Profil instastories

menulislah sebelum ditulis orang lain.

Keyakinan Berujung Kekecewaan

Keyakinan Berujung Kekecewaan

            “Ciye... yang lagi Ultah..” Sahut suara sekelas.

Tak lama lagi, suara telur beserta tepung dengan shampoo nya tertumpalah sudah pada tubuhku ini. Namun, yang paling mengejutkan adalah Irsyad.

“Happy B’day, Luna!” ucap Irsyad padaku.

Tak pernah sekali pun Irsyad se romantis yang di fikir. 3 tahun berlalu tak pernah sekali pun Irsyad membuat kejutan disaat ulang tahun ku. Namun, kali ini sangatlah berbeda.

“makasih udah bikin kejutan padaku” kataku padanya.

            Entah kenapa wajah ini berubah menjadi tak suka dengan semua kejutan yang telah dikasih oleh nya.

“nggak ada apa-apa.” Jawab ku padanya.

Mungkin perasaan ini sama seperti yang dirasakan olehnya saat itu. Karena tak lama lagi Irsyad akan pergi meninggalkannya. Usia kami memang terrpaut 1 tahun lebih tua Irsyad. Tak pernah kami berjauhan saat menjalin hubungan. Tapi perasaan ini semakin kencang.

“Lun, buka dong kadonya. “ minta Ray pada nya.

Namun, Irsyad masih bertanya-tanya mengapa wajahku berubah menjadi tak bahagia.

“Kamu tau kan,, apa yang aku rasain sekarang ? aku paling nggak suka dengan orang-orang yang pergi ninggalin aku tanpa sebab yang jelas,?” kataku dengan nada yang ingin menangis.

Irsyad pun bingung dengan sendirinya. Apa Luna tau kalau aku memang ingin pergi ninggalinnya? Apa Luna sudah diberi tau oleh Ayah atau Rayhan, teman dekat Irsyad dari kecil. 

“Ia aku tau itu. Hal yang paling tidak kamu sukain. Tapi, kalau memang sudah waktunya, mau bagaimana lagi!” Jawab Irsyad padaku.

            “udah, Lun! buka dong isi kadonya apa?” pinta Lisa. Sahabat karib Luna.

“Buka kadonya nanti aja saat aku udah nggak ada disini” minta Irsyad padaku. Semakin penasaran aku dengan isi kado itu. Aku suruh dia pergi dengan membawa sepotong kue  yang aku potong dengan bentuk love yang diberi olehnya padaku.

            Kubuka kado itu, dan seperti kebanyakan kado yang ada. Irsyad sangatlah cerdas dalam membungkus kado. Pada bungkusan terakhir bertuliskan Aku tunggu kamu di laut. Disebelah desa depan rumah kamu. Semakin tak percaya aku dengan semua ini. ketakutan itu semakin muncul dalam diri ini. dibalik kertas itu bertuliskan Jangan lupa memakai semua yang ada dalam kado itu.

            Aku pun tak mengerti dengan semua ini. tak pernah sekali pun aku keluar berdua denganya saat malam hari. Namun mengapa dengan semua ini? Seperti ada yang tidak beres. Malam semakin larut. Namun aku masih belum bisa keluar dari rumah. Mungkin Allah telah mendengarkan do’aku. Ayah dan ibu pun keluar. Akupun keluar dengan semua yang telah diberinya tadi pagy. Mulai dari baju hingga sepatu. Saat disana, akupun merasa terkejut melihat semua yang ada. Entah apapun yang dipersiapkan olehnya sama persis dengan apa yang aku impikan semalam. Hem putih panjang, celana pensil, semua yang ada sama persis dengan mimpi ku tadi malam.

“akhirnya kamu datang. Aku fikir kamu tak akan datang karena orang tuamu.” Tanya Irsyad padaku. “se-enggak ngebolehin ayah dan ibu aku tetap akan berusaha buat keluar. Karena aku tau, kamu tak pernah mengajak aku keluar sekalipun.” Jawabku padanya. Kami pun makan bersama. seperti ada suasana yang aneh tapi aku tak mengerti apa itu. “kalau berenang malam kayak gini, gimana?” pinta Irsyad. “tapi,?” “tenang aja aku udah siapin baju renang buat kamu.” “ehm... boleh dicoba.” Tak pernah disangka oleh luna, Irsyad yang begitu angkuh dan cuek berubah menjadi romantis.  “Lun. Apa yang kamu pinta saat setiap kali kamu berdo’a?” semakin tercengah aku mendengar pertanyaan itu.” Yang paling utama yakni ayah dan ibu. Kemudian guru-guru aku. Kemudian do’a ku buat kamu. Aku berdo’a sama Allah, agar di persatukan sampai kapanpun meski nantinya hal yang tak pernah aku inginkan terjadi, aku berdo’a kamu yang menjadi jodohku.” “itu hal yang paling konyol yang pernah aku dengar dari kamu selama ini...”

Semua keadaan berubah menjadi diam. Tiba-tiba tubuh Irsyad berubah menjadi dingin. Ia pun mengajak pulang ke rumah. Saat tiba di rumah, tak pernah ia duga, Irsyad memeluknya dengan kencang seperti ada sinyal yang ingin dia berikan pada ku. Tapi aku tak mengerti apa sinyal itu. “Lun, entah sampai kapan kita akan seperti ini. semoga Allah mengabulkan do’a kamu. Lun, kalau memang ini hari terakhir, aku bertemu dengan mu, aku mohon kamu ma’afin semua kesalahan dan kekurangan ku selama ini. aku tak bisa menjadi apa yang kamu inginkan. Kalau kamu nantinya rindu dengan ku, pegang kalung ini, pejamkan mata kamu, dan rasakan, disitulah aku datang memeluk kamu.” “aku yakin kita pasti jodoh, Irsyad.” “lun, jangan pernah mendahului takdir Allah.”

Keesokannya apa yang dikatakan nya memang benar. Ia tak masuk sekolah. Aku mencoba menghubungi semua kontak tak ada satupun yang menjawab. Aku coba pergi ke rumahnya saat itu juga dengan sahabat karibnya yakni Rayhan. Dan hasilnya sama Nihil. Yang ada hanyalah sebuah kado yang olehnya diletakan didepan pintu rumahnya. Sebuah kado yang berisi semua barang yang disukainya dan sebuah buku harian yang berisikan kehidupan nya. Dan tak pernah aku disangkanya lagi, ternyata Rayhan yang selama ini terkenal sebagai sahabat karib Irsyad yang sangat jujur telah berbohong pada nya. Rayhan mengetahui semua yang telah diderita oleh Irsyad. Mulai Irsyad sakit yang hanya lambung hingga menjalar pada komplikasi kanker darah.

Entah harus siapakah yang disalahin. Rayhanlah atau kedua orang tuanya ataukah Allah. Tapi semua tak mungkin. Hidup harus terus berputar. Kediaman dan kesedihan ku tak akan mungkin membuat Irsyad, sang pangeran buat kembali lagi dalam kehidupan ini. namun, keyakinan ini selalu ada. Aku yakin Allah pasti akan mempertemukan kami di lain hari. Dan kalau memang tak akan ketemu lagi. Aku yakin pasti Allah akan memberikan padaku yang lebih dari Irsyad. Semua kenangan denganya hanyalah kenangan yang ak akan mungkin terjadi dan terulang lagi.

Teringat betul dalam benak ini. Hidup sekali harus selalu sukses. Dengan semangat dalam mengejar semua impian serta senyum yang ikhlas dan shodaqoh pada semua yang membutuhkan akan terasa hidup menjadi lebih indah dan bermanfaat. Itulah salah satu ajaran yang diberikannya padaku untuk merubah menjadi diriku yang sedewasa-dewasanya.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani