Profil instastories

Ketika sang bulan pergi

Namaku Reina aku siswa kelas XII di salah satu SMA Swasta di Bandung. Tak banyak yang tau tentang kisah hidupku. Sikapku yang introvert yang membuatku sulit untuk berteman dengan orang lain. Satu satunya teman yang aku miliki hanya Arkan. 

Arkan lah yang menemaniku sejak kecil. rumah aku dan arkan berdekatan hanya berjarak beberapa meter saja. Arkan mengetahui semua tentang hidupku. Hidupku bergantung pada Arkan dan harapanku bergantung pada Arkan. 

Keinginanku hanya satu semoga Arkan tidak meninggalkanku seperti mereka, sepeti papa dan mama.

Hidupku terlalu gelap sehingga membuatku terlalu takut untuk menghadapi kehidupan. aku hanya membutuhkan genggaman tangan hangat  yang bisa menemaniku menghadapi kehidupan.

----------------------------------------------------------------------

2 tahun kemudian.

tak terasa waktu terlalu cepat berlalu, kini aku dan Arkan berkuliah disalah satu universitas Bandung. Jika sejak kecil hingga SMA kita selalu berada di sekolah dan kelas yang sama berbeda dengan sekarang aku dan Arkan mengambil jurusan yang berbeda. 

Sebetulnya aku keberatan dengan keputusan Arkan tapi, Arkan meyakinkan ku dengan berkata

" kamu harus mengikuti keinginanmu kali aja disana kamu ketemu dengan pujaan hati hahaha" ucap Arkan sembari tertawa 

Aku hanya tersenyum miris mendengar ucapan Arkan aku tidak yakin mana mungkin ada yang mengenalku dan mau bersusah payah berkenalan dengan seorang introvert seperti aku. Sehari hari selama dikampus aku hanya pergi ke perpustakaan dan sesekali pergi ke kantin bersama Arkan.

Namun, aku pun masih berharap semoga saja aku bertemu dengan orang yang mau berteman denganku setidaknya aku bisa pandai bersosialisasi dengan orang lain. 

Aku pun sadar aku tidak bisa terus bersama Arkan karna nanti Arkan pun akan memiliki seseorang yang harus lebih di prioritaskan walaupun sebenarnya aku tak mau itu terjadi. 

Beberapan bulan aku berkuliah Tuhan mengabulkan keinginanku aku mendapatkan teman baru mereka Raka Dan Rara adik kakak kembar perantau dari Jakarta. 

Aku senang sekali hampir setiap hari kita hangout bersama. Raka yang humoris dan Rara pecicilan membuatku nyaman bersama mereka. 

-----------------------------------------------------------------------

satu tahun kemudian. 

Setelah satu tahun kami berteman aku terkejut mendengarkan pengakuan dari Raka. 

Flashback on 

Hari itu Raka mengajak ku pergi ke pantai Raka bilang ada sesuatu yang harus dibicarakan 

"rei lo itu cantik, cantik banget sikap lo yang pendiam ngebuat hidup gue tenang. Dan hidup  lo yang rapuh yang ngebuat gue ingin terus ngejaga lo tanpa Arkan." tutur Raka 

Deg

Aku terkejut mendengar ucapan Raka 

"Dengan harap gue minta lo temenin hidup gue kita jalani hidup bersama walaupun kita baru kenal sebentar tapi gue gamasalah dengan itu rei."  lirih Raka

"maaf Raka aku gabisa jawab sekarang a-aku harus nunggu A-Arkan pulang" jawabku gugup 

Yaa sudah dua minggu Arkan pergi. Arkan bilang dia sedang menjaga neneknya yang sakit di Malang. Sudah seminggu juga aku tak mendapatkan kabar dari Arkan. Orang itu benar benar membuat aku cemas. 

"iyaa rei gue paham. Arkan yang selalu ada buat lo, gue ga akan maksa lo buat cepet cepet jawab. Tapi please rei, izinkan gue tetap selalu ada sisi lo" ucap Raka sembari tersenyum tulus. 

Senyuman itu membuat hati Aku menghangat.

Flashback off 

Sejak kejadian itu aku tetap belum mendapatkan kabar dari Arkan hingga akhirnya aku mendapat telepon dari Rumah sakit di Malang

" halo selamat pagi apakah benar ini Reina?" tanya seorang suster

"betul sus ada apa ya?" tanyaku cemas

 "begini 2 minggu yang lalu Arkan dirawat  dirumah sakit dan beliau melakukan operasi transplantasi jantung karena penyakit yang dideritanya Dan pasca operasi beliau mengalami koma dan sekarang beliau meninggal. Kemarin beliau sempat sadar dan menulis surat dan meminta menelpon pada nomor ini." jelas Suster

Aku terkejut mendengar itu dadaku sesak. seperti kehilangan penopang hidupku, aku lemas tak berdaya. 

Setelah mendengar penuturan suster aku segera pergi ke Malang dengan ditemani Raka dan Rara.  

Disepanjang perjalanan aku menangis tatapanku kosong perasaan ini kembali ku rasakan setelah kepergian mama yang depresi karena papa melakukan tindak korupsi yang besar dan merugikan banyak orang dan akhirnya papa di hukum mati oleh pihak berwenang yang menyisakan aku seorang diri yang bisa bertahan hidup karena warisan dari mama. 

Setelah sampai dirumah sakit aku terpaku melihat jenazah Arkan, laki laki tangguh itu terkulai lemas tak berdaya. Aku memberontak menangis kencang memohon pada Tuhan jangan biarkan bulannya pergi aku tak sanggup membayangkan hidup tanpa bulannya itu. Ya Arkan bulanku sang penerangku.

Setelah proses pemakaman aku diberi surat oleh mama Arkan. Mama Arkan bilang surat ini Arkan tulis untuku 

Untuk Reina...

Maafin ya aku gabisa jaga kamu terus. Maaf juga aku harus bohong sama kamu sebenarnya nenek aku ga sakit yang sakit aku rei. 

Aku ga ngasih tau kamu karna aku gamau kamu khawatir dan aku gamau kamu sedih kaya dulu lagi. Kamu lebih baik bersama Raka yang bisa bikin senyum selain aku. 

Aku tau kamu marah rei tapi aku lemah aku gabisa jaga kamu karna penyakit ini. Inget yaa bahagia buat aku. Kamu harus nurut sama Raka ya aku tau dia baik aku percayain kamu ke Raka. 

Tenang aja rei, aku sampai sekarang tetep jaga kamu kok rei sekarang aku lebih kuat ga sakit lagi walaupun kamu gabisa liat aku tapi percaya rei aku tetep disamping kamu ngejagain kamu sampai kapanpun. 

Udah jangan nangis nanti aku marah. 

Bahagia terus ya rei jaga kesehatan jangan sedih terus. 

Udah jangan nangis Arkan sayang sama Reina. 

Aku menangis meremas kuat surat yang Arkan tulis, aku marah karena Arkan pergi.

Arkannya pergi

Bulannya pergi

Reina benar benar terpukul tak menyangka takdir merebut satu satunya cahaya yang dia punya.

Reina ingin bersama Arkannya  

Reina ingin bersama bulannya 

Setelah proses pemakaman Raka mengantarkan ku pulang dia memeluku memberi kehangatan dan kekuatan.

Setelah sampai dirumahku. Raka bilang dia dan Rara akan menginap karena khawatir dengan keadaanku. Aku menghiraukannya masih belum percaya dengan kepergian Arkan. 

Aku bangkit dari ranjang beralih pergi ke meja belajar mengambil diary pemberian Arkan  yang selalu aku tulis tentang aku dan Arkan. 

Aku menuliskan puisi untuknya berharap Arkan bisa membacanya dan mengabulkan apa yang ku tulis.  

ketika sang bulan pergi 

Aku terjebak dalam ilusi                                    

terhimpit oleh rindu                                            

sesak dan perih                                                

bisakah kita seperti dulu?                                  

Bercerita dan tertawa bersama                      

tanpa terhalang takdir yang menyakitkan itu

bisakah kita seperti dulu?                                  

Tertawa dan berlari menikmati hembusan angin                                                                    

seperti burung berkicau                                    

terbang tinggi, bebas, dan tanpa beban          

bisakah kita seperti dulu?                                  

Tertawa tanpa beban                                        

tanpa sesak yang menyeruak                          

tanpa rindu yang menggebu                            

 -Reina- 

----------------------------------------------------------------------

2 tahun kemudian. 

setelah 2 tahun kepergian Arkan dan setelah kelulusan aku bertunangan dengan Raka. 

Sampai sekarang aku belum bisa melupakan dia terkadang setiap malam aku menangis merindukan sosok laki laki itu. 

Untuk sekarang aku berusaha meikhlaskan Arkan agar Arkan bisa tenang di Surga. Sejak dulu, sekarang, dan sampai kapanpun Arkan memiliki ruang istimewa di hatiku. 

Aku berharap bisa bertemu dengan Arkan lagi nanti. 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani