Profil instastories

Ketika Santri Jatuh Cinta

Ketika angin berhembus membelai mesra dedaunan untuk dia jatuhkan kepada dasar tanah. Langit sedang memancarkan sinar cahayanya dengan sangat bersemangat. Membuat sebagian dari mereka yang tadinya sedang duduk ditempat mereka masing-masing mulai beranjak dan meninggalkan karang atau biasa disebut kebun dibelakang pondok. Disudut sana, didekat pohon randu kembar yang menjulang tinggi itu. Masih terduduk seorang perempuan dengan kerudung merah mudanya, sambil memegang tafsir yang sesekali terlepas dari genggamannya karena mengantuk. Sejak dari semalaman dia terus berkutat dengan aktivitasnya. Mengulang hafalan atau biasa disebut dengan deresan. Hari ini ngaji dimundurkan menjadi ashar. Awalnya dia senang, saking senangnya dia hanya sibuk diam dan melamun karena sedang enggan memikirkan hafalan. Dan saat sudah jam mepet duhur, dia baru tergesa-gesa muroja'ah.

 

"Ahhh!!!" keluhnya. Dia sudah terlihat pusing. Ujung matanya sudah tertampung banyak air yang siap meluncur.

"Susah bangeeeettt!! Pengen pulang!!" gerutunya. Dia menangis. Sendirian didekat pohon randu itu. Sambil sesekali melirik jengkel pada tafsir yang dia pegang.

"Kenapa susah banget sih?! Pengen ngaji! Pengen ngaji tapi hafalan gak jadi-jadi!" dia memeluk kedua lututnya bersama dengan tafsir yang dia dekap dalam dadanya. Angin berlari melewatinya. Membuatnya tiba-tiba mendongakan kepala lalu menatap langit.

 

"Kenapa aku disini? Kenapa aku harus menghafal? Kenapa KAU pilih aku, Allah? Ya, karena KAU yakin bahwa aku mampu melakukannya!" dia kembali bersemangat lalu mengusap air matanya dengan cepat, dia buka kembali tafsirnya.

"Walmuhsonatu minannisa.." dia pejamkan matanya untuk agar dia berkonsentrasi dengan hafalannya. 

 

Tiba-tiba..

 

"Itu sih.. Itu yang diujung sana kata Nyai." dia mendengar suara. Dan itu adalah laki-laki!

'Pasti santri putra' batinnya. Dia berdiri lalu melihat dari kejauhan.

'Oh my Allah, kang Hamid' batinnya sambil berekspresi melongo-melongo senang. Lama terpana tiba-tiba dia berucap,

 

"Astagfirullahal'adzim. Sadar, atuh sadar!! Baru dua lembar bisa-bisa ilang inimah gegara liatin kang Hamid!" dia kembali duduk dan membuka tafsirnya, mencoba mengusir bayangan kang Hamid yang baru saja dilihatnya. Mereka, kang Hamid bersama dengan rekannya yaitu Qusoy. Disana atas perintah dari Bu Nyai. Mereka mengunduh randu yang sudah siap untuk diunduh.

 

Perempuan itu tetap duduk disitu sampai akhirnya dia harus beranjak karena santri putra itu mendekat ke arahnya. Bukan untuk menyapanya. Tapi untuk naik ke pohon yang tadi dia duduk didekatnya.

 

"Punten, ya teh." kata Qusoy. Perempuan itu diam lalu berjalan cepat melewati mereka yang menjaga jarak.

"Mba Duroh." kreteg! Hatinya bergetar mendengar suaranya. 'Mau nengok tapi ya masa nengok? Gila aja. Kok bisa tau namaku?' batinnya. Tanpa dia bersikap perduli dia langsung berjalan menjauhi mereka.

 

"Alaahh alahhh dicuekin" ledek Qusoy.

"Songong!" teriak Hamid sambil melempar kapuk yang masih berada didalam isinya.

"Sontoloyo!" teriak Qusoy pura-pura jengkel.

 

Durotustsaminah. Langsung menutup pintu yang menghubungkan pondok dengan karang. Dengan hati yang baru saja hampir meledak.

'Inget! Inget! Ngaji! Bukan nyari jodoh! Ngaji!' dia langsung berjalan biasa saja. Menaruh tafsir dilesehan. Atau tempat yang biasa untuk duduk-duduk para santri putri. Dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Sebentar lagi waktu jama'ah.

 

"Mandi apa nggak yah?!" dia bimbang didepan pintu kamar mandi.

"Kalau ashar nanti ngantri, belum tentu dapet antrian juga. Belum lagi kalau ngajinya belum lancar. Ah yaudah mandi!" Duroh berlari ke kamar untuk mengambil baju ganti. Dilantai dua. Pondok Pesantren itu minimalis. Tidak besar dan luas. Hanya terdiri dari dua gedung. Satu gedung kamar. Dan satu lagi mushola. Gedung untuk kamar hanya dua lantai. Satu lantai terdapat 3 kamar, dengan 1 koperasi didekat tangga menuju lantai dua. Dan halaman mereka penuh dengan jemuran para santri putri yang kadang jatuh terceceran.

 

Duroh berdiri didepan lemarinya, yang hanya sekotak. Yang kata Kang Asnal itu adalah kandang burung. Karena cuman segitu doang. Dia melihat tumpukan baju dan sarungnya.

 

"Kaos ini, dan emmm.." dia memilih-milih sarung yang akan dia pakai.

"Ah, ini!" dia kemudian keluar kamar. Lalu tak lupa menoleh ke arah gedung putra yang hanya berbatas gerbang itu. Sama. Dua lantai. Dia fokus memperhatikan jendela, tiba-tiba ada tangan melambai.

 

"Wah, songong mereka!" gerutunya langsung berlari ke arah tangga dan turun.

 

"Kezel bangettttt ih ngintip segala!!! Ilang tuh apalan!! Ilang!!!" dia masuk kamar mandi, dengan membawa jam tangan.

"Oke. Setengah jam lagi!"

 

Duroh menuju mushola. Membuka pintu pelan-pelan karena jama'ah dimulai 5 menit lagi. Mereka masih tertidur pulas. Jam istirahat untuk para santri putri dimulai dari waktu adzan sampai jam 1 siang. Setelah itu mereka baru melakukan aktivitas sholat duhur berjama'ah.

 

Duroh membuka tafsirnya dan mulai memejamkan mata untuk meneruskan muroja'ah. Ia pelankan suaranya agar mereka tak terganggu.

 

Satu-persatu mereka terbangun tiba-tiba. Ya, bisa saja saat kita merasa terbangun, malaikatlah yang membangunkan kita. Duroh menggelar sajadahnya sementara santri yang lain menuju kamar mandi untuk antri wudlu. Adah, atau Khulasotussa'adah menghampirinya dan menggelar sajadah dipinggirnya.

"Mba duroh, ngaji nggak ntar?" tanyanya dengan suara yang sangat lembut. Dia tidak bisa berbicara dengan nada tinggi. Membentaknya adalah seperti kita berbicara biasa. Dia tidak bisa marah-marah. Tidak bisa teriak-teriak. Karena suaranya memang sudah segitu, tidak bisa ditambah lagi. Duroh nyengir.

"Hehe, ingsyaAllah kalau udah bisa mah ngaji, dah."

"Bareng, ya." katanya dan lalu memakai mukenahnya untuk siap-siap.

 

Tiba-tiba ada yang teriak,

"Badal woyy! Imam ijin!"

 

Imam sholat disini adalah mereka para santri senior yang juga hafalannya sudah banyak. Sedangkan badalnya adalah mereka para junior yang sudah lumayan lama disini. Adah mendengus kesal. Duroh meliriknya.

 

"Hhhhaaa badal yah?!" Duroh langsung ketawa, mengambil sajadah Adah lalu berlari menuju tempat imam untuk menggelar sajadah Adah.

"Imam siaaaaapppp! Iqomah!!" serunya. Mereka langsung merapatkan barisan. Dan Adah dengan gontai melangkah menuju tempatnya. Duroh menaruh tafsirnya, lalu merapatkan barisan dengan mereka.

 

"Mba Duroh ngaji nggak?" tanya Nailia. Duroh mengangguk dengan cepat, karena imam sudah takbir. Dan dia juga tidak mau masbuk!

 

 

Kehidupan para santri. Adalah sesuatu yang terkadang sulit dijelaskan oleh kata-kata tapi terekam kuat dalam ingatan masing-masing.

 

 

-Raynaa

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani