Profil instastories

Iqbal

Namanya Iqbal, dia adalah lelaki yang jadi pacarku empat bulan yang lalu. Itu artinya aku dan Iqbal sudah tidak bersama lagi. Jujur awal kehilangan Iqbal, aku sangat senang karena sudah terlepas dari semua sifat posesifnya,sifat kekanak-kanakannya dan semua sifat menyebalkannya. Tapi, selama tiga bulan ini kujalani bersama pacar baruku. Semua sifat pacarku ini berbanding terbalik dengan Iqbal. Iqbal yang dulu meskipun rumahnya dengan rumahku jauh, ia sempat kan seminggu sekali datang menemui ku. Dulu aku sangat malas jika bertemu iqbal, aku tidak pernah ada rasa sayang selayaknya sepasang kekasih. Sedangkan pacarku, dia sangat susah diajak bertemu. Bahkan selama empat bulan ini aku dan pacarku bertemu baru empat kali, sebulan sekali. Dengan alasan jauh, iya mungkin satu setengah jam. Ya sama seperti Iqbal tapi Iqbal selau berusaha agar aku senang. 

Iqbal begitu perhatian,setiap hari dia selalu bertanya tentang kegiatan ku hari ini. Sehingga lambat laun aku tidak pernah sungkan untuk cerita apapun yang kualami. Aku masih sangat ingat, ketika dulu aku hampir jadi bahan pelecehan seksual oleh pelatih nyanyiku. Pelatih itu seperti memeliki Indra keenam atau semacamnya. Aku bercerita sedemikian rupa pada Iqbal,aku menangis tak karuan. Aku bercerita pada Iqbal, kalau pelatih itu mengajakku kesebuah hotel untuk menghilangkan aura najis dari diriku dengan cara aku harus telanjang didepannya. Aku awalnya tidak percaya dengan adanya aura-aura seperti itu. Tapi entah kenapa saat itu aku sangat percaya dengan semua ucapan pelatih itu. Tapi ketika aku dirumah atau sedang tidak bersama pelatih, aku selalu menangis memikirkan itu semua. Menangis karena takut jika harus telanjang didepan lelaki hanya untuk menghilangkan aura najis yang memang aku tidak percayai. Pada saat dirumah lah akhirnya aku berani bercerita pada Iqbal tentang hal itu. Awalnya aku takut, karena aku pikir pasti pelatihku itu punya Indra keenam atau apapun itu semacamnya yang membuat dia tahu apa yang sedang kulakukan. Ya sudahlah, aku sangat dengan tekad bulat bercerita sedetail mungkin pada Iqbal. Iqbal tidak pernah menyalahkan aku,atau mengintimidasi ku mengapa aku punya aura najis dan semacamnya. Yang dia pikirkan hanyalah keadaanku. 

"Kalau kamu mau kehotel dengan si tua Bangka itu, Iqbal bakal ikutin kamu dan lindungin kamu." 

Masih teringat jelas ucapannya sampai saat ini. Yang membuatku selalu berpikir bahwa pacarku tidak pernah mengistimewakan ku seperti itu. Bahkan untuk bercerita tentang hal yang sedalam dan sesensitif itu aku pun mungkin tidak mau jika bercerita dengan pacarku yang sekarang. Aku pernah berniat untuk menceritakan hal ini padanya, namun aku tahu aku sudah tepikirkan pasti dia hanya akan menyalahkan ku dan mengintimidasiku seakan akulah yang salah karena aku punya aura najis. Bisa dibilang aku belum tahu apa yang akan dia katakan, tapi aku sudah tahu pasti dia akan lakukan seperti apa yang aku pikirkan. Sehingga sampai saat ini aku masih enggan untuk bercerita apapun padanya,bahkan masalah sekecil apapun itu.

Huft, sebenarnya aku sedih jika mengingat tentang Iqbal. Tapi, aku ingin membuka pikiran kalian yang membaca ceritaku ini tentang arti kasih sayang sepasang sejoli yang sesungguhnya menurutku.

Keluarga Iqbal termasuk keluarga yang berada,sama sekali tidak kekurangan. Namun, Iqbal selalu berprinsip jika dia ingin membelikan sesuatu pada pacarnya atau apapun itu dia enggan meminta pada orang tua. Dia akan bekerja keras supaya bisa membahagiakan pasangannya dengan keringatnya sendiri. Saat itu, Iqbal baru lulus sekolah sehingga butuh waktu untuk kejenjang perkuliahan. Dia dirumah saja hanya membantu ayahnya. Aku masih sangat ingat, aku ingin sekali menonton film dibioskop. Aku memang sangat hobi menonton film. Dia bilang dia sedang tidak ada uang karena ya memang dia belum bekerja. Tapi demi aku dia rela kerja panas-panasan. Dia bukan bekerja, hanya dia  membantu bisnis ayahnya yaitu pembuatan batu bata. Dia berhari-hari membuat bata, mengangkut bata supaya dapat uang dari ayahnya. Sampai aku jarang sekali di kabari. 

"Besok kita jadi nonton yah, Iqbal udah punya uang buat kamu."

Dia benar-benar memegang prinsipnya. 

Sedangkan pacarku yang sekarang. Dia tidak pernah menuruti permintaan ku. Aku yang memang hobi nonton,tidak pernah di iyakan olehnya. Alasannya dia tidak punya uang. Aku tahu dia masih kuliah dan belum bekerja,tapi lagi-lagi dalam hatiku selalu membandingkan dia dengan perjuangan Iqbal.

Kemana saja Iqbal pergi ditempat indah,tempat yang menurutnya aku sukai pasti dia selalu ingat padaku. Seperti Minggu lalu.

"Kita ke teropong kota yuk, kemarin aku kesana terus inget kamu. Pasti kamu bakal selfie-selfie disini."

Walaupun kami sudah lumayan lama putus, tapi dia selau ingat hal kecil tentangku. Ketika dia tahu aku sudah punya pacarpun dia masih menjadi Iqbal yang dulu, yang tidak pernah bisa marah dan dendam denganku. Dan diwaktu seperti ini aku merasa benar-benar menyesal pernah kehilangan dia. Dia yang dulu meminta untuk bisa kembali bersamaku, dia bahkan sampai tidak punya harga diri menangis dihadapan ku, mengemis cintaku. Tapi, aku tolak karena adanya orang baru. Dulu aku pernah berpikir bahwa aku wanita termenyedihkan karena mendapatkan Iqbal. Aku tidak pernah menghargai perjuangannya. Aku selalu egois menuntut apapun yang aku mau. Bagiku,aku sangat jahat pada Iqbal. Dan sekarang setelah semuanya berbanding terbalik dengan kisahku dan Iqbal, aku baru menyadari bahwa aku menyayanginya, aku rindu kamu Iqbal. Aku baru terasa akan perjuanganmu denganku. Aku sangat-sangat menyesal. Memang penyesalan selalu diakhir, tapi aku sangatlah berterimakasih akan semua yang kamu berikan padaku meski semua tidak sebanding dengan rasa sayangmu padaku. 

Maafkan aku Iqbal, aku harap ini semua berujung dengan kebahagiaan.

 

 

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani