Profil instastories

Keresahanku

Praaang ... praaaaang ...

Nah, sudah ku pastikan itu suara piring pecah lagi. Aku sampai bosan setiap hari yang kudengar piring pecah, gelas pecah, panci, baskom dan penggorengan ikut melayang. Heran sama emak dan bapak kalau berantem suka melempar barang-barang dapur. Dibilang perang, tapi senjatanya perabotan dapur. Enggak dibilang perang, tapi kalau sudah selesai berantem dapur jadi berantakan. Dan aku setia jadi tukang beres-beresnya. Nasib.

Mereka suka enggak pada mikir, kalau perabotan dapur habis, apa enggak beli lagi? Dan beli juga harus pakai uang, kalau enggak ada uang untuk beli pasti berantem lagi. Begitu terus sampai beruban. Sampai pernah suatu kali, aku hendak makan tidak ada piring yang tersisa. Ya sudah, akhirnya aku mengambil daun pisang di belakang rumah untuk tempat makan.

Aku lupa semenjak kapan emak dan bapak sering bertengkar. Sampai sekarang, aku sudah perjaka umurku enam belas tahun, tapi mereka tidak pernah berubah masih saja seperti itu. Alasannya cuma satu, yaitu penyakit bapak. Bapak adalah lelaki pemalas yang suka main perempuan. Sepengetahuanku, sedari dulu emaklah yang mati-matian menghidupi keluarga, walaupun hanya buruh serabutan. Emak bekerja sebagai kuli cuci dan setrika pakaian, terkadang emak juga keliling berjualan rempeyek buatannya. Sedangkan bapak? Entahlah, dia bukan contoh yang baik bagiku, bekerja semaunya keluyuran seenaknya.

Meskipun emak dan bapak sering berantem herannya aku mempunyai tiga orang adik, satu laki-laki dan dua perempuan. Luar biasa. Tapi beginilah kehidupan kami, jauh dari kata anak yang bahagia. Kalau anak orang pagi-pagi sudah disiapkan sarapan, minumnya pun susu. Nah, kita pagi-pagi sarapannya omelan, siang sedikit ocehan, mau tidur umpatan. Bikin ngelus dada. Mungkin emak lelah dengan kelakuan bapak yang sering makan hati, akhirnya emak sering melampiaskan kemarahannya padaku dan juga adik-adikku.

"Mak, sudah matang apa belum?" tanyaku.

"Mata ditaruh mana? Ini sayur masih di atas kompor apinya pun belum mati," 

Belum selesai bicara denganku, adikku yang pertama sudah memanggil.

"Mak, bagi uang ongkos sekolah," 

Belum lagi yang kedua.

"Mak, aku kepengen jajan,"

Belum lagi yang ketiga

"Mak, kebelet pipis,"

Cukup dengan masing-masing anak mengucapkan satu kalimat, dengan ajaib seketika emak berubah jadi singa Afrika. Tidak lupa aku tutup telinga, karena sebentar lagi pasti akan berteriak ...

"Sukirnoooo ... punya anak enggak mau ngurusin," begitulah nada emak melengking memanggil bapak, nada suaranya lebih tinggi dari Agnez mo. Kupastikan tidak ada jawaban, karena bapak  tidak peduli kalau emak minta bantuan.

*** ***

Terkadang kalau mereka lagi berantem, adik pertamaku iseng, sering kali suka dibuat bahan bercandaan. Seperti malam ini.

"Bang, ayo balik badan dan tutup mata! Coba kita tebak itu suara apa yang dilempar sama Emak dan Bapak," kata Reno sambil menahan ketawa. Dia seolah sudah hafal suara benda-benda yang jatuh di rumah ini.

"Hih, enggak boleh begitu, Ren," timpalku.

"Bilang saja Abang malas, sebenarnya Abang lagi ngumpulin tenaga kan? Habis ini kan beres-beres," ledek Reno.

"Sialan, sudah pergi sana," aku mengusir Reno. Dia selalu saja meledekku, tapi mau bagaimana lagi memang ujung-ujungnya aku lagi yang harus berbenah. 

"Ah, bodo amat lah" gerutuku pelan.

Biarpun setiap hari ceria dengan semua candaan. Tapi isi hati siapa yang tahu? Aku sering kali bersembunyi dibalik itu semua. Rasanya aku ingin sekali hidup sebagai seorang anak yang bebas dari masalah keluarga. Menyebalkan sekali.

Eh, tapi ngomong-ngomong ini tumben berantemnya durasinya lama. Ada apa ya? Kudengar suara emak menyebut nama Mbak Lastri. Mbak Lastri adalah janda anak dua yang baru dua bulan pindah di depan rumah kami. Lebih muda dari emak dan tentu saja masih terlihat cantik.

"Belagu kamu ya, Bang," bentak emak.

"Anakmu sendiri ada empat, malah sekarang belagu pakai acara beliin jajanan dan baju buat anaknya Lastri. Pikirin itu anakmu sendiri," lanjut emak.

"Eh, Tutik. Salahku dimana? Itu kan duitku sendiri boleh kerja, bebas dong mau ngapain saja, lagian itu bocah kasihan enggak ada bapaknya" sahut bapak.

"Kamu waras enggak sih, Bang? Itu janda bukan janda ditinggal meninggal, dia janda karena cerai. Jadi itu bocah bukan anak yatim. Hidup kita sendiri saja susah ditambah susah lagi, bilang saja Abang mau mendekati Lastri," suara emak semakin meninggi.

Lama-lama aku pusing juga mendengar mereka. Apalagi ini sudah menyebut nama tetangga, pasti malu kalau banyak yang mendengar. Akhirnya pertama kali dalam sejarah pertengkaran emak dan bapak, aku ikut andil berbicara.

"Pak ... Mak ... Dari Roni kecil sampai sekarang kenapa sih selalu ribut? Roni sudah gede, selama ini Roni malu Emak dan Bapak enggak berubah,"

"Tahu tidak, Mak? Roni suka iri melihat teman-teman sebaya Roni diperhatikan sama orang tuanya, selalu ada canda dirumahnya. Bukan makian, seperti yang aku dan adik-adik dapat selama ini, Mak. Sejujurnya kami sedih dengan keadaan yang tidak pernah berubah," ucapku.

"Tuh, Tutik dengar kata Roni," sahut bapak.

"Dan juga Bapak, seharusnya Bapak malu. Sebagai kepala rumah tangga, sudah seharusnya Bapak memberi contoh yang baik untuk aku dan Reno sebagai anak laki-laki bagaimana caranya mengayomi keluarga. Selama ini Emak yang selalu berjuang buat kita, Bapak kapan?"

"Emak dan Bapak lihat, kan? Roni sampai putus sekolah gara-gara ekonomi kita yang seperti ini. Roni rela korbankan pendidikan untuk meringankan beban Emak. Jangan sampai ketiga adikku bernasib sama sepertiku," kataku menggebu-gebu. 

Entahlah, itu kata-kata wejangan dari mana tiba-tiba saja muncul di otakku, menggerakkan bibir dan mengeluarkan suara tanpa jeda. Hebat sekali aku. Biasanya emak dan bapak yang selalu memarahiku, tapi sekarang terbalik, mumpung ada kesempatan.

Kulihat wajah emak, ada air di sudut matanya. Sementara bapak sepertinya malu karena ucapanku. Aku menyesal membentak-bentak mereka, bagaimanapun mereka orang tuaku. Tapi aku lega akhirnya beban pikiranku yang selama ini aku pendam sedikit hilang. 

Malam ini berakhir dengan pelukan hangat sepaket dengan permintaan maaf mereka. Sudah berapa tahun aku tidak merasakan ini, sampai aku lupa bagaimana nyamannya berada didekapan orang tua.

Kupanggil adik-adikku yang sedari tadi dikamar untuk ikut merasakan hangatnya kasih sayang orang tua yang mereka rindukan. Tapi bagaimana dengan besok? Aku harap keluargaku akan terus seperti ini. Semoga. 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani