Profil instastories

Seorang Guru yang menyukai dunia menulis

Rara dan Rani

"hahaha, kaya badut ya" Rani tertawa terpingkal-pingkal memandang wajahnya sendiri di cermin. Dia baru saja bereksperimen dengan make up barunya. Eye shadow pink nampak sangat menonjol di kelopak matanya, blush on pink juga terlihat sangat tebal, ditambah lipstik pink yang dipoleskannya cukup tebal di bibirnya.

Rara hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kamu ketebalan makainya Ran, coba tipis-tipis aja. Lagian semangat banget sih dandan"

Rani masih tertawa tapi suaranya tidak senyaring tadi.

"Bantuin dong Ra, kamu kan jago kalau masalah dandan" Rani mengusap wajahnya dengan tisu basah, kemudian duduk di tepi ranjang.

Suasana kamar yang dipenuhi nuansa pink memang cocok untuk Rani yang selalu ceria, apalagi seminggu terakhir dia sangat bersemangat, khususnya bersemangat dandan.

"Kamu itu berkulit putih susu, jadi pakai make up tipis-tipis akan membuatmu semakin cantik" Rara mencubit hidung Rani.

"Ngomong-ngomong, kamu belum cerita ada apa sebenarnya" Rara mengedipkan mata kirinya.

"Nanti dulu deh ceritanya, kalau aku berhasil" Rani tersenyum misterius.

*** 

Taman kampus yang asri dan rindang biasa dimanfaatkan mahasiswa untuk berbagai aktivitas. Ada yang duduk-duduk santai, ada yang berdiskusi, mengerjakan tugas, atau bertemu teman beda fakultas.

Di bangku tengah taman, dekat air mancur sepasang mahasiswa duduk berdampingan sambil bercerita. Sang pemuda mengulurkan sebuah kotak pada sang gadis.

Rara tersenyum manis saat membuka kotak pink yang mungil di tangannya, sebuah liontin cantik ada di dalamnya.

"Gimana?, Benar ga?"

"Iya, benar banget, makasih ya Raf. Kamu sudah menyimpannya selama ini. Ini satu-satunya peninggalan mamah sebelum dia meninggal, dan aku sangat bingung saat hilang"

Pemuda tampan dengan lesung pipinya tersenyum bahagia, dia menatap gadis di depannya dengan penuh kasih sayang. Rara gadis cantik berkulit kuning, memiliki lesung pipit di pipinya, mata hitam yang teduh, serta bibir mungil yang selalu tersenyum, seolah bunga yang mekar.

Setelah 15 tahun berpisah akhirnya mereka bertemu lagi, Rafa pindah ke Banjarmasin sudah sebulan, tapi baru 2 hari yang lalu bisa menemukan Rara lagi. Teman bermainnya sewaktu TK.

Brakk

"Oh, jadi gini kelakuan kamu Ra, dasar busuk. Katanya kamu sahabatku, tapi busuk"

"Rani, ada apa?, Apa maksud kamu?"

" Ah, dasar kamu Ra, kelihatannya aja baik, tapi kamu busuk"

Rani mendorong Rara hingga Rara terjatuh.

"Ran, tunggu aku ga ngerti maksud kamu" Rara bangkit bermaksud mengejar Rani tapi tangannya ditarik Rafa,

"Biarkan dulu Ra" 

Rara hanya bisa menatap Rani yang berlari menjauh.

"Dia sahabat kamu?"

"Iya Raf, kami bersahabat mulai masuk kuliah. Kamu kenal dia?"

"Iya, saat pertama kali aku masuk kampus ini dia yang mengantarkan aku ke Rektorat. Aku tahu kamu di Fakultas Ekonomi juga dari dia"

"Apa jangan-jangan, kamu...."

"Jangan-jangan apa Ra?"

"Ah, ga, bukan apa-apa.

Keduanya diam dalam pikiran masing-masing.

*** 

Ini sudah seminggu dari kejadian itu, Rani menghindari Rara dimanapun berada. Masuk kelas pun Rani selalu hampir bersamaan dengan dosen. Rara tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya, di chat ga pernah dibalas, di telepon selalu diriject, didatangi ke rumahnya, selalu ibunya bilang tidak ada di rumah, Rara bingung sekaligus sedih.

Hal ini membuat Rafa penasaran. Saat melihat Rani ke perpustakaan, Rafa langsung mengikutinya. Rani terlihat duduk bersama dua gadis lain. Rafa memilih duduk di samping mereka sambil pura-pura membaca buku.

"Benarkan kataku Ran, si Rara itu pengkhianat"

"Iya, masa gebetan sahabatnya sendiri diembat"

"Tapi, aku belum cerita sama Rara kalau aku naksir Rafa, apa aku ga berlebihan"

"Ah, jangan terlalu baik Ran, kamu tahu ga, waktu SMA pacarku diambil sama dia"

"Ah, masa. Yang benar. Setau aku Rara ga pernah mau pacaran, dia bilang dia menunggu teman masa kecilnya, dia yakin temannya akan datang mencarinya"

"Ah, dia pasti bohong. Sudah jangan pikirkan dia. Kamu sendiri lihatkan banyak cowok di kampus ini yang suka sama dia. Semua ditolak, aku tahu alasannya, itu semua karena dia suka mengambil pacar temannya"

"Entahlah" Rani merasa tak yakin, di lubuk hatinya ada rasa bersalah karena mendorong Rara dan menjauhinya seminggu ini. Rani juga merasa kesepian, biasanya dia dan Rara akan tertawa bersama-sama.

"Ah, aku mau pulang dulu ya" Rani bangkit dari duduknya.

"Ya" jawab kedua gadis itu berbarengan

"Sepertinya kita berhasil Dien"

"Ya, kita lihat saja. Kalau sampai sebulan mereka berjauhan artinya kita berhasil memisahkan dua sahabat itu. Aku ingin lihat Rara menderita lagi seperti waktu SMA" 

"Kamu masih dendam ya Dien"

"Jelaslah Ta, lebih dari tiga kali aku diputusin pacarku gara-gara mereka kenal dengan Rara, aku benci Rara. Ah sudahlah, ayo ke kantin, aku jadi lapar mikirin Rara melulu"

Kedua gadis itu keluar perpustakaan. Rafa tersenyum, dipandangnya gawai yang sedari tadi dipegangnya. Kemudian dia mengetikkan sesuatu. Tak lama Rafa berdiri dan meninggalkan perpustakaan.

*** 

"Ah, tiba-tiba Rafa menchat, ada apa ya. Apa dia bakal nembak aku" 

Rani memasuki mall terbesar di Banjarmasin, dia menuju tempat janjiannya dengan Rafa. Rani melihat Rafa melambaikan tangan padanya, baru saja Rani duduk, Rara datang bergabung. Rani langsung memalingkan wajahnya ke arah berlawanan.

"Ra..." Rafa mengangkat telunjuk dan menempatkan di bibirnya

"Rani, Rara, aku sengaja mempertemukan kalian di sini. Aku ga tenang melihat Rara sedih dan gelisah. Rani, aku dan Rara adalah teman sejak kecil, aku kembali ke Banjarmasin memenuhi janjiku pada Rara, aku akan membahagiakan Rara." 

Rani menatap Rafa terkejut, kemudian menatap Rara yang sedang menatapnya juga. Ada penyesalan dalam tatapan matanya.

"Coba dengarkan ini" 

Rafa menyimpan gawainya di meja, sebuah percakapan terdengar.

Rani dan Rara saling pandang

"Andien" sebuab nama terluncur bersamaan dari mulut keduanya. Rafa mengangguk.

Rani langsung memeluk Rara dan menangis meminta maaf, juga meminta maaf karena baru tahu kalau Rafa adalah pangeran yang Rara tunggu selama ini. Rara memeluk Rani erat, dan mengangguk-angguk memaafkan. Rafa merasa senang dan lega.

Adu domba, kecemburuan, ketidakjujuran bisa membuat hubungan rusak dan akan semakin rusak saat diperparah oleh komunikasi yang tidak lancar.

Rara dan Rani tersenyum kembali, bersama kembali menikmati hidup yang menyenangkan. Menikmati ayam goreng pedas yang terhidang di depan mereka. Menceritakan rasa rindu masing-masing selama saling berjauhan.

"Aku kangen Rara"

"Aku kangen Rani"

"Terus yang kangen aku siapa?" Rafa berdiri memandang dua gadis yang seakan menganggapnya tak ada.

"Rara" Rani tersenyum sambil mengedipkan mata kiri pada Rara

"Kamu ga marah Ran, aku ga tahu...."

"Hus...aku yang ga tahu Ra, kalau aku tahu ga mungkin aku naksir Rafa. Lagian aku cuma naksir kok, karena Rafa ganteng" Rani berbisik pada Rara

"Bisik-bisik, tapi aku dengar lho" Rafa menimpali

Ketiganya tertawa bersama.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani