Profil instastories

Ketika Syeikh Hatim bin Ulwan Mendapat Julukan Al-Asham

Syeikh Hatim Al-Asham adalah salah seorang ulama besar di negeri Khurasan. Nama aslinya adalah Abdurrohman Hatim bin Ulwan. Syeikh Hatim bin Ulwan mengabdikan dirinya pada masyarakat. Siapapun yang ingin menemui dirinya, pintu rumahnya selalu terbuka untuk siapa saja yang ingin datang tanpa memandang dan membeda-bedakan kelas sosial, kasta, atau pun lainnya.

Suatu hari, seorang perempuan datang menemui Syeikh Hatim bin Ulwan untuk mengadukan masalahnya dan meminta pendapat terkait apa yang dialaminya. Perempuan itu pun mulai menceritakan masalahnya dengan basa-basi pembuka terlebih dahulu, dan selanjutnya barulah kepada inti permasalahan.

Di pertengahan pembicaraan, ada sesuatu yang dirasa mengganjal oleh perempuan itu. Ingin sekali rasanya ia mengeluarkan angin yang terus berputar-putar di dalam perutnya. Namun, sungguh tidak mungkin jika harus melakukan itu di hadapan seorang ulama besar negeri Khurasan itu. Seakan-akan perempuan itu telah menghina Syeikh Hatim bin Ulwan jika ia tetap melakukannya. Ia berusaha mencegah hasratnya itu dengan sekuat tenaga menahan angin itu agar tidak keluar.

Perempuan itu tetap melanjutkan ceritanya meski dengan perasaan sedikit gelisah, khawatir angin itu kelolosan. Malangnya, sesuatu yang ia takutkan malah terjadi. Tiba-tiba angin itu keceplosan keluar dengan suara yang lumayan keras. Wajah perempuan tersebut berubah memerah karena merasa malu. Jika punya cangkang semacam siput, ingin rasanya ia langsung bersembunyi setelah melakukan kesalahan besar terhadap seorang ulama besar Khurasan. Ia hanya bisa diam menahan malu dan menjadi salah tingkah.

Adapun Syeikh Hatim bin Ulwan sendiri, sedari awal mendengarkan dan memperhatikan apa yang diucapkan perempuan itu dengan seksama. Ketika tiba-tiba mendengar perempuan itu mengeluarkan angin, Syeikh Hatim bin Ulwan sempat terkejut. Namun ia berusaha bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, karena ia tahu bahwa perempuan tadi merasa bersalah dan malu yang hebat. Akhirnya ia berkata kepada perempuan tersebut, “tolong ulang dan keraskan suaramu! Aku kurang mendengarnya,” ucap Syeikh Hatim seolah ia adalah orang yang tuli.

Setelah mendengar ucapan Syeikh Hatim, perempuan itu merasa lega. Rasa malunya perlahan pergi. Dan ia mengulangi perkataanya dan bisa fokus kembali menceritakan permasalahannya dengan percaya diri. Sejak itulah Syeikh Hatim bin Ulwan dijuluki Syeikh Hatim bin Ulwan Al-Asham atau biasa disebut Syeikh Hatim Al-Asham yang secara harfiah diartikan sebagai Syeikh Hatim yang tuli, meskipun sesungguhnya pendengaran beliau masih normal seperti pada umumnya.

Dari kisah ini dapat kita ambil pelajaran bahwasannya penting bagi kita untuk menyembunyikan aib/ keburukan orang lain. Jika kita bisa menyembunyikan aib/ keburukan orang lain, niscaya Allah akan menyembunyikan aib/ keburukan kita.

Wallahu a’lam.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS