Profil instastories

Ilusi Hati

Kehilangan adalah resiko terbesar dari mencintai. Layaknya perasaan yang mati di dalam hati. Sudah berapa kali kutegaskan padamu soal ini? Mengapa kau tak kunjung mengerti? Bukannya aku takluk pada masa lalu. Namun, bagian terbaik dari patah hati adalah belajar dari peristiwa yang pernah terjadi.

Kini, haruskah aku kehilangan untuk kesekian kali? Kembali meretas sepi dalam keramaian yang terjadi? Kemudian beradu pilu pada luka yang mengiris hati? Mengapa kehilangan selalu menjadi hadiah terindah dari sosok yang kucintai?

Bibirku melengkung, membentuk sebuah senyum simpul. Memutar kembali segenap cerita yang tengah mengepul. Ketika seberkas sinar datang menyapa dalam gelapku. Membuatku bangkit dalam keadaan jiwa yang tengah rapuh. Senyum terindah, yang belum pernah lagi kulihat sejak aku kehilangan permataku. Tawa termanis, yang sepertinya takkan pernah membuat hati teriris.

Aku kembali menaruh harap, kembali mengumpulkan kepingan hati yang telah luluh lantak tak tersisa. Kembali mencipta tawa, sembari melupa apa yang pernah terjadi sebelumnya. Dalam harapku, ada seuntai doa yang tak lepas kupanjatkan pada tuhanku. Semoga kali ini, tak akan ada lagi hadiah terindah yang diberikan oleh poros duniaku.

Kamu, adalah wanita terindah yang tuhan ciptakan untukku. Alasan aku masih bernapas hingga saat ini. Kekuatan terhebat, yang mampu kalahkan letihku. Penyemangat terkuat, saat rapuh tengah hadir menyapa dalam kesunyianku. Aku mohon sekali lagi, jangan pernah menjadi penghancur harap yang kau berikan sendiri.

Ketika aku mengatakan hal semacam itu untuk kesekian kali, kau selalu menjawabnya dengan perkataan yang menenangkan hati. Benar-benar bidadari yang layak kuperjuangkan sampai mati. Kutegaskan sekali lagi, aku tak mau lagi terlukai, apalagi terjerat sendu tak bertepi, yang disebabkan oleh orang yang amat kucintai.

Senja selalu menjadi penghantar cerita berurai tawa. Bersama candaan sederhana, aku melihat wajahmu dengan penuh suka cita. Lentik matamu berkedip, mengusir debu yang hendak mengintip. Tawa tak pernah lepas dari wajah sehangat senja yang selalu kita nikmati bersama.

Terkadang aku berpikir, sepertinya senja memilih undur diri, sebab merasa kurang percaya diri bersanding dengan senyuman seindah mentari pagi. Bidadari tak bersayap yang berada di sebelahku dengan senyum manis tanpa glukosa. Kecantikan yang tak dibuat-buat, membuat hatiku terjerat.

Keinginan memiliki membuatku selalu ingin bersama dalam setiap masa. Merasa jarak adalah pemisah paling tega, yang membuat hatiku gelisah dibuai jelaga. Membuat waktu rasanya tak pernah berbaik hati dengan membiarkanku berlama-lama bersamamu. Membuat senja menjadi hal paling berarti yang selalu kutunggu di setiap hari.

Di bawah sinar jingga kemerahan, aku menulis cerita bahagia kita. Dengan tak lupa menaruh doa, agar mampu bersama denganmu untuk selama-lamanya. Agar kita senantiasa menjadi satu kata penuh makna. Berhias janji setia, sehidup semati selamanya.

Aku sungguh mencintai sepenuh hati, juga tak bosan bersahabat dengan harap tak pasti. Kamu adalah keraguan yang aku nyatakan. Impian yang aku semogakan. Keajaiban yang aku harapkan. Hingga berujung sakit hati yang kunikmati.

Ya, lagi-lagi aku hanyalah menjadi sebuah ambisi bagi peri kecil tak punya hati. Pelangi yang mengkhianti janji. Pendusta yang tak mengerti arti setia. Lagi-lagi aku kalah dalam percintaan yang kuperjuangkan. Kembali memungut sisa senyum yang terhampar oleh jingga. Mencari jejakmu dalam sebersit ingatan yang menjelma menjadi penyesalan.

Apakah aku tak pantas untuk dicintai setulus hati? Apa yang salah dengan diri ini? Kenapa lagi-lagi aku hanya menjadi sebuah ambisi? Sosok yang kau kejar mati-matian. Namun, kau campakan ketika sudah kau dapatkan. Sebesar apakah kepuasan yang kau dapatkan, ketika mencampakanku dengan begitu kejam?

Semenyenangkan apa mengejarku sebagai sebuah ambisi yang harus kau penuhi? Apakah aku hanya menjadi pion kecil dalam permainanmu? Apakah aku hanya mampu menjadi pemimpi yang tak pernah dibiarkan untuk tercipta nyata? Tak pernah adakah aku dalam daftar orang yang kau cintai setulus hati?

Apa salahku pada hidup yang kujalani? Mengapa sosok yang kucintai selalu memberikan hadiah terindah berulang kali? Aku sudah bosan menerimanya, sudah enggan berurusan dengan kecewa, sudah bosan mencoba dan akhirnya terlukai berulang kali. Jika nantinya akan pergi, mengapa harus mencintai dan mengucap janji?

Kopi pahit bahkan terasa jauh lebih nikmat daripada patah hati berulang kali. Mengenangmu tak pernah seindah mengurai duka dengan lara. Hujan tak pernah seindah senja yang kunikmati bersama bayangmu. Peri kecil yang hanya menganggapku sebagai ambisi semata, seseorang yang amat ingin kau dapatkan dan kau campakan secara bersamaan.

Sebenarnya, apa itu ambisi? Apakah berupa sebuah ilusi hati yang membutakan nurani? Mengapa aku selalu berurusan dengan patah hati? Apakah aku tak pantas untuk dicintai? Tak usah membuatku merasa tinggi hati, jika berujung pergi tanpa balas janji.

Berulang kali aku bercerita tentang masa lalu yang membuatku terpuruk dalam sendu. Tentang bagaimana aku tak lagi bersemangat untuk kembali jatuh hati. Tentang bagaimana aku patah hati untuk kesekian kali. Juga tentang bagaimana wanita yang kucintai hanya menganggapku sebagai sebuah ambisi.

Kau menyikapi semua kataku dengan seksama. Berbagai pengertian coba kau utarakan. Membuat hati ini yakin bahwa kau adalah rumah untuk hatiku pulang di kala senja sedang menampakkan pesonanya. Begitu juga menjadi tempat hatiku memulai hari, ketika mentari menebarkan segenap energi.

Wajah yang akan selalu aku lihat setiap hari. Sejak pagi, hingga menjelang malam hari. Dengan tak bosan menguntai bahagia dengan cara yang sederhana. Sebuah rumah kecil akan menjadi tempat kita mengukir segala cerita yang akan di kenang sepanjang masa. Nama kita akan selalu menjadi pembicaraan anak cucu kita nanti.

Lagi-lagi aku menyadari, semua itu hanyalah mimpi. Sebuah janji yang pernah kita ucap di bawah senja yang menenggelamkan mentari. Kala itu, bahuku adalah tempat bersandar ternyaman bagimu. Tempat kau bergelayut manja, hingga menangis tersedu. Aku terhimpit masa lalu, meraba hangat yang masih terasa di sana. Bayangan tentangmu serta-merta datang menghampiri. Apakah aku merindu? Ataukah hanya sebuah ilusi hati yang membeku?

Mengingat masa lalu, menyadarkanku tentang satu hal berarti. Aku pernah menjadi poros duniamu, pernah menjadi alasan bahagiamu, pernah menjadi tempat bersandar paling hebat yang mampu membuatmu nyaman sepanjang saat, juga menjadi tempat hatimu pulang dengan berjuta cerita yang tak pernah bosan kita tertawakan bersama.

Denganmu, bahagia menjadi sangat sederhana. Semua bukan tentang materi, fisik, ataupun jabatan yang kupunya. Hanyalah sekedar kebersamaan yang terjalin dengan istimewa. Tawamu menjadi kewajiban yang harus selalu kuciptakan. Karena tugasku adalah memastikan bahwa hidupmu akan selalu diliput dengan bahagia. Tak apa aku menjadi debu, agar kau tak perlu mengenal sendu.

Melepas cinta, agar tetap merasa bahagia. Mengecap duka, walau hati tak terima. Aku terlalu risih untuk diberi kasih. Terlalu sensitif bersamamu yang primitif. Hingga terlalu kecewa untuk kembali jatuh cinta. Sebenarnya, apa yang kau mengerti tentang cinta? Tentang janji setia, hingga bahagia bersama selamanya? Aku terluka, untuk melihatmu bahagia.

Berapa harga yang harus kubayar untuk layak diperjuangkan? Berapa kali lagi harus merasa patah hati agar layak dicintai? Aku sudah begitu bosan, jika harus selalu menjadi alasan sebuah ambisi. Sosok yang begitu diinginkan dan dicampakan secara bersamaan. Apa aku memang tak pernah pantas untuk dicintai setulus hati?

Padamu hati, bersahabatlah dengan harap tak pasti. Karena kita selalu terpaut oleh yang namanya ambisi, teman setia dari patah hati. Silahkan nikmati perih berulang kali, yang diciptakan oleh peri kecil yang amat kau cintai.

 

-TAMAT-

 

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani