Profil instastories

Kaca Mata Glen

           Hujan turun membahasi rumput hijau di taman hari ini. Di bawah sepohon kayu besar, tepat di pertengahan taman. Sosok Glen, pria yang berkaca mata hitam dan memegang tongkat itu meneduh diri.

 

Hujan mulai deras, sama halnya dengan air matanya yang berderai jatuh. Entah sudah dua jam lebih, dia menunggu seseorang menjemput.

 

Dingin, dia juga mulai menggigil di hari yang perlahan mulai gelap. Glen terisak pelan. Benci hidupnya harus semenyedihkan ini.

 

Tak lama, dia mendengar suara langkah yang tergopoh-gopoh menghampiri.

         "Mas Glen, maaf terlambat. Saya tadi harus menjemput Tuan pulang dulu."

 

Glen sebenarnya ingin meneriaki atau bahkan mencaci maki supir pribadinya ini. Namun, dia juga tidak bisa menyalahkan Pak Radi sepenuhnya.

         "Engga apa-apa, Pak. Saya aja yang bodoh." ujarnya mulai melangkah secara perlahan, sesekali dia hampir jatuh tersandung.

 

Pak Radi diam memaku. Dia pun rasanya ingin menangis melihat anak majikannya itu. Tidak tega, karena jika lelaki seusia Glen seharusnya sibuk menghabiskan dunia muda dengan bekerja atau semacamnya, Glen malah beberapa kali akan mengakhiri hidup.

 

         "Saya bantu, Mas." Pak Radi bersikukuh memegang tangannya meskipun beberapa kali Glen menolak.

 

.

 

        "Dia itu cuma bisa nyusahin kita aja, Ma. Seharusnya dia bisa memanfaatkan kekurangan dia itu. Banyak kok sekarang, kita liat, orang bisa ngelakuin apa aja meskipun enggak bisa melihat,"

 

         "Pa, Glen enggak butuh hal seperti itu. Glen anak kita satu-satunya. Mama enggak apa-apa kalau dia memang belum bisa melakukan apapun."

 

          "Karena dia anak satu-satunya, seharusnya dia tau diri. Jangan cuma menyusahkan orang tuanya saja!" 

 

          "Pa, jangan keras-keras. Glen bisa mendengar kita, hiks!" 

 

           "Biarkan saja. Setiap hari saya sudah muak dengan sikapnya."

 

Pertengkaran mengatasnamakan dirinya. Glen mematung, menatap apa saja yang tetap akan berwarna hitam pekat. Sementara telinganya, dengan kuat mendengar apa saja yang sedang orang tuanya bicarakan.

 

Air mata tak bisa berdalih, jatuh begitu saja. Glen mencoba menahan diri agar tidak bersuara keras. Kasihan mama, pasti akan lebih sedih.

 

Tangannya mulai meraba ke arah meja. Berusaha mencari sesuatu yang selalu menemaninya kemana pun. 

 

Berhasil, Glen pun memakai kaca mata hitamnya itu dan mencoba beranjak. Melangkah perlahan, mencari tongkat setianya.

 

          "Aku harus pergi dari rumah ini," ujarnya bersitegas.

 

Dia terus melangkah pelan hingga berhasil keluar dari kamar. Pertengkaran itu kian dekat dengan dirinya hingga hilang dalam sekejap.

 

Orang tuanya kaget, mendapati Glen yang kini tepat di hadapan mereka.

         "Sayang, ini sudah malam. Kamu mau kemana?" Wanita paruh paya, tidak lain adalah Ibunya segera menghampiri.

 

Glen sontak mundur, membuat papanya tersenyum ketus.

 

          "Glen lebih baik pergi aja, Ma, dari rumah ini. Glen akan cari pekerjaan,"

 

           "Kamu enggak bisa kerja apapun dengan keadaan seperti ini, Glen. Kamu harus tinggal di rumah ini, ya?"

Glen menggeleng pelan. 

 

            "Glen lebih baik pergi, Ma."

             "Yang bisa melihat saja, tidak sombong seperti kamu. Kamu yang seperti ini kenapa so-soan bisa segalanya? Hah?" Tekan Papanya kian emosi.

             "Cukup, Paa!" 

 

Brak!

Serpihan kaca mata hitam Glen berhamburan ke lantai. Ibunya sontak memeluk, membuat Glen sedikit tenang. 

 

              "Bukankah itu kaca mata pemberian Papamu, dulu? Kamu emosi sama saya, sampai ngehancurin harta yang selama ini kamu bangga-banggakan?"

 

Glen terdiam.

Pilihannya memang tidak pernah salah untuk tidak mau melihat lagi. Dia benci jika harus melihat suami dari ibunya ini. Dia bahkan benci harus mendengar tiap kata yang keluar dari mulutnya itu.

Kaca mata hitam Glen, pun kini hancur tidak membekas.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani