Profil instastories

Ketika Mama Ingin Menikah Lagi

Aku terpaku menatap mama. Aku mencoba menahan gemuruh perasaan marah di dadaku, perasaan kecewa dan dikhianati.

"Mama Mei menikah lagi?" Tanyaku dengan suara yang bergetar dan seketika badanku pun terasa lemas tidak berdaya. Mataku terbelalak saat melihat kepala mama mengangguk dan mulut mama mengiyakan. Pikirku masih tidak percaya, aku sempat berpikir bahwa ini hanyalah mimpi bagaimana mungkin mama bisa melupakan Bapak dengan waktu sesingkat ini. "Mama serius mau menikah lagi?Ulangku untuk kesekian kalinya, dan lagi lagi mama mengagukan kepalanya. Berarti ini bukan halusinasi, ini adalah kenyataan. Mama sudah mengambil keputusan.

"Maa... Kenapa harus menikah lagi? Apa mama sudah melupakan Bapak dengan waktu yang sesingkat ini?" Tanyaku dengan suara bergetar dan suara yang sedikit nada tinggi. Sepengetahuanku ibu sangat mencintai Bapak. Meski beberapa bulan lalu sempat ada pertengkaran antara mereka. Selama mama menikah dengan Bapak aku melihat mama tidak lagi dekat dengan pria mana pun, beda dengan dulu saat mama masih status janda. Mama menjaga cinta Bapak dengan tulus kepada kami, mama menjaga kebaikan dan kasih sayang yang tulus kepada kami walaupun saya dan kaka saya hanya anak tirinya. Dan itu adalah hal yang luar biasa untukku.

Aku punya beberapa teman yang sama seperti aku, tetapi pada umumnya orang tua mereka tak betah hidup sendiri hingga melewati tahun demi tahun. Bahkan ada yang menikah lagi kurang dari satu tahun. Tapi mama ku berbeda. Dan itulah yang membuat aku memuja mama. Mama bertahan dalam kesetiaan kepada anak-anaknya dulu, dari saya umur 3-10 tahun Mama setia membesarkan saya seorang diri tanpa bantuan sepeserpun uang dari ayah kandung saya, dan itu adalah satu hal yang tidak mudah untuk dilakukan.

Mengingat usia mama yang masih tergolong muda bagiku, belum menyentuh angka kepala 4. Dan hanya memiliki 3 putri yang saat ini Kaka saya sudah pisah rumah karna sudah menikah. Aku tahu mana pasti tidak kesulitan mendapatkan kekasih. Mamaku cantik, masih tampak muda, dan mama mempunyai masakan khas yang mungkin ibu ibu lain tidak bisa meniru rasa yang khas itu.

Lima tahun semuanya berjalan dengan indah karena kehadiran Bapak dan kehadiran adik saya yang baru beberapa minggu. Lalu hari ini tiba tiba mama mengejutkan aku, waktu istirahat aku berantakan, seperti baru tersapu badai. Mama yang selama ini tak pernah terlihat ada masalah seperti ini, namun kini kulihat mama membawa sepucuk surat dari pengadilan agama yang membuat pengumuman yang merontakkan jantung kum

"Assalamualaikum"

Suara mama mengusikku yang tengah asyik bermain game di ruang tamu, aku mendengut ludah dan merasakan mataku mulai terasa panas karena mama memberikan kertas itu yang ternyata isinya adalah surat cerai mama dan bapak, ada yang menusuk nusuk disana. Aku dengan cepat mengerjap, mencegah air mata yang akan runtuh karena aku tahu, begitu aku membiarkan air mataku jatuh, maka ketenanganku akan runtuh. Bagaimana pun aku hanya gadis yang rapuh masalah ini.

Aku membaca surat itu dan benar bahwa mereka resmi bercerai, aku merobeknya dan aku langsung ke kamar dan menangis sejadi jadinya. "Liss... Mama tetap mencintai Bapak. Tapi bapak tak mungkin bisa bersama sama kita lagi, mama menikah lagi bukan karena mama sudah melupakan Bapak. Mama menikah lagi supaya kamu dan adik kamu bisa tercukupi dari segi apapun, mama sudah cape melihat kamu terus terusan jualan online dan mengejar event menulis. Mana mungkin mama bisa melupakan Bapak dalam waktu yang sesingkat ini?" Suara mama dengan penuh nada membujuk dibalik pintu kamarku.

Aku tidak mempercayai argumen itu.

Kalau mama mencintai Bapak, seharusnya mama tidak harus menikah lagi!" Sungutku "Aku kan selalu ada untuk mama, aku akan selalu bersama mama. Tapi sekarang mama malah bilang kalo mama mau menikah lagi. Itu artinya mama tidak bahagia bersama ku dan semua pengorbanan aku tidak pernah mama anggap nyata." Aku keluar menghampiri mama, ingin sekali aku memeluk dan meminta maaf atas perkataan ku padanya tadi. Tapi yang aku dapati ibu malah tertawa kecil mendengar ucapan ku itu, padahal aku bicara dengan serius, tidak sedang berargumen.

"Aku kecewa," kataku dengan nada yang sangat keras. Sengaja aku seperti itu agar mama bisa mengerti betapa hancurnya perasaan aku waktu itu. Dan sepertinya aku berhasil. Aku melihat wajah mama menjadi sangat pucat, dan mirip warna dinding kamarku, putih. 

Pagi ini aku libur sekolah. Aku sangat senang karena aku mengira mama tidak akan mengungkit masalah kemarin. Sayangnya, hari ini aku mengalami kekecewaan untuk kesekian kalinya.

"Jangan begitu, Liss! Mama menikah karena ada alasannya. Mama menikah karena memang mama butuh teman sekaligus suami. Mama tak mungkin bisa hidup sendiri selamanya. Dan kamu... Kamu juga membutuhkan sosok ayah baru, sayang."

Aku buru buru menggeleng tegas "Aku tidak membutuhkan ayah baru. Aku sudah mempunyai bapak, selamanya bapak adalah ayah terbaik aku, gaakan pernah tergantikan oleh siapapun itu.

Mama tetap sabar menghadapi kekeras kepalan aku. Meski jelas jelas suaraku itu benar benar tajam dan keras.

Mama menjelaskan sangat panjang dan penuh kata yang sangat hati hati agar aku tidak tersinggung, mamaulai bicara sangat perlahan tentang alasannya ingin menikah lagi. Aku bahkan tidak mendengarkannya dengan baik apa yang mama katakan. Satu hal yang sadari kemudian dan cukup mengejutkan adalah saat melihat betapa wajah mama berubah

Ya, tidak ada lagi soroh mata yang penuh penderitaan dan kesedihan itu. Tak ada lagi senyum tipis yang menyiratkan penderita itu. Tak ada lagi ekspresi perih yang membuat hati terasa diremas itu.

Kini mama menjelma menjadi wanita cantik dengan mata berbinar bahagia bak bidadari surga. Jejak kesedihan itu sudah hilang lenyap. Dan aku tidak pernah bisa membuat mama sebahagia itu, memang aku adalah anak yang sangat bodoh.

"baiklah aku menyerah, aku cape berdebat terus cuma gara gara ini ini" kata ku akhirnya. Mama sangat bahagia dan ia memelukku dengan penuh kasih sayang.

"Benarkan Liss? Kamu sekarang sudah mengizinkan mama untuk menikah lagi?" 

Ya Tuhan, aku tidak menyangka kalau mama bisa sebahagia ini hanya karena aku izinkan mama untuk menikah lagi. 

"Mama akan menikah dengan siapa?" Tanyaku pasrah. Gelombang rasa marah yang berputar di dadaku mulai menipis. 

"Om Abi"

Nama itu seperti petir di telingaku. Om Abi yang masih beristri dan belum bercerai dengan istrinya itu? Om Abi yang dulu pernah ke rumah kami dan mengontrol sumur rumah kami? Om Abi yang genit itu? Om Abi yang itu?

Aku tak pernah curiga saat om Abi chat aku via WhatsApp setiap hari, karena biasanya orang yang bisnis sumur bor selalu begitu. 

"Maa, kalau begitu aku tarik persetujuanku. Aku tak akan pernah mengizinkan mama menikah dengan laki laki itu!"

Wajah mama memucat. Ada rasa tak percaya di sana, juga kekecewaan. Tapi aku tak peduli. Kali ini, aku akan berjuang menghalangi mama menikah dengan laki laki super genit seperti om Abi. Aku tak peduli meski dia sudah kenal dekat dengan mama. Aku tak peduli meski aku harus bertengkar dengan mama. Aku tak peduli jika aku yang harus bekerja banting tulang untuk adik dan mama. Aku sungguh sungguh tidak peduli

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani