Profil instastories

KADO TERBURUK

Aku Bianca, biasa di panggil Cha di keluarga. Anak tunggal, tapi tidak jadi karena Mama sedang hamil 2 bulan. Anak manja yang semua keinginan pasti dipenuhi dan kini bersekolah kelas 2 sekolah menengah kejuruan.

 

“Cha! Sini turun!” teriak Mama dari arah meja makan.

 

“Iya,Mah!” 

 

   Kupeluk wanita yang meski sudah setengah baya,tapi masih cantik itu dari belakang. Kucium pipinya. Mama tersenyum. 

 

“Mah, nanti malam kita jadi pergi? Ke mana?”

 

“Jadi dong, ih kamu penasaran, ya? Nanti kamu juga tahu,” kata Mama sambil mengulum senyum.

 

“Kasih tahu dong, Mah,” bujukku merajuk.

 

“Rahasia,” sahut Mama sambil mengusap kepalaku, lalu pergi ke dapur.

 

  Matahari mulai terbenam, azan Magrib mulai berkumandang. Aku bergegas mandi, lalu menunaikan salat. Setelah selesai aku keluar kamar. Mama juga baru menyelesaikan salatnya. Aku berlalu melewati kamar Mama, menuju bawah.

 

“Kamu sedang menonton apa, Cha?” 

 

“Biasa, serial TV. Oh iya, kapan kita perginya?”

 

“Sebentar lagi, rapi-rapi saja dulu. Papa pulang, kita berangkat.”

 

“Benar?” tanyaku antusias.

 

Mama mengangguk. 

 

   Aku berlari kecil melewati tangga menuju kamar. Mempersiapkan perlengkapan di tas ransel kecil, lalu kembali menghampiri Mama yang ternyata sudah siap. 

 

   Setelah Papa pulang kerja, kami sekeluarga pergi menuju vila di puncak, rekomendasi dari teman Papa. Tak lupa Bibi dan Pak Toni, tukang kebun, ikut serta.

 

   Sesampainya di sana sudah hampir pukul 23.05 WIB.Semua bergegas siap-siap karena ingin merayakan ulang tahunku pukul 00.00 malam nanti. Papa menyuruh Pak Toni memasang kamera di atas pintu untuk dokumentasi. Mama mempersiapkan tempat bakar-bakar dan kue ulang tahun, dibantu oleh Bibi.

 

  Tepat tengah malam acara dimulai. Tiup lilin, barbeque-an, serta berpesta ria. Aku bahagia sekali malam ini karena bisa merayakan ulang tahun bersama keluarga. Aku berharap akan terus utuh keluargaku seperti ini. 

 

   Malam semakin larut, Papa menyarankan untuk masuk ke kamar masing-masing lalu tidur. Aku menurutinya dan langsung tertidur ketika sampai di kamar.

 

Prang !

 

   Tiba-tiba aku terbangun. Pukul 03.05. Entah kenapa perasaan tidak enak. Aku keluar dari kamar, kemudian berjalan ke arah tangga. Terbelalak, tanganku refleks membekap mulut. Tanpa berpikir lagi, lari ke arah bufet di samping tangga. Jantung berdegup keras, hati-hati aku mengintip ke bawah.

 

"Mama ... Papa ...!" bisikku lirih, pandangan berkabut.

 

   Papa, Mama, Bibi serta Pak Toni, duduk di lantai semua dalam keadaan terikat. Ada empat orang berpakaian hitam menggunakan penutup muka. Di depan Papa berdiri seseorang menodongkan pistol ke kepalanya. Tiga lagi sedang menutup mulut Mama, Bibi dan Pak Toni. Ada sebuah mobil yang sudah terparkir depan villa ini. Semua terlihat jelas dari sudut ini. Aku berusaha diam agar mereka tidak melihat.

 

“Cepat tanda tangan! Atau kubunuh istrimu!” bentak Priadi depan Papa.

 

   Aku ketakutan, tak sadar air mata mengalir. Apa yang sedang terjadi? Lalu kulihat lagi ke arah bawah.

 

“Ini saja keluarga mereka! Ada yang lain tidak?” ujar salah satu dari mereka.

 

“Iya, Bos! Tadi sudah kuperiksa kamar atas, kosong.”

 

   Aku selamat, mereka tidak melihatku tidur di bawah samping tempat tidur karena gerah. 

Papa menandatangani sesuatu, setelah itu mereka menusuknya hingga tak bergerak. Mama menangis histeris sambil meronta, tak lama Mama pun ditusuk, begitu juga Bibi dan Pak Toni.

 

    Kugigit lidah agar tidak teriak kencang. Kututup mulut sekencang-kencangnya.

Mereka berlalu begitu saja, meninggalkan ketiga mayat ini terbujur kaku berceceran darah di mana-mana. Aku berlari ke arah telepon, menghubungi kantor polisi dan rumah sakit terdekat.

 

   Akhirnya ambulans dan polisi tiba. Mereka membawa semua korban ke rumah sakit. Kuceritakan semua kejadian tadi ke polisi. Tidak lupa memberi tahu mereka kamera yang dipasang Pak Toni sebagai barang bukti.

 

   Sebulan berlalu, aku menjual rumah peninggalan keluarga, karena tak sanggup hidup sendiri. Akhirnya ikut tinggal bersama paman di kampung sebelah. Para pembunuh itu tertangkap. Mereka adalah teman bisnis yang diuntungkan jika Papa tidak ada. 

 

   Semua begitu sesak di hati. Di hari ulang tahunku, semua keluarga terbunuh. Ini hadiah yang tidak akan pernah terlupakan di hidupku. Selamanya. 

 

Namaku Farhana, lahir di Jakarta, tahun 1993. Hobi menulis sejak SMP, mulai gemar menulis 2 tahun terakhir. Selain menulis, juga hobi menonton film dan membaca cerita misteri. 

Untuk yang ingin kenal lebih dekat, follow akunku

Instagram : @anna4069

Facebook : Monalisa Anna

Sekian dan terima kasih.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani