Profil instastories

Hormon Perkecambahan Biji

Hormon Perkecambahan Biji

By : Widia Purnamasari

 

Hormon adalah salah satu faktor yang mempengaruhi dan mendukung proses pertumbuhan tanaman. Hormon dapat dihasilkan oleh tanaman sendiri (fitohormon) dan dapat berasal dari zat sintesis (buatan). Jenis hormon tanaman yang paling banyak digunakan dalam pembudidayaan dan mudah didapatkan adalah auksin dan etilen (Nurnasari dan Djumali, 2012).

            Hormon auksin berperan dalam proses pemanjangan sel, terletak pada titik-titik tumbuh pucuk tanaman yaitu di ujung akar dan ujung batang. Hormon auksin dapat meningkatkan tekanan osmotik, meningkatkan sintesis protein, permiabilitas sel dan mengembangkan dinding sel. Sistem kerja auksin adalah memacu pemanjangan dan pembesaran sel serta protein tertentu yang ada dalam membran plasma sel untuk memompa ion H+  ke dinding sel. Ion H+ akan mengaktifkan enzim ubiquitin ligase yang bertugas untuk memutuskan ikatan silang hidrogen dengan rantai molekul selulosa dinding sel. Hal inilah yang menyebabkan sel tumbuhan memanjang akibat air yang diserap oleh akar masuk secara osmosis ke dalam dinding sel (Dewi, 2008). Selama proses kinerjanya, auksin memiliki keterkaitan dengan cahaya. Cahaya dapat menghambat kinerja auksin. Tetapi, intensitas cahaya yang rendah dapat merangsang auksin untuk bekerja lebih aktif dalam melakukan proses pemanjangan dan pertumbuhan tanaman. Auksin dalam jaringan tanaman bekerja dalam ruangan gelap namun sintesis proteinnya bekerja di ruangan terang. Sehingga cahaya rendah masih dibutuhkan dalam proses kinerja auksin (Dwiati, 2016).

            Selain hormon auksin, ada hormon lain yang juga berperan dalam proses pertumbuhan tanaman, hormon ini berwujud gas sehingga dinamakan gas etilen. Etilen adalah suatu gas kimia yang mudah menguap dan berbau manis yang dihasilkan selama proses pemasakan buah-buahan dan sayuran. Oleh sebab itu, gas etilen mudah ditemukan dalam buah-buah yang telah matang dan busuk (Dewi, 2008). Etilen berfungsi dalam pemecahan dormansi dan pembongkaran endosperm sehingga memacu biji untuk berkecambah. Pada tanaman Arabidopsis yang tumbuh di tempat yang gelap dan remang-remang , adanya hormon etilen dapat menurunkan laju pemanjangan hipokotil, meningkatkan pembentangan lateral hipokotil dan pelengkungan pada meristem apikal dari kecambah (Guzman dan Ecker, 1990). Mekanisme kerja Etilen dalam memecah dormansi adalah Etilen mempengaruhi permeabilitas membran sehingga permeabilitas sel menjadi besar dan luas, hal inilah yang menyebabkan proses pelunakan. Selain itu Etilen juga merangsang sintesis protein sehingga kandungan protein dan enzim-enzim dalam biji akan mulai aktif dan meningkat untuk memicu pertumbuhan tunas dan memecah dormansi (Thohirah dkk, 2010).

Dapus :

Dewi I.R. 2008. Peranan dan Fungsi Fitohormon bagi Pertumbuhan Tanaman. Universitas Padjadjaran, Bandung.

Dwiati M. 2016. Peran Zat Pengatur Tumbuh Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan Semai Anggrek Phalaeonopsis. PKH Banteran, Banteran.

Guzman P. dan J.R. Ecker. 1990. Exploiting the Triple Response of Arabidopsis to Identify Ethylene-related Mutants. The Plant Cells. 2 : 512-523.

Nurnasari E. dan Djumali. 2012. Respon Tanaman Jarak Pagar (Tatropa curcas L) terhadap Lima Dosis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Asam Naftalen Asetat (NAA). Agrovigor. 5(1) : 26-33.

Thohirah L.A., Flora C.L.S. dan N. Kamalkshi. 2010. Breaking Bud Dormansy Diffrent Shade Levels for Production of Pot and Cut Curcuma alismatifolia. American Journal Agriculture Biology Science. 5(3) : 385-388.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.