Profil instastories

Impian berkepala dua

Impian Berkepala Dua

 

Risa, begitulah orang tua dan teman-teman memanggilku. Aku  siswi dari kelas sebelas jurusan IPA. Aku bukanlah murid yang pintar dan aku bukanlah murid yang ambisius seperti teman lainnya. Dari kecil aku selalu menyukai hal-hal yang berbau sains, teknologi dan penelitian. Akan tetapi sampai SMA ini aku belum mengetahui apa cita-cita dan tujuanku dimasa depan kelak. Setiap ada orang yang bertanya apa cita-citaku aku hanya terdiam dan menjawab “ Ntahlah, tidak tahu, mungkin Guru.”

 

Sebuah jawaban yang tidak pasti dan tentunya menyiksa batinku sendiri. Dan saatku menginjak kelas sebelas. Akhirnya aku menemui impianku yang sebenarnya , dan aku memutuskan untuk menjadi seorang ahli obat-obatan dan tentunya harus mengambil jurusan Farmasi nantinya.

 

Aku sangat bahagia ketika mengetahui apa yang kuinginkan. Tetapi bagaimana jika ada yang  tidak merestui akan impian ini? “Baguslah jika kamu mau masuk jurusan farmasi, tetapi alangkah bagusnya jika  kamu mau mengambil jurusan PGTK,” ucap Ibuku.

 

“Guru TK? Risa tidak terlalu menyukai anak-anak Bu,”jawabku mencoba mengelak.

 

“Nabi Muhammad menyuruh kita untuk menyayangi orang tua dan anak-anak mau mengelak juga,” tambah Ibu. “Baiklah, Risa akan berpikir ulang.”

 

Sebuah percakapan pendek yang menghancurkan impianku. Apa aku harus mengikuti impian Ibuku yang sama sekali tak aku sukai, atau impian yang selama ini kucari dan aku begitu mencintainya. Satu-satunya hal yang harus kulakukan adalah dengan membuktikannya bahwa aku benar-benar serius akan impianku. Dan dengan membuktikannya adalah dengan menaikkan nilai mata pelajaran menghitungku khususnya kimia. Tetapi, karena aku bukanlah orang pintar dan tidaklah ambisius, aku…

 

“Remedial? Aku memang layak untuk ini. Seorang pecundang  sepertiku, memang layak untuk terus mendapatkan remedial. Pecundang yang tak pernah belajar dari kesalahan dan terus terjatuh  dalam lubang yang sama. Aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang  pejuang. Tapi apalah daya  aku berakhir menjadi seorang pecundang. Dia bilang ” I am not loser, but i am closer to my dream." Sebuah kalimat yang ku kutip dari sebuah komik karya orang lain.

 

Air mataku tak terbendung lagi, aku menangis untuk melupakan masalah ini. Ini bukanlah kali pertama aku mendapat remedial. Hampir disemua pelajaran aku mendapatkan remedial. Tapi aku tak pernah berubah akan kegagalan itu. Bukan karena tak mau tetapi karena aku adalah orang yang cepat melupakan masalah , sehingga rasa ambisiusku akan hilang seketika.

 

Teman temanku 1,2,3,5 tidak…7 orang rival berada di sekelilingku. Bahkan teman  dekatku sendiri  nilainya selalu tinggi. Fisika, Kimia, MTK, Biologi dan yang lainnya. Aku bukan hanya lemah perhitungan tapi juga lemah dalam hafalan. Tetapi jika aku boleh jujur aku tidak mau  terjatuh dan berada di jurang yang sama secara terus menerus.“Someone, help me!!."

 

Tak ada satupun yang mendengar teriakan itu, bahkan diriku sendiri. Orang tuaku adalah orang yang terpandang di desa. Mereka juga menganggapku pintar. Tapi , aku tidaklah sepintar itu

 

“Oh..kau ya anak Ibu Yati, Ibu mendengar dari anak Ibu katanya kamu sangat pintar."

“Dia itu sangat pintar,bahkan dia juara umum di sekolah kami dulu.” Begitulah pendapat mereka padaku.

 

“Apa tak ada yang mau membantuku? Apa tak ada yang kasihan padaku? Mereka hanya mengatakan, mereka tak tahu beban apa yang kutanggung karena ucapan mereka. ” Aku hanya berteriak dalam hati. Aku melihat langit yang cerah dan berawan. Sangat indah, dalam hati kuberkata.

 

“Subhanallah, indahnya. Inilah yang kulupakan. Sebanyak apapun masalah, Allah tak pernah jauh. Allah selalu dekat. Aku sendiri yang hanya membebani diri sendiri. Bukankah seharusnya aku berdo’a dan bertanya akan kesusahan ini? ”

 

“Apa sebaiknya aku bertanya kepada kakakku? " Aku mengambil Hp ku dan mencari kontak Hp kakakku.

 

“Hallo, assalamu’alaikum.”

 

“Wa’alaikum salam. Ada apa? Tumben menelpon Kakak," ucap kakak.

 

“He...he...Sebenarnya Risa menelpon untuk mendengar pendapat Kakak soal kuliah,"  ucapku.

 

“Oh..ya...Kakak sudah mendengarnya dari Ibu. Jika mau masuk PGTK, bagus, mudah, tapi didalam dunia kerja, gajinya bisa dikatakan murah. Kakak tahu, kamu tidak terlalu memikirkan hal itu. Tapi mengingat zaman yang sudah berkembang dan kebutuhan yang semakin tinggi, alangkah baiknya kamu memikirkan hal itu juga.” Saran kakak laki-lakiku. Aku terdiam beberapa saat.

 

“Kamu mau masuk farmasi’kan? Bagus sih, tapi untuk dunia kerjanya cukup rumit. Kenapa tidak masuk kebidanan?”

 

“Maaf Kak, Risa tidak tertarik dengan kebidanan. Untuk selanjutnya akan Risa pikirkan.”

 

“Okelah kalau begitu, Kakak akan mendo’akan yang terbaik untukmu.”

 

“Terima kasih Kak, sudah dulu ya. Assalamu’alaikum.”

 

“Iya. Wa’alaikum salam.”Kami saling menutup telepon. Aku terduduk di kursi kamar dengan malas, pikiranku kacau.

 

“Apa orang lain pernah sesulit ini hanya dalam memikirkan perkuliahan. Jika aku masuk farmasi, semua pelajaran menghitungku rendah, apa lagi Kimia. Aku hanya berpikir, apa aku mampu nantinya untuk melewati dunia perkuliahan yang sibuk itu? Jika aku mangikuti keinginan Ibuku, rasanya memang terpaksa, tetapi aku yakin pilihan Orang tua adalah yang terbaik. Tapi apa aku harus meninggalkan impianku? Impian yang selama ini kucari, dan setelah kujumpai, aku harus melepaskannya demi mengejar impian yang diajukan oleh Ibuku.”

 

Lamunanku buyar setelah melihat seekor Siput berjalan memanjat sebuah pohon di depan halaman rumahku. Aku keluar dari kamarku dan langsung menuju di mana Siput berada. Aku duduk bersimpuh dan melihat Siput yang hendak menuju puncak pohon itu. “Kau sangat lamban ya. Kau juga dianggap hama. Jika temanku disini, mungkin kau sudah mati dari tadi," gumamku. Tak berapa lama, Siput itu jatuh dengan tiba-tiba. Aku terkejut dan mencoba menangkapnya agar tidak bersentuhan dengan bumi.

 

“Fuuh..untung saja. Kau tidak apa Siput kecil?”, ucapku sambil membuka genggaman tanganku yang  berisi Siput itu. Aku melihat Siput itu menggulung dan masuk ke cangkang miliknya.

 

“Kasihan, padahal kau sudah bersusah payah menuju ke atas. Apa yang kau lakukan jika terjatuh? Apa kau akan mencoba untuk naik lagi? Apa kau--” aku berhenti bicara pada Siput itu, sebuah kalimat muncul di benakku. “Terima kasih Siput, aku mendapat sebuah pengajaran darimu.”

 

Aku meletakkan Siput itu di cabang pohon kira-kira tepat tujuannya. Dan aku pergi meninggalkan pohon itu secepatnya. Belajar tidak semestinya dari buku. Belajar bisa dari manapun, termasuk alam. Dan cita-cita bukan hanya terkait dengan sebuah profesi namun labih dari itu ia adalah sebuah tujuan hidup. Karena itu aku tersadar, pilihan ada ditanganku pilihan saat ini., adalah jalan menuju masa depanku. Karena itu...

 

“Bismillah, kemanapun aku melangkah, aku berharap yang terbaik untuk masa depanku. Apapun pilihanku, aku akan melihat bagaimana hasilnya. Karena seperti Siput itu, lemah, rapuh, lamban dan dibenci. Dia tidak pernah menyerah untuk menempuh ke tujuannya. Dengan ketekunannya ia mampu melampaui tempat terjauh. Dia mengajarkan bisa bukan karena cerdas dan kuat, tetapi karena ketekunan. Bahkan jika ia terjatuh, akan ada air kesembuhan yang akan membantunya, bahkan jika ia terjatuh akan ada seseorang yang membantunya. Allah tak akan memberi ujian dibatas kemampuan hamba-Nya. Jika kau terjatuh, jangan pernah lupa kalau Dia selalu bersamamu, Dia menunggumu untuk berdo’a dan meminta kasih-Nya.”

 

9 tahun kemudian, seorang ibu mendekatiku dan bertanya, “Bu Risa, bagaimana dengan anak saya, Bu?” “Oh...Bu Nia, anak Ibu selama di sekolah ini dia bersikap dengan sangat baik dan dia sudah bisa membaca dan menulis, ” jelasku. “Terima kasih, Bu ” balasnya. Tak lama setelah ibu Nia pergi, aku mengambil tas dan pergi menuju parkir. “Ha...h..banyak sekali kendaraan di sini. ” Setelah menemukan sepeda motor milikku, aku menariknya keluar dan meluncur menuju rumahku. “Alhamdulillah, akhirnya sampai.” Tak lama, aku pun turun dari sepeda motorku.

 

“Apa Siput itu masih disana?” aku berjalan mendekati pohon yang memberikanku kenangan 9 tahun yang lalu. Walau kau sudah tiada, tapi pengajaranmu akan selalu kuingat.

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani