Profil instastories

Seorang gadis kelahiran Bekasi, baru saja menyelesaikan sekolah tingkat sma di Smk Negeri 3 Purworejo dengan jurusan Tata Busana. Namum hal itu tidak menghalanginya untuk melanjutkan sebuah hobi menjadi passionnya, menciptakan beberapa karya dan menjadikannya best seller secara bertahap. Sedikit demi sedikit sudah membuktikan bahwa dirinya serius akan dunia literasi

Ketika Aku Kehilangan Cinta

Ketika Aku Kehilangan Cinta

 

Zaan Schanse, 15 Oktober 1999

Ibu, Ayah, aku titipkan putri kami pada kalian. Kami terlalu sibuk untuk merawatnya dan mengawasi saat dia bermain ataupun belajar, pekerjaan kami sangat banyak. Aku takut dia tidak bisa tumbuh jadi gadis yang kuat, kami yakin dia akan menjadi anak yang berguna jika dalam bimbingan kalian. Terimakasih ibu.

 

Salam dari kami berdua

 

Orang tua Catlan Annelise

 

Nafas seperti tercekal setelah membaca surat itu kembali untuk sekian kalinya, mungkin jika dihitung bisa saja seratus kali, kepala sakit hingga pusing, siapa yang tega berbuat hal macam ini jika bukan anaknya sendiri. Mereka terlalu berlebihan, terlalu dianggap remeh. Mengasuh anak itu perlu telaten dan kasih sayang, Lise tumbuh jadi gadis yang periang dan tegar, tak pernah sekalipun orang lain melihat Lise kecil menangis. 

“Sudah bu, jangan kau pikirkan terlalu berlebihan karna itu sangat berpengaruh pada kondisi kesehatan ibu. Istirahatlah hingga pulih sedangkan aku akan membuatkan teh hambar hangat.” Ucap Paman

“Terimakasih Karel, kau anak yang baik.” 

 

Paman tersenyum saat Ibu nya menerima semua perhatian dan kasih sayangnya tanpa menolak sekalipun, orang tua yang ia sayangi masih sehat hingga dia sedewasa ini. Memberinya semangat hidup dikala masalah baru saja menimpanya, perceraian dengan Sang Istri serta membawa kabur anak mereka yang berusia balita, di tambah lagi dengan masalah yang menimpa keponakannya. Lisa dengan wajah cantik dan  keturunan  Belanda dan Inggris itu menyembunyikan suatu rasa dalam hatinya. 

Untunglah, Tuhan masih memberikan kekuatan dan ketegaran hati demi menjalani kehidupan. Mempercayai mereka bertiga untuk mengasuh Lise, membiayai sekolah hingga perguruan tinggi kelak yang memang cita-cita Si Gadis. Ekonomi pun lancar dan toko kue milik nenek dan kakek semakin besar hingga mendirikan toko cabang di beberapa wilayah Amsterdam. Perkebunan stroberi dan anggur paman tumbuh subur dan membuahkan hasil panen yang memuaskan. Keluarga yang tampak bahagia dan sejahtera tak mungkin orang lain berpikiran bahwa mereka tidak punya masalah hidup. Mereka tak pernah menampakan kesedihan sedikit pun atau bercerita pada tetangga sekalipun. Kakek selalu menjejeli kalimat-kalimat inspiratif serta memberi contoh pada istri, anak, serta cucunya untuk menjadi manusia yang tegar, berlapang hati, yang terpenting adalah untuk tidak merendahkan diri demi menerima bantuan orang lain yang belum tentu ikhlas dalam berbuat. Bisa saja mereka ada maksud tertentu dari keterpurukannya  keluarga mereka. 

Kakek memang tegas namun tidak pernah sekalipun marah ketika anak dan cucunya berbuat salah atau bertengkar satu sama lain. Paman Karel anak ke lima dari enam bersaudara, saudara yang lainnya telah pergi ke negara tetangga karena pekerjaan mereka yang memaksa untuk bersinggah, kecuali adik paman yang bernama Barend. Dia saat ini sedang menjalani sidang skripsi demi wisuda yang telah menunggunya,serta bekerja di salah satu perusahaan di kota untuk menambah tabunnganya, rencana beberapa bulan kedepan menikahi kekasihnya.

Setelah nenek membaca surat itu, tiba-tiba saja ada yang bertamu mengaku sebagai pembantu rumah tangga orang tua Lise serta membawa sebuah kabar bahwa orang tua Lise meninggal akibat kecelakaan pesawat saat mereka akan ke Indonesia menjenguk salah satu perusahaan butik yang mereka bangun sejak satu tahun yang lalu. Kabarnya perusahaan itu ramai akan pelamar pekerjaan dan sukses dalam waktu cepat karna kawasan Indonesia yang strategis. 

Keadaan semakin pilu akibat berita duka tersebut. Beruntung Lise sedang berada di sekolah yang dimana saat ini berlangsungnya ujian akhir yang menentukan lulus tidaknya. Jadi nenek menyarankan agar tidak memberi kabar ini terlebih dahulu. 

 

“Selamat pagi nyonya, perkenankan saya memperkenalkan diri terlebihdahulu. Saya  Anne, asisten rumah tangga Tuan Dedrick dan Nyonya Belinda. Tujuan kemari untuk memberi tahu berita duka yang baru saja menimpa tuan dan nyonya.” Ucapan jongos itu terjeda saat Paman Karel keluar dari kamar menuju teras dimana mereka berdua berbincang. 

“eh ada apa? Berita duka apa nona?” wajahnya mulai khawatir ,tadi sempat mendengar sepintas pembicaraan itu. 

“Anuu, tuan dan nyonya.. Anu, mereka meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat pagi ini saat akan menuju ke Indonesia.” Menjelaskan secara singkat dan langsung pada topik, walaupun dengan kegugupan yang amat teramat ia rasakan saat ini. Tidak tega melihat keluarga ini sedih yang semakin hari semakin bertambah Anne telah paham dengan kondisi rumah tangga tuan nya hingga kondisi Lise, anak majikannya. 

“apa? Kau sedang tidak becanda bukan?” tanya paman sedikit menyelidik karna belum yakin bahwa berita yang ia dengar adalah fakta. 

“benar tuan, saya sedang tidak berbohong ataupun becanda. Kalaupun iya, saya tidak berani main-main mengenai kematian. Apalagi mereka adalah majikan saya, bekerja sudah bertahun-tahun sebelum nona Lise lahir. Maafkan jika kehadiran saya membuat keadaan semakin keruh dengan adanya berita duka ini. Sekali lagi maafkan saya, saya permisi. Terimakasih.” Ucapan terakhir sebelum kemabali ke rumah majikan disertai rasa menahan tangis dan juga sedih. 

 

BRAKKK!  Suara itu berasal dari nenek yang terjatuh dari kursi rodanya karna terlalu syok akan berita ini dan ingin rasanya ia bangkit dan menendang si jongos itu. Namun nenek tetaplah orang tua yang kini telah rentan dan lemah. Kursi roda jetuh posisi miring ke kanan. 

Kekhawatiran paman semakin menjadi saat telah membantu beliau bangkit dari kursi roda ternyata nenek pingsan. Susah payah dia membopong nenek ke kamarnya, tak pernah sekalipun ia mengatakan AH saat melindungi kedua orang tuanya. 

Singkat cerita, hari sudah menjelang malam sekitar pukul 5.30 pm yang seharusnya Lise sudah pulang. Berhubung tinggal menghitung bulan akan wisuda dan tamat tingkat sma, dia sengaja menambah waktu belajarnya lagi di perpustakaan umum samping gedung luar sekolah Bukunya lengkap jadi apa yang ia cari pasti ada. 

Baru saja di batin oleh kakek karna belum juga pulang, akhirnya sampai juga di rumah. Mereka semua khawatir dengannya, apa yang harus di katakan pada Lise? Bagaimana caranya? Hingga beberapa menit keheningan menyelimuti suasana saat itu juga. 

 

“ada apa? Kenapa kalian diam saja saat aku sudah sampai di rumah? Bukankah seharusnya senang karna aku sudah sampai rumah.”

“sayang, kamu yang sabar. Ikhlas kan, kuatkan hatimu agar selalu dijalan Tuhan.”

“ada apa nek? Kenapa nenek mengatakan hal itu?” Kakek memberi isyarat bahwa agar dia saja menceritakan semua nya hingga tamat. Sebelum mengeluarkan suara, kakek terlebih dahulu memeluk cucu kesayangan, Catlana Annelise 

“Ann, ayah dan mama mu telah meninggal. Pagi tadi, berita tersebut datang menemui kami melalui jongos. Kami juga ikut sedih, kecewa. Ini terlalu cepat bahkan sebelum nya kami berniat mengajakmu menemui kedua orangtua mu. Namun takdir menjawab semuanya. Kakek harap, kau tabah.” Masih dalam keadaan memeluk Lise, dia mampu merasakan getaran hebat. Lise menangis dalam diamnya. Namun itu sangat menyakitkan, belum pernah bertemu, dan tidak akan pernah bertemu sampai kapanpun. 

“kakek? Kau tahu tidak, aku kehilangan sahabat yang paling ku sayang. Defras pergi kek, dia menghilangkn begitu saja tanpa memberi ucapan selamat tinggal kepada ku. Dia jahat kek, tapi sekarang apa? Aku mendapatkan berita mengejutkan, sudah pupus harapanku satu persatu. Belum juga sempat menyanding sudah Tuhan ambil lagi. Kenapa? Aku telah kehilangan cinta, satu persatu cinta itu hilang. Apa salahku?” 

“sabar dik, paman tahu apa yang kau rasakan. Ikhlaskan mereka, dan paman janji akan mengantarkanmu ke pemakaman ayah dan mama.” 

 

Masih dalam posisi semula, belum juga melepaskan pelukan dengan kakek. Tangisnya semakin menjadi-jadi, mengeluarkan semua isi hatinya malam ini. Apa yang dia rasakan, kerinduan yang semakin memperenggut kadar kesadaran. Lise tertidur dalam dekapan kakek Bram, dan semuanya memutuskan untuk ikut istirahat demi kesehatan pula. 

Keesokan harinya, menjelang siang kakek serta yang lainnya ikut ke pemakaman anaknya. Lise sudah tidak lagi menangis histeris seperti kemarin, sejak ini lah dirinya menjadi gadis pendiam dan sulit untuk tersenyum. Sepulang dari acara pemakaman orang tuanya dia menjadi sering mengurung diri di kamar, tidak jarang ketika nenek ataupun kakek atau bahkan paman menemui Lise tertidur di sofa kamar dengan tumpukan novel di depannya 

Sangat disayangkan Lise yang mereka kenal adalah gadis yang ramah, riang, penuh tawa kini menjadi meredup remang remang seperti lampu meja hias. Jarang tersenyum dan juga irit bicara. Seperti itu sampai seterusnya hingga hari kelulusan itu telah tiba, yang di mana Lise akan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. 

Baju seragam khusus wisuda yang di desain oleh temannya dan di setujui oleh semua teman kelasnya. Perpaduan warna krem dan maroon sangat cocok dan indah dipandang ketika dikenakan oleh Lise, atau karna sebab dirinya tinggi putih bersih tanpa jerawat di mukanya. 

 

“Sayang, kau tampak lebih cantik mengenakan baju ini. Nenek bangga dneganmu, lulus dengan nilai yang super dari sekian banyaknya temanmu, dalam kondisi rumah berantakan kau tetap berjuang demi kesuksesan mu. Doa nenek menyertai mu nak.” Ucap nenek bangga dengan cucu nya itu yang selama ini berjuang mati-matian. 

“ah nenek bisa aja, biasa aja nih penampilan ku. Apa ada yang baru? Kurasa masih sama.” Tertawa kecil demi mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. 

“wah, ponakan paman sebentar lagi lulus. Dab kuliah, semangat Lis. Paman yakin kamu pasti bisa.”

“Iya pamann, hehee.”

 

Lise baru ingat kalau kakek nya datang bersama dengan anak-anaknya yang lain, pantas saja ada sesuatu yang kurang pagi ini. Dan baru saja di bicarakan beliau datang beramai-ramai, senyumnya sedikir terukir akibat pemandangan yang teduh ini. Semua anggota keluarga besar masih terlihat akrab dan rukun sejahtera. 

Menerima banyak ucapan selamat dari keluarga besar sudah lebih dari cukup baginya saat ini. Tidak akan berharap lebih, mengantisipasi kesedihan agar tidak terlalu sakit dirasa. Selama ini berdiam diri, merenungi nasib, hingga berbulan akhirnya dapat pencerahan bahwa dia tidak boleh seperti itu. 

Acara pun dimulai, dan saat nya mengumumkan hasil ujian para siswa. Di nyatakan bahwa hasil ujian miliknya adalah terbaik untuk tahun ini,tidak lupa juga diumumkan kejuaraan yang ia raih selama di sekolah, kejuaraan memanah nya yang sedari kecil memang sudah di latih oleh kakek. Acara tidak selesai sampai di sini sana, kegiatan foto album, dan masih banyak lagi kegiatan yang nantinya sebagai kenangan masa sma. 

Dalam hatinya mengatakan bahwa rindu terhadap dia yang telah lama menghilang seperti hilangnya rasa cinta yang ku rasa. Hingga saat ini tidak ada kabarnya sama sekali. Tidak ada satu pun pihak keluarganya yang mendatangi acara ini hanya untuk mengungkapkan selamat bagiku. 

 Tiba-tiba lampu di aula mati hanya ada lampu sorot yang menyala dan lampu itu tertuju pada layar tembok dan muncul sebuah video seperti nya. Video apa, pikirnya? Keadaan menjadi ricuh dan berisik akibat ini. Tidak ada yang menyadari ternyata pihak keluarga Defras datang pada acara perpisahan ini. Dan memberi sebuah video ke panitia. 

Video berdurasi lima menit lebih empat puluh menit itu menampilkan pertama kali nya adalah wajah Defran. Semua orang terkejut, kenapa bisa, ada apa? Berlangsungnya video itu Lise masih sempat memikirkan dimana orang tua Defran saat ini, pasti belum jauh atau bahkan belum pergi dari aula. Maka segeralah dia bergegas mencari di selingi tangis, sebuah kejutan yang amat di luar pikiran dia selama ini. Lise pikir dia pindah karna memang ayahnya yang ingin pindah namun ternyata bukan. 

Jadi selama ini dia sakit dan Lise sebagai sahabatnya tidak tahu akan hal ini? Apakah masih layak disebut sebagai sahabat? Pikiran Lise semakin kacau saat ini, berlari tanpa tahu mau kemana yang terpenting dia terus berlari mencari. Defran sakit dan akhirnya meninggal, selama latihan memanahpun tak tampak jika dia sakit atau Lise yang memang tidak peka akan sekitar. Tidak ada yang tahu. 

Pihak keluarga Lise turut khawatir karna mencari gadis itu yang tiba-tiba saja pergi tanpa pamit. Semua orang, termasuk guru, satpam ikut mencari Lise. Khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,atau dalam kata lain menghindarinya.

Keadaan semakin ricuh, tegang, sedih. Semua orang terkejut dengan adanya isi dari video itu. 

Akhirnya Lise menemukan di parkiran belakang sekolah, dia adalah ayah Defran dan bunda. Akhirnya, dia sungguh senang karna dapat bertemu. Tanpa pikir panjang langsung menghampiri mereka. 

 

“tante, om,” sapanya dengan nafas yang masih berat karna lari

“Lise, selamat ya atas kelulusan mu, om dan tante bangga. Semoga kamu Ikhlas dalam menerima kenyataan ini. Maafkan kami yang selama ini menutupnya dari mu, kami tidak ingin kamu tergantung, kami hanya ingin kamu lulus dengan hasil yang baik. Selamat tinggal Lis, kami pulang”

 

Lise tak mampu berkata apapun lagi saat ini,  bibirnya kelu, otaknya entah bagaimana caranya saat ini tak bisa berpikir apapun itu. Satu katapun tidak muncul bagaimana akan menjawab semua perkataan ayah Defran. Entahlah. Yang pasti hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupnya. 

Kenyataan yang terungkap, satu persatu memang, cinta nya hilang. Entah apa yang Tuhan rencanakan di balik ini semua, apa yang akan menjadi takdir nya setelah ini. Tidak tahu dan tidak ingin mencaru tahu. Pikirannya sudah komet rasanya, semua hal membuat otak seseorang terkadang tidak bisa berpikir sama sekali. 

Om dan tante, orang tua Defran telah pergi. Sebenarnya ada yang ingin ia tanyakan, namun terlambat dan sepertinya tidak perlu dipertanyakan kembali karna sebuah takdir telah menunjukan yang sebenarnya. 

Kali ini Lise benar-benar pasrah, tidak tahu.  Yang ia tahu kalau masih ada orang yang mencintai dia sepenuh hati. Kakek, nenek, paman, dan keluarga besar. Mereka menyayangi nya, begitu juga Lise. Jadi dia harus terus berjuang demi kehidupan yang lebih baik lagi. Dengan orang-orang baik, berhati suci dan lapang. Kehidupan baru tercipta karna pernyataan hidup. Ya terkadang kita harus berevolusi demi masa depan yang mapan dan baik. 

Dan mencoba kembali mengingat apa yang dia lihat dari video itu, Defran, ya Defran. Video itu adalah hari terakhirnya di dunia, Defran sudah tidak kuat lagi dengan sakitnya yang semakin hari semakin parah dan membuatnya kurus kering dan pucat. 

 

"jadi selama ini dia pura-pura? Tapi kenapa tampak sehat, apa aku saja yang tidak peka terhadap nya? Gagal ginjal? Ya Tuhan, maafkan Lise" ucapnya dalam batin. 

 

Kembali ke acara perpisahan dengan wajah lesu, ingin menangis namun apa ada? Dirasa sudah kehabisan cadangan air mata jadi meneteskan sedikit saja tidak mampu. Cukup berdoa dan merutuki kebodohannya selama ini yang tidak turut menjaga sahabatnya itu agar selalu sehat. Namun ya sudahlah, ini sudah takdir mau bagaimana lagi.

 

Sejak kecil selalu bermain bersama, latihan memanah bersama, berenang, dan masih banyak lagi. Sekarang hanya mampu berharap agar kelak bertemu lagi di surga. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.