Profil instastories

Hujan

Hujan

By : Widia Purnamasari

 

Kutatap langit di luar jendela. Sungguj kelam tiada cahaya. Putih sang awan pun berlalu terganti dengan warna kelabu dan hitam pekat. Suara gemuruh guntur di langit. Dan kilat yang menyambar-nyambar. Berlomba-lomba menggertak telinga. 

Ah... Rintik hujan.

Bergeming dan membasahi bumi dengan tetesan air matanya. Matahari pun bermuram durja. Enggan tuk menyinari dunia dengan sinarnya. 

Kurasa seperti itulah diri kita sekarang. Menangis dan meratapi cinta kita. Akhirnya berujung seperti ini. Terhempas badai dan hancur lantak tak berbekas.

Pedih rasa...

Cinta yang dulu indah kini meretas bak api yang menyambar hati. Menyapu semua angan dan asa. 

Air mata itu, terlarut dalam lelehan air hujan. Tak dapat disangkal lagi, pedih luka tak tertahan lagi. Air mata yang tak bisa terbendung lagi. Seakan bumi pun ikut menangisbdan bersedih. Sang langit kecewa, tidak lagi memancarkan cahaya cerahnya biru pagi di angkasa. Putih sang awan telah ranjak berlalu. 

Ia...tak lagi mencerminkan tentang dirimu.

Angin-angin enggan tuk bercerita. Entah kemana perginya kisah-kisah kita itu.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.