Profil instastories

KUHAPUS AIRMATAMU DENGAN TANGISANKU

Pagi yang tidak begitu cerah, sebentar lagi langit menangis. Butiran air dinginnya sudah mulai terasa menyentuh tubuh bagian kepala. Tia dan Citra bergegas menyeberang jalan. Gedung sekolah mereka tinggal beberapa langkah lagi.

“Ayoo, cepet Citra udah gerimis tau!” Seru Tia yang terus berlari meninggalkan Citra di belakangnya.

“Tiaaaa, tungguuuu!!!” Teriak citra dari belakang.

“Lu kok ninggalin gue sih?” Ucapnya sambil terengah-engah setelah mereka sampai di depan kelas.

“Abisnya lu sih jalannya kayak keong,” jawab Tia sambil nyengir memperlihatkan deretan giginya yang cukup besar.

“Apaan sih lu,” sahut Citra merajuk.

“Hee, buruan, udah bel,” Faisal keluar mengingatkan mereka.

Hal seperti itu sudah biasa terjadi, karena rumah mereka tidak begitu jauh, mereka suka datang pas bel masuk berbunyi. Kan ada pemeo: Semakin dekat rumah dengan sekolah, semakin malas berangkatnya. Hehe…

Jam pertama pelajaran agama. Faisal yang jadi ketua kelas memberi aba-aba penghormatan untuk Bu Ustadzah Salsa. Dalam pelajaran ini Faisal selalu diandalkan oleh Bu Ustadzah Salsa. Selain jago mengaji dan sangat menonjol dalam pelajaran ini, ia juga bisa komputer. Beberapa kali jika Laptop Bu Ustadzah bermasalah, Faisal yang mengutak-atiknya supaya normal lagi. Di ruang agama memang sudah ada infokus, sehingga penyampaian pelajarannya tidak monoton. Sesekali Bu Ustadzah menampilkan film-film Islami biar anak-anak tidak jenuh.

Citra juga sangat bersemangat mengikuti pelajaran agama karena Faisal pasti akan selalu membantunya. Jika ada latihan soal yang berhubungan dengan menulis huruf Al-Qur’an, pasti Citra menyerah. Dia mengaku kalau sejak dulu belajar menulis tajwid tidak bisa-bisa.

“Makanya ilmu beginian kalau udah tau harus terus dilatih dengan membaca Al-Qur’an setiap hari,” nasihat Faisal kepada Citra.

“Iya deh! Aku kan suka lupa.”

“Lupa apa lupa?”

“Iih…tau, ahh!” Citra langsung cemberut. Kalau sudah begitu Faisal spontan tertawa ngakak. Anak berhidung mancung itu pernah bilang kalau Citra sedang marah malah tambah cakep. Konyol gak, masa orang lagi marah di bilang cakep, yang nggak-nggak aja Faisal. Tapi, diam-diam Citra seneng banget dibilang cakep sama Faisal cowoknya yang dicintainya. ‘Dialah orang pertama yang bilang aku cakep kalau lagi marah,’ bathinnya.

“Abis kalau kmu lagi kesel gitu makin seru dan wajah kamu makin cakep hahaha…” Begitu isi sms Faisal ke Citra suatu malam saat masing-masing ada di rumah.

“Wah, masa iya, aku cakepan kalau lagi marah,” balas Citra.

“Iih, aku jadi gregetan sama kamu, kalau kamu disini udah aku cubit pipinya….,” lanjut Citra lagi

“Hahaha…makanya aku suka ngeledekin kamu dan buat kmu cemburu biar kamu marah kayak kemarin.”

“Iih, bener yah kamu, kalau kamu ada di sini udah aku cubit.”

“ya udah, aku pengen dicubit,” Faisal menulis.

“Ga ah.”

“Kenapa?”

“Takut”

“Takut kenapa?”

“Takut aja…sakit lo kamu kalau dicubit aku.”

“Hemm…bagi aku itu nggak sakit melainkan enak…hehe!”

***

Faisal memang sangat kenal dengan Citra. Ia tahu persis seperti apa Citra karena memang sejak kecil ia telah berteman dengan anak itu. Dari SD hingga SMP bersekolah di sekolah yang sama. Kebetulan gedung sekolahnya juga satu, bedanya waktu SD mereka menempati ruang di lantai dasar, sedangkan saat di SMP menempati ruang-ruang di lantai dua. Jadi boleh dibilang sudah 9 tahun mereka bersama-sama dan bersekolah di tempat yang sama. Hanya saat di kelas tujuh mereka sempat berbeda kelas. Namun di kelas delapan dan Sembilan menduduki kelas yang sama lagi. Waktu mereka duduk di kelas delapan itulah, benih-benih cinta tumbuh seiring dengan perkembangan usia remaja mereka. Mereka kemudian memutuskan untuk berpacaran.

Hai, Sal!” tegor Niken. Anak kelas 9 B yang terkenal cantik dan perfek suatu ketika menjelang pelajaran tambahan.

“Hai, Ken, bimbel apa lo hari ini?”

“Matematika. Lo mau ikut nggak ntar ke rumah Dani?’

“Ada apa?”

“Ah, masa lo nggak tau. Si Dani kan ultah hari ini. Payah lo, taunya footsal aja sih.”

“Oh, sorri, gue lupa. Emangnya si Dani ngadain party?”

“Nggak bener-bener sih. Cuma ngrumpi aja, lo kan pernah deket ama dia? Ntar kalau lu bisa lu nyamper gua. Kita bisa pergi bareng.”

“Iya, deh. Tapi gue nggak janji, ya.”

“Haha…dasar jagoan kodok. Gua tau yang lo maksud, lo nggak jamin ya dibolehin sama putri ayu lo itu, haha! Liat aja tuh, tatapan seremnya lagi ngeliatin kita berdua. Dah, gue pamit ntar dia pingsan lagi natap lama-lama kita yang lagi berduaan.”

“Lu nyindir Citra, ya? Sialan lo!” Faisal menggerutu sambil mengarahkan pandangan pada arah yang dimaksud Niken. Benar saja Citra yang berada di lantai dua sedang memandang ke arahnya. Faisal hanya nyengir kuda sambil menggaruk-garukkan kepalanya yang gak gatel.

Jika saja bukan Faisal, mungkin hubungan keduanya tidak langgeng karena Citra sangat pencemburu, suka ngambek, dan tertutup. Ia tidak akan banyak bicara jika bukan pada orang yang sangat dikenal. Berbeda dengan Faisal yang supel dan banyak teman, termasuk teman-teman wanita di sekolahnya karena dia selain aktif di OSIS dan menjadi andalan team footsal di sekolahnya, ia juga termasuk anak yang pintar. Setiap semester selalu mendapat peringkat satu di kelasnya.

Anak yang wajahnya kearab-araban itu memang sudah sejak SD selalu nomor satu. Semangat belajar ditambah otaknya yang encer itu senantiasa memberi dorongan bagi Citra , wanita yang dicintainya itu agar selalu rajin belajar untuk bisa mendapatkan rangking di kelasnya. Alhamdulillah, di semester ganjil, Citra bisa mendongkrak nilainya hingga mendapat rangking tiga. Suatu prestasi yang membanggakan yang membuat salah seorang wali murid teman sekelasnya menyangsikan keberhasilannya.

“Gak mungkin anak saya bisa kalah dengan si Citra,” ujar seorang bapak yang baru saja mendapatkan rapot dan melihat rangking anaknya di bawah Citra.

“Kenapa, Pak?” Tanya Faisal yang kebetulan berpapasan dan melihat Bapak itu menggerutu.

“Ini. Masa si Citra bisa rangking dua dia kan gak ada apa-apanya. Masih pinteran anak saya.”

“Pak, jangan gitu. Emangnya Bapak tau bagaimana anak Bapak di sekolah,” ujar Faisal.

“Ya, jelas, anak saya pintar. Nilai hariannya aja bagus-bagus,”sahut Bapak itu.

“Ya udah Pak, tapi Bapak jangan meremehkan si Citra. Dia juga nggak bodoh malah rajin mengerjakan tugas,” timpal Faisal.

“Udah-udah, Sal, gak usah diladenin Bapak itu,” Rudi melerai percakapan yang bisa jadi pertengkaran itu. Ia tau pasti Faisal nggak bakal terima ceweknya diremehin di depan matanya.

Faisal segera digiring oleh teman-temannya menjauh dari si Bapak yang masih menggerutu. Meski merasa sedikit gusar, Faisal mengikuti saja kemana teman-temannya membawa. Ia juga sebenarnya malas meladeni omongan orang tua itu. Tapi ia tahu Citra seperti itu bukannya tanpa usaha. Ia tahu persis wanita yang disayanginya itu sebenernya bukan orang yang bodoh hanya kurang sungguh-sungguh dalam belajar. Jadi apa yang ia dapatkan sekarang ini adalah sebuah kewajaran. Sangat wajar bagi siapa saja yang bisa belajar sungguh-sungguh dan mematuhi setiap aturan serta perintah guru yang mengajar.

“Hmm, payah tuh Bapak, masa Citra dibilang ga ada apa-apanya, jadi emosi gue.”

“Ya udahlah, ngapain ditanggepin, ntar juga Bapaknya si Ari nyadar sendiri kalau anaknya emang nggak serius belajarnya di kelas,” Reihan menenangkan.

“Iya sih.”

“Ya udah kita jadi main di GF. Mahardhika, gak? Fariz mau ke sana nanti?” Tanya Dodi temen satu team footsal

“Oke, Dod, bilang Fariz, gue bakal main.”

***

Hari itu di sekolah ada kegiatan porseni selama tiga hari. Setelah pulang sekolah para siswa berkumpul di lapangan untuk menyaksikan tim futsalnya berlaga melawan kelas lain. Termasuk tim footsal di kelasnya Citra.

Semua siswa yang mengelilingi lapangan bersorak sorai menyemangati tim masing-masing. Demikian pula saat kelas Citra bertanding. Nindya, Krisa, Candra, dan Tia berteriak-teriak memberi semangat. Termasuk Citra. Namun teriakannya tidak semeriah teman-temannya. Ada yang mengganjal di hati Citra. Di pertandingan itu ia tidak bisa melihat jagoannya berlaga. Faisal tidak bisa main saat babak semi final pada hari itu. Ia sedang menemani ibunya berobat ke rumah sakit.

Sudah sebulan ibunya menderita sakit kanker empedu. Sejak kematian ayahnya empat bulan yang lalu sang ibu sering sakit-sakitan. Faisal sebagai anak satu-satunyalah yang praktis selama ini mengurus dan merawat ibunya. Faisal memang sangat sayang pada ibunya. Tak ada yang bisa menyaingi rasa sayangnya itu dan tak ada yang bisa menghalangi dirinya untuk membaktikan dirinya pada orang tua yang tinggal satu-satunya itu.

“Bagaimana pertandingannya, Aay, seru nggak?” Faisal mengirim sms ke Citra.

“Huh seru banget, tapi nggak lengkap kalau nggak ada kamu.” Jawab sms Citra.

“Hmm, apa sih istimewanya aku?”

“Ahaha, kamu tuh istimewa banget.”

“Isimewanya apa?”

“Apa, yah? Aku juga bingung.”

“Hmm…berarti asal ngomong donk nggak ada buktinya.”

“Yah, kamu tuh baik, seneng aja kalau deket kamu…”

“Hahaha…bisa aja kamu.”

“Gimana ibumu?”

“Alhamdulillah, sudah mendingan.”

“Salam ya, buat ibu kamu.”

“Iya.”

Akhirnya tim futsal kelas Citra harus menelan kekalahan satu kosong dengan kelas sembilan yang lain karena Faisal sebagai pemain andalan yang sudah ikut club Futsal di luar sekolah tidak bisa bermain. Citra dan teman-temannya memang kecewa namun mesti bagaimana lagi karena yang namanya pertandingan harus ada yang menang dan ada yang kalah. Ketidakhadiran Faisal tidak perlu disesali sebab Faisal memang memiliki alasan yang kuat untuk tak dapat membela timnya saat itu.

“Yah, kita kalah?” Keluh Tia sambil melangkah gontai meninggalkan lapangan.”Sayang ya Faisal nggak bisa ikut.”

“Ya mau gimana lagi, si Faisal kan gak ikut karena ngurusin ibunya,” sahut Candra.

“Gue udah smsin dia ngasihtau kalau kelas kita kalah,” kata Citra.”Dia minta maaf, karena nggak bisa memperkuat tim futsal kita.”

“Ya udahlah gapapa, kelas kita cuma kalah tipis gak malu-maluin kayak kelas 9 H, kalah delapan kosong,” kata Tia lagi.

Sejak ibunya sering sakit Faisal jarang masuk sekolah. Ia juga mulai jarang sms dan menghubungi Citra. Hpnya juga jarang aktif. Karena itu, Citra jadi sering uring-uringan di sekolah. Wajahnya murung, kadang jutek jika diajak bicara, sering buat status di fb yang nggak-nggak dan suka ngomel-ngomel sendiri. Tia sebagai teman dekatnya tak tahu harus bagaimana menghiburnya.

“Tia, gimana kabarnya Citra?” Suatu ketika Faisal mengirim sms ke Tia. Ya, ampun ni orang udah lama gak kelihatan baru sms, bhatin Tia

“Sal, gimana ibu lo? Udah empat hari ini lo nggak masuk sekolah?”

“Iya, Ti, gue juga nggak bisa ninggalin ibu gue. Dia selama ada gue ya ada yang ngurus, jadi udah makin membaik kok.”

“Syukur deh, Sal.”

“Gimana di sekolah? Gue udah banyak ketinggalan pelajaran, nih?”

“Ya iyalah! Tapi bukan cuma itu aja. Angel lo tuh, si Citra, galau terus gak ada lo.”

“Tapi dia kan baik-baik ajah, ya?”

“Baik gimana? Ngomel-ngomel mlulu, gue yang kena sasaran.”

“Hahaha…sorri deh, bilang gue minta maaf.”

“Ah, bilang aja sendiri. Lagian lo ga pernah sms, di-sms gak dibalas, ga punya pulsa yaa?”

“Haha…sembarangan! Gue gak mau ganggu dia. Ada hal yang sangat berat yang mesti gue lakuin. Nanti yah, gue cerita sama lo.”

“Apaan sih? Lo udah bosen sama Citra?”

“Nanti aja. Nanti juga lo tau.”

“Tapi besok lu masuk kan?’

“Iya.”

“Oke deh.”

Keesokkan harinya Faisal memang masuk sekolah, tapi seperti mengalami banyak perubahan. Faisal tak lagi sehangat dulu kepada Citra. Anak itu tak lagi begitu peduli. Acuh tak acuh. Beberapa teman dekat Citra termasuk Tia sampai heran melihat perubahan sikap Faisal. Lebih-lebih Citra, ia semakin banyak menyendiri dan asyik menulis sesuatu di Hp Black Berrynya. Terkadang terlihat menangis. Tia jadi prihatin.

Tak hanya itu, belakangan Faisal justru tampak mendekat dan makin dekat dengan Maya, siswa kelas lain yang sangat menyukai dirinya. Tia merasa bahwa itulah yang dimaksud oleh Faisal saat ia mengirim sms padanya beberapa waktu lalu. Faisal sudah berubah!!!

Hari itu, Citra seperti baru saja bertengkar via sms dengan Faisal. Tia mendekatinya. Kasihan Citra, ia nggak sampai hati melihat teman dekatnya diperlakukan seperti itu.

“Kamu gak papa, Cit?”

Citra diam saja. Ia meletakkan Hpnya di atas meja. Saat itu Tia melihat beberapa catatan yang biasa di tulis Citra di Hp BlackBerrynya.

“Bener-bener nyesel aku sms kamu duluan kalo cuma belain dia doang. Mendingan tadi aku gak usah sms kamu kalo tau kayak gini malah bikin fikiran buat aku. Emang bener yah kamu sekarang udah bener-bener gak peduli lagi sama aku. Yah aku gak percaya secepat itu kamu lupa sama aku. Tapi nggak papa lebih cepat kamu ngelupain aku mungkin lebih baik dan kamu bisa cepet juga dapet pengganti yang lebih baik dari aku. Aku bener-bener terima kasih banget buat hal yang pernah kamu kasih, kamu korbanin, dan hal yang pernah kamu ajarin ke aku karena aku seperti ini juga berkat kamu. Kamu yang kasih semangat aku di saat aku putus asa. Kamu yang selalu temenin aku saat aku kesepian, kamu yang selalu ada buat aku. Tapi maaf, aku belum sempet balas apa yang kamu kasih ke aku. Yah semoga kamu terbiasa dan bisa hidup tanpa gangguan dari aku. Dan aku disini cuma bisa melihat kamu tersenyum, liat kamu bahagia karena kalau kamu bahagia, aku juga akan bahagia.

Di saat aku lihat kamu bersama dia, aku cuma bisa diam dan membendung air mata aku supaya gak jatuh di depan kamu dan kamu gak tau sakit dan sedihnya aku lihat kamu. Kamu boleh tahu kebahagiaan aku, kamu ga boleh tahu kesedihan aku…." …..

“Sal, gue kasih tau ya, “ kata Tia saat punya kesempatan berbicara berdua saja dengan Faisal.”Lo tuh gak lebih dari laki-laki kutu kupret, tau gak lo!!!”

“Sabar, Ti! Sabar , gue bisa jelasin!”

“Brengsek lo! Teganya lo nyakitin Citra. Lo kan tau die udeh dari kecil kenal sama lo! Bisa-bisanya ya lo mainin perasaannya.”

“Serius, Ti. Gue nggak bermaksud kayak gitu. Jika saja lo mau dengerin penjelasan gue. Please!”

“Apa lagi yang lo mau jelasin. Udeh jelas lu bikin die ancur gitu!”

“Tolong Tia dengerin omongan gue dulu.”

“Alaah udah deh, ga usah cari-cari alasan segala. Gue gak mau denger. Gue maunye lu sadar dah nyakitin Citra dan mau balikan lagi.” Sambil berkata begtu, Tia pergi meninggalkan Faisal yang tidak mengejar tapi masih memanggil-manggi namanya.

Hari-hari berikutnya Faisal makin sering tidak tampak di kelas. Dia sepertinya sengaja menjauh dari Citra dan Tia dua sahabatnya yang sudah dikenalnya sejak dari SD. Tia juga hanya bisa meliat Citra hari demi hari terpuruk dengan kesedihannya. Namun, ia sendiri tak bisa berbuat apa-apa selain selalu menjadi temen curhat dan curahan tangis Citra.

“Udah dong Cit,” hiburnya saat kesekian kalinya Citra menangis dipelukannya.”Lu harus bisa melupakan Faisal. Dia berbuat seperti ini pasti ada alasannya. Masih banyak yang mau sama lu. Laki-laki yang baik yang tak kalah gantengnya dari Faisal.”

“Ga bisa Cit gue gak bisa ngelupain die. Gue udah coba. Gue sekarang bahkan cuma bisa menunggu keajaiban die bisa hadir lagi di kehidupan gue. Gue bakalan akan menunggu bahkan sampai ajal menjemput gue.”

“Ya. Allah, Citra. Udah deh, lu gak boleh kayak gini terus. Lama-lama konsentrasi lu buat belajar dan ngadepin UN akan buyar. Ayo Cit, lu harus bisa nglupain Faisal, gue bakal bantu cariin lu pengganti Faisal, ya.”

***

Hari demi hari berlalu. Tak terasa dua bulan setengah lagi Ujian Nasional tiba. Para siswa ada yang masih santai belajarnya , ada pula sebagian besar yang sudah tampak belajar sungguh-sungguh membahas soal-soal. Mereka tidak mau membuang waktu sedikitpun untuk suatu hal yang sangat penting itu, yang jika disepelekan akan mendapat penyesalan seumur hidup yaitu TIDAK LULUS!

Bahkan tak bosan-bosan, Wali kelas di setiap kesempatan selalu mengingatkan agar anak kelasnya belajar sungguh-sungguh dan menjaga kesehatan. Sebab, jangan sampai terjadi di saat ujian berlangsung ada siswa yang terserang penyakit sehingga harus mengikuti ujian susulan yang sama sekali tidak nyaman dan dilakukan bukan di sekolah sendiri tapi di sekolah rayon bersama anak-anak sekolah lain yang ikut susulan. Pengalaman yang terjadi hampir sebagian besar siswa yang ikut susulan mengalami depresi dan grogi sehingga hasil UN-nya kurang baik dan akhirnya tidak lulus.

Di saat para siswa yang lain sedang giat-giatnya belajar dan menjaga kesehatan , malah terdengar kabar bahwa Citra jatuh dari Kopaja ketika pulang dari kegiatan bimbelnya. Sekujur tubuhnya memar dan kakinya terkilir cukup parah. Citra sementara tak bisa masuk sekolah dan harus mendapatkan perawatan khusus di kakinya karena sulit berjalan.

“Sabar, ya, Cit,” ucap Tia kepada sahabatnya itu.

“Iya, Cit, lu pasti segera sembuh kok,” hibur Candra.

“Lo gak usah mikirin macem-macem ya, lo harus tetep semangat ,” tambah Krisa.

“Kita selalu berdoa kok buat lu,” sambung Nindya.

Berhari-hari Citra harus terus berada di rumah dan harus rela untuk tidak mengikuti pelajaran di sekolah. Tapi kali ini musibah yang menimpa Citra membawa hikmah dibelakangnya. Meskipun kesedihannya belum pulih akibat Faisal meninggalkannya, kini telah hadir seorang pemuda yang tak kalah ganteng dan pintarnya yang mengisi hari-hari sepinya.

Faris teman satu club Futsal Faisal selalu datang menjenguknya. Anaknya yang supel dan periang itu selanjutnya mengisi dan mewarnai hari-hari Citra. Citra yang murung kini tak lagi mendung. Suasana hatinya penuh warna dan berseri-seri. Tia sebagai teman dekat Citra pun merasakan adanya mukjizat itu, karena setelah masuk kembali ke sekolah, Tia tak pernah melihat sahabatnya itu meneteskan air mata lagi.

“Ya, Allah terima kasih kau pulihkan keceriaan sahabatku itu,’ bathinnya.” Di balik musibah tersimpan hikmah.”

Waktu terus berlalu bagai diburu oleh roda jaman yang berpacu. Sebulan setelah Ujian Nasional, Alhamdulillah saat pengumuman kelulusan semua siswa kelas Sembilan dinyatakan lulus. Saat ini, seluruh siswa sedang merayakan perpisahan sekolah yang diadakan di aula sekolah. Citra dan teman-temannya nampak larut oleh kegembiraan saat band sekolah tampil membawakan lagu-lagu hits remaja kala itu.

Faisal tiba-tiba memanggil Tia. Saat mereka sudah berduaan, Faisal menyodorkan sepucuk surat kepada Tia.

“Maaf, Ya. Gue terpaksa menulis surat ini buat lu, gue nggak bisa sms karena terlalu panjang. Tapi mohon lu bacanya setelah ini soalnya gue mau pamit.”

“Lu mau kemana, Sal?”

“Gue sama ibu gue mau ke Makasar ke kampung ibu gue. Saat ini mereka sudah menunggu gue di rumah. Sampaikan salam gue sama temen-temen semua terutama sama Citra. Maaf gue gak bisa langsung mengucapkannya ke die takut mengganggu kenyamanannya. Lagian pasti die udah nggak nganggep gue sahabatnya lagi.”

“Tapi, Sal….”

“Udeh Ti, gue harus buru-buru pergi, udeh di tunggu!”

“Iya..iya, Sal! Selamat jalan, sampai jumpa lagi.”

Dalam sekejap mata Faisal sudah tak ada di Ruang Serba Guna sekolah. Tia segera membuka surat yang diberikan Faisal.

Assalamu’alaikum wr.wb.

Tia, sahabatku…

Sebelumnya gue minta maaf, harus ngerepotin lu tuk baca surat ini. Tapi karena gue mau jelasin semua yang terjadi waktu itu lunya nggak mau dengerin, akhirnya gue tulis surat ini. Gue nggak bisa ngomong langsung sama Citra sebab gue nggak bisa dan gak tega buat dia sedih berkepanjangan. Jadi gue putusin lewat lu aja karena lukan deket sama dia.

Terus terang, semua ini gue lakuin karena gue sayang sama Citra. Gue gak mau kalau die tau waktu itu terus die sedih dan gak konsentrasi dalam belajar dan gagal ujian nasionalnya. Waktu gue nggak masuk-masuk dulu itu karena sakit ibu gue bertambah parah. Lalu paman gue yang di Makasar minta supaya ibu gue dirawat di kampung sekalian pindah rumah. Gue gimana Ti? Waktu itu gue bingung banget. Di satu sisi gue gak bisa biarin ibu gue tanpa gue di sisinya. Gue anak satu-satunya dan gue juga nggak bisa tinggal di sini tanpa ibu gue, dia orang tua gue satu-satunya, gue sayang banget sama ibu gue melebihi apapun. Jadi gue harus ikut ke Makasar dan pastinya akan ninggalin Citra dan semua temen-teman gue. Gimana dengan Citra? Gue juga sayang sama dia. Gue juga gak bisa ninggalin dia. Tapi gue harus memilih ibu gue. Gue takut Citra gak sanggup melepaskan gue karena gue tau dia juga sayang banget sama gue. Lo kan tau dari sejak SD gue sama die bertemen deket dan udeh dua tahun guedan die jadian.

Gue bingung Ti, gue gak bisa tidur berhari-hari mikirin ini. Gue sama-sama gak mau jauh dari keduanya, tapi gue harus memilih. Setiap hari gue gak bisa lepas mikirin ini. Gue gak bisa bayangkan gimana Citra bisa menerima keputusan gue. Gue gak masuk-masuk aja dia terus dan selalu nanyain gue. Gimana jika gue bener-bener pergi dari kehidupan dia, meskipun gue tetep bisa berkomunikasi tapi jarak kita terlalu jauh. Entah kapan, gue gak tau kita akan ketemu lagi.

Tia, lu harus tau sejak saat itu gue galau, gue limbung, gue bingung! Gue pengen curhat sama lu tapi lu gak nerima. Sungguh gue gak bisa terpisah jauh dari Citra, pasti dia juga seperti itu. Tapi gue harus memutuskan ini cepat sebelum Ujian Nasional. Akhirnya gue mengalah, gue putuskan untuk pelan-pelan menjauh, gue pengen Citra tak lagi tergantung sama gue, makanya gue bersikap menjauh bahkan dengan terpaksa gue pura-pura suka sama Maya biar Citra bisa sebel, benci dan ngelupain gue meskipun hati gue sakit! Biarlah gue rela dibenci sama Citra bahkan sama lu juga.

Dari hari ke hari gue nahan perih di hati gue buat Citra. Walaupun demikian gue tetep ngawasin dia, merhatiin dia. Saat dia sedih dan menangis sesungguhnya hati gue juga menangis, tapi ini gue lakukan supaya dia gak akan menangis panjang karena gue tinggal pergi. Gue yakin semua ini akan berlangsung tak kan lama. Gue yakin lama-lama dia akan melupakan gue. Lebih baik dia sekarang sedih dan menangis tapi dia akan jadi biasa dari pada dia nanti gue tinggal pergi akan menangis selamanya. Biarlah gue yang menahan rasa sedih dan perih.

Tia, lo tau nggak, betapa gue amat bersalah, saat denger dia kecelakaan sampai gak bisa jalan. Gue habis-habisan nyalahin diri gue. Gue merasa bersalah banget. Gue hampir gak bisa memaafkan diri gue karena gue sayang sama dia. Saat itu, gue ingin membalut luka dia, gue ingin menghibur dia, gue ingin menghilangkan rasa sakit dari lukanya. Gue ingin selalu ada disisinya saat dia kesepian dan kesakitan. Tapi gue menahan diri sekuat tenaga gue. Ini demi dia! Akhirnya gue minta tolong sama temen gue yang namanya Faris. Dia gue suruh datang dan menghibur Citra. Kebetulan Faris masih jomblo. Gue minta supaya Faris jadi pangeran yang datang menggantikan gue. Semua adalah skenario gue supaya Citra yang gue sayangi punya penjaga dan bisa ngelupain gue. Dan yang paling penting dia bisa semangat dan ceria lagi.

Dan Alhamdulillah! Citra menerima Faris dengan senang hati. Gue lega, Ya, meskipun hati gue sangat sakit jika melihat dia begitu akrab dan mesra sama Faris. Tapi gue tahan karena gue sudah memilih dan memutuskan meninggalkan dia untuk mendampingi ibu gue ke Makasar setelah lulus.

Gue harus terima resiko ini meskipun setiap hari gue nyesek , panas bahkan tubuh gue gemetar menahan berbagai rasa di dalam jiwa sampe menangis melihat keakraban mereka saat Faris menjemputnya pulang sekolah atau saat ia membawanya ke lapangan futsal tempat gue berlatih. Tiap hari gue menangis tapi gue sadar gue harus menerima ini sebagai akibat pilihan gue. Rasanya gue pengen segera lulus dan meninggalkan semua ini. Tapi sebenernya gue juga bahagia melihat Citra bahagia. Dan gue lebih bahagia lagi saat melihat dia lulus dengan nilai yang memuaskan walaupun lu tau sendiri gue terpuruk. Masuk sepuluh besar rangking tertinggi Undi kelas aja gue nggak. Tapi semua itu gue terima sebagai konsekuensi keputusan gue. Demi Citra. Demi kebahagiaan dia dan demi ibu gue yang harus gue dampingi selama umur gue masih ada.

Tia, semoga lu ngerti dan dapat memakluminya. Sekarang gue bisa pergi dengan tenang karena Citra gak sedih saat nggak ada gue di sisinya, di sekitarnya, karena dia udeh dapet Guardian Angelnya yang dia sayangi. Selamat tinggal Tia! Maafin semua kesalahan gue. Lu emang sahabat gue yang paling baik dan bisa gue andalkan. Selamat Tinggal semuanya yang gue sayangi! Selamat tinggal sekolah yang gue cintai! Selamat Tinggal juga Citra sayang dan terima kasih atas semua yang pernah kamu berikan padaku. Entah kapan kita bisa bertemu lagi? Biarlah kupergi dengan membawa luka dihati!!!

Faisal Rahman

 

Tia melipat kembali surat itu. Air matanya menetes satu demi satu di tengah hiruk pikuk ke gembiraan para siswa mendengar lagu-lagu yang disajikan di panggung aula.

“Selamat jalan sahabat, selamat jalan jagoan! Lu emang orang hebat yang berkorban untuk ibu lu meskipun lu harus menderita demi orang yang lu cintai. Gue gak bisa bayangkan apa yang sekarang lu rasakan. Semoga lu akan mendapat kebahagiaan di tempat lu yang baru! Aamiin!”

Di seberang jalan Faisal menatap pilu gedung sekolahnya. Selamat tinggal semuanya!! Ucapnya di dalam hati.

Saat Faisal melangkah menjauh, terdengar seorang pengamen jalanan mendendangkan lagu dari group band Five Minit yang pernah hits dulu, di depan sebuah toko……”Selamat tinggal…. masa laluu.., aku kan me…langkah. Maafkanlah segala yaang… telah kulakukan padamu….”.  Hati Faisal makin berkeping....

  

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani