Profil instastories

Aku bising dengan ucapan dan aku berbicara dengan tulisan.

Karena Cinta

Aku terlahir bukan di tengah keluarga agamis tapi, bukan juga di keluarga yang buta dengan agama. Keluargaku memang mengerti tentang wajib sholat, puasa, berkerudung atau zakat.

Sehingga dari TK aku sudah dilatih puasa penuh seharian. Iya sih, aku punya Ayah yang ketat bin disiplin banget sama peraturannya.

Tidak jarang juga bibi-bibiku sering memaksa berbuka puasa sembunyi dari ayahku karena menurut mereka untuk puasa penuh itu bukan untuk anak seumuranku yang masih jenjang TK.

Sayangnya, pemahaman agama keluargaku tidak menyeluruh atau bisa disebut tidak secara kaffah. Mereka hanya mengerti ibadah mahdah saja. Padahal, Islam mengatur seluruh kegiatan manusia. Dari bangun tidur hingga bangun Negara.

"Bagaimana kamu bisa memutuskan berhijab?" tanya salah seorang pengisi acara talkshow pada narasumbernya.

"Karena saya tidak ingin Ayah saya masuk neraka karena saya tidak berhijab. Saya tidak ingin Ayah yang begitu mencintai saya harus merasakan api neraka akibat saya."


Mendengar hal tersebut. Aku mulai memutuskan untuk berhijab karena bagaimana pun aku sebagai anak pasti tidak tega menjadi alasan ayahku disiksa kelak.

Kedengarannya simple aku berhijab hanya karena acara yang kutonton itu. Bukan itu awal aku mau berhijab tapi saat kelas 4 SD.

ayahku sudah sedari aku SD sudah menyuruhku menggunakan hijab.

Saat itu aku pulang dari sekolah. Dengan seragam merah putih yang melekat di tubuhku dan rambutku yang terurai.

Dari jarak 10 meter aku bisa melihat ayahku berdiri di depan rumah.

"Mana kerudungnya? Kenapa pulang ga pake kerudung?" tanya Ayah.

Aku dengan malas menjawab."Di tas. Panas."

Lalu, ayahku memarahi tapi aku mana peduli. Saat itu dan puncaknya aku memakai saat memasuki kelas 1 MTs lewat menonton acara talkshow itu.

Mungkin terpengaruh faktor lingkungan sekolah. Aku jadi tertarik mempelajari Islam. Aku mempelajari dari tata cara berpakaian seorang muslimah, batasan aurat, dan syariat lainnya.

Kemudian, saat kelas 2 MTs aku memutuskan untuk memakai kerudung lebar. Waktu itu, kerudungku sudah dicuci semua. Aku bingung mau memakai kerudung apa sedangkan sore itu aku harus pergi kerja kelompok.

Di tengah kebingungan itu, kakak ketigaku menyarankan memakai kerudung lebarnya dan baju serta rok yang baru dia belikan.

"Yang pakaiannya paling Islami di sini kamu ya."

Komentar temanku saat melihatku memakai kerudung panjang. Selama kerja kelompok itu. Aku merasa ada sesuatu yang lain dengan pakaian yang aku pakai. Nyaman. Dari inilah aku memutuskan tidak lagi memakai celana dan menggantinya dengan rok. Tidak lagi memakai kerudung pendek.

Kemudian saat aku membaca postingan yang mengatakan kaki juga aurat. Kemana-mana aku mulai memakai kaos kaki.

"Dia itu sok suci pake kerudung lebar."

"Nyapu halaman ya, mbak pake baju panjang-panjang."

"Nanti sesat woe terlalu agamis."

"Pake kaos kaki? Ribet amat."

Dan, dari situ mulailah gunjingan-gunjingan orang terhadap penampilanku. Sakit hati tentu.

Sebenarnya aku acuh jika gunjingan mulai terlontar dari bibir orang lain. Namun, sayangnya aku selalu menangis saat yang melontarkan itu keluargaku sendiri. Imanku mulai lemah.

Berakhir, aku melakukan kesalahan fatal. Aku chattingan dengan seorang cowok. Tanggal lahirnya berbeda 1 hari denganku. Dia tanggal 8 dan aku tanggal 9 dengan bulan dan tahun yang sama. Kami tidak pacaran hanya berteman. Tapi itu tetap salah, bukan?

Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.

Berkali-kali otakku mengingatkan dan berkali-kali dikilah dengan perasaan tapi Allah lagi-lagi menolong. Dia memberikan hidayah-Nya hingga aku menjauhi cowok tersebut.

Hingga kelas 3 MTs aku hanya diuji dengan cibiran dan tugasku untuk move on.

"Udah lulus MTs ini, mau lanjut kemana?"

"SMA."

Mungkin sebagian berpikir saat aku ditanya Ayahku begitu akan menjawab MAN atau pondok.

Tapi, aku menjawab SMA. Karena aku pernah membaca buku isinya kurang lebih begini,

_ Kalo yang tertarik mempelajari Islam hanya mengambil jurusan pelajaran bahasa Arab, ilmu fiqh, ilmu nahwu dan sebagainya. Bagaimana terlahir dokter dengan penyembuhan ala syariat Islam, instruktur dengan panduan Islam, guru mengajar dengan metode Islam_

Karena baca buku itu aku jadi berpikir kalo aku lanjut ke sekolah yang lingkungannya tidak asing dengan syariat islam. Bagaimana syariat Islam mau tersebar ke seluruh masyarakat?

Jadi, aku putusin lanjut ke sekolah umum. Berat sih. Terlebih harus meninggalkan pelajaran yang aku suka seperti bahasa arab dan karena harus berjauhan sama sahabatku yang lanjut ke Madrasah Aliyah dan tanggapan orang tidak ada hentinya.

"Mbak, mau beli kain buat kerudung putih sama coklat masing-masing satu setengah meter ya,"ucapku pada pegawai toko tersebut.

Perempuan itu menatapku dengan alisnya yang mengerut. "Panjang bener. Anak MAN ya?"

Aku jadi mencelos. Memangnya kerudung panjang hanya dipakai mereka yang sekolah agama saja?

"Bukan," jawabku menggeleng.

"Pasti pondok ya?"

"Saya SMA."

Ekspresi pegawai perempuan itu membelalak terkejut. Ini tujuanku. Supaya syariat Islam tidak hanya dikenal dilakuin oleh yang dilingkungan Islami saja tapi seluruhnya.





Tapi, aku tidak menyesal. Kalian tahu? Saat MTs aku ingin sekali mengikuti majelis ilmu tapi sayangnya aku tidak diijinkan pergi keluar rumah selain sekolah.

Namun, Allah punya cara tersendiri mengabulkan doaku. Saat itu, setelah pengumuman kelulusan di SMA tersebut. Kami diwawancarai tentang jurusan yang akan dipilih.

Beberapa orang masuk ke dalam salah satu kelas untuk diwawancarai dan salah satunya aku. Aku duduk paling ujung di kursi karena menghindari berdekatan dengan lawan jenis.

Sejujurnya aku takut. Kamu tahu bagaimana rasanya saat ditatap aneh karena kamu satu-satunya yang memakai kerudung lebar? Gugup.

Tapi, aku berusaha santai untuk itu. Saat diberitahukan bahwa wawancara itu diperlukan pulpen. Beberapa anak yang masuk denganku tadi mulai mencari di tasnya dan ada salah satu perempuan yang tidak punya pulpen.

Karena aku punya lebih aku kasih.

"Makasih. Nama kamu siapa?"

"Dinda."

"Saya Santun. Kamu mau ikut kajian?"

Dari situ Allah mempertemukanku dengan sahabat yang mengajakku ke majelis ilmu.

Aku juga baru tahu kalau gamis itu wajib sesuai al-ahzab ayat 59 dari situ aku wajib bergamis bahkan di sekolah pun. Walau sekolah umum kalau kita mau ta'at itu bukan masalah besar, bukan?

Di SMA ini juga aku bisa rasain bagaimana susahnya berdakwah di lingkungan dengan manusia berbeda responnya. Ada yang menerima, ada yang menerima tetapi tidak peduli, ada yang tidak peduli sama sekali dan bahkan sinis.

Awal aku masuk di sana di buly. Aku bahkan sampai mau pindah kelas. Aku juga sering menangis. Soalnya ada anak cowok yang pegang tanganku. Itu haramkan? Makanya aku nangis. Seharian! Sabda Rasul lebih baik ditusukkan kepalanya dari jarum besi daripada bersentuhan dengan lawab jenisnya kan? Makanya aku galau berat.

Tapi, percayalah hijrah, istiqomah dan dakwah itu susah dilakukan tapi bukan tidak mungkin dan kalau kamu berjuang.

Kamu akan lihat sendiri kekuatan Allah membolak-balikkan hati manusia.

Seperti aku.

Kalau aku pindah seperti keinginanku dulu. Aku tidak akan merasakan bagaimana mereka sekarang mulai tertarik Islam, mulai menghargai aku soalnya saat aku lewat di deket cowok, mereka langsung menjauh jaga jarak. Walaupun memang masih ada yang suka menggangguku.

Aku juga tidak akan merasakan jadi tempat curhat mereka. Jadi tempat kepercayaan mereka. Eh atau aku yang terlalu percaya diri? Tapi aku ngerasain begitu.

Capek? Memang.

Tapi, saat capek dengan dakwah aku kembali membaca atau menonton kisah Rasul yang berdakwah di makkah sampai mau dibunuh kan? Lah, aku sudah mengeluh saja padahal hanya dighibahin, hanya dicaci dan hanya dijauhin.

Lelah? Jangan ditanya.

Tapi, aku yakin janji Allah itu pasti dan untuk menjemput janji itu aku harus berjuang dengan jalan dakwah.

Karena sekarang dakwah itu hidupku.

📝Catatan, Muslimah 14 tahun. Bumi, 260320

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.