Profil instastories

keajaiban adalah nama lain untuk kerja keras

“ma........aku berangkat............”kataku sambil mencium tangan kanan mama.itu adalah kejadian lima tahun lalu yang tiba tiba teringat di benak mama.

“hati hati sayang..........”kata mama memelukku sejenak.aku kemudian pergi menuju halte.sejak bulan lalu mama melarangku mengendarai motor kesekolah.

Jarak antara rumahku menuju halte lumayan jauh.dan sialnya gang rumahku terlalu sepi,tak ada satupun angkutan yang melintasi gang rumahku.jadi aku harus berjakan sejauh dua puluh meter setiap pagi.itulah kenapa aku agak kesal mama melarangku mengendarai motor seperti biasanya,aku melirik jarum jam tanganku sejenak,masih pagi.aku berjalan sangat santai seperti biasanya.aku sudah sampai di halte sekarang,tadi pagi aku merasa baik baik saja,tapi entah mengapa aku tiba tiba merasa pusing.aku mulai merasakan gejala ini sekitar sebulan lalu,namun aku tak terlalu serius menanggapinya,tiba tiba aku terjatuh.

“ops............hati hati dong.”kata seorang cowok memegang lenganku.aku memandangnya sejenak,kami mengenakan seragam yang sama.

“maaf.........makasih ya.”kataku mengusap pipiku yang pucat.

“sakit ya?”katanya.

“enggak........”balasku singkat.

“mau.........”ia menyodorkan botol minumanya.

“makasih......”kataku tersenyum.

“gak papa minum aja.........gak aku racunin kok.”katanya bercanda.

“makasih.....”kataku meraih botol minumannya karena ngerasa gak enak.

“nih.........makasih.”kataku menyerahkan botol minumannya kembali.

“Kevin Heniemus.......”katanya menyodorkan tangannya.

“Nadya Felixsa......”balasku menyambut uluran tangannya.

“kamu yakin baik baik aja.......?”katanya.

“kamu harus hati hati.......aku pikir kamu gak cukup baik.”sambungnya tersenyum,aku tak bisa menebak apa ia bercanda atau berkata sungguhan,ekspresinya sih menunjukkan ia sedang bercanda.

“kamu kayak papaku aja.......”kataku lirih.

“yah........ngejek ya?”balasnya memasang muka masam.

“maaf.......kalau tersinggung.”kataku menunduk.

“ternyata kamu gak bisa diajak bercanda ya?”sambungnya.

“maaf.....”kataku lagi.

“tapi aku tersinggung loh.......”balasnya.

“soalnya gak mungkin sih aku mirip ayahmu.....pastinya lebih keren aku....”sambungnya.

“bacot.........”balasku bangkit.

“enggak loh..aku serius.emang kamu gak bisa ya liat gimana kerennya aku?”katanya.

“hei.........aku cowok paling keren tau disekolah.....”katanya lagi.

“gak kedenngaran.........”kataku berjalan.

“mau kemana?”ia menyusul langkahku.

“tuh...busnya datang.”balasku.

     Bus yang kutunggu tunggu sudah tiba,aku dan Kevin ikut didalamnya.sepanjang perjalanan Kevin mengoceh terus tentang banyak hal yang gak penting.meski aku menannggapinya dengan pura pura tidur lah,pura pura membaca lah tapi ia gak perduli ia terus mengoceh sepanjang jalan.dalam hati aku bersyukur juga ketemu Kevin,karena dia pagiku jadi lebih semangat.

“pinggir ya pak.............”kataku sambil menekan bel.bus berhenti.beberapa siswa menunggu waktu untuk turun.

“lo gak turun disini?”kataku melihat Kevin masih tenang tenang aja.

“kalau mau turun ya turun.........gak usah banyak cakap.”katanya mendorongku.

“Vin............hati hati dong aku bisa jatuh.........”kataku cepat.

“maaf............maaf......”balasnya.

“mau turun gak?”sambungnya.

“pak.........lanjut pak..........”katanya.

“Kevin..........”potongku mencegah.

“cepetan kalo mau turun.......”katanya mendorongku pelan.

     Bus melaju kembali meninggalkan aku yang masih terpaku dipinggir jalan.Kevin benar benar tidak turun bersamaku.ia menjulurkan lidahnya lewat kaca jendela saat aku menatapnya.aku ngerasa aneh juga kenapa ia gak turun disana.padahal seragam yang kami gunakan sama tanpa adanya perbedaan.

“pagi Shya............”sapaku Ria saat memasuki kelas,Marshya Andriani teman baikku duduk dibangkuku.

“udah siap pr Fisika belum?”kata Marshya menjawab sapaanku.

“udah dong........”kataku memoyongkan bibir.

“pinjamin dong.......”katanya.

“targetku kan semester ini urutan pertama.....”sambungku.

“gak salah dengar Fel.........”Marshya mencatat prku cepat.ia adalah sang urutan pertama semester lalu.

“harusnya sih enggak....kecuali kalau kamu budek.”candaku.

“dasar....emang kamu pikir aku gak dengar?”balas Marshya menutup bukuku dan mengesernya ketanganku.

“yah udah....berarti lo paham kan....”kataku sok sibuk mengelurkan bukuku.

“oh......jadi ceritanya kamu pengen ngeser posisiku ya.....?”katanya menanggapi.

“sok..tau......”sambungku.

“berarti kita saingan deh.......”katanya.

“terserah......”balasku.

“sombong banget......”katanya menyindir.

“kayak hidup kamu gak kebatas aja,........”godanya.

“memang.”balasku.

“aku akan hidup seribu tahun lagi........mengalahkanmu.......”kataku sok sokan,Marshya hanya mencibir.

“bisa jadi aku gak akan bisa liat matahari lagi.......”gumamku pelan.

“apa?”Marshya tiba tiba menyahut.

“apa?”balasku.

“kamu tadi ngomong apa?”balasnya.

“gak ada.........”sangkalku.

“aneh........”katanya berfikir.

“kayaknya tadi aku dengar suara gumaman.”tambahnya.

“gumaman apaan?”kataku acuh.

“bisa jadi gak bisangeliat matahari lagi............kira kira gitu deh gumamannya.”Marshya tampak memasang muka serius.dalam hati aku ngerasa lucu dengan ekspresi Marshya yang imut imut gitu.

“mungkin aja kamu salah dengar.......”kataku kembali membaca.

“mungkin.............”ia tampak berfikir.

“mungkin aja hantu.........”kataku cepat.

“apaan sih...........”Marshya memukul lenganku.aku tau ia paling takut ama makluk yang namanya hantu dan sejenisnya.

“jangan jangan kamu memang mau mati...........Shya.”kataku meletakkan buku yang kubaca.

“maksud kamu apaan sih?”Marshya makin melebarkan matanya.

“kamu mungkin mendengar suara malaikat maut.”kataku memanasi.

“apaan sih Fel........”Marshya makin takut.

“menurut bacaan yang pernah aku baca....”kataku memulai kebohongan lain,ekspresi Marshya makin membuat aku ingin tertawa.

“kamu baca apaan Fel......?”Marshya mencekram lenganku.

“katanya.........kalau kita dengar suara sumbang yang gak jelas gitu..........”aku menggantung kalimatku.

“apaan Fel.......”Marshya makin gak sabaran.

“berarti orang itu akan mati........”sambungku.

“berarti............”aku menggantung kalimatku lagi.

“bohong kan Fel..........”Marshya tampak pucat.

“ha.......ha..........ha...........”aku tertawa terbahak bahak,berjongkok karena tak sanggup melihat kebodohan Marshya.

“kena..........”kataku disela tawaku.

“hah.........”Marshya menarik napas panjang.

“lucu ya?”katanya memasang ekspresi seram.

“lucu banget..........”sambungku.

“senang ya......?”katanya lagi.

“banget.”jawabku.

“aku doa’in ya...aku akan lebih panjang umur daripada kamu.”katanya cemberut.aku tertawa keras gak perduli ekspresi Marshya.

     Hari hari yang kujalani seminggu ini sangat indah.penuh dengan canda tawa.tapi itu adalah minggu terahir aku terlihat seperti Felix yang kukenal,karena setelah minggu ini aku akan berubah bentuk menjadi lebih menyeramkan daripada yang pernah kuduga.cerita itu kini sudah dimulai.

“Feli.............Feli.......”mama mengetuk pintu kamarku keras.

“kamu masih tidur.......?jangan kelamaan tidur sayang.........”mama berbicara tanpa membuka pintu kamarku.

“yoi ma........”kataku beranjak,aku penasaran kenapa akhir akhir ini mama semakin perhatian padaku,aku kayaknya anak bayi dimata mama akhir akhir ini.

  Siang berikutnya saat pulang sekolah aku meletakkan tasku dengan lemas,aku agak kesal juga ama mama.mama menyita Hanponeku semalam,aku bingung plus kesal kenapa mama jadi ilfil ama aku,mama jadi aneh akhir akhir ini,ia membatasi setiap gerak gerikku.gak boleh jajan disekolah lah,gak boleh tidur kemalaman lah,inilah,itulagi lah.pokoknya aku ribet banget akhir akhir ini.mama bahkan ngebawa makanan setiap pulang sore.

“ini makanan Feli disekolah.........”katanya menyerahkan snack yang dibelinya sepulang bekerja.

“apaan sih ma....ini kan snack anak bayi.........”kataku menggeleng tawaran mama dengan roti susu yang dibelinya.

“pokoknya makan aja......Fel...”mama melembut.demikian juga semalam pas aku tanya apa alasan mama menyita Hanpone aku,mama menjawab yang gak masuk akal.

“nanti kalau mama berubah pikiran mama akan belikan yang lebih bagus.”kata mama tersenyum.

“mama mau ngasih Feli hadiah?”tanyaku.

“gak papa lo..........sebelum mama belikan yang baru Feli iklas kok make itu dulu.”kataku lagi.

“pokoknya Feli istirahat dulu.........gak bolek kecapekan.kalau Feli kecapekan Feli nanti gagal ngeraih mimpi.”balas mama berlalu,akibatnya aku kesepian sendiri.

“mama...........”teriakku namun gak ada balasan,setauku mama tadinya bilang gak kerja.

“mama kemana ya........”pikirku,aku meneruskan langkahku kekamar.

“duh............ini lattop kenapa sih?”aku merestart kembali lattopku beberapa kali,namun tetap gak bisa hidup.maklumlah usia lattopku udah hampir sepuluh tahun

“pinjam punya mama dah.........”kataku pelan sambil turun dari ranjang.

“cret..........”aku membuka kamar mama pelan,lattopnya terletak dimeja rias.aku mengambil lattopnya pelan,namun tanpa kuduga sesuatu jatuh menyentuh lantai.

“apaan?”kataku berjongkok.

      Barang yang jatuh ternyata surat hasil tes kesehatan.mendadak tulangku lemah tanpa daya,seketika pandangan mataku berkunang kunang.aku menangis sesunggukan merasa dunia runtuh,aku sama sekali tak menyangka bakalan jadi seperti ini.

“akh...................akh.............”aku mengerang tak henti,lama aku menangis sampai aku ngeras dunia tertidur.aku memandang semuanya gelap,aku tidak tau apa yang terjadi sesudahnya.

“Feli..........”samar samar aku mendengar suara mama,aku membuka mataku pelan mama menangis.

“Feli........”mama memelukku erat.

“mama........kenapa membohongiku?”kataku parau,mama hanya menangis.

“mama bilang semuanya baik baik aja.........apa ini yang mama bilang baik baik aja.........?tambahku.

“apa ini yang mama mau?”aku makin menjadi.

“Feli..........”mama terisak.

“kenapa ma.............apa salah kalau aku tau?”kataku.

“Feli............kamu harus kuat nak.........”mama memelukku lebih erat.

“Feli.......benci mama........mama egois.......”kataku lagi.

Tiga hari aku dirawat dirumah sakit.setelah tau aku mengidap kanker otak stadium IV,aku kehilangan semangatku untuk tetap hidup.aku menjadi lupa bahwa aku harusnya bersyukur.aku bahkan tak lagi meladeni apapun yang mama katakan aku bagaikan tidak mendengar.pagi itu aku sudah berpakaian rapi,aku memandang wajahku dikaca kamarku.memandang semua pernak pernik yang ada disana,semua piala piala akan lenyap tanpa arti.

“kenapa nasibku sial banget............”kataku dalam hati,dia kristal jatuh dari mataku.

“Tuhan gak adil..........kenapa Tuhan tidak membunuh mereka yang jahat?kenapa malah membunuhku?”makiku.

“Fel...............ayo sayang..........”mama memanggilku diluar kamar.aku menyusut airmataku.

“Fel..............”mama menahan tanganku saat aku keluar kamar.

“aku baik kok ma........”kataku untuk pertamakalinya.

“Fel..........”mama menahan isak.

“maafin Feli ya ma..........”aku memeluk mama.aku sadar kalau bukan mama yang salah dalam hal ini.

“kamu harus kuat sayang........”mama memelukku erat.

“aku akan baik baik aja ma........”aku berusaha untuk tersenyum,meski garis bibirku bukan membentuk sebuah senyuman melainkan hanya lekungan bibir yang patah.aku tak bisa menahan hatiku yang patah.

“Feli berangkat ya ma.......”kataku melepas pelukan mama.

“hati hati ya,............sayang.”balas mama,aku melihat ada bening dimatanya.namun aku terlalu lemah untuk menghibur mama saat ini.

     Kini aku mengerti alasan mama selama ini,hanya saja aku gak ngerti kenapa harus mama yang duluan tau.sambil berjalan aku memikirkan hal itu terus,air mata adalah teman yang menyertai langkahku yang patah.entah sampai kapan aku akan bertahan,mungkinkah aku hanya memiliki waktu sesempit itu,ataukah aku akan menemukan jalan lain.sepanjang perjalanan aku selalu menyalahkan Tuhan.kenapa Tuhan memilihku untuk hal ini.

“Felix..........ya?”tiba tiba seseorang memegang bahuku dihalte,aku menoleh.

“Kevin.........”gumamku pelan,aku berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kesedihanku.

“lama banget ya kita ketemu lagi.....”balasnya.

“em.”jawabku singkat.

“aku bahkan berfikir munkin itu adalah pertemuan terakhir kita.”kata Kevin,aku menoleh kearahnya.

“apa?”kataku.

“aku pikir kamu dah mati.........abis gak muncul muncul.........”katanya setengah bercanda.

“prak............”aku menampar Kevin tiba tiba.

“apaan.....?”Kevin tampak tak senang.

“kalau punya mulut gak usah belagu.......emang kamu Tuhan?”bentakku.

“siapa kamu sampai berani menentukan batas hidupku.......”teriakku.

“Feli...........kok kamu marah sih?”Kevin mencekal tanganku.

“gak ada yang bisa nentukan kapan aku akan mati..........bahkan Tuhan pun enggak..........”kataku lagi,airmataku jatuh.

“Feli.......apaan sih?”Kevin jadi bingung,ekspresi marahnya berubah menjadi gugup.mungkin ia takut melihatku.

“ok.........aku minta maaf.....tapi jangan nangis dong........”katanya menyentuh bahuku.

“malu..........”sambungnya.tanpa menyahut panggilan Kevin aku pergi menaiki bus yang sudah tiba.

“Feli..............”Kevin memanggilku bingung.

   Sepanjang jalan aku menangis,aku tau Kevin pasti bingung melihat aksiku.aku juga gak tau kenapa aku sangat sensitif,tapi memang aku gak bisa memperhitungkannya lagi.aku takut hari esok ucapat Kevin akan jadi kenyataan,aku belum siap untuk menghadapi semuanya.itulah kenapa aku menjadi sangat pemarah dan mudah tersinggung.

“pagi Feli.........pinjamin prnya dong.”Marshya menggandengku saat aku memasuki kelas,aku menepis tangannya kasar.

“gak bisa ya mandiri?”kataku dingin.

“ya elah...........”Marshya tampak kaget.

“kalo pr itu dikerjain disekolah....bukannya minjam punya orang.kamu itu pelajar atau apa sih........bisanya cuma nyontek doang.”kataku tajam.

“Feli.!”Marshya tampak marah.

“bilang aja kalau kamu gak mau ngasih............gak usah belagu.”katanya sambil pergi,ia mungkin tau kalau ia tetap disini kami bakalan perang panjang.

“Fel...........kamu kenapa sih.”Dyah andini menghampiriku.

“kamu gak usah ikut campur..........sok belagu banget!”kataku tajam.

“aku cuma ingin ngasih ini doang.”Dyah menyerahkan undangan ulangtahunnya.

“kamu pikir aku bakalan datang?”bentakku.

“terus gimana...........kamu gak mau datang?”Dyah menaikkan alisnya.

“yah udah....kalau enggak gak juga masalah...tapi gak usah belagu..........”Dyah memandangku tajam.

“aku aja gak ngerayain ulangtahun.........”kataku pelan.

“salah sendiri dong.kenapa sih kamu jadi suka marah?”Dyah membalasku.

“sukaku dong...masalahnya sama kamu apa.......kamu aja yang sok ikut campur........”kataku lagi.

“kenapa sih orang aneh kayak kamu bisa hidup.........harusnya kamu gak pernah ada.”Dyah kehilangan kendali,mungkin karena aku cari masalah saat ulangtahunnya.

“apa?”aku mendadak panas.

“kamu bilang apa?”aku mendorong Dyah,ia tersungkur kelantai.

“kamu gak berhak.........”kataku mengangkat kaki hendak menginjak perut Dyah yang tersungkur dilantai.

“bhuk.........”Dyah balik menendangku,aku tersungkur beberapa langkah.aku merasa pusing dan ambruk.

“Feli..............”samar samar aku mendengar suara.

“kamu d

ah bangun.........?”samar samar aku mendengar suara.

“Kevin......”gumamku pelan.

“minum dulu.......”katanya mengambilkan segelas air putih.

“mana Dyah.....”kataku pelan,aku duduk.

“gak usah dipikirin.....”balasnhya.

“aku sudah bersalah padanya......”kataku.

“oh.....”balasnya.

“kok cuma bilang oh sih.....”kataku lagi.

“kamu pasti punya alasan kan?”katanya bangkit meletakkan gelasnya kembali,ia duduk disampingku.

“aku takut........”gumamku tersendat.

“sama......aku juga.”balasnya.

“kok..........?”aku ngerasa aneh.

“aku ngerti kok.......”balasnya.

“kamu gak marah?”sambungku.

“sikit.”balasnya.

“aku gak bisa bayangin gimana nantinya?”gumamku menahan tangis.

“kamu punya masalah?”ia menyentuh bahuku.

“entahlah...........”aku menangis menutup mukaku dengan kedua tanganku.

“kamu bisa menceritakannya padaku........”gumamnya.

“aku akan jamin ceritamu aman ditanganku.........”ia tersenyum tulus.

“mungkinkah.........ada kaitannya dengan kejadian saat pertama kita bertemu?”sambungnya.

o“aku akan mati.......”isakku pelan.

“kanker otak stadium IV.......aku gak akan hidup lagi.”emosiku memuncak.

“kamu menyalahkan Tuhan?”katanya pelan.aku diam.

“pastinya.”jawabnya lagi.

“Fel........kita semua akan mati kok.”katanya.

“kita hanya menunggu waktu saja.”ia menggenggam tanganku.

“kamu mau dengar ceritaku?”sambungnya,tanpa menunggu jawabanku ia melanjutkan.

“kalau kamu percaya........aku juga mengidap hal yang sama.”sambungnya,aku terhenyak kaget.

“tapi aku gak mau orang lain tau bahwa aku sedang kesakitan........bahkan kalau dipikir kamu lebih beruntung ketimbang aku.”katanya.

“aku akan hidup hanya sebulan lagi.”Kevin tersenyum kecut.

“ah......”ia menghembuskan napas keras.

“aku tau.........aku juga merasakan hal yang sama saat pertama kalinya aku tau.hanya saja aku sadar,kalau aku harus melakukan hal terbaik sebelum aku pergi,aku harus meninggalkan hal yang berguna untuk dikenang aku juga ngerasa kalau Tuhan tak adil padaku.hanya saja aku berharap mungkin saja Tuhan punya rencana untukku.”Kevin menunduk sejenak.

“emang kamu pikir dengan begini penyakit kamu bakalan hilang?enggak kan Fel.”sambungnya.

“kita hanya bisa mengusahakan yang terbaik Fel....keputusan akhir ada ditangan dia yang punya hidup kita.”ia menyentuh bahuku pelan.

“enggak......”kataku keras.

“gak ada yang bisa menentukan hidupku....bagaimana kalau aku menolak untuk mati.”kataku lagi,aku menatapnya dalam.

“tidak juga kamu kan?”ia menekan suaranya.

“iklas adalah satu satunya jalan Fel.....”katanya parau.

“gak akan........aku gak akan mengiklaskannya.gak akan pernah.”aku menggeleng cepat.

“kita hanya bisa mewarnai sisa hidup kita Fel.....emang kamu pikir dengan ini semuanya akan baik baik aja?ok....kamu akan ngerasa kamu baik tapi ingat Fel....semua yang kamu lakukan sekarang hanya membuat kamu makin kacau....”sambungnya.

“karena kamu bahkan gak punya kunci hidupmu sendiri Fel.......”sambungnya.

“tapi aku gak ingin menyerah.”aku menurunkan suaraku.

“siapa yang nyuruh kamu nyerah Fel?”Kevin menaikkan alisnya.

“emang kamu pikir kamu siapa?”katanya tersenyum sinis.

“yang kulihat sekarang....kamu bukan hanya nyerah.kamu malah membuat hidupmu makin hancur.”katanya.

“Kevin.......”aku menaikkan suaraku.

“yang kulihat sekarang kamu hanyalah pengecut Fel kamu memperpendek hidupmu sendiri.......”Kevin bangkit.

“kamu bisa berfikir.....aku akan kembali kekelas.”Kevin berlalu meninggalkanku yang masih diam membisu.

Sepeninggal Kevin aku merenung,merenungi jalan hidupku,merenungi sifat Kevin yang aneh menurutku namun entah mengapa aku nyaman bicara dengannya.walaupun didepannya aku gak setuju dengan kata katanya namun dalam hati aku janji akan mengikuti apa yang ia katakan.lagian aku sadar betapa cengengnya aku,seharunya aku yang menghiburnya bukan dia yang malah membawaku keambang kesadaran.

“sory banget Fel.......tadinya gue ada ujian.”Marshya tiba tiba muncul.

“gak papa aku dah baikan kok.”aku tersenyum.

“kamu kenapa sih........aneh banget sih.kamu bisa marah dan baikan lagi tanpa ada yang tau penyebabnya.”Marshya mengoceh gak penting.

“maaf........”aku tersenyum.

“mungkin aku lagi gak sadar...”candaku.

“ada ada aja......”Marshya tersenyum,ia pasti mengerti perasaanku.

“Kevin mana?”ia celingukan kekanan dan kekiri.

“kamu kenal dia?”kataku.

“dia murid sini.....XI Fisika7.”Marshya membalas.

“pindahan?”kataku.

“enggak...murid lama........makanya kalau jadi orang jangan dikelas mulu....”katanya.

“kapan kapan temanin aku kekelasnya ya......”pintaku.

“wah jauh banget nih......dari XI Fisika1 ke Fisika7........tapi gak papa deh.”Marshya mengiakan.

     Seminggu berlalu.dua minggu lagi adalah minggu ujian untuk semester ini,ujian terakhirku kemungkinan.aku sudah memutuskan bahwa tak akan ada lagi airmata selama aku hidup diwaktuku yang sempit ini,entah bagaimanapun caranya,aku akan berusaha.karena aku telah berjanji dari hati kehati dengan Kevin,orang yang mengajarkah makna kehidupan bagiku.

“cie sirius nie.......”Marshya merayuku.

“tentulah.....”aku menaikkan alis dengan sombong.

“kali ini akan kupastikan kalau aku yang menang.”janjiku.

“tekad akan meminta kamu untuk berjuang.........”Marshya menyentuh bahuku pelan.

“sebelum aku mati.......”kataku lirih.

“apa?kamu mau mati Fel............wah cepet banget......”Marshya menganggap ucapanku sebagai candaan yang gak penting.

“bukannya kamu bilang kalau aku duluan yang mati sebelum kamu.........kenapa sekarang kamu ngomong gitu?aku belum ingin mati.”Marshya memasang muka sok imut,ia berlagak menyesal.

“sory......Shya.........”aku tiba tiba memeluk Marshya erat.Marshya ngerasa aneh aja,namun melihat aku menangis saat memeluknya ia tak tega melepas pelukanku.ia bahkan balas memelukku.

“aku harus menarik ucapanku kembali.....aku gak ingin bersumpah sumpah lagi......”kataku terisak.

“kamu kenapa?”Marshya bertanya setelah beberapa waktu.

“napa?”aku balas bertanya.

“kok tiba tiba aneh sih....”gumamnya.

“aku rindu seseorang.....mungkin.”katau asal.

“kok nangis?”balasnya.

“gaatau lah.........”aku malas meladeni Marshya sejauh ini ia belum tau apa sebenarnya masalahku.

“Shya.......”aku tiba tiba teringat sesuatu.

“apaan?”Marshya membalas.

“kamu pernah berfikir gak kalau misalnya kamu kehilangan aku?”kataku menatapnya dalam.

“emang napa?”Marshya tersenyum kecil menahan tawa.

“kamu mau pergi?kemana?”sambungnya.

“jauh...........kali misalnya.”jawabku asal.

“mau pergi  kemana lagi Fel............”Marshya masih gak peka.

“gak bakalan ada tempat yang mau nerima kamu selain aku....bahkan aku pikir liang kubur pun gak bakalan nerima kamu.”Marshya bercanda.namun bagiku adalah harapan.

“semoga aja.”gumamku dalam hati.

“emang mau pergi kemana Fel?”Marshya mengulang.

“misal aja......”kataku.

“em.........”Marshya tampak berfikir.

“kamu gak sedih?”kataku.

“em......sedih sih sedih........tapi banyaknya gue bersyukur sih.....”Marshnya menambah kata katanya.

“bersyukur napa?”aku jadi penasaran.

“soalnya gak akan ada lagi yang nyaigin aku buat urutan pertama...........”katanya.

“jadi aku senang juga kalau kamu pergi......”Marshya beranjak.

“semoga aja itu kenyataan Shya....”kataku pelan,Marshya berjalan keluar kelas meninggalkanku yang membisu.

     Setiap hari setelahnhya aku sengaja menunggu Kevin dihalte tempat biasanya kami bertemu.namun sudah seminggu aku tidak pernah melihatnya lagi.ia bagaikan hilang ditelan bumi.setiap istirahat didorong rasa penasaran aku ingin sekali mengecek kekelasnya bagaimana keeadaannya.namun entah mengapa aku slalu membatalkannya sebelum melaksanakannya.hingga pada hari itu aku gak bisa menahannya lagi.

“Shya.......temanin aku kekelas Fisika7......”aku menarik tangan Marshya cepat.

“mau nemuin siapa?”Marshya menahan langkahku.

“Kevin.”jawabku singkat.

“dia gak ada.”balasnya.

“hah.........kok kamu tau sih?”kataku penasaran.

“dia dirawat...seminggu lalu.”Marshya menjelaskan.

“dirawat....?”aku terkejut.

“kasian dia..........dia sakit parah.”gumamnya.

“kanker otak stadium akut.”kataku cepat.

“kok kamu tau sih.?”Marshya curiga.

“gak penting............ijin yuk.”kataku cepat.

      Tanpa menunggu persetujuan Marshya aku minta ijin pulang kekepala sekolah.aku ingin menjenguk Kevin sekarang.aku paham mungkin ini adalah benar benar pertemuan kami yang terakhir kalinya.dan untuk terakhir kalinya aku ingin mengucapkan terimakasih padanya karena telah mengajarikku apa artinya hidup.sepanjang perjalanan aku terus memohon agar Tuhan memberiku kesempatan bicara pada Kevin.

“Felix........”seru Kevin tersenyum saat melihat aku muncul.

“kamu baik baik saja..........?”kataku kawatir.

“lebih.”jawabnya.

“habis ngapain.......kok tegang banget..........”godanya.

“langit belum kiamat loh.”sambungnya.

“dasar.”gumamku.

“kamu masih bisa tertawa saat keadaan seperi ini.”sambungku.

“biasa aja.......”ia tampak santai.

“kalau aku jadi kamu......”ucapanku terpotong olehnya.

“mungkin kamu gak akan bisa tersenyum dan bahkan makan.”tebaknya.

“dasar.......”gerutuku.

“kamu bukan aku Fel.”katanya.

“emang siapa bilang kalau aku adalah kamu.”balasku.

“yah.......”ia mengusap kepalanya pelan.

“aku akan dioperasi.”katanya lagi.

“gimana kemungkinannya?”kataku cepat.

“meskipun kemungkinannya hanya nol koma delapan persen........namun itu bukan berarti nol Fel.”katanya.

“tapi percuma kan.”gumamku tertahan.

“emang kamu Tuhan?”ia membalikkan ucapanku.

“gak ada yang percuma Fel........”Kevin memandangku lembut.

“yang penting aku udah ngebantu ngilangin rasa bersalah orang orang yang paling kusayangi........setidaknya mereka gak ngerasa bersalah karena gak memberika pertolongan seoptimal mungkin.”Kevin berubah jadi pasrah.

“kamu gak takut?”kataku.

“takut.”jawabnya.

“bahkan sangat takut.”sambungnya.

“tapi kamu masih bisa tertawa........”kataku lagi.

“terus apa aku nagis bisa membalikkan keadaan?enggak kan?”Kevin mengeraskan tekanannya.

“semua sudah ditakdirkan Fel........gadak yang bisa kita ubah.”sambungnya.

“tapi tekad yang tertanam dalam dada bisa membuat kita berjuang.”gumamnya.aku masih diam membisu.

“yang perlu kita pikirkan adalah orang orang yang bakalan kita tinggalkan.........seberapa sakitkah rasa mereka?”katanya.

“Fel.........”ia memegang tanganku.

“maukah kamu berjanji padaku?”katanya pelan.

“apa.........?”balasku.

“entah gimana pun nanti endingnya.....ambillah hikmahnya untuk membahagiakan orang orang yang paling kamu sayangi.”katanya.

“aku janji.”kataku lagi.

Seminggu berlalu,kemungkinna yang ada pada Kevin adalah kemustahilan.kini Kevin hanya hidup di angan angan orang yang mengenalnya.sebagai sosok yang tangguh yang tak kenal lelah untuk membahagiakan orang orang yang dia cintai.meski Kevin telah pergi mendahului aku,namun bagiku ia slalu ada disisiku hidup didalam hati dan sanubariku salamanya.setiap aku gagal menahan emosi hanya iangan kata katanya yang gterlintas dibenakku.dengan begitu aku akan mencoba untuk mengerti.

“kamu harus mengurangi aktivitasmu?”Dokter Yan berkata tegas.

“apa keadaannya memburuk dokter?”kata mama gugup.

“penyakitnya berkembang jauh diluar dugaan.......”Dokter Yan menghela napas panjang,mama menunduk sedih.

“saya hanya bisa memprediksi umurnya tinggal enam bulan lagi.....tapi saya bukan Tuhan.mungkin saja Tuhan punya rencana untuk Feli........”sambungnya

“apa ada cara Dokter?”aku tiba tiba angkat bicara.

“ada......tapi snagat beresiko.

“berapa persen kemungkinannya dokter?”sambungku.

“Feli.........”suara mama tertahan.

“aku ingin hidup......dok.gimana pun caranya.”kataku.

“Fel......terlalu berbahaya......”mama menengahi.

“kamu harus memikirkannya baik baik.”dokter Yang seakan sangat terbeban.

“bisa jadi waktumu yang enam bulan lenyap digantikan tiga hari......”mama menyentuh bahuku.

“bisa jadi kan ma........?”kataku.

“bisa jadi Feli akan hidup lebih lama lagi......”kataku cepat.

“masih banyak hal yang ingin kulakukan Dokter......aku masih unya tekad untuk berjuang melawan penyakitku.”kataku,Dokter Yan menghembuskan napas keras lagi.

“jika kamu gagal maka......saya akan kehilangan dua orang pejuang.”Dokter Yan mendadak parau.

“kamu dan Kevin........puteraku sendiiri.”tambahnya.

“Kevin?”aku mengerutkan dahi.

“dia juga punya kondisi yang sama denganmu.hanya saja ia pergi sesuai dengan prediksi saya........sesudah operasi.”katanya.

“Fel.......apa gak baikknya kita menunggu saja.......waktu enam bulan itu bukan sekarang loh....”mama berusaha membujukku.

“aku ingin operasi.”kataku tegas.

“Kevin pernah memintaku berjanji........walau kemungkinnannya kecil itu bukan nol kan?itu masih ada kan?”sambungku.

Ujian semester kini hanya tiga hari lagi.selama ini aku slalu saja belajar mati matian sampai rela tidak makan.aku gak mau tau apapun alasannya nantinya,aku harus menduduki urutan pertama.aku merasa tertantang dengan Marshya yang juga belajar mati matian.kayaknya pertandingan semerter ini adalah pertandingan  terseru selam hidup ku dan Marshya,namun persahabatan kami tetap utuh seakan gak akan mempengaruhi persaingan kami.pagi itu seperti biasanya aku naik bus bersama Kevin dalam hatiku.operasiku akan dilaksanakan setelah aku melewati semester ini.aku sudah bertekad akan bertahan selama yang aku bisa,aku gak akan menyerah,seperti biasa sebelum bel aku membaca dibangkuku.tanpa aku sadari kakiku melenceng keluar hingga saat Dyah lewat ia terserempet.

“akh.............”aku menoleh saat mendengar suaranya.

“hei.......kalau punya kaki disusun rapi dong..........mau aku patahin.”katanya ketus.

“maaf........”kataku pelan.

“maaf...maaf..emang enak kalau terjatuh.”katanya tajam.

“ia...maaf......”kataku lagi.

“sok membaca lagi.............emang kamu pikir bisa ngelewati semester ini?”katanya tajam,aku kaget.

“besok juga kamu akan mati.ngapain belajar.”Dyah mencibir.

“tau apa kamu?”aku bangkit.

“banyak......kanker otak stadium IV.bay.....bay.......aja Fel........aku gak akan sebel lagi sama makluk menyeramkan kayak kamu........mati aja cepetan.”sambungnya.

“Dyah......”aku membentak.

“apa?gak terima?bodo amat.............kamu akan mati Fel.......gimana pun ceritanya.”Dyah berkata keras.

“mending sekarang kamu berdoa.........agar masuk surga.......bukannya baca buku.”katanya berlalu melemparkan bukuku kelantai.

Kata kata Dyah serasa sangat menusuk hatiku.sesegera mungkin aku keluar kelas dan berlari sekuat tenagaku.aku mengelilingi lapangan basket yang teramat sepi beberapa kali.aku berteriak sekuat tenagaku diiringi airmataku.saat saat seperti ini aku merasa menjadi makluk yang paling hina.tidak perduli darimana Dyah tau tapi pastinya aku ngerasa berat sekali dan ingin mati segera.

“Fel.........”saat aku terbangun aku sudah diranjang rumah sakit,Marshya ada disana.

“kenapa aku gak dikasih tau Fel.........??”ia menangis sesunggukan.

“kamu gak percaya ama aku?”sambungnya,aku hanya diam membisu alan bantuan pernapasan sudah kupakai jadi aku gak bisa bicara lagi.

“Fel............... aku gak ingin kehilangan kamu..”Marshya memelukku erat.

“kamu sayang aku kan?”katanya lagi.

“kamu harus janji cari cara untuk bertahan hidup gak mau tau gimana caranya........kamu harus berjuang Fel........janji sama aku ya.”pintanya.aku menggeleng lemah.

“kamu gak usah mikirin kata kata Dyah........kamu adalah sang urutan pertama yang kuat.”ia membelai rambutku.

“walaupun kamu gak bisa ujian gara gara keadaan namun kamu adalah yang terbaik Fel.......kamu urutan pertamanya.”Marshya menangis pilu.

Itu adalah pertemuan terakhirku dengan Marshya.sejak seminggu kemudian aku hanya bisa melihat Marshya dari kejauhan.aku berhasil melewati masa kritisku dalam operasi,aku sekarang telah lepas dari penyakit itu.walau waktuku yang enam bulan berubah jadi seminggu,aku bahagia karena sudah mencoba segala cara.aku kini hanya bisa hidup dialam kenangan semua orang yang pernah mengenalku.tekad yang memintaku untuk berjuang.walau akhirnya aku gak bisa menambah usiaku walau hanya sehari aku bahagia karena telah melewati semuanya.dan sekarang Marshya mengantarkan setangkai mawar dan juga kelopak mawar yang ditaburnya diatas rumahku,sejenak Marshya mengusap air mata mengingat kejadian lima tahun lalu.

        *****************

     

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.