Profil instastories

Heroine

Part 1

Sosok wanita berusia 27 tahun itu berbaring lemas. Pria disampingnya mencoba memegang jemari sang Istri untuk memberi kekuatan.

"Mari kita lakukan sekali lagi, bu" kata Heyri -- Bidan yang menangani proses persalinan pasutri itu.

Wanita tersebut menarik napas dan melakukan sesuai arahan Bidan. Tepat pukul 19.00, proses persalinan selesai. Raut bahagia terpancar di wajah sepasang pasutri itu.

"Selamat Bapak, Ibu.... Anak nya perempuan" kata Heyri. Setelah dibersihkan, Heyri meletakkan bayi berada di dada Ibunya. Wanita itu tersenyum dan mengelus anaknya dengan lembut.

"Kita beri nama siapa, Mas?" Kata Rahma.

"Inas Nafisah" kata Farhan tersenyum.

Bayi itu tertawa setelah Farhan memberikan nama untuknya.

"Gantengnya anak Ayah" katanya sambil menoel lembut anaknya.

"Mas..." tegur Rahma.

 

Part II

6 tahun kemudian

"Inas... Bunda sama Ayah mau pergi, Inas mau kan tungguin Bunda dan Ayah di rumah?" kata Rahma lembut.

"Emangnya Bunda sama Ayah mau kemana?" tanya Inas.

"Ada urusan sebentar sayang. Nanti Bunda bawain makanan kesukaan kamu. Mau ya" bujuk Rahma.

Inas hanya mengangguk dan tersenyum. Wajah polosnya itu sangat mengemaskan di mata orang tuanya.

Farhan menggendong Inas dan mencium gadis semata wayangnya.

"Inas jangan nangis dirumah ya. Nanti ayah bawain kue stroberi kesukaan Inas. Janji?" Kata Farhan.

"Janji" jawab Inas.

Farhan dan Rahma berpamitan kepada Jihan --- Adik Farhan yang akan menjaga Inas selama seminggu.

"Hati hati ya, Kak" kata Jihan. Keduanya tersenyum dan melambaikan tangan ke mereka (Inas dan Jihan).

"Da..da... Inas..." kata Rahma tersenyum.

"Da... da... Bunda... Ayah..." jawab Inas tersenyum juga.

 

Part III

7 hari kemudian

"Inas... makan yuk, sebentar lagi kita jemput Bunda" kata Jihan.

Inas keluar dari kamarnya dan berlari menuju ruang makan.

Inas memilih bangku dan duduk manis.

Jihan membawa 2 piring nasi goreng beserta sosis yang telah dihias olehnya.

Bentuk karakter pada nasi goreng membuat nafsu makan Inas bertambah.

Biasanya anak seusianya susah sekali makan sayur, dengan keterampilan yang dimiliki, Jihan membuat makanan lucu beraneka ragam untuk Inas.

Inas membawa piringnya ke wastafel dan mencuci piringnya sendiri. Jihan sudah melarang, namun keponakannya itu keras kepala. Akhirnya Jihan pun mengalah dan membiarkan Inas mencuci namun masih dalam pengawasannya.

"Tante, Inas sudah siap cuci piringnya. Ini mau di apain?" katanya sambil memegang piring yang masih berbusa.

Jihan tersenyum. Dia mengambilalih piring itu dan membilasnya perlahan. Inas memperhatikan gerak gerik Jihan sambil ber-oh ria.

"Begitu, Inas sudah mengerti?" tanya Jihan tersenyum.

Inas mengangguk serta memberi senyuman ke Jihan.

 

Part IV

"Bunda.... Ayah...." teriak Inas setelah melihat Farhan dan Rahma dari bagian Kedatangan (Arrival).

Inas berlari menuju orang tuanya.

"Aduhh" kata Inas. Dia menabrak orang Dewasa misterius. Pria berkacamata hitam itu melihat Inas sebentar kemudian berlalu begitu saja.

Jihan mengikuti dan mengawasi Inas dari belakang, sambil memperhatikan pria misterius tadi.

"Anak ayah sudah datang, Inas gak ngerepoti tante kan?" tanya Farhan.

"Enggak kok ayah" kata Inas polos.

Farhan, Rahma, dan Jihan tertawa.

"Inas anaknya mandiri ya kak. Gapernah bawel selama Jihan urus"

"Wahh, pinternya anak ayah" 

"Anak bunda juga dong" kata Rahma menyimpali.

"Kak Rahma nih takut tersaingi juga ternyata yah" canda Jihan.

"Jihan bisa aja deh"

Semuanya tertawa bersama.

 

Part V

4 tahun kemudian

"Permisi, Nak. Tante bisa minta bantuan? Kata wanita berpakaian serba hitam.

"Ada apa tante"kata Inas sambil mengisap lolipopnya.

"Mari ikut tante" katanya

Inas mengangguk dan mengikuti langkah Wanita itu.

Mereka berjalan melewati jalan sepi dan gang sempit.

Inas tidak merasa curiga dengan hal itu.

Mereka tiba di sebuah kontrakan kecil.

Wanita itu membuka pintu dan mempersilahkan Inas masuk.

 

Part VI

"Baiklah, Yoga maju kedepan" kata Yuli --- guru pengajar matematika di kelas Inas.

Anak lelaki itu melangkah maju ke depan kelas dengan penuh percaya diri.

Inas dan murid lainnya hanya memperhatikan.

 

Perhatian...

Kepada siswa siswi kelas 3, 4, dan 5 diharapkan berkumpul dilapangan sekarang.

Sekali lagi, kepada siswa siswi kelas 3, 4, dan 5

Harap berkumpul dilapangan sekarang!

HAHAHAHAHA

 

Himbauan terakhir membuat seluruh penghuni sekolah panik. Mereka berhamburan ke lapangan sekolah sesuai himbauan guru pengajar masing - masing.

 

Part VII

Seluruh murid berkumpul dan berbaris di lapangan sekolah. Para guru berdiskusi sambil mengawasi muridnya.

"Jangan ada yang keluar barisan!" kata Suci --- guru pengajar kelas 6.

Salah satu siswa mengangkat tangan.

"Ya, ada apa?" tanya Suci.

"Inas keluar barisan bu" adu Ikbal --- teman sekelas Inas.

Para guru bergegas mencari Inas ke gedung sekolah.

Suci dan Angga menetap di lapangan, mereka mengawasi murid lainnya.

"INASS!"

 

Part VIII

5 menit yang lalu

Inas mendapati surat misterius di dalam laci dan membacanya.

Datang ke ruang Audio Sistem sekarang!

Awalnya Inas mengabaikan saja, namun foto tersebut membuat Inas berubah pikiran. Foto Keluarga nya.

Bagaimana mereka mengenali orang tua ku? - batin Inas

***

"INASS!" teriak Yuli.

"Jangan bergerak! Atau anak ini akan saya bunuh" Pria bertopeng itu memberi peringatan.

Hikss - Inas menangis terisak. Matanya berkaca dan mulutnya bergetar.

Yuli merasa tak tega melihat muridnya seperti itu.

"Lepaskan anak itu!"

 

Part IX

"Lepaskan anak itu!"

Wanita bertopeng datang di saat yang tepat.

Yuli menyelamatkan Inas dari Pria bertopeng itu.

"Semuanya keluar dari sini!"

Yuli, Inas, dan Hani -- Kepala sekolah menuju ke lapangan.

Mereka melakukan doa bersama untuk wanita bertopeng itu.

10 menit berlalu, Wanita bertopeng menghampiri mereka.

Inas terperangah lalu menghampiri wanita itu sambil mengucapkan terimakasih.

Wanita itu tersenyum dan berpamitan dengan yang lainnya.

Aku berharap bisa bertemu dengan wanita bertopeng itu. -- batin Inas kemudian Ia pun tertidur.

 

Part X

"Permisi Nak, tante bisa minta bantuan lagi?" ucap Wanita yang Inas temui sebelumnya.

"Kitty nakal lagi ya tante?" kata Inas. 

"Iya Nak, bisa kan?"

"Ayo tante!" katanya bersemangat.

***

"Silahkan masuk nak"

Inas melangkahkan kakinya ke dalam kontrakan.

Inas mengamati topeng yang berada di sana.

Ini kan.... - batin Inas.

"Ini topeng Lulu, anak saya. Kebetulan dia baru pulang semalam" ujar Wanita itu.

 

Part XI END

Klek

Pintu kamar terbuka dan tampaklah sosok gadis seusianya keluar dari kamarnya.

"Lulu, sini sayang, Ini nak Inas.  Ini yang Bunda ceritakan semalam." kata Wanita itu.

"Kok tante bisa tau nama saya?" tanya Inas heran.

Keduanya tertawa bersama.

"Tante tau dari orang tua kamu"

"Orang tua saya?"

"Iya nak, dulu beliau telah membantu. Tante bersyukur banget telah bertemu orang tua kamu. Anak saya, Lulu maksud tante. Tante bisa merawat Lulu dengan baik"

"Ada apa dengan Anak tante?"

"Ibu kamu dan tante melahirkan di Bidan yang sama. Di ruang administrasi, tante bertemu dengan orang tua kamu, Ibu kamu tanya tante. Awalnya tante malu mau menjelaskannya, Namun Bapak kamu bilang katakan saja, siapa tau beliau bisa membantu. Akhirnya beliau membantu Tante meringankan biaya persalinan"

Inas tampak bingung dengan penjelasan Wanita itu, wajar saja, di usianya 10 tahun masih belum mengerti ucapan orang Dewasa.

"Singkatnya orang tua kamu menyelamatkan Lulu"

"Terimakasih Inas" kata Lulu tersenyum.

Inas tersenyum malu. Namun yang masih Dia pikirkan, siapakah perempuan yang menyelamatkannya? Apa hubungannya dengan topeng itu?

Lulu mengambil dan memakai topeng nya. Sekarang Inas mengerti, siapakah Dia dan apa alasannya.

 

TAMAT

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani