Profil instastories

Kembalinya Aisyaj

Prolog

"UANG UANG UANG ... AJA YANG KAMU PIKIRIN. PIKIRIN ANAK-ANAK KAMU JUGA MAS! AKU CAPEK SEHARIAN KERJA. KAMU TAUNYA CUMA LINA ADA UANG, LINA SELALU ADA UANG!"

PLAK

"UDAH BERANI KAMU SAMA AKU. AKU INI SUAMI KAMU!"

Lagi, ia kembali mendengar pertengkaran ayah dan ibunya. Entah kapan ini akan berakhir. 

Setiap hari, telinganya dipekakkan oleh teriakan-teriakan, bentakan, bahkan caci maki. Penyebabnya adalah, uang. Benda kecil yang berhasil meretakkan ikatan suci yang kuat seperti pernikahan.

Gadis berjilbab yang baru saja membuka gerbang depan rumahnya itu, langsung berlari tergesa-gesa. Saking buru-burunya, ia hampir terjatuh menginjak ujung gamisnya sendiri.

Dia berpikir, jika suara pertengkaran ayah dan ibunya saja sudah menggelegar sampai ke gerbang depan, maka ....

"IBU ...!"

Ia langsung masuk dan berdiri di depan ibunya, mencoba menghentikan pertengkaran yang tiap hari akan selesai jika ikat pinggang tebal nan panjang, telah mencambuk salah satu dari mereka. Entah itu sang ibu, atau justru anak perempuannya.

"Ayah, jangan sakitin ibu!" belanya. Membentang kedua tangannya.

Tangan sang ayah telah memegang sabuk yang tebal, terbuat dari kulit. Sudah pasti akan sakit sekali jika mengenai punggungnya. Tapi, ia sangat sedih jika ibunya yang sudah lelah ini yang merasakannya.

CTASH!

Suara sabetan di lantai saja, mampu membuatnya terjengit dan merinding. Gemetar.

"MINGGIR KAMU!"

"Gak yah. Ayah gak boleh nyakitin ibu!"

"MINGGIR!!! GAK USAH IKUT CAMPUR URUSAN ORANG TUA!! MINGGIR AYAH BILANG!"

CTASH!

Meski sudah mendapat peringatan, ia masih tetap bertahan. Meskipun pula, dirinya sudah ketakutan.

"MINGGIR!"

Ayahnya berhasil mendorong tubuhnya dengan keras hingga terduduk di lantai.

"AISYAH!" ibunya memekik. Air matanya sudah tak tertahan sejak awal pertengkaran. Matanya beralih menatap suaminya. "Mas, jangan sekalipun kamu nyakitin Aisyah!" 

Lalu, ibunya mendekat, duduk dan membantu Aisyah. 

CTASH!

Suara sabetan itu kembali menyentak pendengaran Aisyah. Ayahnya sudah bersiap mencambuki ibunya.

Ketika tangan sang ayah terayun mengambil ancang-ancang, Aisyah cepat-cepat berdiri dan memeluk ibunya, membelakangi ayahnya. Memasang badan sebagai tameng untuk wanita dipelukannya. Menggantikan punggung sang ibu.

CTASH!

CTASH!

CTASH!

CTASH!

Cambukan secara beruntun itu berhasil mengenai punggung Aisyah dengan kerasnya. 

Suara teriakan histeris sang ibu menggema di seluruh ruangan. Kuat sekali. Aisyah hanya bisa diam dan menangis, menahannya. Setelah banyak menerima sabetan secara bertubi-tubi, tubuhnya melemas hingga ambruk. 

Ayahnya, ayahnya langsung pergi begitu saja.

 

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani