Profil instastories

Hon O Mushi Shimasu

Hon O Mushi Shimasu

Yooni SRi

 

ANGIN musim semi berembus semilir. Menerbangkan rambut panjang Mika Aihara—gadis blasteran Indonesia-Jepang—yang duduk di bawah pohon sakura di halaman sekolahnya. Sebuah buku tebal terjemahan berada di pangkuannya. Sementara sepasang matanya bergerak lurus horizontal membaca serentet huruf kanji yang tertulis di sana.

Tak jauh dari tempat duduknya, Nakamoto Yuta mengusak-usak rambutnya dengan kasar. Frustasi karena tak berhasil mendekati gadis dingin itu. Yuta berkacak pinggang. Berpikir keras. Tak lama kemudian mengangkat wajahnya dan berjalan cepat ke arah Mika.

Gadis itu menghela napas saat melihat Yuta melempar senyum lebar yang justru terlihat aneh kepadanya. Mika melengos dan kembali membaca buku terjemahannya. Tidak berniat menanggapi kehadiran Yuta di sampingnya. Sedikit pun ia tidak tertarik—dan tidak akan pernah tertarik—dengan orang-orang seperti Nakamoto Yuta. Mereka hanya pengganggu yang menyebalkan. Dan ia sama sekali tidak mau menghabiskan barang satu menitnya bersama orang seperti itu.

“Selagi aku meminta baik-baik, pergilah! Jangan menggangguku,” ucap Mika tanpa mengalihkan pandangan dari buku di pangkuannya.

“Lanjutkan saja, aku tidak akan mengganggumu, Mika-chan,” balas Yuta sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala. Lantas memejamkan matanya menikmati embusan angin.

“Apa kita seakrab itu?” Tanya Mika ketus. Menunjukkan ketidaksukaannya terhadap panggilan Yuta barusan yang terdengar sok akrab.

Yuta membuka mata. Menoleh ke arah Mika sambil tersenyum lebar. “Itu yang kumaksud. Kenapa kita tidak mencoba menjadi teman baik? Sepertinya kau orang yang cukup menyenangkan.”

“Dan kau orang aneh yang menyebalkan,” timpal Mika lalu melengos, “Aku tidak tertarik dengan orang sepertimu.”

Yuta menaikkan sebelah alisnya. Tersenyum kecut. “Angkuh sekali.”

Mika tak menyahut. Tidak merasa tersinggung atau pun terusik. Ini bukan kali pertama ia mendengar sebutan itu. Gadis angkuh, dingin, kasar, dan yang paling parah... psycho.

Bahkan ada yang terang-terangan mengatainya autis. Berbagai macam sebutan itu hanya ditanggapinya dengan senyum miring. Membuat orang yang melihatnya ingin segera memukul hidungnya sampai berdarah. Ya, begitulah seorang Mika Aihara. Ia sudah terbiasa dan mengajarkan dirinya untuk tidak memerdulikan sekitar. Benar, ia hanya perlu bertahan dengan karakter itu sampai lulus SMA.

“Mika Aihara,” panggil Yuta setelah terdiam cukup lama. Ia menoleh karena tak kunjung mendapat sahutan. Dan tampaknya Mika memang tidak berniat menjawabnya. “Tak apa jika kau tidak mau melihatku, tapi aku yakin kau akan mendengarkan aku.” Ia menyandarkan punggungnya. Memandangi kepulan awan seputih kapas di langit biru.

“Aku juga tidak tertarik pada gadis sepertimu.” Yuta menggeleng sarkas. “Tidak, sedikit pun aku tidak peduli dan tidak mau tahu tentangmu. Huh, lagi pula siapa sih, yang mau peduli dengan orang angkuh, dingin, dan kasar seperti kau ini? Kurasa hanya orang kurang kerjaan saja yang akan melakukannya.”

Yuta tersenyum kecut, mengejek diri sendiri. “Tapi setelah hari itu—saat aku tidak sengaja melihatmu menangis di sudut perpustakaan...” Ia menerawang. Mengingat kejadian beberapa hari lalu dengan getir. Diam-diam Mika meliriknya lewat ekor mata.

“Aku merasa kalau kau tidak seangkuh dan sekasar yang mereka katakan.” Yuta melirik sekilas. “Apa kau tahu, akhir-akhir ini aku selalu mengamatimu dari jauh?” Ia tersenyum miris, lalu mencemooh dirinya pelan, “Pertanyaan bodoh. Mana mungkin kau peduli.”

Mika menoleh dan menatap Yuta dengan tajam. “Apa maksudmu mengatakan semua itu?”

“Aku hanya ingin tahu kenapa kau menangis hari itu. Aku ingin tahu apa yang membuat gadis angkuh sepertimu menangis,” ucap Yuta sambil balas menatap Mika.

Mika merasa matanya mendadak perih. “A-aku...” Ia menolehkan kepalanya ke arah gedung sekolah ketika lonceng tanda usainya waktu istirahat berdenting berkali-kali. Buru-buru ia menutup bukunya, lalu bangkit berdiri. “Waktu istirahat sudah berakhir,” kemudian ia bergegas meninggalkan Yuta yang memandanginya dengan sorot empati.

“Huh, nyaris saja.”

 

***

 

Mika menghela napas, menutup buku, lalu melepas earphone dari telinganya. “Apa lagi sekarang?” tanyanya sambil melirik sinis Nakamoto Yuta yang baru tiba dan langsung duduk di sampingnya.

“Aku penasaran sekali,” ujar Yuta sambil menatap Mika lurus-lurus.

“Soal apa?”

“Setiap hari orang-orang itu membicarakanmu. Bagaimana caramu menghadapinya?”

Mika menunduk dan tersenyum. Senyuman yang sukses membuat Yuta tertegun untuk beberapa saat. Pasalnya ini pertama kalinya Mika tersenyum selayaknya manusia. Bukan senyum sarkas. Bukan senyum miring ataupun senyum kecut seperti yang sering diperlihatkannya. Tetapi senyum tulus yang membuatnya terlihat lebih manis.

“Abaikan dengan buku.” Mika mengacungkan buku tebalnya dengan bangga.

Yuta mengernyit. Melirik buku itu tanpa minat. “Maksudmu?”

“Harusnya kau sedikit lebih cerdas,” cibir Mika sambil meletakkan bukunya kembali ke pangkuan.

“Ck!” Yuta melengos, “Aku memang tidak cerdas. Karena itu langsung saja jelaskan padaku apa maksudnya 'abaikan dengan buku'?”

“Awalnya aku memang terganggu setiap kali mereka membicarakanku—menghujat sih lebih tepatnya. Rasanya aku ingin sekali lari dan sembunyi. Tapi setelah dipikir-pikir... kenapa aku harus melakukannya? Toh, hidupku bukan hidup mereka, dan urusanku juga bukan urusan mereka. Dengan lari dan sembunyi hanya akan membuat mereka merasa puas dan akan terus menindasku.”

“Lalu, apa hubungannya dengan buku?” Yuta masih belum mengerti. Ucapan orang yang suka membaca sangat sulit dicerna otaknya yang sederhana itu.

“Saat kau membaca buku, imajinasi dan pikiranmu hanya terfokus pada setiap kalimat yang kau baca. Begitulah. Saat aku membaca, fokusku hanya tertuju pada apa yang kubaca. Karena terlalu fokus tadi, aku jadi tidak sempat mendengar ataupun memerhatikan sekelilingku. Seperti itu caraku menghadapinya.”

“Mengabaikan cibiran mereka dengan buku tebalmu itu,” timpal Yuta mulai paham. Mika mengangguk.

“Wahh, aku tidak menyangka kau punya pemikiran sehebat itu. Sepertinya membaca membuatmu jadi lebih cerdas.”

“Itu pemikiran sederhana. Kau saja yang tidak memiliki secuil kecerdasan.” Mika mencibir.

 

***

 

Mika sampai di kelasnya tak lama setelah bel masuk berhenti berdenting. Matanya nyalang menatap permukaan meja yang penuh dengan tulisan-tulisan kasar yang ditulis menggunakan saus tomat. Mata Mika terasa panas, kedua tangannya mengepal erat saat ekor matanya menangkap sosok Takano Saki yang memandanginya dengan tawa puas. Sekarang ia tahu siapa pelakunya.

Mika meninggalkan tempat duduknya dan keluar dari kelas. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebotol mayonaise di masing-masing tangannya. Mika menghampiri Takano Saki dan tawa gadis itu langsung redah saat Mika menyemprotkan mayonaise ke meja dan seragamnya. Suasana kelas langsung hening. Kini semua mata tertuju pada Mika Aihara dan Takano Saki yang beradu pandang dengan sinis.

“Apa yang kau lakukan?!” sentak Saki berang dengan wajah merah padam.

“Aku hanya melakukan apa yang sudah kau lakukan pada tempat dudukku,” ucap Mika balas menatapnya. “Tidakkah kau pikir tindakanmu itu terlalu kekanakan?”

“Kau!”

“Apa? Kau ingin melaporkanku pada Ayahmu? Laporkan saja... kalau kau memang tidak punya malu.” Mika melemparkan botol mayonaise yang sudah kosong di meja Saki. Botol itu menggelinding jatuh ke lantai dan berguling ke sisi kanan hingga membentur kaki salah satu meja di dekatnya.

Tanpa memerdulikan kemarahan di wajah Saki dan tatapan sinis dari teman sekelasnya, Mika kembali ke tempat duduknya dengan tenang. Ia mengambil tissue dari dalam ransel dan membersihkan tulisan-tulisan di sana. Sementara di tempat duduknya, Yuta melihat kejadian itu dengan senyum jenaka. Lelaki itu baru akan menutup mata dan kembali tidur ketika hidungnya tiba-tiba mencium bau tak sedap. Ia mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Saki yang mengumpat kesal sambil membersihkan mayonaise di seragamnya.

Yuta berdecak kesal. “Hey, Takano Saki! Pergilah keluar, baunya sangat mengganggu.” 

 

***

 

“Hei, Mika-san!” panggil Yuta dari atas motornya ketika ia melihat Mika berjalan menuju gerbang sekolah. Laki-laki itu membuka kaca helmnya setelah berhasil menghentikan langkah gadis itu.

“Aku mau minta bantuanmu,” katanya langsung.

Mika hanya menaikkan sebelah alisnya sebagai respon.

“Temani aku ke toko buku.” Yuta menggaruk tengkuknya salah tingkah saat Mika menatapnya dengan aneh. “Eu... aku perlu beberapa buku. Dan berhubung kau suka membaca, kupikir kau bisa merekomendasikan buku yang bagus untukku.”

“Aku tidak punya banyak waktu hari ini. Kau cari saja sendiri,” tolak Mika tanpa perasaan.

“Tenang saja, tidak akan lama kok. Paling hanya setengah jam. Setelah itu aku janji akan langsung mengantarmu pulang.” Yuta menunggu. Dalam hati berdoa agar Mika bersedia menemaninya.

Mika tampak berpikir. Kemudian, “Baiklah, hanya setengah jam.”

 

***

 

Mika langsung melesat masuk begitu sampai di  Books Bunny, toko buku yang terletak di sebuah gang sempit di Harajuku. Selain koleksi buku dan majalah yang menarik, di sini juga terdapat kafe dan bar. Pengunjung bisa menikmati kopi hangat sambil makan siang di Bunny Cafe, atau hang out di Bunny Bar pada malam hari.

“Aku tidak tahu apakah kau akan suka. Tapi sepertinya buku ini bagus,” komentar Mika saat menghampiri Yuta di stand manga.

Yuta menerima tiga buah buku yang disodorkan Mika kepadanya. Sesaat ia tercengang melihat ketebalan buku yang mungkin berkisar antara 400 sampai 500 halaman. “Wow, berapa lama aku bisa menyelesaikannya?” tanyanya pura-pura tertarik.

“Tergantung seberapa sering kau membacanya,” balas Mika pendek. Ia bersedekap dan berjalan mendahului Yuta menuju kasir.

 

***

 

“Terima kasih, Mika-san,” ucap Yuta sesaat setelah Mika turun dari jok motornya.

Mika mengangguk. Kemudian Yuta menyerahkan tas karton berisi tiga buku dan dua manga—yang sempat ia beli—kepadanya. Mika termangu.

“Buku itu memang untukmu,” jelas Yuta langsung. “Aku tidak tahu jenis buku yang kau suka, itu kenapa aku memintamu menemaniku.” Jedah sejenak. Lalu, “Kau benar, sepertinya buku cukup efektif untuk mengabaikan orang-orang itu. Aku tidak janji, tapi aku akan lebih sering membelikan buku baru untuk stok bacaanmu.” Yuta tersenyum lebar, mengaitkan tali tas karton itu di jemari Mika.

“Seishin, Mika-san!” Ia mengepalkan sebelah tangannya sambil tersenyum lebar. Memberi kekuatan. 

 

***

 

Yuta menutup bukunya dan berdiri tegak ketika pintu ruang Komite Kedisiplinan Siswa terbuka. Takano Saki keluar dengan wajah sumringah sambil memeluk lengan Ayahnya yang masih berseragam lengkap kepolisian. Ia melongokkan kepalanya mencari sosok Mika Aihara yang tak kunjung terlihat.

Kau pasti masih ingat dengan insiden saus tomat dan mayonaise kemarin, kan? Ya, tebakanmu benar, Takano Saki mengadukan perbuatan Mika kepada Ayahnya. Dan alhasil, Mika diproses pagi ini.

“Bagaimana?” kejar Yuta begitu melihat Mika keluar dari ruangan.

Mika melipat tangannya di bawah dada dan mulai berjalan menyusuri koridor. “Takano Saki itu, dia benar-benar tidak punya malu ya. Sudah delapan belas tahun tapi masih saja suka mengadu.”

“Lalu bagaimana hasilnya?” desak Yuta tak sabar.

“Mereka men-skors-ku tiga hari,” ucap Mika ringan. Seolah tidak ada hal buruk yang baru saja menimpanya.

“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”

“Apa lagi, tentu saja berlibur di rumah.”

“Kau tidak akan menyerang balik?”

Mika mendesah berat. “Aku sudah lelah, Yuta-san. Sebenarnya aku sudah sangat lelah menghadapi semuanya sendirian.” Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Yuta. “Menurutmu... apa sebaiknya aku menyerah saja? Apa aku mengaku kalah saja dan meminta maaf?”

Mata Yuta melebar kaget. “Bicara apa kau ini? Apa jadinya jika Mika yang angkuh tiba-tiba meminta maaf. Kalau kau melakukannya, mereka hanya akan menertawakanmu.”

“Lalu aku harus bagaimana?” tanya Mika frustasi. 

Yuta mencengkeram bahu Mika sambil menatapnya lurus-lurus. “Bertahanlah. Aku akan membantumu. Kau hanya perlu memakai karaktermu itu sampai akhir. Dan..” ia menggamit sebelah tangan Mika, lalu meletakkan buku yang dibawanya. “Hon o mushi shimasu .”

Mika menatap buku di tangannya, lalu ke arah Yuta yang tersenyum lembut, lalu mengangguk. “Mm... Hon o mushi shimasu.”

Selesai

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani