Profil instastories

Izinkan Aku

Aku menghirup udara pagi ini dengan leluasa. Udara yang segar dari jendela kamar ku yang sudah kutempati tiga bulan ini. Memilih jadi anak perantauan adalah pilihan terbaik untukku. Selain menjadikan ku mandiri, aku tahu bagaimana arti menjadi dewasa yang sesungguhnya. Aku mulai merasakan sulitnya mencari lembaran alat tukar itu, arti kesepian yang dulu selalu tak ku pedulikan dan zona rebahan yang mulai membuat ku bosan. Ternyata semua punya waktunya masing-masing.

Dan disinilah aku tinggal di sebuah kota yang berjarak cukup dekat dari kota medan. Kira-kira butuh waktu 1 jam untuk menempuhnya dan aku baru pindah tiga bulan lalu. Aku tinggal berdua dirumah yang kami sewa bersama sahabat ku, Fransiska. Aku sering memanggilnya Ica. Selain simpel, aku suka nama itu.

Aku dan Ica sudah bersahabat dari empat tahun lalu, tepatnya saat kami menempuh pendidikan di salah satu universitas negeri di kota medan. Awalnya kami hanya bertemu saat pendaftaran ulang dan berkenalan via chat di grup maba jurusan kami. Pandangan pertama ku tentang Ica, aku melihat dia anak yang pendiam, cantik dan pemalu. Aku sempat berpikir apakah aku bisa berteman dengan dia? Karena sifat kami yang bertolak belakang. Aku yang periang, selalu tertawa dan sedikit barbar. Ternyata pandangan ku padanya salah. Aku tahu sifat dia setelah kami menjadi teman satu kelas. Dan aku memiliki teman satu spesies dengan ku, yaitu Ica. Periang, friendly dan tentunya gampang tertawa walau pun dia terkadang kekanak-kanakan.

Dan lagi setelah kami lulus dan mendapat gelar S.Pd dibelakang nama kami, aku dan dia tinggal serumah dan memilih bekerja di sebuah kota yang tidak jauh dari kota medan. Kami berdua sudah tahu sifat masing-masing. Aku yang selalu curhat apapun padanya, termasuk masalah asmara. Dia selalu menjadi tempatku mengeluarkan keluh kesah.

Aku hampir lupa bahwa hari ini adalah jadwal kami berbelanja perlengkapan rumah. Aku harus membangunkan Ica. Dia termasuk orang yang punya hobi rebahan. Katanya hobi itu sudah melekat dalam dirinya.

Aku membuka lebar pintu kamarnya yang sudah sedikit terbuka. Dia masih bergelung dengan selimut pink bergambarkan hello kitty. Dasar kekanak-kanakan. Tapi itu yang membuatku betah dengan dia.

“Ca...” Panggilku lembut. Dia seolah menuli. Memang anak ini paling susah bangun di hari libur kerja seperti ini.

“Ca!” Aku sedikit meninggikan suara.

“Apa sih, Jes??” Dia mulai sadar dan aku sedikit tersenyum.

“Kamu ada tamu.” Aku berbohong. 

“Siapa datang sepagi ini?” Tanyanya lalu duduk di atas tempat tidurnya.

“Pak Rey.” Balasku santai.

“APA!! kenapa gak bilang dari tadi, Jes. Aku kan bisa dandan dulu.” Dia melompat dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi. Hal ampuh untuk membangunkannya. Aku tertawa melihat tingkah sahabatku itu.

Tiba-tiba ica sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah bersih. Aku menahan tawa lagi. Dia semakin gencar untuk menata rambut dan mempercantik wajahnya. Biar saja, habis ini bisa langsung berangkat untuk belanja. Ternyata membohongi ica ada manfaatnya juga.

Ica memandang ku setelah ia sudah berdandan. “Kamu kok keliatannya udah rapi, Jes? Pak Rey udah kamu buatin minum?”

“Emang rapi harus ada tamu dulu kek kamu.” Ejekku sambil tertawa.

“Yang penting pak Rey liat aku cantik.”

Aku tertawa lagi. Ica memang sangat menyukai Rey. Rekannya sesama guru di salah satu SMA negeri disini. Aku juga mengajar di SMA Negeri tapi tidak satu sekolah dengan Ica. Semenjak ia mengenal pak Rey, dia sangat gencar perawatan wajah, rambut, dan juga olahraga. Katanya supaya Pak Rey tertarik. Ada saja tingkahnya.

“Maaf ya, Ca. Aku boong.”

“Bohong?” Aku balas dengan anggukan.

“Pak Rey ga datang. Gak mungkin kan ada tamu aku tinggal aja dan malah duduk di kamar kamu.” Jelas ku dan merasa lucu. Kenapa Ica begitu polos jika berhubungan dengan Rey, guru tampan itu.

“Ahhh! Ini gak lucu ya, Jes. Udah capek dandan cantik tau.” Dia mencebikkan bibirnya. Aku malah semakin tertawa.

“Gak usah cemberut gitu. Kita belanja aja yok. Kalau aku gak giniin kamu, kamu gak akan bangun, Ca.”

Aku menarik saja tangannya. Ica tipe orang yang mudah cemberut mudah senyum juga. Aku dan Ica mengendarai sepeda motor scoopy. Ica yang mengemudikan dan aku diboncengan. Kami jika pergi seperti ini layaknya anak kembar.

“Ca, kita supermarket biasanya.” Ucapku.

“Siap, mbak jomblo.” Balasnya.

“Gak pake jomblo berapa?” Sewot ku. Ica selalu saja ada kesempatan mengejekku. Pasti ia ingin membalasku karena hal tadi.

“Baperan kamu, Jes.” Dia tertawa keras dan helm–nya ku getok saja.

Kami tiba di supermarket tempat kami sering belanja. Langsung saja kami beranjak ke tempat-tempat yang kami perlukan. Kebutuhan untuk rumah dan juga kebutuhan pribadi kami.

“Jes, kalo aku beli sunscreen yang ini gimana? Bagus gak sih menurut mu?” Ica memegang sebuah sunscreen.

"Terserah kamu aja, Ca. Lagian sunscreen emang udah abis?" Tanya ku.

"Udah, Jes. Aku ambil ini aja deh. Satu merk dengan skincare ku yang lain." Aku hanya mengangguk saja.

Trak!!

Dibelakang ku ada belanjaan yang jatuh. Entah punya siapa. Tapi, aku menoleh melihatnya. “Saya bantu, Bu.”

Ternyata belanjaan seorang ibu yang umurnya kutafsir sekitar 50-an keatas tapi masih cukup cantik. Wajahnya adem untuk dilihat dan suaranya menenangkan ketika menjawab iya. Pasti dulunya banyak pria yang suka, pikir ku.

“Makasih ya, nak. Eh, kamu guru baru di SMA negeri itu kan? Kita satu komplek, lho.” Si ibu mengenali ku. Apa aku sepopuler itu. Aku membalas dengan senyum walaupun sejujurnya aku tidak kenal.

“Iya, bu. Ibu kenal saya?”

“Saya sering lihat kamu lewat depan rumah. Rumah kamu jauh ya masuk komplek?” tanya si ibu.

“Rumah saya lumayan masih masuk ke komplek bu.”

“Saya suka lihat wajah kamu. Lemah lembut dan kelihatannya penyabar. Dari dulu saya pengen punya menantu seorang guru. Tapi anak pertama saya menikah dengan dokter.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum saja.

“Baguslah bu kalo nikah sama dokter, bisa merawat keluarga dengan baik.” timpal ku. Aku sedikit bingung membalas apa.

“Boleh saya tahu nama mu, Nak? Kali saja anak kedua saya cocok sama kamu.”

Aku sempat terkejut. Mungkin si Ibu ada niat menjodohkan. Aku hanya berpasrah saja. “Nama Saya Jessi Valencia, Bu. Panggil aja jessi, bu.”

“Ohh, sekali lagi terimakasih, Jessi. Saya pulang duluan ya, nak. Tapi, nomor kamu boleh ibu minta juga?”

Fix, ini benar-benar mau menjodohkan aku dengan anaknya. Aku memang tidak punya pacar dan aku baru sekali pacaran. Aku pacaran pertama sekali saat kelas 10 SMA dan sampai sekarang tidak pernah pacaran lagi.

Si ibu menyerahkan ponselnya dan aku mengetik no ponsel ku. “Ini, bu.”

“Terimakasih ya, nak Jessi. Ibu pulang dulu.”

Aku membalas dengan senyuman dan aku tidak tahu apakah aku harus bahagia atau sedih. Karena sejujurnya aku sudah bosan dengan zona sendiriku ini.

“Jes, aku udah beli semua punya ku. Kamu ngobrol sama siapa tadi?” Ica tiba-tiba muncul. Anak itu sedari tadi sibuk dengan alat kecantikan.

“Ada ibu-ibu tadi belanjaannya jatuh terus aku bantu. Ternyata kita satu komplek sama ibu itu dan dia minta nomor hp ku. Katanya pengen ngenalin aku sama anaknya.” jelasku.

Ica tersenyum. “Bagus dong. Kamu gak jomblo lagi dong, Jes.”

“Aku bukan jomblo ya. Emang gak mau pacaran aja.”

Ica tertawa keras. “Sama aja jomblo, markonah!”

Aku memukul lengan Ica lalu menariknya untuk pulang. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus kami kerjakan. Jika berlama-lama disini, bisa-bisa semua isi toko ini diborong olehnya.

***

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani