersama seluruh mimpi-mimpi indah. Namun ditengah perjuanganku untuk memupuk kembali hatiku yang kering, Tuhan mempertemukan aku dengan seorang gadis yang segalah mirip dengan Shela, walau Sabrina jauh lebih religious dan lebih intelek. Dan kini aku seperti dititipi oleh Tuhan sebuah tanggung jawab besar untuk menjaganya, melindunginya, dan mencintainya sepenuh hati.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani