Profil instastories

Lelaki penyuka hujan, kebun, buku, dan kopi.

Kopi Soekarno di Kedai Kopi Litera

Presiden RI pertama, Soekarno, suka meminum kopi tubruk setiap pagi sebelum memulai aktivitas sebagai kepala negara. Komposisi untuk selera sang proklamator adalah satu sendok kopi dan satu setengah sendok untuk gula.

Kopi tubruk bukan jenis kopi. Melainkan cara menyajikan kopi secara tradisional oleh masyarakat Indonesia. Air mendidih dituang ke dalam gelas yang sudah diisi kopi dan biasanya ditambah gula pasir. Ada pula yang menggunakan gula aren. Di kampung saya kopi tubruk disebut kopleng alias kopi le'leng (hitam). Ada pula yang menyebutnya "kopi paronda."

Lalu bagaimana jika kita ingin mencoba menapaktilas selera Bung Karno terhadap kopi paronda namun dengan cara menyajikannya sama sekali berbeda dengan ala kopi paronda? Kami di Kedai Kopi Litera memodifikasi terhadap cara menyajikan, dengan spirit selera Bung Karno dan menyesuaikannya dengan kopi kekinian yang tanpa ampas, ada cremanya, pekat, dan yang jelas tetap enak meskipun tanpa susu.

Tidak seperti varian kopi lainnya, kami menyuguhkan kopi ini dengan cara berbeda. Kami menyajikan varian ini dalam cangkir antik tahun 1950-an. 

Proses penyajian Kopi Soekarno sebenarnya bukan dengan cara tubruk. Melainkan dengan cara modifikasi, sebuah kombinasi penyajian dengan menggunakan moka pot -ala Italia-dipadu teknik penapisan di dalam teko kuningan sebagaimana umumnya di warkop-warkop di Sulsel.

Dengan ekstraksi melalui moka pot maka crema muncul secara paripurna. Rasa dan aroma kopi begitu menyeruak. Untuk hasil tanpa ampas sama sekali maka kami menggunakan penyaring berbahan kain. 

Kopi Soekarno tentu saja terinspirasi dari cara minum kopi Bapak Proklamator, Ir. Soekarno. Selera beliau untuk komposisi secangkir kopi terdiri dari satu sendok kopi dan satu setengah sendok gula. Begitu pula dengan Kopi Soekarno, takarannya untuk gula kurang lebih sama. Hanya takaran kopinya yang agak berbeda sebab disajikan dengan cara kekinian. Tapi yang jelas tanpa susu. Benar-benar black coffee dengan nuansa tahun 1950-1960an.

Bagi Anda yang penyuka kopi pahit tanpa gula maka varian ini juga boleh tanpa gula. 

Apakah ini "nyeni", nyentrik, eksotik, atau apalah, terpulang pada penilaian Anda. Untuk menyimpulkannya, maka tidak ada cara lain, kecuali mencicipinya sendiri di Kedai Kopi Litera.(*)

Kedai Kopi Litera-Dihyah PROject, 18 April 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS