Profil instastories

Hutanku pengimbang rumah kita yaitu bumi

Hutanku pengimbang rumah kita yaitu bumi

(karya : Uswatun Khasanah)

“Sayang sekali ya, mungkin sebentar lagi kita tidak dapat melihat pemandangan alam yang alami dan indah ini,” kata Hendra penuh khawatir. 

“Apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkannya?” kata Iwan memandang ke arah hutan pinus sebelah Desa Kalijero. 

Hendra dan Iwan merupakan warga pendatang baru di daerah lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Kalijero, Yogyakarta. Mereka sehari-hari bekerja sebagai guru honorer di salah satu sekolah SMP di daerah tersebut. Awal kedatangannya mereka disambut dengan antusias oleh warga Desa Kalijero. Para warga berharap kedatangannya mereka dapat membantu menemukan solusi untuk permasalahan yang sedang dihadapi oleh warga Desa Kalijero. Hendra dan Iwan yang kebetulan berasal dari kota merasa sangat senang dengan sambutan para warga. 

Pada hari pertama mereka berada di Desa Kalijero, sebagian besar warga berkumpul di depan rumah Pak Lurah karena mereka berdua untuk sementara tinggal di rumah Pak Lurah yang kebetulan rumahnya hanya dihuni berdua bersama istrinya, anak-anaknya sudah berkeluarga, dan tinggal di luar kota semua. Para warga saling berebutan mencari posisi yang paling depan untuk sekedar menyapa atau melihat mereka berdua.

Seiring dengan berjalannya waktu, Hendra dan Iwan sudah sangat akrab dengan para warga sekitar. Suatu hari ketika Hendra tidak ada jadwal mengajar ia menyempatkan membantu salah satu warga yang bernama Pak Sunaryo.

 “Mas, kemungkinan apa yang terjadi ketika pohon-pohon disitu dirombak habis?” kata Pak Sunaryo sambil menunjuk ke arah hutan pinus yang lebat.

 Dengan berpikir keras sambil mengingat-ingat informasi yang pernah dibacanya Hendra mencerna pertanyaan Pak Sunaryo kemudian dengan hati-hati ia menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Pak Sunaryo menanggapinya dengan sesekali manggut-manggut dan helaan napas yang berat. Hal itu membuat Hendra penasaran mengapa Pak Sunaryo menanyakan pertanyaan semacam itu dan apa hubungannya dengan ekapresi wajah sedihnya. Hendra merasa ada sesuatu yang belum diketahui dan merasa janggal. “Maaf pak sebelumnya, mengapa bapak menanyakan hal seperti itu?” kata Hendra hati-hati.

 “Sebelum kalian datang ada dua orang asing yang berpenampilan rapi dan menggunakan mobil merah kinclong datang ke rumah Pak Lurah, dan kebetulan waktu itu saya ada disana. Awalnya kami kaget karena merasa orang tersebut sangat asing dan belum pernah bertemu. Setelah dipersilahkan masuk oleh Pak Lurah mereka mulai memperkenalkan diri dan dilanjutkan mengatakan tujuannya datang ke rumah Pak Lurah,” kata Pak Sunaryo sambil menghela napas yang terasa berat. “Ternyata dua orang tersebut menawarkan kerja sama pada kami. Entah tau darimana mereka bisa tau kalau masyarakat menganggap kami sebagai sesepuh Desa Kalijero,” jelas Pak Sunaryo yang sesekali meneguk teh yang dibawanya dari rumah yang sudah mulai dingin.

 “Kerja sama?” tanya Hendra penasaran sekaligus bingung kemanakah arah pembicaraannya dengan Pak Sunaryo ini. 

“Ya kerja sama, mereka menawarkan sejumlah uang untuk kami, tetapi kami menolak mentah-mentah. Tidak sampai disitu saja, mereka terus saja mengiming-imingi akan dibelikannya mobil mewah bahkan kami juga diiming-imingi akan dibuatkannya rumah yang dananya lebih dari 1 M. Tetapi kami keukeh tetap tidak mau menerima kerja sama tersebut,” lanjut Pak Sunaryo. Dari kata-katanya Pak Sunaryo terlihat dengan jelas kalau Pak Sunaryo tidak menyukai tawaran-tawaran yang ditawarkan oleh dua orang asing itu. 

“Mengapa bapak menolak? Siapa tau itu memang rezeki bapak. He he,” Kata Hendra bercanda berharap agar pembicaraannya tidak terlalu tegang seperti ini. Tetapi tak disangka-sangka tanggapannya Pak Sunaryo lebih mengerikan. Tatapannya Pak Sunaryo berubah menjadi tatapan tajam yang mengarah ke arah Hendra. Tatapannya semacam tatapan singa lapar yang sedang marah. Menyadari hal itu Hendra gelagapan dan buru-buru meminta maaf. “Maaf pak, jika dalam ucapan saya tadi ada kata yang menyinggung perasaan bapak. Saya sebenarnya masih bingung dengan arah pembicaraan kita ini. Permasalahan apa yang sedang dihadapi warga Desa Kalijero? Apakah bapak akan memberitahukan kepada saya?” kata Hendra hati-hati dan penuh penyesalan. 

“Ya mas, saya maafkan,” kata Pak Sunaryo. Hendra merasa lega ketika melihat tatapan Pak Sunaryo sudah berubah menjadi Pak Sunaryo yang ramah seperti yang dikenalnya. Melihat hal itu Hendra menahan senyum di wajahnya sambil mengucap kata syukur di hatinya. “Saya lanjutkan cerita saya yang tadi ya, tadi sudah sampai dimana ya mas? Hehe. Maklum ya mas, sudah tua jadinya mudah lupa,” kata Pak Sunaryo terkekeh. 

“Nggih pak, sampai ketika bapak menolak tawaran-tawaran dari dua orang asing itu,” kata Hendra menahan senyum. 

“Oh iya bapak sudah ingat. Setelah tawaran-tawarannya tidak membuahkan hasil karena kami berdua keukeh dengan pendirian kami dua orang tersebut memohon izin untuk pamit. Sebelum mereka pamit di antara mereka ada yang melirik cangkir teh yang dihidangkan di atas meja dengan malas. Tadinya tehnya itu masih panas tetapi karena saking seriusnya pembicaraan kami tehnya sudah menjadi dingin. Mereka pun jadi enggan untuk meminumnya, mungkin juga karena malu tawaran-tawarannya kami tolak mentah-mentah,” kata Pak Sunaryo puas. “Ketika dua orang asing dengan setelan kemeja lengkap dengan jas dan dasi itu masuk ke mobil mewahnya menghilang di tikungan jalan depan kami langsung tertawa. Bocah lagi wingi sore kok arep neko-neko karo wong tuwo. (Anak baru kemarin sore kok mau aneh-aneh sama orang tua),” kata Pak Sunaryo sambil mengingat-ingat pembicaraannya di rumah Pak Lurah dengan dua orang asing yang berpenampilan ala orang kantoran di kota-kota besar itu. Pak Sunaryo yang tadinya tertawa kembali murung. Karena penasaran dengan perubahan yang tiba-tiba seperti itu Hendra bertanya lagi, tentunya dengan nada hati-hati dan was-was jangan sampai menyinggung perasaannya Pak Sunaryo lagi. 

“Ada apa pak, kok sepertinya bapak sedih?” tanya Hendra heran.  

“Selang beberapa hari, ternyata dua orang asing itu datang lagi ke Desa Kalijero. Kali ini tujuannya bukan rumah Pak Lurah lagi ataupun rumah saya tetapi rumah Mbah Kyai. Saya mengetahui itu juga karena Mbah Kyai sendiri yang cerita waktu ada pertemuan rutin di pondok Desa Kalijero,” lanjut Pak Sunaryo dengan menghela napas yang sepertinya menyesakkan dada.

Hendra masih termenung mendengar cerita Pak Sunaryo. Pak Sunaryo melanjutkan ceritanya ketika ada burung yang sedang berkicau dengan merdunya, Hendra sampai bimbang mau mendengarkan kicauan burung yang merdu atau mendengarkan lagi cerita Pak Sunaryo dan akhirnya pilihannya tertuju untuk mendengarkan cerita Pak Sunaryo lagi walaupun masih terdengar kicauan burung tadi.  

“Dua orang asing itu juga membujuk Mbah Kyai untuk menandatangani persetujuan pembukaan lahan hutan pinus itu untuk dijadikan lahan tambang pasir. Selain itu, akan diturunkannya juga alat berat untuk menggali lahan tersebut yang tentunya dan sudah pasti akan merusak lingkungan alam dan mungkin akan terjadi juga kemungkinan-kemungkinan yang Mas Hendra tadi sebutkan. Apakah seimbang jika semua itu ditukarkan dengan tawaran-tawaran materi yang sifatnya hanyalah sementara? Lalu apa yang akan kami wariskan kepada anak cucu kami jika kami sampai tergiur dengan tawaran-tawaran yang bersifat sementara itu? Apa mereka pikir tawaran-tawaran materi mereka sebanding dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang ya? Saya rasa, mereka tidak memikirkan sampai disitu, dan di pikirannya hanya memikirkan bagaimana caranya untuk mendapatkan keuntungan yang banyak!” jelas Pak Sunaryo dengan nada penuh amarah yang dipendam. Hendra yang berada di sampingnya merasa ngeri menyadari hal itu. 

“Hah... Jadi mereka datang dengan tujuan untuk meminta persetujuan para sesepuh agar mengizinkan mereka merombak hutan pinus itu menjadi lahan penambangan pasir pak?” kata Hendra kaget, setelah mendengarkan cerita Pak Sunaryo yang panjang lebar itu Hendra baru sadar sekarang mengapa tadi Pak Sunaryo bisa semarah tadi menanggapi perkataannya, dan sekarang ia sudah paham kemanakah arah pembicaraannya dan hubungan-hubungannya antara beberapa hal yang tadinya membuat ia dilanda rasa bingung dan penasaran. Pak Sunaryo manggut-manggut tanda membenarkan pertanyaan Hendra. “Lalu bagaimana tanggapannya Mbah Kyai, pak?” lanjut Hendra. 

“Alhamdulillah, Mbah Kyai juga menolak keras dengan tawaran-tawaran itu. Mbah Kyai juga ngendiko bahwa beliau akan sangat merasa berdosa kepada alam dan Sang Maha Pencipta jika harus mengorbankan alam demi menerima kesenangan dunia yang hanya sesaat. Apalagi beliau sudah diberi amanah untuk menjadi teladan di lingkungan masyarakat. Beliau akan tetap mempertahankan alamnya agar tetap terjaga walaupun mungkin banyak tangan manusia yang ingin merusaknya,” jawab Pak Sunaryo tenang sambil membereskan peralatan sawah yang dibawanya dari rumah. 

Hari sudah semakin sore dan sebentar lagi akan tiba waktunya sholat Ashar untuk itu Pak Sunaryo mengajak Hendra untuk pulang. 

“Lalu apakah sudah ada rencana untuk ke depannya pak?” tanya Hendra yang sudah berjalan di samping Pak Sunaryo. 

“Sampai saat ini kami belum ada rencana, makanya kami berharap dengan kedatangannya Mas Hendra dan Mas Iwan di desa ini permasalahan ini akan menemukan solusi. He he,” kata Pak Sunaryo berharap. 

“Insyaa Allah pak, semoga Allah memudahkan urusan kita,” kata Hendra menghibur. 

“Aamiin… terima kasih mas sudah membantu saya di ladang, saya duluan ya. Assalamualaikum,” kata Pak Sunaryo berpamitan. 

“waalaikumusalam wr wb,” jawab Hendra dengan ramah.

Mereka berdua berpisah di pertigaan karena tempat tinggalnya memang tidak searah. Hendra berjalan sendirian menuju rumah Pak Lurah sambil berfikir apa yang harus ia lakukan untuk membantu warga Desa Kalijero dalam memecahkan masalah ini, dan ide untuk berdiskusi dengan Iwan pun muncul. “Mungkin saya harus meminta pendapat Iwan juga dalam memecahkan masalah ini, siapa tau dia punya saran-saran yang tepat. Semoga saja,” batin Hendra semangat.

“Baru pulang kau?” tanya Iwan saat berpapasan dengan Hendra di ruang tamu yang sudah siap menuju masjid.

 “Iya nih, ada hal penting yang nanti harus kita bicarakan,” kata Hendra buru-buru masuk kamar mandi. 

“Apa itu?” tanya Iwan penasaran. 

“Nanti saja saya kasih taunya,” jawab Hendra dari bilik kamar mandi. 

Tidak disangka ada Pak Lurah yang menyaksikan tingkah konyol dua pemuda yang tinggal di rumahnya itu, beliau hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Iwan baru menyadari ketika ia membalikkan badan menuju pintu.

 “He... he... maaf pak, kalau tingkah kami tidak sopan,” kata Iwan dengan muka merah karena malu dan merasa bersalah.

 “Iya tidak apa-apa, saya juga pernah muda kok. Anggap saja ini seperti rumah kalian sendiri,” kata Pak Lurah ramah sambil menahan senyum. 

“Terimakasih pak, saya berangkat ke masjid dulu ya pak. Assalamualaikum,” pamit Iwan sambil cium tangan Pak Lurah. 

“Ya, nanti bapak menyusul. Waalaikumsalam wr wb,” jawab Pak Lurah lalu berlalu ke kamar tidur untuk siap-siap ke masjid.

Hendra dan Iwan pulang dari masjid setelah sholat Isya' berjamaah di masjid. Semenjak mereka berdua tinggal di Desa Kalijero, setiap menjelang Ashar sampai Isya' mereka selalu mengikuti kegiatan di pondok Desa Kalijero.

“Assalamualaikum... ” kata Hendra dan Iwan hampir bebarengan setelah Iwan membuka pintu. 

“Waalaikumsalam wr wb...” terdengar suara Pak Lurah dan Bu Lurah menjawab salam dari ruang makan.

 Hendra dan Iwan bergegas menghampiri mereka karena kamar mereka terletak di samping ruang makan.

 “Ayo makan nak, mumpung masih anget makanannya,” kata Bu Lurah sambil menyiapkan hidangan makan malam. 

“Nggih bu... ” jawab Hendra dan Iwan bersamaan lalu berlalu menuju kamar untuk meletakkan peci dan sarungnya, kemudian mereka keluar lagi bergabung dengan Pak Lurah dan Bu Lurah di ruang makan. Walaupun makan malamnya hanya dengan menu sederhana tetapi tetap terasa nikmat, mungkin karena suasana rumah yang menyenangkan juga apalagi sesekali Pak Lurah melontarkan guyonan yang membuat orang serumah tertawa.

Setelah acara makan malam usai Pak Lurah meminta Iwan untuk mengikuti ronda malam, dan mempersilahkan Hendra untuk istirahat karena Hendra pasti sudah kecapekan setelah membantu Pak Sunaryo tadi siang di ladangnya. Sebenarnya Hendra juga ingin ikut ronda malam tapi Pak Lurah memaksanya untuk istirahat di rumah saja apalagi besok ada jadwal mengajar di sekolah dari pagi sampai siang.

Ketika Pak Lurah dan Iwan sudah keluar rumah Hendra menuju kamarnya, rencana diskusi dengan Iwan yang tadinya akan dilakukannya malam ini terpaksa diundur. Hendra pun mengalah, karena kantuk juga belum datang maka diambilnya laptop yang ada di laci mejanya. Ia mulai sibuk mencari informasi-informasi di internet mengenai masalah yang tadi dibicarakan oleh Pak Sunaryo. Saking semangatnya mencari berbagai informasi dari beberapa alamat web tak terasa malam sudah semakin larut, ditengoknya jam yang menempel di dinding ternyata sudah pukul 23.00 malam. Menyadari besok ia harus bangun pagi dan mengajar di sekolah maka ia menyudahi pencarian informasinya, ditutuplah laptopnya dan diletakkan di laci seperti semula. Matanya sudah semakin pedes dan menguap berkali-kali tanda badannya ingin segera diistirahatkan, ia pun langsung terlelap dalam tidurnya.

***

Adzan Shubuh sudah berkumandang, terdengar suara sahut-sahutan adzan Shubuh dilengkapi suara kokok ayam jago dari kandang yang menandakan hari siap untuk dimulai. Hendra bangun dan melakukan aktivitas paginya.

 “Wan, saya sudah dapat berbagai informasi tentang yang akan kita diskusikan nanti,” kata Hendra sambil menyiapkan keperluan yang akan dibawa ke sekolah.

 “Iya kah? Saya kok jadi semakin penasaran dengan apa yang akan kita diskusikan,” kata Iwan penasaran sedangkan Hendra menanggapinya hanya dengan senyuman jailnya. “Okelah, saya akan bersabar menunggu jawabannya sampai kamu pulang mengajar, dan kita harus bicarakan dengan segera biar saya tidak penasaran lagi!” kata Iwan pasrah. Hendra mengacungkan jempolnya dan berpamitan untuk berangkat.

***

Tepat pukul 13.30 Hendra pulang dari mengajar, wajahnya terlihat kelelahan dilihatnya Iwan yang sedang memberi makan ayam. 

“Jadi hari ini kan Wan?” tanya Hendra sambil mendekati Iwan yang rupanya sedang kerepotan sedangkan Hendra masih lengkap dengan pakaian kantornya. 

“Eh... iya. Sebentar ya. Lebih baik kamu makan siang dulu saya tadi sudah makan bareng Pak Lurah dan ini saya juga belum beres,” jawab Iwan sambil sesekali meringis karena tangannya dipatuk ayam.

 Setelah urusan Hendra dan Iwan selesai mereka menuju tempat untuk diskusi yaitu pinggir kolam Pak Sunaryo yang berada di ladangnya, yang sebelumnya Iwan sudah meminta izin untuk memancing di kolamnya karena memang memancing merupakan salah satu hobi Iwan dan kebetulan beberapa minggu yang lalu Pak Sunaryo sudah menawarkan untuk memancing di kolamnya tapi belum terlaksana karena sibuk dengan kegiatan dan baru kali ini sekalian diskusi dengan Hendra.

Sebenarnya Hendra keberatan kalau sambil memancing, tapi akhirnya ia mengalah dan mengikuti keinginannya Iwan. Mereka menuju ladang Pak Sunaryo tak lupa membawa peralatan memancingnya. 

“Sayang sekali, mungkin sebentar lagi kita tidak dapat melihat pemandangan alam yang seindah ini” kata Hendra mengawali diskusinya dengan nada putus asa. Iwan hanya bengong mendengar pernyataan Hendra barusan dan bingung tidak tau menahu apa maksudnya. Ditatapnya Hendra dengan tatapan meminta penjelasan. Hendra yang tau maksud tatapan Iwan langsung menceritakan secara detail apa yang sedang terjadi di Desa Kalijero. 

“Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkannya?” tanya Iwan sedih. “Kita harus menghentikannya!” kata Hendra geram. 

“Gimana caranya?” tanya Iwan antusias. 

Hendra menjelaskan cara yang dimaksudnya dengan jelas, sesekali Iwan manggut-manggut tanda setuju dan sesekali memberi masukkan. 

Tak terasa hari sudah mulai sore, mereka memutuskan untuk mengakhiri diskusinya dan menentukan langkah awal yang akan dilakukannya. Mereka pun pulang dengan membawa ikan hasil memancingnya.

 “Assalamualaikum pak... ” sapa Iwan. 

“Eh, Mas Iwan. Waalaikumsalam wr wb,” jawab Pak Sunaryo ramah. “Pak, maaf mengganggu waktunya, bisakah bapak nanti malam setelah sholat Isya' datang ke rumah Pak Lurah? Ada hal penting yang akan kami bicarakan,” jelas Iwan. 

“Hal penting? Oh ya, Insyaa Allah akan saya usahakan untuk datang,” jawab Pak Sunaryo.

 “Iya pak, terima kasih sebelumnya,” kata Iwan sambil memohon pamit untuk pulang.

***

Bu Lurah sudah menyiapkan jamuan untuk malam ini. Seperti biasanya masakan Bu Lurah sederhana tapi rasanya pasti lezat. Ketika Pak Sunaryo datang, semua sudah berkumpul di ruang makan. Pak Sunaryo yang sudah dipersilahkan masuk oleh Bu Lurah kaget karena langsung disuruh menuju ruang makan.

“Lho... ini lagi ada syukuran? Kok saya diundang mendadak begini?” canda Pak Sunaryo. 

“Monggo pak, ini lho pak katanya jenengan juga harus mencicipi ikan hasil tangkapan Hendra dan Iwan dari kolamnya jenengan,” jawab Pak Lurah ngasal dan disambut tawa oleh semua orang yang hadir di ruang makan itu. 

Acara makan malam berjalan nikmat, sesekali Pak Lurah dan Pak Sunaryo bergantian melempar guyonan yang membuat tertawa. Dari sinilah diketahui bahwa Pak Lurah dan Pak Sunaryo ini bersahabatan sejak kecil. Mereka berdua menceritakan suka dukanya yang dilalui mereka berdua. 

Tak terasa acara makan malam telah usai, mengingat pembicaraan ini sangat penting Pak Lurah mengajak mereka bertiga ke ruang tamu. 

Pak Sunaryo baru ingat mengapa ia diundang kesini “ada hal penting,” batin Pak Sunaryo menjawab pertanyaan yang ada di pikirannya. Pak Lurah memulai diskusi malam ini dengan sangat serius. Pak Sunaryo yang awalnya bingung kemanakah arah penbicaaran kali ini dan setelah mendengar pemaparan Pak Lurah ia mengerti kemana arah pembicaraannya. Hendra yang sebelumnya sudah dipersilahkan untuk menyampaikan ide dengan antusias memparkan hasil diskusi bersama Iwan tadi siang sedangkan Pak Lurah dan Pak Sunaryo manggut-manggut tanda setuju. “Jadi, akan dimulai kapan rencana itu?” tanya Pak Sunaryo semangat. 

“Secepatnya lebih baik pak, sebelum orang-orang iti datang lagi ke desa ini,” kata Iwan antusias. 

“Bagaimana jika mulai hari Ahad besok kita mulai rencana ini?” usul Pak Sunaryo antusias. 

“Oh boleh saja, besok malam saya akan mengumpulkan para sesepuh dulu dan setelah itu akan saya kumpulkan para warga untuk membantu melaksanakan rencan ini,” jawab Pak Lurah tak kalah semangat. 

Mereka sibuk dengan rencana-rencana apa saja yang akan dilaksanakannya dengan membuat daftarnya. Hendra menulis di sebuah buku dengan semangat sampai tak terasa malam semakin larut. Setelah dirasa diskusinya selesai Pak Sunaryo memohon izin untuk pamit pulang. Wajah Pak Sunaryo terlihat sumringah, begitu juga dengan yang lainnya. Mereka sudah tidak sabar menunggu hari Ahad.

 “Semoga rencana kita berhasil,” kata Pak Sunaryo ketika sudah bangkit dari tempat duduknya.

 “Aamiin…” jawab mereka kompak.

Pak Lurah menjalankan rencana awal dengan lancar, yaitu yang pertama beliau lakukan adalah mengumpulkan para sesepuh Desa Kalijero. Mereka menyambut dengan antusias ide yang sudah direncanakan dan siap membantu mencarikan donasi untuk membiayai rencana tersebut. Tak kecuali Mbah Kyai, beliau juga mendukung sepenuhnya ide tersebut dan siap membantu menyediakan alat-alat yang diperlukan karena kebetulan beliau juga memiliki toko alat-alat yang dijaga oleh santrinya secara bergantian.

Malam berikutnya Pak Lurah mengumpulkan warga desa Kalijero di aula balai desa untuk membahas rencana yang sudah disepakati oleh para sesepuh desa Kalijero. Warga Desa Kalijero menyambut dengan senang hati, bahkan di antara beberapa dari mereka ada memberikan usul yang kemudian usul tersebut diterima baik oleh para sesepuh. Acara semakin menarik ketika ada seseorang yang mengusulkan untuk melaksanakan rencananya didatangkannya beberapa orang ahli agar rencana terlaksana dengan baik. Dari usulan tersebut, Pak Lurah jadi ingat bahwa beliau punya kenalan yang ahli di bidang itu. Beliau bertemu dengannya pada waktu beliau mewakili menghadiri workshop di kota. Rencananya Pak Lurah akan menghubungi temannya besok pagi karena hari ini sudah larut malam, tidak enak kalau mau meminta bantuan malam-malam. Acara ditutup dengan bacaan hamdallah. Sebagian besar warga sudah bubar, dan sebagian masih melanjutkan obrolannya. Hendra dan Iwan yang sudah merasa mengantuk yang sudah tak tertahankan meminta untuk pamit pulang duluan. Mereka dipersilahkan pulang duluan yang sebelumnya ada beberapa warga yang mengucapkan terima kasih atas ide-idenya. Hendra dan Iwan pulang dengan wajah tersenyum walaupun terlihat garis lelah di wajahnya.

“Alhamdulillah ya, para warga menyambut dengan antusias atas rencana kita,” kata Iwan sambil memandang bulan yang sedang purnama. 

“Alhamdulillah, saya juga tidak menyangka mereka akan menyambut dengan semangat seperti itu. Bulannya bagus. Bersinar sangat terang!” kata Hendra ikut tertarik memandang bulan seperti yang dilakukan Iwan.

 “Iya. Setidaknya kita bisa memberikan sesuatu yang semoga saja bermanfaat bagi warga desa Kalijero dan bisa menjaga kelestarian lingkungan juga,” kata Iwan tenang. 

“Sebuah kejahatan jangan dibalas dengan kejahatan. Yang kita butuhkan ada siasat bagaimana cara menghentikan kejahatan tersebut. Itu yang pernah saya baca. He... he..” kata Hendra nyengir. 

“Yup, setuju,” kata Iwan mengakhiri pembicaraan malam ini. Mereka tidur dengan pulas, melepaskan rasa lelah setelah melakukan aktivitas seharian. 

***

Hari Ahad yang sudah disepakati telah tiba. Sesuai rencana para warga desa Kalijero diharap berkumpul jam 07.00 di depan rumah Pak Lurah. Tetapi ternyata karena semangat yang berkobar jam 06.30 sebagian warga sudah berada di depan rumah Pak Lurah. Bapak-bapak dan sebagian ibu-ibu yang tidak mendapat jatah memasak mereka sudah siap dengan alat-alat yang sudah diintruksikan. Dan tak kalah semangatnya, pasukan remaja dan anak-anak juga siap membantu. Kerja bakti kali ini disambut dengan sangat antusias oleh warga. Terlihat sekali kalau warga Desa Kalijero sebenarnya sangat kompak dalam mewujudkan suatu tujuan. Hendra dan Iwan yang melihat semangat para warga tersenyum puas.

Jam 07.00 warga Desa Kalijero menuju hutan pinus yang letaknya di sebelah Desa Kalijero yang sebelumnya dipimpin doa oleh Mbah Kyai agar rencana berjalan dengan lancar. Walaupun Mbah Kyai tidak ikut ke hutan pinus tetapi beliau tetap menyempatkan datang ke rumah Pak Lurah sebelum warga memulai rencananya. Para warga berbondong-bondong menuju hutan pinus dengan semangat membara. Setelah sampai di hutan pinus mereka memulai rencananya mulai dari membersihkan hutan yang sebelumnya tidak terawat hingga penataan agar menarik dan terawat dengan baik. Rencana yang sudah disepakati adalah mejadikan hutan pinus sebelah Desa Kalijero menjadi taman wisata. Para warga saling bahu membahu untuk mewujudkan rencana itu. Semua siap dengan inruksi yang diperintahkan oleh beberapa orang kenalan Pak Lurah yang sudah ahlinya, beberapa orang dari dinas Pariwisata. Mereka juga sangat antusias menanggapi rencana ini.

Karena untuk mewujudkan rencana tersebut membutuhkan waktu yang tidak cukup sehari, maka Pak Lurah memutuskan untuk membuat jadwal. Para warga sangat setuju dengan keputusan Pak Lurah. Bagaimanapun juga para warga juga punya keluarga dan butuh bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Jadi, dengan adanya jadwal para warga tidak terlalu dirugikan. Mereka tetap bisa bekerja seperti biasa dan libur ketika mendapatkan jadwal kerja bakti membangun taman wisata tersebut.

***

Tak terasa sudah 5 bulan dari pertama kali hutan pinus itu dibangun menjadi taman wisata. Hari ini tinggal finishing dan rencananya akan diresmikan minggu depan. 1 bulan lebih cepat dari waktu yang direncanakan. Sekarang hutan pinus tersebut tertata rapi dan terawat dengan baik. Di beberapa penjuru terdapat taman bunga dan kolam ikan. Disana disediakan pula tempat bermain bagi anak-anak, gubuk-gubuk kecil dan juga area outbond disertai didirikannya kantin, mushola dan toilet. Para warga sudah tidak sabar menunggu hari peresmiannya, bukan hanya warga Desa Kalijero tetapi juga warga desa sekitar Desa Kalijero. Acara peresmian sangat meriah. Ada beberapa hiburan serta mendatangkan bapak Bupati untuk menyaksikan peresmian taman wisata tersebut. Taman wisata tersebut diberi nama “Taman Wisata Hutan Pinus Kalijero” yang terpampang di plang depan pintu masuk. Sebelum pintu masuk ada area parkir yang luas. Dan untuk masuk ke taman tersebut para pengunjung harus membayar tiket masuk sebesar Rp 5000,00.

Sejak taman wisata tersebut diresmikan banyak pengunjung yang berdatangan hingga dari luar daerah. Berita dibangunnya taman wisata di Kalijero ternyata juga sampai kepada atasan dua orang asing yang pernah menawarkan kerja sama waktu itu. Hingga suatu hari dua orang asing itu datang lagi untuk memastikan kebenarannya. Mereka berdua kaget melihat perubahan yang terjadi.

 “Ternyata warga Desa Kalijero sangat sayang pada lingkungannya,” kata orang asing itu pada temannya sambil melepaskan kacamata hitamnya. 

“Ya benar. Semoga mereka bisa merawatnya dan melindunginya dari orang-orang jahat semacam atasan kita,” kata temannya.

 “Hushh... Mari kita pulang,” ajak orang asing itu pada temannya. Dua orang aaing itu menuju mobilnya lalu pergi meninggalkan tempat taman wisata hutan pinus Kalijero berada. 

Pak Lurah, Pak Sunaryo, Hendra dan Iwan kebetulan sedang berada di tempat itu. Tanpa sepengetahuan dua orang asing itu mereka diam-diam mendengarkan dan menyaksikan percakapan dua orang asing itu. Setelah dua orang asing itu pergi dengan mobilnya Pak Lurah tersenyum puas, lalu melirik ke arah Hendra dan Iwan.

 “Semua atas berkat kalian berdua. Saya selaku pemimpin Desa Kalijero mengucapkan banyak terima kasih pada kalian berdua,” kata Pak Lurah dengan mata berkaca-kaca sambil menyalami Hendra dan Iwan secara bergantian. 

“Sama-sama pak,” jawab Hendra dan Iwan berbarengan. 

“Ini juga berkat semangat warga Desa Kalijero, pak,” sambung Iwan.

 “Iya benar. Saya bangga mereka memiliki semangat yang tidak pernah saya duga. Luar biasa!” kata Pak Lurah. 

“Kalau bukan kita yang merawat dan melestarikannya siapa lagi, pak? Apalagi kita tau, kalau bumi itu adalah rumah kita satu-satunya yang tentunya harus kita jaga dari tangan-tangan orang-orang jahat,” kata Hendra mantap. 

“Benar sekali kata Mas Hendra,” sahut Pak Sunaryo. Mereka manggut-manggut dan tersenyum puas. Akhirnya mereka dapat menyelamatkan bumi dari tangan orang-orang jahat yang mau mencoba untuk merusaknya.

~Selesai ☺

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani