Profil instastories

Hai kalian, pengen kenal dekat denganku? Yuk kenalan kali aja jadi teman ehe. Kalian bisa panggil aku iky, dan aku suka hujan.

Kamu adalah keindahan ku

→Tumpukan buku pelajaran sangat mengganggu pemandangan, seorang pemuda terus menerus membolak-balikkan bukunya dengan wajah serius. Terlihat matanya tak lepas dari rumus-rumus kesukaannya, tak lelah ia terus memandang bukunya. Dengan mudah, ia mulai menulis jawaban dengan cekatan.

“Akhirnya selesai juga, tidur ah,” ujarnya, merenggangkan otot-otot jari tangannya.

 

Drrttt… drrttt…

 

Suara sebuah benda pipih persegi panjang menyala tanda pesan masuk, mengalihkan perhatian pemuda itu. Dengan cepat tangannya mulai membuka pesan. Tampak sebuah senyuman terukir di bibirnya, manis.

From : Boncel

Oy, jangan lupa besok jemput gue! Awas lo lupa, gue tabok!

 

Pesan itu berasal dari seseorang yang sudah lama ia sukai. Ingin mengungkapkan namun pasti seseorang itu menolaknya. Hanya sahabat, iya itulah hubungan mereka. Dengan cepat, jari jemarinya muai mengetikkan sesuatu.

To : Boncel

Iya, jangan lupa bawa borgol

 

Tak lama dirinya membalas, sebuah balasan pesan masuk. Membuat pemuda itu sedikit menyinggungkan senyum di sudut bibirnya.

From : Boncel

Buat  apa borgol?

To     : Boncel

Buat mengikat hati kita

From : Boncel 

Kang bucheen lo

To : Boncel

Udah tidur sana

From : Boncel 

Oke cogannya aku

To : Boncel

Iya

 

Menatap layar hp, balasan pesannya hanya diread oleh seseorang itu. Tanda bahwa seseorang di seberang sana menuruti perintahnya.

 

Davin Arqiela Alfaro. Nama laki-laki yang tengah menatap foto gadis di layar ponselnya. Cowok tampan, pintar rumus-rumus mematikan yang lebih dibenci semua di kalangannya, dan lebih pentingnya lagi, dirinya famous di kalangan kampus.

 

Tak hanya itu, ia banyak disukai kalangan wanita. Dapat dilihat dirinya begitu sempurna, dengan wajah tampan, memiliki tubuh tinggi ideal, kulit putih, dan hidung mancungnya yang banyak diinginkan oleh banyak orang. Namun lain tak satupun gadis menarik perhatiannya, hanya gadisnya lah yang mampu menaklukkan hati dingin seorang Davin Arqiela Alfaro.

 

Davin merebahkan tubuhnya di kasur empuknya, nyaman sekali. Merenggangkan otot-otot tegangnya, untuk bersiap menjalankan aktivitas keesokkan harinya, mencoba menguatkan hati melihat gadis yang dicintainya bersama orang lain.

 

***

 

Saat ini Davin berdiri di depan pintu sebuah rumah yang sangat besar, ia mengetuk pintu tersebut, seorang perempuan paruh baya membukanya. “Davin?”

 

“Pagi Bunda,” sapa Davin. “Pasti mau jemput Caramel yah, tunggu ya nak davin, Caramel masih di atas, kamu masuk dulu sekalian sarapan bareng,” ajak bunda Caramel, Sofia. “Iya Bunda,” kata Davin mengekori bunda Sofia.

 

Tak lama kemudian, seorang gadis turun dari lantai atas dengan wajah cantiknya dan tak lupa senyum manis mengarah kepada bunda dan Davin. Gadis itu tak lain adalah Caramel Athaya Azalea, “Udah lama?” tanya Caramel. “Baru aja,” kata Davin. “Yaudah, sekarang kalian sarapan dulu,” kata bunda Sofia.

 

Suasana hening saat mereka sarapan, karena bunda Sofia selalu menegur mereka bila mereka makan sambil berbicara. Davin menyadari sekaramg pukul 06.15, sudah waktunya mereka berangkat ke kampus. Jarak kampus dengan rumah mereka lumayan cukup menguras waktu.

 

“Berangkat yuk, Car,” ajak Davin sambil mengelap bibir Caramel yang terkena makanan menggunakan tissue. ”Oke Bun, kita berangkat takut kesiangan, Cara ada kelas pagi soalnya,” ujar Caramel menyalami tangan bunda Sofia.

 

Davin ikut pula menyalami, “Kita berangkat Bun, Assalamu’alaikum,” katanya menuju pintu rumah. “Wa’alaikumsalam, kalian hati-hati terutama kamu Davin, bawa motornya jangan ngebut,” pesan bunda Sofia. “Siap,” ucap mereka serempak kompak menggerakkan tangan seperti hormat. Bunda Sofia terkekeh ringan mendapati mereka kompak, terlihat lucu dan serasi.

 

Davin dan Caramel sudah menaiki motor sport hitam milik Davin. Jujur, siapa saja yang melihat mereka pasti menyangka mereka adalah sepasang kekasih. Sangat serasi dan cocok, sayangnya mereka hanyalah sahabat kecil yang tak terpisah. Banyak orang tidak percaya bahwa ada persahabatan antara laki-laki dan perempua, jika ada maka dari salah satu mereka memiliki perasaan berbeda, cinta misalnya.

 

***

 

Tak butuh waktu 30 menit, motor sport hitam Davin sudah memasuki pekarangan halaman kampus elit di Bandung. Terlihat motornya sudah terpakir sempurna, Caramel turun diikuti oleh Davin yang tengah melepas jaket yang senada dengan warna motornya.

 

Pukul 06.40, Caramel menghadap ke arah Davin, “ Gue mau ke kelas Darren dulu, mau ngapel hehe,” kata Caramel senyum manis. “Kebiasaan banget, habis nganterin terus ditinggal, sakit hati Abang,” keluh Davin sinis. “Lebay lo, nanti juga bakal ngerasain kalo udah ada doi-nya tapi hahaha,” ledek Caramel sambil menjulurkan lidahnya.

 

Gue bakal mencoba mengungkapkan perasaan gue ke lo yang sebenarnya, gue terima apapun jawaban lo nanti, Caramel, batin Davin menatap punggung Caramel. Davin berlalu menuju kelasnya yang hampir dimulai.

 

Bell istirahat sudah bunyi 5 menit yang lalu, kantin adalah tempat yang semua orang tuju kali ini. Terlihat suasana saat ini sangat ramai dan panas yang dikarenakan saling berdesakan. Davin tengah duduk sendirian lengkap dengan makanan dan minuman yang sudah setengah ia habiskan. Dengan tenang tanpa memikirkan banyak keributan di sekitarnya, Davin dengan lahapnya memakan makanan yang sudah dipesannya.

 

Disaat dirinya tengah asyik makan, entah dating darimana dua sejoli yang tak ingin ia lihat kemesraannya datang tiba-tiba di depannya. “Vin, ikut makan di meja lo yah,” kata Caramel sambil menggandeng kekasihnya, Darren. “Yaudah sih, ini juga tempat umum sayang,” cibir Darren menoleh ke arah Davin.

 

“Kalian duduk aja di sini, biar gue yang pergi, lagian udah selesai gue makannya,” jelas Davin melotot ke arah Darren. Sungguh, percayalah Davin tak rela bila Caramel berdekatan dengan cowok di depannya ini. Setahu Davin, Darren adalah seorang playboy yang suka mencampakkan hati perempuan. Davin sudah berulang kali mengatakannya pada Caramel, namun sahabatnya itu tetap tidak percaya, pasalnya Darren sangat mencintai Caramel.

 

Caramel menarik lengan Davin yang hendak beranjak pergi, “Ih, kok buru-buru sih. Gue  mau ngobrol sama lo, Davin,” katanya mampu menyihir kepala Davin, tapi mengingat Darren masih bersama mereka tak mungkin bila ia merusak waktu mereka, biarlah mereka bersama dahulu. “Ntar pulang kuliah sama gue, mau ada yang gue omongin,” tutur Davin melebarkan senyum manisnya ke arah Caramel.

 

Caramel memaklumi bahwa Davin menghindarinya setiap dirinya bersama sang kekasih. Jujur, itu membuat dirinya agak merasa mulai menjauh dari Davin. Entah hanya perasaannya atau apalah mungkin itu.

 

***

 

Sesuai janjinya, Davin menunggu Caramel di parkiran motornya. Sungguh, bila  saja mereka berpacaran mungkin Davin lebih romantic dari ini. Sambil menunggu Caramel, Davin mendengarkan musik lewat earphone miliknya yang ia dapat dari Caramel sebagai hadiah ulang tahunnya, dikarenakan itu pula Davin selalu membawanya kemana-mana. Seakan-akan earphone itu mewakili raga Caramel yang bisa Davin bawa kemana pun ia berada.

 

Hingga ia menemukan gadis kecil mulai menghampirinya, “Davin, kangen,” ucap Caramel sambil memeluk tubuh tinggi Davin. Entah kenapa, setiap Caramel memeluknya ada rasa kehangatan yang menjalar di tubuhnya, begitupun Caramel sebaliknya. “Tadi pas ada Darren gak peluk gue, ini pas gak ada main peluk-peluk sembarangan,” cibir Dvin sinis, tanpa melepaskan pelukan mereka. “Tapi suka kan kalo gue peluk lo,” kata Caramel mulai melonggarkan pelukannya.

 

“Iya gue suka banget, jadi hangat-hangat gimana gitu,” goda Davin menggerlingkan salah satu matanya, nakal. “Ih Davin mesum bunda!” teriak Caramel, membuat Davin gemas mencubit hidung kecil Caramel. “Yaudah ah, yuk ikut gue ke suatu tempat,” ajak Davin.

 

Setelah melewati beberapa menit perjalanan, Davin dan Caramel akhirnya tiba di sebuah taman kota. Mereka turun dari motor, Davin menggenggam tangan Caramel dengan erat dan serasi. Menuntun Caramel untuk terus mengikuti langkah kakinya, sedangkan Caramel hanya pasrah mengekori.

 

Tiba-tiba Davin berhenti, membuat Caramel tak sengaja menabrak punggung Davin. Caramel mendengus pelan, “Kamu masih ingat enggak tempat ini?” tanya Davin menatap sekeliling taman itu. Caramel mengernyitkan kening, “Ya tahu, ini kan taman?!” jawab Caramel. Beda dengan Caramel, Davin hanya melotot ke arah Caramel, bisa-bisanya dia melupakan sesuatu. “ Lo bener lupa, Car?!” gumam Davin sedikit kecewa. “Makanya yang jelas dong pertanyaannya, cogan ku sayang,” goda Caramel.

 

Davin membawa Caramel untuk duduk di sebuah bangku dengan pohon rindang di atasnya. Davin menatap intens mata Caramel dengan penuh cinta dan kasih sayang. Seolah terhipnotis, Caramel pun ikut tenggelam dalam tatapan dari Davin. Menyadari gadisnya mulai terlena, Davin mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Caramel. Seperti ada setan yang mengikat tubuhnya, Caramel tidak bisa bergerak, padahal Davin tidak menyentuhnya sama sekali. Hingga akhirnya, Caramel merasakan sesuatu yang kenyal mendarat di bibirnya.

 

Cup. Davin berhasil menempelkan bibirnya tepat di bibir Caramel.

 

Caramel masih belum menyadari apa yang sedang terjadi. Seolah otaknya menerima perlakuan Davin, jadi ini yang dinamakan ciuman?! Rasanya sungguh membuat Caramel hangat, hingga Caramel tersadar dan mencoba mendorong dada Davin.

 

Bukannya melepaskan, Davin justru menarik tengkuk Caramel untuk memperdalam ciumannya. Melumatnya, menyesap bibir Caramel, dan menggigit bibir bawahnya hingga terbukalah bibir Caramel. Tak mau melewatkan kesempatan itu, Davin menelusupkan lidahnya, menari-nari menjelajahi isi mulut gadis itu.. Mencoba menyatukan dan mempertemukan lidahnya dengan lidah Caramel.

 

Sungguh, Caramel tidak tahu bahwa Davin cukup pandai dalam berciuman, apalagi soal memainkan lidahnya. Caramel mulai terbuai, ia tak tahu harus apa, dirinya tak pernah ciuman sebelumnya. First kiss! Ya ini adalah ciuman pertamanya, dan yang berhasil merebutnya adalah sahabatnya sendiri, Davin! Setelah ciuman selama beberapa menit, akhirnya Davin melepaskan ciumannya.

 

Caramel menarik nafas dalam, ia terengah-engah karena kekurangan oksigen. Davin menatap Caramel dengan senyumnya, “Gue cinta lo, Car!” ungkap Davin penuh serius. Ungkapan Davin mampu membuat Caramel tersentak kaget, jadi selama ini dia suka gue!? batin Caramel. Davin kembali mengecup bibir Caramel sekilas. Sedangkan, Caramel masih seperti tersendiri atas perlakuan Davin padanya.

 

“Udah gak usah bengong lagi,” kata Davin sambil tangannya mengusap lembut wajah Caramel. “Kamu nyium aku? Kok enggak jijik sih?” tanya polos Caramel. Davin terkekeh, sungguh Caramel masih polos malah ia ajari dengan sebuah ciuman, dan langsung mempraktekkannya kepada Caramel. “Gue enggak jijik, malah udah ketagihan,” akunya.

Caramel mendengus, “Ih, lo kok nyium gue sih! Darren aja belum ciuman sama gue, ini first gue, Davin!” katanya. Davin tahu itu, mereka kecil dan besar bersama. Selama ini, Caramel hanya dekat dengannya dan Darren. 

 

“Kenapa, vin? Kenapa baru sekarang lo ungkapin perasaan, jujur lo tahu kenapa gue pacaran sama Darren?” lirih Caramel sambil menghela napas. Sedangkan Davin menggeleng untuk pertanyaan dari Caramel.

 

Caramel mendesis pelan, “Karena lo! Gue udah nunggu lama buat lo ungkapin yang barusan lo ungkapin ke gue! udah lama vin, tapi lo gak pernah peka! Gue pacaran sama Darren biar lo cemburu dan bisa sadar kalo gue cinta sama lo, tapi apa yang gue dapat?! Nol! Nihil! Lo biasa aja pas gue jadian sama Darren, lo cuman bilang kalo lo gak suka karena Darren playboy! Tapi lo salah vin, Darren baik banget, romantis, dia tahu gue enggak pernah suka sama dia. Tapi apa?! Dia bilang, ‘Gue bakal bikin hati dan cinta lo hanya milik seorang Darren Dinatra’.” Tangan Caramel yang sedang mengepal erat bergetar karena menahan amarah selagi dia menuturkan kalimat tersebut.

 

“Jadi sejak dulu cinta gue enggak pernah bertepuk sebelah tangan.” Tangan Davin ikut mengepal kuat, jadi selama ini dia salah tidak mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada gadis di depannya ini. Davin menggenggam tangan Caramel, “Kita pacaran yuk.” Sungguh ucapan Davin tadi membuat Caramel sedikit kaget, dirinya melotot tajam ke arah Davin. “Lo mau gue selingkuh?!” teriak Caramel.

 

Davin menggelengkan kepala, “Enggak, gue gak mau jadi selingkuhan,” sanggah Davin seraya menatap gadisnya. “Jadi ...?” tanya Caramel. “kamu putusin Darren, terus kita pacaran kalo mau menikahlah denganku.” Sembari memegang pundak Caramel untuk meyakinkan hatinya.

 

Caramel berdiri seraya berkata, “What?! Lo mikir resikonya apa… bener-bener gue enggak tahu apa yang ada di dalam otak lo, Vin!” Caramel menatap Davin tak percaya. Davin menggeleng cepat, “Aku sungguh serius, Caramel” kata Davin penuh keyakinan. “Terus gimana sama Darren? Gue gak bisa gitu aja melepaskan dia, udah jatuh hati gue sama dia. Tapi gue juga cinta sama lo anehnya, Vin” Caramel tak percaya dirinya akan mencintai dua sekaligus laki-laki.

 

“Gue butuh waktu,Vin.” Caramel beranjak berdiri. “Butuh waktu buat apa, Car? Kita saling cinta terus apalagi?” geram Davin. “Plis, gue berhak buat milih siapa. Gue enggak mungkin mutusin Darren tanpa sebab, yang ada dia gak akan ngelepasin gue,” jawab Caramel.

 

Davin beranjak berdiri mendekati Caramel, “Lo … lo mau ngapa … ngapain?” gugup Caramel membuat Davin tersenyum miring. Grep. Davin memeluk tubuh Caramel, membuat gadis itu kaget tidak siap menerima beban sekaligus perlakuan Davin padanya. “I love you more, Caramel.” Caramel tak tahu harus membalas apa untuk ucapan Davin tadi. Lidahnya seolah kelu susah untuk mengucapkan kalimat sacral itu. Ingin membalas namun dirinya merasa salah, seakan dia sudah mengkhianati kekasihnya, Darren.

 

“Yaudah yuk aku anterin pulang,”kata Davin. Caramel baru sadar kalo bahasa yang digunakan padanya sekarang berbeda. “a ...  aku ka ... kamu?” gagap Caramel, entah jantungnya terus berdetak sejak Davin mulai menciumnya tadi. “Udah yuk,” kata Davin menggandeng Caramel menuju motornya untuk pulang.

 

***

 

Sinar matahari pagi menyelinap memasuki celah jendela, mengganggu tidur seorang gadis yang masih terlelap tidur, dan perlahan membuatnya perlahan membuka matanya.

 

Caramel mengerjap menatap langit-langit, ia bangun perlahan, merenggangkan otot-ototnya yang kaku dan menatap jam dinding di kamarnya.

 

“Udah bangun, sayang.”

 

Suara bundanya, Sofia. Membuat Caramel menoleh ke arahnya, menatap bundanya yang berada di pintu kamarnya. Bundanya meletakkan segelas susu di atas meja Caramel, kemudian berlalu duduk di samping Caramel.

 

“Kamu kenapa sayang?” Sofia menatap bingung anak perempuannya yang tak mengubris pertanyaannya. Kemudian Bunda Sofia memegang pundak Caramel, “Kamu dari tadi melamun?” tanya bunda Sofia. Tak lama, Caramel terlonjak kaget saat bundanya menyentuh pundaknya.

 

Entah sejak kejadian kemarin, Caramel merasa sangat memikirkannya. Padahal saat perjalanan pulang kemarin, Davin sudah mengatakan bahwa dirinya tak perlu terlalu berpikir. Caramel tahu Davin sangat mencintainya, begitupun sebaliknya Caramel pun iya. Tapi satu sisi dia juga mempunyai seorang kekasih, dan entah kenapa Caramel tak ingin melepaskan Darren. Dia tidak boleh seperti ini, tidak seharusnya dia egois, ia harus memilih siapa dan jangan sampai salah satu ataupun keduanya dari mereka terluka.

 

Haruskah dirinya bercerita pada bundanya? Caramel masih sangat bingung, bagaimana kalau bundanya nanti malah tidak setuju Caramel memilih di antara keduanya. Tapi bagaimana pun juga bundanya harus tahu, karena sekarang isi hati Caramel sedang kacau. Dia butuh curhatan dan saran dari bundanya, Sofia.

 

“Cara, ke kamar mandi dulu ya Bun, nanti Cara ke bawah, Bunda duluan aja,” kata Caramel dengan lembut. “Yaudah, jangan lupa diminum susunya, nanti ke buru dingin,” jawab bunda Sofia, mengelus pucuk kepala Caramel.

 

Caramel menatap punggung Sofia yang mulai menjauh dari kamarnya. Caramel menghela napas, dirinya harus bisa tegas memilih untuk hatinya.  Daripada pusing memikirkan itu semua, Caramel berlalu pergi ke kamar mandi.

 

***

 

Tidak sampai 30 menit Cara sudah rapi dengan baju santainya, baju lengan panjang dipadukan dengan celana jeans, terlihat simpel namun tetap cantik elegan dengan make up tipis. Hari minggu ini, dirinya ingin berkencan dengan Darren. Sebelumnya ia sudah mendapati pesan dari Darren beberapa menit yang lalu.

 

From : Boyfriend

Aku ke rumah kamu ya

To : Boyfriend

Aku siap-siap, Boy

From : Boyfriend

Otw

 

Caramel hanya membaca balasan pesan dari Darren. Dirinya kini tengah menatap cermin, melihat penampilannya yang sudah cantik membuatnya lebih percaya diri. Kemudian, Caramel turun menuju bawah. 

 

Dilihat bundanya kini tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Caramel menghampiri lalu mencium pipi kiri bundanya. Sofia yang mendapat pelakuan seperti itu hanya diam, sebab itulah rutinitas setiap paginya Caramel selalu menciumnya. Katanya biar bundanya terus tersenyum dan terlihat manis setelah mendapat ciuman dari bibir Caramel yang manis.

 

“Bun, Darren mau ngajak aku jalan. Dia lagi otw jalan nih.” Sembari Caramel mengambil buah dan memakannya. “Sekalian ajak sarapan Darren nya ya,” tutur bunda Sofia sambil melumuri rotinya dengan selai kacang. Sedangkan Caramel hanya manggut-manggut menanggapi ucapan bunda Sofia.

 

Tin… Tin…

 

Suara klakson motor terdengar dari luar rumah Caramel. Sudah pasti Caramel tahu siapa yang datang, dan sudah pasti kekasihnya, Darren. Dengan cepat, Caramel langsung berlari menuju pintu dan langsung membuka pintu utama. Senyum manisnya tak kalah mengembang kala Darren benar sudah sampai di rumahnya.

 

“Gak disuruh masuk nih," ujar Darren sambil tersenyum. Jujur setahu Caramel, Darren orangnya irit senyum dan ngomong. Menurut teman-temannya Darren, saat dengan dirinya Davin tidak terlalu dingin. Dan sebenarnya julukan playboy itu salah, dia hanya banyak disukai di kalangan wanita. Jadi patut saja banyak gosip yang tidak benar itu beredar. Tapi nyatanya memang Darren tipe orang yang tidak peduli dengan lingkungan sekitar kecuali hanya kepentingan yang benar-benar penting.

 

Caramel menyudahi pikirannya sendiri, kembali terkekeh geli kala melihat Darren memanyunkan bibirnya. “Ih lucu banget sih, pacarnya siapa, hem?” tanya Caramel mencolek dagu Darren. “Udah puas godain?” tanya balik Darren.

 

“Bunda nyuruh kamu masuk sekalian sarapan, ayo." Tangan Caramel bergelayut manja di lengan Darren. 

 

Darren mengikuti langkah Caramel, hingga sampailah mereka di dapur.

”Nak Darren udah sampai, ayo nak sarapan dulu,” kata bunda Sofia sambil mengambil roti.

 

“Biar Cara aja, Bun." Sembari tangannya mengambil roti yang ada di tangan bundanya. “Sekalian buat belajar jadi istirahat yang baik juga," sahut Darren yang mampu membuat Caramel tersipu malu.

 

“Udah deh, jangan godain Cara terus,” ucap Caramel melotot ke arah Darren. Sedangkan Darren hanya terkekeh geli melihat gadisnya salah tingkah.

 

“Udah, udah lanjutin sarapannya dulu, baru nanti deh pacaran,” ledek bunda Sofia yang langsung membuat Caramel Dan Darren tertawa kecil.

 

Selanjutnya, acara sarapan mereka saling berbagi kehangatan dan kenikmatan dalam suatu hubungan. Bunda Sofia bersyukur, karena putrinya telah menemukan seorang laki-laki yang bertanggungjawab dan baik seperti Darren.

 

***

 

“Makan yang banyak dong, sayang. Ini es krimnya dihabisin dulu baru nyemil lagi,” kata Darren mengomel cerewet sekali. Sedangkan Caramel hanya memutar matanya, sungguh kenapa Darren sekarang menjadi bawel dan cerewet seperti perempuan.

 

“Darren, cogannya aku, kenapa kamu jadi cerewet gini sih. Aku kan yang makan kalo gak nih es krimnya buat kamu aja." Tangan Caramel sambil menyodorkan sebuah es krim dengan rasa coklat vanila itu.

 

Darren menampilkan senyum miringnya, “Atau mau aku suapin? Tapi cara aku beda.” Sembari menahan senyumnya, Davin menunggu jawaban dari gadisnya. “Cara beda gimana?” tanya polos Caramel, sungguh membuat Darren gemas. “Jadi ... pakai ini.” Darren menunjuk bibir dengan kumis tipisnya.

 

Caramel menatap tajam ke arah Darren. Beda dengan Caramel, laki-laki itu hanya tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi gadisnya. Tapi kalau dipikir-pikir, Caramel Jadi teringat kejadian dirinya bersama Davin kemarin. Dirinya merasa bersalah jika tidak mengatakan pada Darren yang sebenarnya. Tapi ia takut juga Darren marah dan salah paham sama Davin.

 

“Oy, jadi melamun.” Sembari tangannya di hadapan wajah Caramel.

 

Caramel mengerjap matanya, “Eh, iya kenapa?" katanya. Darren merasa akhir-akhir ini gadisnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Lihat saja, tidak biasanya Caramel melamun saat bersama dengannya. “Kamu lagi kenapa? Kalo ada masalah, jangan sungkan untuk cerita ke aku. Biar aku bantu ya?” ujar Darren. Perkataan Darren tadi membuat hati Caramel tertusuk belati, ia memang sedang menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya.

 

“Apa salah mencintai seseorang?” tanya Caramel.

 

“Dengarkan aku, mencintai adalah cara orang bahwa orang tersebut punya hati dan cinta. Seperti aku mencintaimu, dan aku tahu hati mu belum seutuhnya aku raih. Tapi aku akan mencoba terus dan terus untuk meraih hati mu yang telah digenggam orang lain. Mencintai seseorang tidak salah, asalkan seseorang itu belum menjadi milik orang lain secara resmi, contohnya menikah.” Darren menatap gadisnya dengan intens.

 

“Menikah?” tanya Caramel.

 

“Iya.” Tangan Darren menggenggam tangan Caramel. Dengan tiba-tiba Darren menekuk lututnya seperti orang yang ingin melamar kekasihnya. Entah perlakuan Darren membuat Caramel jantungnya berdegup kencang. Seolah ia membutuhkan asupan udara yang banyak. 

 

“Darren mau ngapain? Kok berlutut dihadapan Cara?” tanya Caramel polos.

 

“Menurut kamu mau ngapain?” tanya balik Darren.

 

Caramel menelan ludah sendiri, “Mau ... Ya mana Cara tahu,” ujarnya menghindari tatapan Darren. “Dengerin aku ngomong 

dulu yah, baru nanti kamu boleh jawab apa aja,” ucap Darren masih setia berlutut.

 

“Caramel, aku hanyalah seseorang yang tidak memiliki sifat romantis, jujur itu aku akui. Bahkan, aku juga dingin dan cuek sama kamu saat pertama kamu mengungkapkan perasaan kamu ke aku. Maaf, jika aku belum bisa memberikan apapun untuk kamu. Hanya cinta dan kasih sayang yang bisa ku berikan pada mu untuk saat ini dan selamanya. Jadi ... Caramel Athaya Azalea ... Maukah kamu menikah dengan seorang laki-laki yang sedang berlutut dihadapan sambil ... ” Tangan Darren mengeluarkan sebuah kotak kecil mereka di dalam sakunya. “Menyodorkan sebuah cincin, maukah kamu menjadi pendamping hidupku selamanya?” lanjut Darren.

 

Caramel lemas mendengar kata-kata yang muncul di mulut kekasihnya. Dirinya tak menyangka sekaligus kaget, Darren akan melamarnya secepat ini. Ia bahkan belum sempat menanyakan hatinya untuk memilih siapa di antara keduanya, Davin atau Darren. Tapi ungkapan Darren hari ini sungguh membuat hatinya yakin, dirinya semakin yakin jika Darren serius melamarnya.

 

“Bagaimana, Caramel? Aku masih akan tetap seperti ini, sampai sebuah jawaban terdengar dari mulut manis mu. Apapun jawabanmu, aku terima,” ucap Darren dengan masih setia berlutut.

 

“Dengar Darren, aku pernah bilang kan kalo hati ku milik orang lain. Jujur aku tak pernah mencintai kamu, tapi rasanya sakit kala kamu lebih memilih perempuan lain. Aku tidak tahu kenapa? Tapi baru aku sadari kalo aku telah jatuh hati dalam pesona mu, Darren,” jawab Caramel

 

“Lalu?” tanya Darren.

 

“Tapi aku merasa sudah mengkhianati cinta mu, aku ... aku masih saja mencintai Davin. Kamu ... kamu boleh memutuskan hubungan dengan ku lalu memilih wanita yang lebih baik dari ku.” Darren melihat gadisnya menitihkan air mata.

 

“Lalu kenapa, Caramel?” tanya Darren lagi.

 

“Aku ... aku merasa sudah jahat pada mu, aku yakin kamu akan jijik pada ku. Sungguh aku tidak bermaksud begitu,” cerocos Caramel.

 

Jujur Darren sekarang tidak tahu ke mana arah pembicaraan gadisnya. Jijik? Memangnya kenapa dirinya harus merasa jiik pada Caramel? Apa yang sudah Caramel perbuat hingga dia seperti merasa bersalah seperti ini.

 

“Baiklah, sekarang duduk dan jelaskan apa maksud dirimu.” Sembari Darren menuntun Caramel untuk duduk di bangku di sebuah taman kota.

 

“Aku kemarin bersama Davin,” kata Caramel.

 

“Hem, dan aku tahu itu. Lalu?” balas Darren.

 

Hatinya seolah tak kuat untuk mengatakannya namun ia harus tetap mengatakannya. “Davin membawa ku ke taman dulu aku dan dia pertama kali bertemu.” Sungguh Caramel sangat mengulur-ulur waktu.

 

“Intinya aja, Caramel.” Tangan Darren menggenggam tangan gadis itu.

“Aku ... dan Davin, maksud ku, dia mengungkapkan perasaannya pada ku. Dan ya dia juga ...,” jeda Caramel. “Lanjutkan Caramel,” sentak Darren.

 

Tiba-tiba, Caramel menangis dengan keras hingga membuat Darren bingung. Apakah dirinya tadi terlihat membentak gadis itu?

 

“Maaf ...,” ujar Caramel terpotong, dia menatap wajah Darren lalu menunduk. “Dan Davin tiba-tiba mencium ku, sungguh aku juga kaget waktu dia melakukan itu.”

 

Ucapan Caramel membuat Darren diam membisu, dapat dilihat ekspresi wajahnya kini berbeda dari sebelumnya. Jika boleh mengeluh, Caramel menyesal telah mengatakan semua ini, tapi ia harus jujur agar dirinya tak merasa bersalah pada kekasihnya.

 

Caramel menitihkan air mata seraya berujar, “Maaf,” 

 

Darren beranjak pergi meninggalkan Caramel yang menangis tersedu-sedu, pahit bagi dirinya menerima semua kebenaran itu. Sedangkan Caramel hanya bisa melihat punggung Darren yang mulai menjauh dari pandangannya.

 

***

 

Senin. Sejak kejadian kemarin, Caramel tidak lagi mendapat pesan ataupun telepon dari Darren. Hatinya hampa dan sakit melihat kenyataan bahwa Darren mulai menjauhinya. Bisa dilihat saat ini, Caramel tengah melihat Darren sedang bercanda dengan perempuan lain. Kenapa Darren bisa tega padanya?

 

Akankah hubungan diantara kita berakhir seperti ini? batin Caramel.

 

Caramel menuju kelasnya dengan wajah lesu tak bersemangat. Darren menoleh ke arah Caramel, menatap gadis itu ikut pilu. Salahkah dirinya egois seperti ini? Darren ingin gadis itu memilih, dengan menjauh dari gadis itu maka ia bisa tahu bagaimana Caramel tanpa Darren.

 

“Maaf, aku cuman ingin tahu untuk siapa hati mu," ucap Darren.

 

***

 

Dua minggu kemudian. Hari-hari Caramel tanpa Darren, hatinya entah kehilangan atau cuman merasa dirinya yang sudah nyaman. Caramel menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca seraya berkata, “Aku butuh kamu, Darren.”

 

“Sayang, kamu kenapa?” Bunda Sofia membuka pintu kamar Caramel lalu masuk duduk di pinggir kasur.

 

“Hiks ... hiks ... Bunda, Darren benci sama Cara,” ucap Caramel menjatuhkan semua air matanya yang ia tahan dari tadi.

 

Sofia memeluk putrinya agar tenang terlebih dahulu, membiarkan Caramel menumpahkan semua air matanya. Sofia ikut pilu saat melihat putri semata wayangnya hancur seperti ini.

 

“Apa yang terjadi, Cara?” tanya bunda Sofia to the point.

 

Caramel menyapu air matanya seraya berucap, “Darren kecewa sama Cara, Bun. Cara emang bodoh, Cara bodoh, bodoh, bodoh.”

 

“Hust ... jangan bilang seperti itu. Dengar, Cara harus selesaikan masalah ini dengan Darren yah. Bunda bakal bantu biar Darren ke sini.” Sembari mengelus punggung Caramel untuk menenangkan.

 

“Iya Bun, makasih Bunda mau bantu Cara,” ujar Caramel mencoba untuk tersenyum.

 

***

 

Saat ini Caramel dan Darren tengah berada di rumah Caramel. Tepatnya di ruang tamu, dengan suasana sedikit canggung membuat Caramel sedikit tidak nyaman. Tidak ada yang memecahkan keheningan diantara mereka, ataupun saling sapa. 

 

“Ekhem!” 

 

Suara itu berasal dari bunda Sofia yang kini tengah berada di dapur, sedang membuatkan minuman untuk mereka berdua. 

 

“Darren, aku butuh kamu.” Satu kalimat itu tak bisa juga membuat Darren berkata satu katapun.

“Maaf, kalo Cara selama ini —”

 

“Hanya butuh?” ucap Darren memotong perkataan Caramel.

 

Caramel selalu salah, apa karena kata butuh membuat dia hanya butuh Darren saja? Ya ampun sungguh laki-laki di depannya ini seperti perempuan saja.

 

Tak lama, Darren beranjak pergi menuju pintu seraya berkata, “Jika kamu belum memastikan hati mu, maka aku pergi.”

 

“Pergi? Pergi disaat aku mulai mencintaimu, Darren! Kamu mau meninggalkan aku? Disaat hati ini udah siap kamu malah ninggalin aku. Aku terlalu dalam jatuh dalam jurang yang kamu buat Darren. Aku mencintaimu, Darren.”

 

Tiba-tiba Darren membalikkan tubuhnya, kemudian melangkah mendekati Caramel. “I love you more, Caramel.” Kedua tangannya memeluk tubuh gadis itu dengan kehangatan dan kerinduan yang amat mendalam.

 

Caramel membalas pelukan Darren dengan rasa kerinduan juga. Menitihkan air matanya, menangis sendu kala dirinya telah mengungkapkan perasaannya. Sekarang ia tahu kemana hatinya tertuju, pada Darren hatinya lah bersemayam. Lalu siapa Davin di hatinya?

 

Tanpa mereka sadari, sosok laki-laki melihat kejadian itu. Menatap tajam dan mengepal erat tangannya hingga memutih. Dia tak lain adalah Davin. Laki-laki itu merasa sakit sekaligus menyesal karena telah memendam perasaannya kepada Caramel.

 

Caramel tidak sengaja melihat Davin yang tengah melihatnya dirinya dan Darren berpelukan. Menatap mata Davin terlihat kekecewaan yang mendalam, Caramel hanya bisa menatap dalam diam. Hingga Davin pergi berlalu begitu saja tanpa senyum manis yang selalu Davin berikan pada Caramel.

 

***

 

Sudah dua bulan hubungan Caramel dan Darren mulai membaik. Saat ini mereka tengah berada di sebuah cafe di Bandung. Tak lepas juga senyum manis Darren selalu ditampilkan oleh Darren. Sedari tadi, Darren selalu menggoda gadis itu hingga membuat Caramel salah tingkah.

 

“Kamu suka banget sih ledek aku,” kata Caramel memanyunkan bibirnya.

 

“Hahaha, kamu tuh lucu jadi bikin aku gemes sama kamu, sayang.” Tangan Darren mencubit pipi gadis itu. “Ih pipi aku ntar kendor tahu.” Caramel memegangi pipinya yang habis dicubit Darren.

 

“Terus gimana kamu sama Davin?” tanya Darren, membuat mood Caramel menjadi buruk.

 

“Dia menghindar dari aku deh kayaknya, padahal aku pengen bilang maaf sama dia,” ujar Caramel tertunduk lemas.

 

Darren melihat gadisnya dengan senyum, ”Yaudah aku bantu kamu buat ngomong sama Davin, oke. Jadi jangan sedih lagi, sayang,” katanya.

 

Caramel merasa lega saat Darren mengatakan ingin membantunya berbicara dengan Davin. Ia tak ingin kehilangan sahabatnya itu karena salah paham diantara mereka.

 

***

 

Sabtu, 28 November 2019. Cuaca terik matahari sungguh mendukung hari ini, sangat panas. Sama seperti hubungan Davin dan dirinya, sedang panas-panasnya. Tapi kali ini, dirinya akan bertemu dengan sahabatnya itu. Darren sudah berbicara baik-baik dengan Davin, jujur Darren membujuk Davin sangatlah susah. 

 

Menurut cerita Darren, waktu kekasihnya itu membujuk Davin harus membuat wajahnya sungguh memelas. Semua Darren ceritakan kepada Caramel, membuat Caramel tertawa kala ada yang lucu dari yang Darren ceritakan.

 

Darren, Caramel, dan Davin kini mereka bertiga sedang berada di sebuah kafe dekat dengan kampus. Suasana cukup canggung, sebab Caramel sudah lama tak bertemu dengan Davin. Setiap ingin ke rumahnya, Caramel selalu ditolak oleh Davin, alasannya Davin sedang tidur.

 

“Langsung aja ya, Davin,” ujar Darren.

 

Caramel menoleh ke arah Darren, tanda minta persetujuan Darren hingga Darren mengangguk tanda Caramel harus memulainya. “Jadi, Davin aku sayang sama kamu sebagai sahabat, malah aku menganggap kamu sebagai kakak aku. Kakak yang selalu ada untuk aku di kala sedih dan bahagia. Kakak yang selalu melindungi adiknya jika ada yang ingin menyakitinya.” Tangan Caramel berkeringat dingin sambil menatap wajah Davin yang datar.

 

“Udah.” Satu kata dari mulut Davin lolos membuat Caramel diam.

 

Davin menatap gadis itu dengan senyum kecutnya, “Kamu gak salah Caramel, aku yang salah mengartikan semua perhatian kamu sama aku. Aku bakal ikhlas dan ikut bahagia jikalau kamu bahagia, my princess,” katanya.

 

Tak lama kemudian, Caramel bangkit dan langsung menghambur ke pelukan Davin. ”Terimakasih telah menjadi seseorang yang ku sayangi sampai saat ini,” ujar Caramel, matanya mulai berkaca-kaca.

 

“Udah dong jangan nangis lagi. Yaudah aku pulang dulu yah, jangan nakal-nakal sama laki-laki lain nanti dia cemburu,” kata Davin sambil menunjuk Darren yang tengah melihat adegan pelukan mereka.

 

Davin melangkah menjauh dari pandangan Caramel, meninggalkannya bersama Darren yang masih setia menggenggam tangannya. Caramel memeluk Darren dengan hati bahagia, dirinya sangat bahagia memiliki dua malaikat yang selalu menjaganya.

 

***

 

Dua tahun sudah berlalu. Seorang laki-laki menatap sepasang pengantin yang tengah bahagia di hari pernikahan mereka. Dirinya memasang wajah lesu dan kecewa kala melihat sepasang pengantin itu tertawa kecil bahagia. Menyaksikan seseorang yang dicintainya bersanding bersama orang lain membuat sakit teramat sakit.

 

Dirinya berakhir pilu, seakan sadar bahwa cinta harus diperjuangkan bukan hanya memendamnya saja. Tapi kenapa, gadis yang dia cintai malah mencintai orang lain. Bisakah dia merebut kembali? Namun sayangnya dia terlambat, seharusnya dari dulu ia memperjuangkan gadisnya.

 

Kamu adalah keindahan ku, selamanya keindahan yang tak pernah terkubur dan terlupakan. Kamu keindahan ku yang pernah aku cintai, tapi tenang saja aku tetap akan mencintaimu walau aku bersama orang lain. Aku berjanji padamu Caramel, aku akan selalu memperjuangkan orang yang ku cintai sampai mendapatkan hatinya, batin Davin.

 

Davin menjauh dari kerumunan orang, mulai saat ini dan selamanya dia akan terus belajar dari sebuah kehidupan di masa lalu. Bahwa mencintai seseorang itu bisa secara sederhana dengan terus bersama orang yang kita cintai.

 

 

Kamu keindahan ku, Caramel.

 

Di dalam hati ini terdapat sepi kala kamu tiada

Menelusup ke dalam hati ku sebuah rasa rindu

Aneh,

Tapi itulah yang ku rasakan kala kamu jauh

Maaf,

Jika aku dulu tak memperjuangkan dirimu

Salahkan lah aku, tak apa aku terima

Namun,

Yang aku rasakan tetap sama saat ini sampai selamanya.

 

I love you, My Princess.

 

Selamat atas pernikahan mu dengan orang yang kamu cintai.

Berbahagialah.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments
Zidnyhidayat - Apr 21, 2020, 8:47 AM - Add Reply

nice

You must be logged in to post a comment.

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani