Profil instastories

Jendela Penyesalan

   Lelaki tua itu beranjak dari peraduan. Menengok ke jendela, berharap cemas. Dilihat tetangganya yang memiliki keluarga utuh, bapak, ibu, dan tentunya sang buah hati. Lelaki tua itu sudah tak tahan melihat pemandangan seperti itu setiap harinya. Tapi, entah mengapa dia terus melakukan rutinitas itu. 

   Menanti ketiga anak dan istri yang kini entah ada di mana, membuat lelaki tua itu semakin gila. Istri yang dulu ada bersama sebuah espresso di pagi hari. Si sulung yang berani, anak tengah penggila permen karet, dan anak bungsu yang sedikit manja. Kini tiada. Entah di mana.

  Alangkah menyesal aku telah menyebutkan kata terlarang itu, batinnya. Tiga jam sudah. Lelaki tua masih menghadap ke jendela sebelah utara. Duduk di kursi reyot yang semakin mengingatkannya kepada keluarganya

   Rasanya seperti bumi 225 juta tahun lalu, tanah-tanah masih belum berpencar membentuk kepulauan, tapi kemudian datangnya zaman es membuat tanah-tanah yang tadinya terikat menjadi terputus.. Itulah yang sekarang terjadi pada keluarganya.

   "Dasar perempuan jalang!" Taplak meja ditarik hingga piring dan gelas pecah tak beraturan di lantai. Istrinya tak berkata, memalingkan muka kemudian pergi dari rumah. Ketiga anaknya melihat. Disusulnya ibu tanpa ketinggalan mengutuk terlebih dahulu perkataan bapaknya itu.

   Tak pernah satu menit. Bahkan satu detikpun dia melupakan, kejadian itu terus terbayang dalam benak si lelaki tua. Terlebih ketika dia sudah tau apa yang sebenarnya terjadi. Banyak warga yang mengutuknya dulu, tapi kini ketika dia terlihat setengah gila; banyak warga yang iba padanya. Banyak juga warga yang justru mempermainkan dan meneriakkan lelaki gila ke arah rumahnya.

    "Pak itu keluargamu datang," celetuk seorang warga dari jalan. Sontak saja lelaki tua itu berlari sampai ke ujung jalan, dibarengi napas yang terengah-engah. Dia tidak menemukan siapa-siapa di sana. Seorang warga telah mengelabuinya. Sebagian warga memang sering berperilaku demikian kepada seorang lelaki tua yang sudah dianggap tak waras.

    Di waktu senja, lelaki tua ternyata masih menengok lewat jendela. Terlihat tiga orang turun dari mobil. Menuntun wanita tua yang tergopoh-gopoh. Tak salah lagi itu keluarga yang dianggap sudah berabad-abad hilang dari dekapan si lelaki tua. Lelaki tua membuka pintu kamar. Berlari tanpa rem hingga jatuh, lalu menghembuskan napas terakhir.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani