Profil instastories

KETIKA KUNCI SYURGA ITU PATAH

  • Cerpen NURWAHIDAH

 KETIKA KUNCI SYURGA ITU PATAH

"Aku tidak pernah sedikit pun menyesali keadaan kita, bu."

Sabrina memeluk erat ibu sambil mencium tangan ibu dengan penuh bakti. Mata ibu seketika berkaca-kaca, menyadari bahwa kesalahannya di masa lalu telah menyeret anaknya ke dalam kehidupan yang penuh penderitaan, masa lalu yang tidak akan pernah terhapus.

 Masa lalu yang membuatnya harus menentukan pilihan hidup sendiri untuk membesarkan anaknya. Masa lalu ibu yang begitu kelam telah menyeret Sabrina kedalam kehidupan yang penuh caci maki dan hinaan sebagai anak haram. Namun Sabrina adalah gadis yang kuat, tabah dan juga tegar sekaligus cerdas dan ceria sehingga tidak sulit baginya membuat laki-laki jatuh cinta kepadanya.

      "kesalahan ibu terlalu besar kepadamu, nak."

Linangan air mata ibu yang disertai isak tangis, membuat hati sabrina ikut sakit.

"Ibu tidak salah! ibu adalah korban kedzaliman, sudahlah, bu, berhenti menyalahkan diri ibu sendiri, Sabrina tidak apa-apa, sumpah, bu! Arif memutuskan pertunangan denganku itu karena Arif itu memang bukan jodoh yang di taqdirkan untukku."

Segera dihapusnya air mata ibu perlahan kemudian menatap Sabrina dengan penuh kasih sayang.

"Lagian aku juga belum mau nikah, aku ingin melanjutkan kuliah sampai selesai, kemudian bekerja dan membahagiakan ibu."

Sabrina  tersenyum walaupun terkesan dipaksakan, gadis bermata bening kebiru-biruan itu berusaha memahami keputusan kedua orang tua Arif yang telah memutuskan ikatan pertunangan anaknya dengan dirinya begitu mereka tahu Sabrina adalah anak haram yang lahir karena pemerkosaan.

"Sabrina, bagaimana kalau kita pergi dari kampung ini, kita cari tempat lain yang tidak ada seorang pun yang akan mengenal ibu, sehingga masa depanmu nanti jauh lebih baik."

Kalimat ibu sontak mengagetkan Sabrina yang sedang berdiri menatap rembulan yang sedang bersinar terang,  rembulan nan jauh di langit sana tetapi cahayanya mampu menerangi jagat raya ,  Sabrina ingin seperti rembulan untuk ibu.

"Tidak, bu, di kampung ini ibu melahirkan dan membesarkan sabrina, "

"Tapi ... Orang-orang tidak akan berhenti membully kamu, nak."

Sabrina membuang nafas, dia sudah sangat kebal mendengar panggilan anak haram, panggilan itu sudah meleket pada dirinya sejak masih balita, bagi Sabrina panggilan itu sudah sangat indah untuknya karena ibu yang membesarkannya begitu tabah berjuang agar dia bisa menghirup udara dunia seperti sekarang ini.

"ibu yang mengajariku tentang kesabaran, tapi mengapa sekarang justru ibu yang menyerah?"

Mata Sabrina penuh selidik kewajah ibu yang sangat sedih melihat anak gadisnya ditinggalkan tunangannya.

"Bukannya menyerah, nak, tapi Kamu berhak menikmati kebahagiaan, sama seperti orang lain."

"Tapi aku bahagia, bu,  karena punya ibu yang begitu tabah, apalah artinya panggilan anak haram itu dibanding dengan kebahagiaanku karena ibu mau melahirkan aku kedunia ini, sementara diluar sana banyak yang bernasib seperti ibu, tapi mereka tega membunuh anaknya sendiri sebelum melihat dunia, hanya karena mereka malu, tapi ibu dengan gagah berani melahirkanku kedunia ini."

Mata Sabrina berkaca-kaca, air mata Sabrina tidak sampai menetes di pipi tetapi jatuh membasahi ruang hatinya yang lara, kekecewaanya kepada Arif tak membuatnya putus asa, apalagi sampai mengutuk ibu yang telah melahirkannya.

Ya, Sabrina sabar, ketika satu kali dia kehilangan kekasih, kedua kali Sabrina pun berusaha kuat untuk bisa menerima kenyataan, namun ketika  Sabrina benar-benar telah jatuh cinta dan menjalin kasih dengan Reza, dan laki-laki itu meninggalkannya bukan karena dorongan orang tuanya, tetapi Reza malu mempunyai kekasih seorang gadis yang lahir tampa ayah.

Sabrina ambruk! Kali ini dia tak kuat menanggung luka kehilangan yang begitu menyakitkan. Kesabaran dan ketabahan hati yang sekian tahun menemani langkahnya kini entah kemana,  semua hilang dan enggang menguatkannya.

     "Sabrina, kamu kenapa, nak? Pulang malam dalam keadaan kusut begini?"

Ibu menyambut Sabrina di depan pintu dengan khawatir.

"Semua ini gara-gara, ibu,"

Wajah ibu seketika memias, untuk pertamakalinya Sabrina mengeluarkan kata-kata seperti itu pada ibu.

.

"Sabrina, apa yang terjadi, nak?"

Ibu berusaha menenangkan Sabrina dengan menuntunnya kedalam kamar.

"Kenapa ibu membiarkan aku lahir kedunia ini!? Kenapa, bu?"

"Sabrina, apa yang terjadi, nak?"

     "Reza, memutuskan hubungan denganku karena malu punya kekasih yang lahir tampa ayah."

Sabrina tergugu, pertahannya jebol, tak sanggup lagi ditahannya gejolak jiwa yang memburu di dada. Melihat ibu terdiam, kekecewaan gadis itu kian memuncak.

"Kenapa ibu tidak menggugurkan kandungan ibu, kenapa ibu membiarkanku lahir ke dunia ini.!?"

Seketika bibir ibu begetar hebat, air matanya tumpah membasahi wajahnya, perempuan setengah baya itu mendekati Sabrina dengan langkah gontai, lalu suara parau itu bergema di telinga Sabrina menambah luka gadis yang tidak tahu kemana dia harus memanggil ayah itu pun jatuh terduduk.

     "Ibu rela menanggung penderitaan, menanggung malu bahkan rela hidup sendiri dan tidak punya keinginan menikah hanya agar kasih sayang ibu tak terbagi untukmu, apa yang bisa aku lakukan, meskipun seluruh dunia tidak menerima kamu, nak,   tetapi cinta ibu seluruhnya untukmu. 

"Tetapi dengan tidak membiarkan aku hidup, ibu telah menyelamatkanku dari penderitaan yang berkepanjangan."

ibu kian terguguh, batinnya menjerit untuk pertamakalinya sejak Sabrina lahir, gadis itu berontak dan menyesali hidupnya, kini ibu menyadari kalau Sabrina sekarang bena-benar mencintai Reza.

 

 

 

"tetapi Tuhan berkehendak kau lahir kedunia ini, dan saat itu aku telah berubah menjadi seorang ibu ... Kau tahu sabrina, saat kau lahir hingga kini, ibu ingin mengembalikan kau kerahim ibu dan akan melahirkan kamu kembali setelah penderitaan itu tidak akan ada lagi untukmu, tapi sekarang kau telah melukai hati ibumu."

Tangis ibu begitu menggiris kalbu Sabrina, tak kuat mendengar semua itu, Sabrina berlari keluar rumah di tengah hujan hingga dia sampai kesebuah mesjid, di sudut mesjid itulah sabrina mengkret, menumpahkan segalah tangis di dada,  mengadukan segalah penderitaan yang tidak menemukan titIk jenuh dalam hidupnya.  Tapi jauh kedalam lubuk hatinya  ibu adalah segalahnya, kenangan bersama ibu di masa kecilnya mengusik Sabrina, ya! ibu yang begitu gigih berjuang seorang diri untuk membesarkannya, menutup mata dan telinga demi kasih sayang untuk Sabrina, haruskah Sabrina lupakan itu semua demi seorang laki-laki?

     "Ada apa, nak? Kenapa berada di mesjid malam-malam begini?" di mana rumah kamu?"

Suara seorang kiaya yang baru keluar dari mesjid  membuyarkannya dari lamunan. Secepatnya Sabrina menyeka air mata, diperhatikannya sosok laki-laki tua memakai sorban yang sedang menatapnya heran  dan Sabrina tahu itu adalah seorang kiyai.

"Aku berlari meninggalkan ibu, kiyai."

"Kenapa, Apakah kau marah pada ibumu?"

Sabrina dengan segalah kepercayaannya kepada kiyai itu menceritakan kisah hidupnya bersama ibu. Kiyai itu menggut-manggut lalu menarik nafas pelan.

"Orang tuamu adalah kunci syurgamu."

Wajah Sabrina seketika memias,

"Tapi kunci itu telah patah kiyai dan ibu sendiri yang mematahkannya."

Air mata Sabrina kian deras mengaliri setiap sudut dihatinya, 

   "Pulanglah, dan perbaiki kunci itu kembali, kelak jika kamu lulus dalam ujian ini, maka kebahagiaan sejati telah menantimu, karena cinta yang sesungguhnya itu tak besyarat, seperti cinta ibumu kepadamu."

 

 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Marista Putri Ayuningtyas - Mar 13, 2020, 12:33 AM - Add Reply

Halo kak 🙋
Saling follow yuk sama baca cerita :)
Terimakasih :)

You must be logged in to post a comment.
Nurwahidah - Mar 14, 2020, 8:37 AM - Add Reply

Ok sayang, kita saling follow dan saling baca cerita

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani