Profil instastories

Hanya menuangkan segala ide di kepala

hi sister!

Aku hidup di dunia yang tenang dan damai, tanpa adanya pertikaian. 

Aku hidup di keluarga yang harmonis, atau mungkin hanya orang tua ku saja yang merasakannya. Aku mempunyai seorang adi perempuan. Ia menurutku sangat penurut dan pendiam. Terlihat sangat naif. Aku dilahirkan di keluarga yang kata orang sangat sempurna, tanpa tahu lebih dalam seperti apa keluarga ini.

Tapi, jika aku bisa memilih keluarga mana aku dilahirkan dan dibesarkan. Aku tidak akan memilih keluarga ini

__

"Good morning, my little sweetheart." Itu suara Ibu ku. Ia memasuki kamarku

"Good morning, Mom." Jawabku

"Ayo cepat bergegas hari ini hari pertama mu bersekolah" Ayahku menyuruhku

"Baiklah." Jawabku malas

Malang, adikku ia diperlakukan berbeda. Aku kasihan padanya

__

Tak ada yang spesial hari ini. Hanya bertemu dengan serangga serangga busuk yang tak tahu sebenarnya dengan dunia ini. Miris. Sangat membosankan, dan semua akan berjalan seperti itu hingga aku lulus.

Melanjutkan pendidikanku di salah satu universitas terbaik di negaraku. Walaupun aku seperti ini, tetapi aku termasuk anak yang jenius. Aku memiliki IQ diatas rata-rata di sekolah ku, yaitu 180. Aku tak kaget, karna aku mengetahui bahwa diriku jenius sejak aku membunuh anjing peliharaanku pada saat aku berumur 10 tahun dan aku menyembunyikan ditempat yang tidak diketahui. Sampai sekarang tidak ada yang tahu dimana mayat anjing itu aku sembunyikan. Aku pikir aku jenius atau mereka yang bodoh?

__

Aku menatap ke arah luar dari jendela, hanya menatap kosong

Lalu aku berbicara lirih, "Today is the best day ever"

Dan aku tertawa tertahan sambil menutup mulutku dengan kedua tanganku. Merasakan geli dan euforia yang tak tertahan di dalam diriku

Tak lama ada panggilan masuk, hp ku berdering. Ini dari Evelyn, teman yang tak terlalu akrab

"Halo, ada apa Eve?"

"Halo, Vi... Adikmu..." Jawab nya

"Adikku? Kenapa dia?" tanyaku tenang

"Adikmu ditemukan tewas"

"Apa? Siapa yang membunuhnya? Bagaimana bisa ia terbunuh?" Terlihat panik agar bisa meyakinkannya

"Aku tidak tahu siapa yang membunuh nya. Ia terbunuh karna ditusuk pisau berkali-kali. Hey, tunggu... Aku tidak memberitahumu kalau ia mati terbunuh"

Aku terdiam. Bodoh, kali ini aku bodoh. Aku tertawa terbahak bahak. Mengeluarkan semua rasa yang sempat tertahan tadi. Ini cukup menggelikan.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani