Profil instastories

Kisah kita

Kisah kita

 

Katanya masa SMA itu menyenangkan. Katanya masa SMA itu indah, penuh dengan canda tawa, suka duka dilewati bersama. Bahkan, yang awalnya  tidak pernah mengenal masalah cinta jadi mengenalnya. Begitupula denganku. Aku, gadis pecinta novel dan benci segala hal yang berhubungan dengan olahraga. Tidak ada satu pun olahraga yang kusukai, termasuk itu volli yang banyak digandrungi kaum hawa. Sejak di Sekolah Dasar, nilai pelajaran olahragaku tidak pernah melebihi angka 85, itu pun sangat jarang mendapatkannya. Hari itu, si Dia datang mengajukan diri untuk belajar bersama denganku. Katanya sih Ia susah memahami pelajaran Fisika yang baru saja dijelaskan gurunya beberapa menit yang lalu. Aku dan Dia tidak satu kelas, kami hanya sempat satu kelompok saat Masa Perkenalan Sekolah dulu. Dia orangnya baik, ramah, dan juga unik menurutku. Aku, yang notabenenya susah berteman dengan orang baru dalam hitungan menit bisa akrab dengannya. Entahlah, dia punya cara tersendiri untuk menarik perhatianku.

Sejak hari itu kami semakin dekat, banyak hal yang kami lalui bersama. Hal itu sering menimbulkan persepsi lain dimata teman-teman kami. Tak jarang dari mereka yang mengatakan bahwa kami memiiki hubungan spesial lebih dari seorang teman. Tapi hal itu tak pernah ditanggapi olehnya, ia hanya membalas godaan mereka dengan senyum tulus yang membuat orang-orang bahkan aku sendiri menyimpulkan hal lain. Aku perempuan normal yang tanpa sadar akan terbawa perasaan sendiri dengan tingkahnya itu. Terlebih juga ia memperlakukanku begitu spesial didepan semua orang. Pernah sekali saat kami sama-sama terpilih untuk mengikuti tarian penyambutan di pesta salah satu guru di sekolah kami, malam harinya sebelum hari H kami latihan sekaligus GR di sekolah karena kebetulan pelatihnya adalah guru kesenian disekolah kami. Dia dengan tanpa dosanya mengambilkanku makanan yang memang telah disedikan sekolah untuk kami. Sedangkan aku hanya termangu saat Dia dengan entengnya memberikan makanan itu tanpa mempedulikan tatapan orang-orang sekitar yang cengo padanya sambil berkata, “Makan dulu, ntar dilanjut lagi gosipnya” setelahnya ia pergi begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Karena selama ini dia tidak pernah melakukan hal spesial seperti itu pada perempuan. Itulah yang dikatakan teman SMP nya sewaktu aku tanya kenapa mereka selalu cengo dengan perlakuan dia terhadapku.

“Jangan dengarkan kata mereka Na, biarkan saja mereka berpendapat semaunya. lagipula apa yang salah dengan kita dekat seperti ini ? Aku dari awal memang senang dekat sama kamu” jawabnya ketika aku tanya bagaima tanggapan dia tentang orang-orang yang mengatakan ada hubungan spesial diantara kami. Sedangkan aku, aku hanya termangu saja mendengar jawabannya. Hanya senyuman yang mampu aku berikan saat itu.

Benar kata orang, perempuan itu mudah terbawa perasaan. Mungkin karena hal ini banyak wanita diluar sana yang dengan mudahnya dibohongi oleh lelaki hanya karena bualan semata. Sekarang, aku merasakannya. Hanya karena sikap yang ditunjukkan dia padaku, aku luluh. Aku akui selama ini aku selalu menyangkal teori bahwa wanita mudah terbawa perasaan. Tapi, nyatanya memang begitu bukan. Bahkan rasa ini semakin bertambah dengan bualan-bualan yang selalu Dia lontarkan. Aku lemah, sekali terbuai langsung jatuh ke jurang yang begitu dalam. Aku takut, jika perasaan ini semakin bertambah dan berubah menjadi hal yang tidak seharusnya ada. Karena bagaimanapun itu tak akan pernah terbalas, mengingat Dia termasuk dalam jajaran kaum famous di sekolah. Bahkan tanpa pencitraan pun Ia sudah dikenal semua orang. Berbeda denganku, hanya orang-orang tertentu yang mengenaliku. Jika bukan mereka yang mencari, aku tidak peduli dan tidak mau tahu tentang keadaan sekitar.

Hari itu, setelah kami selesai belajar bersama di perpustakaan.  Dia pergi begitu saja tanpa basa- basi seperti biasanya. Jelas aku heran,  biasanya Ia akan basa-basi mengantarku ke halte depan sekolah atau menawari sekedar mampir kerumahnya. Aku hanya diam tidak berani bertanya karena dia sudah hilang dibalik pintu. Aku hanya menghela nafas pelas melihatnya, semoga saja hal ini tidak membuat pertemanan kami yang sudah hampir 2 tahun ini menjadi renggang. Jujur saja, dia merupakan satu-satunya teman lelaki yang begitu dekat denganku. Waktu SMP dulu aku punya teman lelaki juga tapi tidak pernah sedekat ini sebelumnya. Kami hanya sekedar bertukar cerita dikala jam istirahat, dan itu pun hanya berselang satu tahun saja karena kebetulan kami satu kelas. Bahan sekarang saat kami sudah menginjak kelas XII pun kami masih dekat. Kami tetap belajar bersama seperti biasanya di jam pulang sekolah. Saat Dia meninggalkanku begitu saja waktu itu, ternyata dia sedang dalam masalah. Bahkan tanpa ku minta dia sendiri yang menjelaskannya. Aku memakluminya tanpa harus bertanya lebih lanjut lagi padanya, karena setiap orang tentu punya privasi masing-masing. Bahkan sejak saat itu malah kami semakin dekat, dia tidak lagi mempunyai rasa sean terhadapku untuk bertukar cerita lagi, dan dari dia sendiri aku tau bahwa dia mempunyai seorang mantan kekasih di SMP dan putus karena hal sepele yang tidak Dia ceritakan.      

Aku bahagia dengan keadaan ini. Terlebih saat Ia dengan tiba-tiba memberi kejutan padaku ketika kami  belajar bersama di perpustakaan sekolah. Dengan kue tart ditangannya Ia berjalan sambil tersenyum kearahku disusul oleh beberapa orang temannya dan juga Melody, teman kelasku yang membawa buket bunga dan coklat ditangannya. Mereka serentak menyanyikan lagu selamat ulang tahun diiringi dengan Dia yang menyodorkan kue tart kearahku.

“Tiup lilinnya!.” Katanya sambil terus tersenyum kearahku.

Dengan mata yang masih berkaca-kaca aku meniup lilin tersebut dan tak lupa memanjatkan doa sebelumnya. Suara tepuk tangan menggema di dalam perpustakaan yang sepi ini. Memang hanya ada kami disini, bahkan petugas perpustakaan pun entah dimana sekarang.

“Selamat ulang tahun ya Bebku” ucap Melody sambil memelukku. Ia seakan tahu aku begitu terharu dengan kejutan yang tiba-tiba ini.

“Pibesday Na”

“Selamat ulang tahun Na”

“Ciee yang udah 17 tahun. Dah tuir, uppsss”

Semua orang tertawa mendengar celetukan Dion tersebut. Bahkan dia, sekarang tertawa begitu lepas di hadapanku. Aku teperangah. Padahal sedari tadi dia hanya menampilkan senyum manisnya padaku. Disela-sela tawanya Ia berbalik mengambil bunga dan coklat yang tadi diletakkan Melody di atas meja sebelum memelukku dan kembali berjalan menghampiriku.

“Hadiah buat kamu” katanya sambil meyerahkan buket bunga dan coklat itu.

“Ekhmm”

“Ciee cie”

“Ekhm duh kok gue keselek ya, apa karena kue tart itu ya”

Semua orang kembali tertawa. Mana mungkin Dion keselek kue tart dipotong saja belum. Namun jika Dion yang berbicara pasti suasana akan kembali cair dan rasa canggung yang tadi tercipta akan hilang seketika.

“Makasih ya” balasku sambil tersenyum kepadanya. Aku kaku. Bahkan tidak tau harus berekspresi seperti apa sekarang. Jujur saja, ini merupakan pertama kali dalam hidupku mendapatkan kejutan luar biasa seperti ini dan bahkan dari orang yang tidak terduga seperti Dia. Aku bahagia, sangat. Jadillah hari itu kami habiskan dengan berseda gurau di lapangan basket sekolah diiringi lelucon dari Dion sambil menghabiskan kue tart yang mereka bawa tadi.

Sekarang aku sudah duduk dibangku kelas XII, bahkan sudah 1 tahun berselang sejak perayaan ulang tahun itu. Tapi nyatanya aku tetap tidak bisa melupakan secuil pun kenangan dari si Dia. Aku tidak menyangka bahwa perayaan ulang tahun itu adalah kenangan terakhir yang dengan sengaja atau tidak dia siapkan untukku. Bukan. Bukan karena Dia pergi meninggalkan dunia ini, tapi dia pergi tanpa kabar meninggalkan sejuta tanda tanya dibenakku. Tepat sehari sebelum ujian kenaikan kelas kemarin, itu adalah terakhir kalinya kami belajar bersama. Setelahnya, aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Terakhir  yang aku dengar Dia pindah mengikuti Ayahnya yang pindah tugas entah kemana. Jangankan ucapan selamat tinggal, secarik kertas pun tak Ia tinggalkan untukku. Aku sudah bertanya kepada Dion kemana ia pergi, tapi Dion sendiri juga tidak tahu kemana Ia pindah. Sudah berkali-kali aku mencoba untuk menghubungi nomornya tapi nihil. Nomornya tidak dapat dihubungi sama sekali, seakan Ia memang betul-betul pergi dari hidupku. Meninggalkan sejuta kenangan dan rindu yang menumpuk didalam dada. Dia, Laki-laki pertama dan orang pertama yang memberikan kejutan terindah dalam hidupku. Aku sadar bahwa kisah kami hanyalah sebatas kisah SMA. Bahkan Ia pergi  meninggalkanku dengan membawa kisah kita yang belum usai.

Untukmu, aku sadar kisah kita ini hanyalah sebatas kisah masa sekolah. Terimakasih telah menjadikan masa SMA-ku begitu indah, terimakasih telah menciptakan sejuta kenangan yang bahkan sampai sekarang tak bisa aku lupakan. Hanya satu harapanku, semoga disana kamu baik-baik saja, dan aku berharap semoga kita dipertemukan kembali diwaktu yang lebih baik.

Dariku,.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani