Profil instastories

Halo, selamat datang di ruangku! Mampir juga di Instagram @ruang_bacamu yuk, ada quote yang relate dengan kehidupanmu di sana. Mampir juga di ruangbaca6.wordpress.com ada cerpen yang juga (semoga) membuatmu tertarik.

Januari

 

Ranting-ranting di luar jendela itu makin gaduh. Burung-burung sibuk membawa anak-anak mereka berteduh. Pintu nyaring berderit. Dihempas desau-desau angin yang buat tengkuk merinding. Di luar sedang hujan angin. Rintiknya sedang bersaing dengan tetes air mata yang tak mau kering. Gadis itu menggigil. 

"Kenapa Tuhan, kenapa Engkau ambil dia" tangisnya semakin nyaring.

Kejadian dua Minggu yang lalu masih membuat hatinya terguncang. Tepat Januari kala terompet penanda tahun baru digemakan, seseorang yang menjadi nafas di hidupnya selama empat tahun telah melangkah terlebih dulu memenuhi panggilan Sang Esa

Di luar masih hujan, dan Ira, gadis itu, ia hentikan tangisnya. Ia melangkah menuju lemari kecil dibawah kaca. Di sana ia tenggelam bersama kenangan-kenangannya 

Pada bulan Agustus tahun lalu.

Gadis itu sibuk dengan layar datar yang ada di hadapannya. Menjadi seorang sekretaris ternyata cukup menguras waktunya. Ia menjadi salah satu pengurus pesantren yang diamanati untuk menjadi sekretaris. Sudah hampir lima tahun ia tinggal di pesantren. Kini ia telah menjadi gadis yang lebih dewasa diusianya yang baru menginjak enam belas tahun. Ira gadis yang berbeda, ia akan melakukan hal yang menurutnya benar meski di mata orang lain itu adalah hal yang salah. Egois memang. Tapi ke-egoisannya itulah yang mampu membuatnya menemukan seseorang yang menjadi nafas di hidupnya.

Di pesantren, ia diperbolehkan membawa ponsel sebab sudah dianggap sebagai santri senior. Ponselnya bergetar, membuat kesibukannya buyar. Pesan masuk itu membuat senyumnya mengembang. Aji, nafas hidupnya, seorang santri putra yang tinggal satu pesantren dengannya itu mengajak untuk bertemu. Sebenarnya Ira sedikit bimbang, ia takut bila nanti ketahuan oleh santri pengurus lainnya. Tapi, biarpun masih bimbang, pada akhirnya ia tetap mengiyakan ajakan itu.

Ira bergegas bersiap-siap lalu pergi kebelakang pesantren. Di sana Aji sudah menunggu dengan duduk di atas motornya.

"Hai..." Sapa Aji ketika Ira sampai di hadapannya.

"Hai, mau kemana nih ?" 

"Ayo, ikut aja" Aji mengisyaratkan agar Ira lekas naik ke motor.

Setengah jam perjalanan, Aji menepikan motornya di parkiran. Ternyata Aji mengajak Ira ke TPA, iya, Tempat Pembuangan Akhir. Ira yang tahu diajak ke TPA merasa nyaman-nyaman saja, dia tidak protes sama sekali.

Mereka berdua duduk di gazebo pinggir taman.

"Eh, aku mau sambil ngetik proker maulid ya" ucap Ira seraya mengeluarkan laptop yang ada di dalam tasnya.

"Ciee orang sibuk" ledek Aji sambil tertawa.

Satu jam berlalu, tidak ada percakapan diantara mereka. Ira sibuk dengan tugasnya. Dan Aji, ia sibuk dengan isi pikiran di kepalanya.

"Selamat ulang tahun ya, maaf aku nggak bisa ngasih apa-apa, aku cuma bisa bawa kamu kesini".

Perkataan Aji membuat Ira mengalihkan pandangannya dari laptop yang dipangkunya. 

"Makasih ya, aku kira kamu bakalan lupa haring ulang tahunku" ucap Ira sambil menatap wajah lelakinya.

Taman mendadak berubah menjadi  ruang kamar, waktu menarik Ira dari kenangannya.

"Bagaimana mungkin aku melupakannya..." gumam Ira seraya menatap bingkai foto di hadapannya. Ira bangkit menuju tempat tidur, ia tak kuat melihat barang-barang yang menjadi kenangannya bersama Aji. Ia buka buku hariannya, kini penanya meliuk-meliuk menjeritkan luka, luka yang paling luka.

Rabu, 15 Januari 2019

Kepada kamu alasan rindu-rindu ini tertuju.

Sampai hari ini aku masih tidak percaya  jika kau telah tiada. Rasanya kau masih disini. Kenapa secepat ini, Kang ? Kenapa ?

Kau masih ingat bukan, kita masih punya rencana yang harus diwujudkan. Dulu katamu kita akan menikah sembilan tahun lagi. Katamu kita pasti akan selalu bersama. Tapi kenapa...aku kangen nasihatmu Kang, senyummu, mata sayu itu...ahh dadaku benar-benar sesak. Seharusnya dulu aku penuhi keinginanmu, kau memintaku menembangkan salawat, tapi aku menolaknya dengan alasan nanti akan kutembangkan jika kita bertemu. Kini semuanya terlihat jelas, sebenarnya kau telah memberi tanda jika kau hendak "pulang". Setelahku berkata begitu kau lantas menyahut "bagaimana kalau nanti kita nggak bisa ketemu ?"

Aku yang tidak tahu maksud dari ucapanmu menganggap kau hanya bercanda. Hingga datang hari itu, dua Minggu kau tiada kabar. Kau tak pernah balas pesanku. Aku dengar-dengar waktu itu kau sakit. Lalu entah pada hari apa ada satu pesan masuk darimu. Kau berkata jika kau sedang sakit dan kau memintaku untuk tidak menghubungimu dulu. Aku cemas, untuk bertanya kau sakit apa akupun tak berani. Hingga ada kabar selanjutnya, kau dirawat di rumah sakit.  Tahu akan hal itu, aku segera meminta bantuan mbak-mbak santri yang lain untuk menemaniku menjengukmu, tapi mereka tidak pada punya waktu. Saat itu aku ingin menangis, dua hari aku cari-cari teman untuk menjengukmu, tapi tiada dari mereka yang mau. Hingga pada hari ketiga akhirnya teman sekolahku mau mengantarkanku untuk menjengukmu. Saat itu pukul tiga sore aku sampai di rumah sakit. Ketika hendak masuk, satpam penjaga mengatakan padaku bahwa jam kunjung sudah habis. Ingin sekali aku marah, tapi mau bagaimana lagi...

Esoknya, pagi-pagi aku kembali datang ke rumah sakit. Hari itu, akhirnya aku bertemu denganmu. Sudah kukenakan kerudung ungu yang katamu aku terlihat makin cantik jika mengenakannya, tetapi ketika ku buka pintu dan menatapmu, kau seolah tak suka dengan kehadiranku, kau membuang muka. Aku masih ingat betul hari itu. Tubuh yang dulu tegap, hari itu terlihat rapuh dengan selang-selang yang melilit tubuhmu. Pipimu kering, dan matamu, bukan lagi mata yang sering kutatap dulu. 

Saat itu, ketika ibumu sedang keluar untuk mengambil air, aku melangkah berdiri disampingmu. Aneh, saat itu kau tak mau membalas tatapanku, tapi ketika aku tak menatapmu kau malah menatapku. 

Kunjungan hari itu berakhir. Aku kembali melakukan aktivitas di pesantren seperti biasanya. Dua hari telah berlalu dan kabar baik itu datang, kau mulai membaik dan telah pulang dari rumah sakit. Mendengarnya aku lega lalu kuputuskan untuk pulang ke rumah. Di rumah aku berlibur ke pantai, berharap kecemasan tentangmu bisa sedikit berkurang. Tapi Tuhan berkehendak lain. Waktu itu hujan angin, tepat selepas azan magrib salah satu temanmu memberi kabar jika kau telah tutup usia. Aku kaget bukan main, saat itu aku berharap jika kepergianmu bukanlah hal yang nyata. Aku masih berpikir jika temanmu hanya membohongiku saja, tapi kabar itu datang lagi dari temanku sendiri. Malam itu aku ingin segera pergi kerumahmu, sebab katanya kau akan dimakamkan detik itu juga. Aku macam orang gila langsung keluar rumah menerjang hujan, tapi belum sampai jauh aku berjalan, nenekku berhasil menghadangku. Beliau menggamit lenganku, dipapahnya aku di atas ambin depan rumah. Disuruhnya aku agar tenang. Agar aku pergi ke rumahmu hari esoknya saja. 

Pagi sekali aku telah sampai di pesantren. Pagi itu aku akan berjunjung di rumahmu dengan dua temanku. Sampai di rumahmu entah kenapa aku kembali ingin menangis sejadi-jadinya. Aku bertemu ibumu, adikmu, dan juga bapakmu. Dulu kau selalu mengajakku untuk pergi kerumahmu, tapi aku selalu menolak, aku belum siap bersua dengan orang tuamu. Aku menyesal, kenapa baru hari ini, kenapa ketika kau sudah tiada aku baru bisa bertemu dengan orang tuamu. Kau harus tahu, saat datang di rumahmu ibumu mengusap punggungku seraya menasihatiku untuk sabar. Jujur aku malu, harusnya aku yang mengusap punggungnya dan menguatkan hantinya untuk tetap sabar.

Setelah itu aku pergi ke makammu. Melihat namamu terukir pada batu nisan membuat air mata ini tak kuasa. Aku menangis untuk kesekian kalinya. Ku ramu rindu-rindu itu bersama tahlil yang kugemakan. Ku paksa hati ini untuk ikhlas meski berat untuk melepaskan...setelah hari itu hidupku terasa ada yang kurang. Hingga pada hari esoknya, temanku berkata jika kamu telah bahagia disana. Entah hanya sekadar bualan atau apa, temanku bilang jika kemarin ketika aku datang ke makammu, kau pun turut datang dan berdiri di hadapanku dengan wajah yang berseri-berseri, semoga benar ya, Kang. Kau itu orang baik, sebelum menghembuskan nafas terakhir saja kau masih bisa mengucapkan syahadat. 

Kang, terimakasih telah mengubah hidupku. Berkat kamu aku menjadi orang yang lebih dewasa. Kang, meski sekarang tiada disisi, dan meski melepaskanmu adalah hal yang tak ingin kulakukan, tapi percayalah, mengikhlaskanmu adalah bukti jika rasa ini masih dalam.

Salam,

Aku dari dunia yang berbeda.

Pena yang digenggamnya berhenti menari. Kini, sudut bibirnya melengkung ke atas. Ira nampak terlihat lega setelah menuliskan segala luka-lukanya. 

“Aku tak boleh terus-menerus seperti ini, ini memang menyakitkan, tapi rencana Sang Kuasa lebih indah. Mungkin kamu bukan ditakdirkan denganku di dunia, tapi di akhirat nanti, kita bisa saja ditakdirkan untuk bersama”. 

Setelah berkata begitu, Ira bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Ia kenakan mukenanya, ia adukan segala dukanya pada Rabbinya. Malam itu berbeda dari malam sebelumnya. Ira dapat tidur dengan nyaman, tanpa gangguan kenangan, tanpa bayang-bayang perpisahan.

Keesokan harinya, Ira memutuskan untuk berziarah di makam seseorang yang pernah menjadi nafas dihidupnya. Di makam itu ia bergumam...Kang, baik-baik di sana ya, aku ikhlas. Terima kasih sudah menjadi seseorang yang membuatku bahagia selama ini.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.