Profil instastories

Lelaki penyuka hujan, kebun, buku, dan kopi.

Kisah Nyata "Black Spiderman" Bagi-Bagi Masker di Lorong Corona

Tulisan ini tidak dimulai dari syak wasangka ataupun pikiran buruk lainnya. Justru catatan ini merefleksikan sebuah fakta sosial di tengah pandemi. Ya, kisah nyata Black Spiderman bagi-bagi masker di lorong corona.

Penggemar Spiderman pasti akrab dengan nama Peter Parker. Dia adalah tokoh superhero yang kikuk dan kurang percaya diri dalam kesehariannya. Berbeda ketika dia membungkus wajah dan tubuhnya dengan topeng dan baju bermotif laba-laba warna merah. 

Sangat lazim dalam dunia superhero, para tokoh menyembunyikan identitas aslinya di tengah keramaian. Tindak-tanduk mereka dalam membasmi segala bentuk kejahatan didasari dorongan hati yang luhur. Tanpa pamrih. Memberi tanpa berharap menerima balasan. 

Di hari-hari ini justru terbalik keadaannya. Banyak bertebaran makhluk-makhluk yang sama sekali bukan superhero namun mencitrakan diri sebagai semacam superhero. 

Kita sebut saja sebagai "Black Spiderman". Mereka di hari-hari biasa yang normal tanpa wabah, sama sekali tidak pernah bergerak. Ketika pandemi menyapa, mereka melesat kian kemari menyilang-nyilangkan jaring-jaring di setiap penjuru. Dari kota ke kampung-kampung. Bahkan di gang-gang dan lorong-lorong. 

Tentu saja segala bentuk aksi sosial atau altruistik itu mesti diapresiasi. Namun aksi bagi-bagi masker itu mungkin jauh lebih elegan jika tanpa logo partai ataupun foto calon yang diusung untuk pilkada musim depan. 

Tidak pernah ada larangan bagi tim relawan dari kandidat pilkada manapun untuk menyertakan atribut dukungan kepada jagoannya di atas ratusan masker dan handsanitizer. Hanya saja akan selalu nampak "ketidakpercayaan diri" para relawan itu. Mereka merasa seolah-olah "habis" andai tanpa atribut yang menandakan misalnya sebuah masker ada hubungannnya dengan jagoan mereka. Mereka lupa bahwa suatu hari nanti, toh mereka juga akan tetap turun mensosialisasikan dan mengkampanyekan jagoannya di rumah-rumah warga.

Mereka lupa pada sepotong kisah berikut ini. Seorang anak muda singgah membeli rokok di sebuah warung kecil pinggir jalan. Pemilik warung itu adalah seorang perempuan lansia. Dia menyapa dengan penuh kehangatan, "Hey nak. Mau beli apa? Gini lho, saya mau nanya. Kamu dukung siapa di pilkada nanti?"

"Memangnya ada apa ya bu?" Si anak muda bertanya keheranan. 

"Saya bingung mau pilih siapa. Tapi kalau kamu membantu saya untuk menentukan pilihan, saya rela. Siapapun yang kamu pilih, itu pula pilihan ibu."

"Wah yang benar nih, bu?"

"Ya!"

Si anak muda baru teringat. Beberapa bulan lalu dia dan teman-temannya memberi bantuan sembako dan obat-obatan kepada ibu itu ketika terjadi banjir. Dan paket bantuan itu tanpa atribut apapun. 

Di hari-hari ini banyak "superhero" tapi hanya sedikit di antara mereka yang tidak mengalami krisis kepercayaan diri. Dengan atau tanpa dokumentasi yang melintasi linimasa medsos, sebenarnya wajah-wajah mereka telah terdokumentasikan dengan baik di hati dan pikiran orang-orang yang telah menerima bantuan mereka.

Para "Black Spiderman" mungkin selalu lupa bahwa mereka sedang berjumpalitan memporsir energi menebarkan jaring laba-laba di tengah rakyat yang sudah semakin cerdas. Rakyat yang sebenarnya sudah alergi melihat segala macam atribut, logo, dan simbol-simbol normatif lainnya. Namun rakyat juga sebaliknya kian cerdas memperlakukan atau membalas altruistik yang elegan, lebih tepatnya ikhlas.(*)

Kedai Kopi Litera-Dihyah PROject, 14 April 2020

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jun 7, 2020, 3:29 PM - Hanifah khairunnisa
Jun 3, 2020, 12:46 PM - Nurhuda mas'ud tanjung
Mei 24, 2020, 8:09 PM - Nurhuda mas'ud tanjung
Mei 20, 2020, 5:13 PM - Tjahjono widarmanto