Profil instastories

Kau dan luka lamaku

Aku Riani Natasya, umurku tujuh belas tahun. Dan kini sedang menempuh pendidikan sarjana di salah satu kampus di kotaku. Aku terlahir dari keluarga pembisnis popular di kalangan atas. Aku punya hobi yang semua orang sukai, yaitu pada seni Tarik suara. Kata orang sih suaraku sebelas dua belas dengan suara musisi favoritku.

 

Setelah selesai kelas aku keluar dan menyusuri  koridor Fakultasku, ada sebuah pamflet yang menarik perhatianku, dengan segera aku berlari ke subuah ruangan di mana yang tertulis dalam pamflet tersebut. Tak lupa aku menyeret teman dekatku.

Entah sebuah takdir ataupun isyarat alam, aku dipertemukan dengan seseorang yang ingin aku enyahkan dalam pikiranku namun selalu kudekap erat dalam hatiku.  Otakku seakan menolak pertemuan yaang serba dadakan ini, namun hatiku bersorak gembira seakan menemukan cahaya yang kian lama temaram.  Tak pernah terbesit dalam anganku akan dipertemukan denganya kembali setelah apa yang ia lakukan padaku. Saat aku igin mengikuti audisi sebuah Ajang seni tarik suara,aku menemukanya. Pertemuan kami membuat aku melayang ke dalam pertemuan yang begitu memilukan.

Flashback on

Hari itu, aku diajak oleh Aji untuk pergi ke suatu tempat, tidak terlalu mewah namun aku selalu menikmati momen-momen bersamanya. Pedagang kaki lima dengan menu andalan pecel lele menjadi target kuliner kali ini. Biasanya di jam-jam seperti ini, pembeli harus antre karena jumlah pembeli yang tidak bisa dibilang sedikit. 

“Gimana Sya, mau engga makan disini?”

“Ya maulah Ji, tapi ada menu lain selain lele engga? Aku takut sama kepalanya,” ucapku lirih bahkan miripsekali bisikan.

“Mmm Ngga ada Sya, gini aja deh.. Pak, pecel lelenya dua ya Pak, tapi tolong kepalanya dibuangin sekalian. Terimaksih Pak”

“Beres kan? Tapi ngga ada alergikan? Cuma takut sama kepalanya?”

“Iya, maksih banget ya hehe”

Kami makan dengan sangat nikmat, kadang kami tertawa karna kekonyolan seoarang Aji, kadang juga aku tertunduk karna gombalanya. Pada saat itu, aku bersyukur bertemu dengan laki-laki seperti Aji. Entah sampai kapan aku akn menjadikan namanya menjadi tahta kerajaan hati ini. Hampir setengah jam aku makan bersamanaya, setelah usai berhitung bersama pak penjualnya, kami melesat ke sebuah Taman Kota. Saat aku sedang berjalan bersamanya, tiba-tiba di menariku dan bersembunyi dibalik pohon. Aku tidak tau siapa yang dihindari oleh Aji. Akhir-akhir ini dia tidak seterbuka awal-awal hubungan kami. Bahkan aku pun tak boleh membuka handphonen-ya, aku hanya bisa berharap tak ada sedikitpun kebohongan yang dia tutupi. Kami kembali berjalan dan duduk di dekat kedai Eskrim, satu kebiasaan kami. Tiba-tiba ada telfon di handpone-nya, dia langsung berlari, tak lama kemudian ia berpamit padaku untuk pulang terlebih dahulu tanpa mengantarku pulang.

Tepat pukul 19.00 aku sampai di kediaman Aji. senang rasanya melihat motor kesayangan aji berada di depan rumah. Itu berarti sang kekasih sedang berada di dalamnyakupatutkan diri sebelum bertemu dengan pujaan hati. Hari ini adalah Anniversary ke empat kami, jadi aku akan memberikan kejutan padanya. Setelah dirasa nyaman aku masuk seperti biasanya. Aku disambut Mamahnya Aji, dan diajak duduk di sofa keluarga. Dan aku segera menanyakan keberadaan Aji.

“Ada di kamar, Tante panggilkan saja ya,” 

“Ngga usah Te, Asya aja yang keatas, mau kasih kejutan. Asya keatas ya Te”

Aku sudah melesat naik menuju kamar milik Aji .Teriakan dari Tante Nia tak kuhiraukan. Tanpa mengetuk pintu, Aku segera masuk. Niat hati ingin memberikan kejutan di hari jadi kami, namun malah aku yang menerima kejutan yang begitu dahsyat dan penolakan secara menyayat yang diberikanya kepadaku.

“Jadi ini yang kalian laukan dibelakangku? Bermain api dan mencoba mematahkan aku?!! Tega kamu disaat aku memperjuangkanmu, kamu memperjuangkan orang lain. Saat aku mencintaimu, engkau mencintai orang lain. Hebat kamu, bisa menghancurkan kerajaan kita dengan mudahnya. Dan kamu! Ternyata selain sahabat kamu juga ulat bulu!!”

“Sya, semua ngga seperti apa yang kamu liat!!! Aku sama Dia itu hanya..”

“Hanya apa? Hanya sodara? Sodara mana yang berani peluk sodaranya, masuk kamar sodaranya dengan dres minim? Ditemukan dalam posisi semesra itu? Kalian waras engga sih,” dengan sisa-sisa kekuatan yang aku miliki ia berlari meninggalkan mereka.

“Sya.. dengerin aku. Ini bukan mauku. Please dengerin aku” dengan mengejar aku Begitupun denagn Aji.

“Nih, hadiah buat kalian berdua. Ngga usah muncul dihadapan aku lagi. Dan Aji maksudna apaan?”

“Maafkan aku, aku khilaf Sya, kumohon maafkan aku.”

“Makasi Te, buat semua penghianatan ini. Penghianat memang cocok bareng penghianat. Te. Saya permisi,” kuberlari menerobos hujan. Membiarkan air mata meluruh bersamaan dengan tangisan dari langit. Seakan alam mengerti isayarat hati ini.

Flash back off

Tanpa terasa, air mata lolos begitu saja dari mataku, entah aku yang merindukanya, atau lukaku yang masih belum kering kemudian terbuka kembali. Dan pada akhirnya kami sama-sama enggan menyapa. Untung saja aku ditemani teman dekatku untuk keaudisi. Segera aku tepiskan bayanga-bayang tentang nya. Itu sungguh menyakitkan. 

Seusainya audisi, aku segera menemui temanku dan kami berjalan untuk segera pulang. Tak lupa aku menceritakan sosok Aji dengan segala penghianatan yang begitu memilukan. Aku yang masih merindukan, namun aku enggan untuk tersakiti untuk kedua kalinya.  

Hari-hari ku sudah tak semurung setelah pertemuan pertama kami. Aku sudah mulai membaik. Dan hari ini pula pengumuman audisi itu akan segera datang, dengan segera aku membuka akun IG milik penyelenggara. Sambil menunggu aku menscrool galeri-galeriku. Kuputar memoriku tentangnya, walau aku enggan untuk kemabali terluka. 

Dan lagi-lagi takdir mempermainkan kami. Aku dan dia sama-sama lolos, itu artinya aku dan dia akan sering bertatap muka walau taka da pembicaraan setelahnya, diatap yang sama, dan dibawah naungan yang sama. Itu artinya aku harus siap sewaktu-waktu aku harus berkolaborasi bersamanya. 

“Gimana Sya hasilnya? Salah satu apa dua-duanya?,” tanya Ara dengan pelan sekali.

Lansung saja kupeluk ia, aku tak sanggup menerima kenyataan ini. Kenyataan yang begitu mempermainkan aku, dimana aku tak tau kita berada pada kampus yang sama, dan langsung dikejutkan dengan peretemuan yang mendadak dan tak terduga dilanjutkan ditimpa pengumuman yang begitu menyakitkan. Ibarat aku jatu, kemudian tertimpa tangga pula. Aku tak tau ini awal yang baik untuk kami, atau malapetaka untukku sendiri.

ari berikutnya seluruh anggota yang masuk dalam penjaringan bakat seni Tarik suara di haruskan berkumpul di kampus. Lagi-lagi aku menemukan orang itu, dengan manik mata yang keabu-abuan, dan tatapan setajam elang. Argghhh inginku mengakhiri semua ini, inginku keluar dari sini, tapi aku sudah terikat. Kamipun segera diberikan arahan-arahan mulai dari adanya Pendidikan singkat  yang akan sebetar lagi terlaksanakan. Tak lupa dengan tugas menampilkan paduan suara dengan beberapa lagu yang diambil. Selain itu ada juga solo song, duet song. 

Satu-persatu dari kami yang diterima sudah menerima tugas pertama selain paduan suara. Aku mengira aku akan solo song, tapi namaku tak kunjung disebut untuk mengisi itu. Dan dengan lunglai aku menerima kenyatan bahwa lagi-lagi aku harus duet. Dan parahnya,dewa fortuna sedang tidak berpihak denganku. 

Selama satu minngu ini, kami difokuskan untuk latihan 8 lagu yang akan dibawakan dalam bentuk paduan suara. Dan selama seminggu itu pula aku selalu dekat denganya, karna posisi kami berdiri hanya berjarak beberapa orang saja. Selepas satu minngu itu, kami mulai diminta untuk duduk bersama pasangan masing-masing untuk menentukan lagu pilihan yang akan dibawakan. Aku berusaha bersikap biasa saja, dengan tetap tersenyum dan pura-pura baik baik saja. 

“Lama engga ketemu Sya”

“Owh iya, lama banget ya kita engga ketemu,” dengan senyum yang aku buat se normal mungkin.

“Jadi mau lagu apa?”

“Emang sama pelatihnya engga dibagi ya lagunya? Kayaknya kemarin instruksinya akan dibagikan.”

“kalau gitu bagus deh, jadinya kita engga bingung juga kan.”

Kami pun masih berbincang-bincang walaupun aku menimpali seadanya. Pembicaraan selesai untuk ISHOMA. Sehabis maghrib kami diminta untuk kembali ke ruang latihan. Disini kami menunggu pembagian lagu yang akan dibawakan esok. Dengan was-was aku menunggu. Kulihat wajah pasangan duetku pun dengan wajah yang sama. Lag-lagi kami di panggil paling terakhir dengan lagu yang mengiyaratkan keadaan kami pula. 

Hampir sebulan lamanya kami latihan, entah itu untuk paduan suara, sol song, ataupun untuk duet. Rasa lelah letih tentu kami rasakan, namun rasa nyaman mengubah letih kami menjadi bahagia tiada tara. Selama itu pula, kami semakin merajut benang-beneng kebersamaan, keakraban. Tak jarang pula sang pelatih mengeluarkan lawakan untuk memecah keheningan.

Tepat hari ini, perjuangan kami pada titik puncak. Kami akan melihat jerih payah kami selama ini di panggung konser yang ditata sedemikian rupa. Rasa takut, nervous bercampur menjadi satu. Rangkaian acara pembukaan sudah berjalan, disusul dengan persembahan-persembahan dari kami. Dari sekian banyak lagu yang akan dibawakan, semua di kelompokan  dengan urutan perasaan. Berawal dengan sebatas teman, masa pendekatan, terjalin cinta hingga sebuah penghianatan, dan diakhiri dengan adanya dia kembali. Dan tak terasa kini aku bersamanya  harus mengakhiri dengan penampilan sebagai peutupan rasa yang ada. 

 

Music mulai mengalun 

“Pada saatnya, penyesalan akana datang, 

Pada saatnya, dia yang pergi akan kita rindukan tanpa bisa mengutarakan,

pada saatnya dia yang pergi ingin kembali merajut asa bersama.

Inilah pesembahan dari kami.”

 

Jika teringat tentang dikau

Jauh dimata dekat dihati

Sempat terfikir tuk kembali

Walau beda akan kujalani

Tak ada niat untuk selamanya pergi

 

Jika teringat tentang dikau

Jauh dimata dekat dihati

Apakah sama yang ku rasa

Ingin jumpa walau ada segan

 

Tak ada niat untuk berpisah denganmu

 

Jika memang masih bisa mulutku berbicara

Santun kata yang ingin terucap

Kan kudengar caci dan puji dirimu padaku

Kita masih muda dalam mencari keputusan

Maafkan aku ingin kembali

Seumpama ada jalan tuk kembali

Jika teringat tentang dikau

Jauh dimata dekat dihati

Tak ada niat untuk selamanya pergi

Jika teringat tentang dikau

Jauh dimata dekat dihati

Tak ada niat untuk berpisah denganmu

Jika memang masih bisa mulutku berbicara

Santun kata yang ingin terucap

Kan kudengar caci dan puji dirimu padaku

Kita masih muda dalam mencari keputusan

Maafkan aku ingin kembali

Seumpama ada jalan tuk kembali

Jika memang masih bisa mulutku berbicara

Santun kata yang ingin terucap

Kan kudengar caci dan puji dirimu padaku

Kita masih muda dalam mencari keputusan

Maafkan aku ingin kembali

Seumpama ada jalan tuk kembali... oh...

Jika memang masih bisa mulutku berbicara

Santun kata yang ingin terucap

Kan kudengar caci dan puji dirimu padaku

Kita masih muda dalam mencari keputusan

Maafkan aku ingin kembali

Seumpama ada jalan tuk kembali

 

Selama kami diatas panggung, pandangan Aji begitu dalam untuku, bahkan ia seperti menyeruakan isi hatinya melalui lagu itu. Seakana untaian-untaianya untukku. Bahakan ia terlihat begitu menghayati rangkaian kata yang keluar dari dirinya.

Tepuk tangan bergemuruh mengakhiri pentas kami. Ucapan hamdalah terus keluar dari mulutku. Dan kini kami dipersilahkan untuk briving dan makan. Briving sekitar 30 menit mebuat kami tak terlalu kecewa karna respon dari kaka angkatan baik untuk diklat ini.

Setelah kami beres-beres dan menyelesaikan semua urusan, kami dipersilahkan pulang keumah masing-masing. Dan tiba-tiba ada yang menarik tanganku.

“Asya, boleh aku bicara padamu?”

“Bicaralah jangan telalu lama, aku harus segera pulang.”

“Maafkan aku jika engkau merasa dikhianati oleh aku, maafkan semua salahku, aku sangat mencintaimu hingga detik ini. Semua yang aku lakukan bersama dia hanya untuk menyelamatkan bisnis keluargaku. Dan yang tak mungkin aku ceritakan padamu Sya.”

Ku telisik matanya mencari sebuah kebohongan. Namun, yang aku temukan hanya tatapan sendu yang aku terima. Hanya kebenaran yang ia pancarkan. 

“Iya aku memafkan, sudahkan? Aku akan pulang.”

“Maukah engkau bersamaku lagi Sya? Beri aku kesempatan. Aku masih mencntaimu.”

“Maafkan aku Aji, memafkan adalah masalah ikhlas. Aku sudah mengikhlaskan engkau untuk dia, mungkin bahagiamu memang bukan aku alasannya. Sedangkan menerima mu kembali seperti dulu, menjadi kekasihku adalah ketidak mungkinan. Rasaku padamu kini hanya sebatas teman. Biarkan luka lama yang tertoreh kering terlebih dahulu Ji. Sekali lagi maafkan aku.”

Aku segera berlari, lama-lama bersama aji bisa membuat benteng pertahananku kembali rapuh.  Biarkan semua seperti itu dulu, biarkan waktu yang akan menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Aji, yang harus kamu pahami adalah Cinta itu sebuah keikhlasan dan kebahagian. Jika kita yang menjadi sumber bahagianya, maka kita harus ikhlas menjalankan semua demi membahagiakannya. Atau jika kita bukan sumber bahagianya, maka kita harus ikhlas dia besama dengan seseorang yang bisa membahagiakannya. Dan bahagiamu bukan di aku.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Marista Putri Ayuningtyas - Mar 13, 2020, 12:34 AM - Add Reply

Halo kak 🙋
Saling follow yuk sama baca cerita :)
Terimakasih :)

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani