Profil instastories

Kubangan rindu

Keindahan senja selalu kunanti, dengan perasaan yang membuncah dalam hati. Aku amat menyukai warna, juga kenangan yang pernah tersimpan disana. Saat senyum dan tawa selalu kau tujukan untukku. Tanpa kata, namun kau realisasikan dengan nyata.

Perasaanku akan selalu hangat, ketika berada didekatmu. Denganmu, yang tak pernah bosan menatap dan bisikan kata cinta tepat ditelingaku. Tak hanya sampai disitu, kau selalu mencoba tuk ciptakan bahagia untukku. Dengan caramu yang sederhana, kau buat aku merasa istimewa.

Aku tak pernah menyangka, akan jatuh sedalam ini. Padamu sosok yang selalu kupuja, dengan segenap jiwa dan raga. Tak ada hal yang mampu buatku untuk berhenti mengagumimu. Semua hal yang kau lakukan, bahkan hanya membuatku terus mengagumi dan menyayangimu. Semua hal yang kutemui, juga selalu mampu mengingatkanku tentangmu. 

Duniaku berubah, selalu dipenuhi oleh sosokmu yang mengalirkan hangat, setiap kali aku menggigil dalam perasaan rindu. Perasaan yang selalu hadir menyapa, ketika jarak memisahkan kita berdua, dengan penantian yang terasa hampa. Jika seperti itu, kita hanya mampu berharap pada sang waktu, untuk hadirkan temu.

Karena rinduku tak pernah mengenal waktu. Bisa datang kapan dan dimana saja. Membuatku selalu ingin berada disisimu, dan mendekapmu dengan eratnya. Menautkan rasa, dengan komitmen yang tercipta. Merekam masa-masa bahagia saat bersamamu. Menulis kenangan dalam senja, yang mungkin akan kurindukan pada masanya.

Seperti hari ini, saat senja datang dengan warna jingga kemerahan yang menawan. Aku menatap kagum dengan pandangan yang menerawang. Mencoba mengingat kembali masa-masa bahagia saat bersamamu, yang pernah kutulis didalamnya. Menggambar dalam siluet, senyum dan tawa bahagia kala itu.

Tubuhku bergetar, menahan isakan yang hendak keluar dari mulutku. Air mata mengalir dengan perlahan dikedua pipiku, sesak. Rindu itu menyakitkan, tak mampu terpuaskan dengan temu. Sang waktu tak memberikan kesenjangannya padaku, membiarkanku rapuh dibawah naungan senja yang indah ini.

Aku terjatuh, dalam kubangan rindu yang membuatku menggigil mengharapkan temu. Biasanya, kau akan datang dan mendekapku hingga tenang dan tersenyum kembali. Hadirkan perasaan hangat hingga kerelung terdalamku. Tapi kini? Semuanya berubah, membuatku semakin terisak dalam kenangan yang terasa menyakitkan.

Semua kenangan indah itu hanya sekumpulan masa lalu yang tak mungkin terulang kembali. Hanya mampu kuratap dan tangisi dengan isak yang semakin tak terkendali. Aku rindu, padamu sosok yang tak lagi mampu kudekap dengan segenap-genapnya hati.

Bibirku melengkung membentuk sebuah senyum. Senyum semu yang terlihat nyata. Sembunyikan rasa dengan tatapan yang diambang asa. Tak bisakah Sang waktu berputar kembali? Izinkan aku untuk mendekapmu, lagi.

Tak apa, jika aku harus menjadi sosok yang kau masukan kedalam folder masa lalu. Setidaknya, aku pernah hadir dan memberi berbagai warna dalam ceritamu. Pernah menguntai canda tawa dengan sederhana. Juga luka derita yang tercipta kini.

Sekarang, aku mungkin tak berarti bagimu. Tak seperti dulu, saat aku menjadi poros duniamu. Saat semua senyum dan tawa kau tujukan untukku. Juga semua untaian kata cinta yang tak pernah bosan kau ucap tepat didepanku, disertai tatapan hangat penuh cinta yang membuatku semakin luluh disetiap harinya.

Dengan sosokmu yang sederhana, kau buat aku merasa istimewa. Dengan berbagai janji yang diucap dengan ambisi. Aku terbuai, dengan cinta yang kau semai. Membuat hatiku terbang melayang menembus bentangan cakrawala. 

“Dibawah senja, aku melihat mentari yang lebih bersinar dari yang diufuk barat. Indah, membuatku tak ingin berpaling darinya.”

Aku mengerutkan wajah dengan bingung, “gimana maksudnya? Kan mataharinya ada dibarat, dan matahari itu cuma ada satu. Kok, kamu bilang kamu liat matahari yang lebih bersinar sih, Val?”

Valdy, begitulah namanya. Laki-laki yang membuatku percaya dengan adanya cinta pada pandangan pertama. Begitu melihatnya dulu, aku langsung jatuh pada pesonanya. Ada yang berbeda dengannya, entah apa itu, dan aku menyukainya.

“Mentari itu kamu. Sosok yang selalu menyinari dan memberi kehidupan buat aku dengan segala sinar kehangatan yang kamu beri. Kasih sayang yang kamu kasih ke aku itu yang aku sebut sinar kehangatan. Karena, dengan kasih sayang yang kamu beri, aku merasakan kehangatan didalam hatiku. Apalagi, senyum dan tawa yang selalu kamu tujukan untukku. Membuatku semakin tak bisa berpaling karenanya.”

Aku tertawa dengan ucapannya, “alah, gombal.”

“Tapi sayang, kan?” ekspresi wajahnya meledekku, membuat kedua pipiku merona. “ciee ... sampe tersipu gitu, kan?”

Aku hanya mampu mengerucutkan bibir dengan kesal, tengsin juga kalo ketauan terbuai dengan gombalannya barusan. “ngga, biasa aja.”

“Ah, yang bener kalo bohong.”

“Valdiii ... “ aku menjeritkan namanya dengan kesal.

Dia menarikku, dan mendekapku dari belakang, “apa sayang?” dia melihat wajahku yang semakin cemberut karena ulahnya, seenaknya saja dia membuatku kesal dan bersikap semanis ini, “iya maaf,” ucapnya, menaruh kepalanya dibahuku.

Mau tidak mau aku tersenyum, dengan semua perlakuan manisnya ini. Aku menyadari, bahwa perasaan kesalku berasal dari diriku sendiri, yang memiliki sifat gengsi dan tak mau mengakui perasaanku sendiri. Aku bahagia, memiliki laki-laki konyol yang manis ini. Perlahan, aku mengangkat tanganku dan menaruhnya diatas tangannya. Mengusapnya perlahan, kemudian menggenggamnya. “aku yang seharusnya minta maaf, karena aku yang salah. Makasih ya sayang.”

Dia melepaskan dekapannya dan tertawa dengan kencangnya, “akhirnya, rencanaku berhasil. Kamu ngaku juga kan, kalo kamu yang salah. Berarti kamu emang tersipu sama kata-kata aku yang tadi. Gengsi sih digedein, mending badan tuh yang digedein, kurus gitu.”

“Ngga jadi aku minta maafnya, aku tarik lagi kata-kata aku.” ucapku dengan kesal.

“Ngga bisa gitu, karena yang barusan itu kamu ucap langsung, bukan pesan Whatsapp, jadinya ngga bisa tarik pesan.”

Manusia macam apa pacarku ini, kenapa menyebalkan sekali ya? Untung aku sabar menghadapinya setiap hari. Beserta perasaan rindu yang selalu datang menyapa. Iya, meski sosoknya amat menyebalkan, anehnya selalu kurindu.

Banyak sekali kekonyolan yang ia buat disetiap harinya. Ia tak pintar merangkai cinta dengan untaian kata. Kadangkala, kata gombalan yang terucap dari bibirnya merupakan kutipan kata yang ia cari diinternet. Ngga kreatif ya? Biarlah, setidaknya ia sudah berusaha.

“Aku nyesel udah minta maaf ke kamu.” ucapku.

“Gapapa, intinya kamu udah minta maaf ke aku, dan secara ngga langsung mengakui kalo kamu tersipu sama kata-kata aku yang tadi. Cieee ... pacar aku yang galak ini terbuai sama cinta yang aku semai.”

“Sejak kapan kamu jadi anak sastra? Bahasanya tinggi gitu.”

“Aku bukan anak sastra, tapi aku mencoba untuk menjadi laki-laki yang mampu membuat wanitanya tersenyum, dengan untaian kata yang aku sampaikan dengan segenap jiwa dan raga.”

“Sejak kapan kamu jadi alay, gini?”

“Sejak lama, karena senyum dan tawa wanitaku lebih penting dari gengsi. Emangnya kamu, yang tiap hari gedein gengsi, bukannya badan.” dia menjulurkan lidahnya, meledekku.

Dibawah naungan senja yang indah ini, kami berlarian kesana-kemari. Menulis cerita dalam siluet indah kemerahan yang terpampang dilangit sana. Mengurai tawa dengan hal sederhana. Dan mengukir cerita, dengan perasaan amat bahagia.

Berharap sang waktu mampu hentikan detiknya. Dan membiarkanku menuai bahagia dengan cara yang sederhana. Menjadikan momen ini tak pernah berakhir, dan menjadi kenangan yang terasa pahit saat diingat kembali.

Menguak kubangan rindu yang hasilkan air mata yang meleleh dikedua pipiku. Aku semakin terisak karenanya. Semua hal manis yang pernah aku ingkari, kini hanya mampu kuratap dan tangisi. Tak bisakah, aku kembali kemasa itu. Saat semuanya masih sama dan tak ada kata pisah?

Aku menyesali semuanya. Tentang rasa yang tertutup oleh gengsi dan hangatnya dekapan terakhir yang tak kuhargai. Tak bisakah, aku merasakannya lagi? Meski hanya sekali, dan dalam hitungan detik?

Hembusan angin menjadi pilihanku, untuk titipkan sang rindu. Berharap mampu tersampaikan padamu, sosok yang kutuju. Sosok yang kini tak mampu kutatap dalam jarak dekat. Apalagi kusapa dengan dengan untaian kata cinta. Hanya mampu kutatap dari kejauhan, dan bisikan kata cinta cukup didalam sukma.

Aku merindukanmu, sosok yang sampai kini masih menjadi poros duniaku. Meski mungkin, kau bahkan sudah menemukan poros duniamu yang baru. Sosok penggantiku yang pernah berada diposisi itu.

-TAMAT-

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani