Profil instastories

Her NOT-SO-Romantic Husband

Her Not-SO-Romantic Husband. 

Oleh : Lisa

 

•••

 

"KEANA BERESKAN KAMAR! JANGAN BERANTAKAN SEPERTI ITU!"

Pasangan pengantin baru yang Lovey-dovey? Ha. Semua itu hanya ada dalam angan-angan Keana. Jujur saja. Sejak dirinya memutuskan untuk menerima lamaran kekasihnya dan kemudian menikah dengan sang kekasih, Keana merasa seperti sedang tinggal bersama dengan ibunya.

 

Nama pemuda itu adalah Ardan winata. Ia berusia 3 tahun lebih tua dari Keana dan memiliki profesi sebagai seorang Chef. Tolong jangan tertipu dengan wajahnya yang menggemaskan. Karena, dibalik wajah imutnya, tersembunyi sifat Ardan yang jauh lebih mengerikan dari ibu mertua.

 

Ardan merupakan tipikal pemuda yang pandai memasak. Meski Keana juga pintar memasak, namun Ardan lebih sering memasak di apartemen mereka. Terang saja. Pemuda itu selalu ingin membuktikan popularitasnya sebagai seorang Chef di restoran ternama.

 

Selain pintar memasak, Ardan juga pintar mengomel dan gila kebersihan. Pemuda itu tidak pernah berhenti mengomel kepada Keana, memerintah Keana untuk membersihkan kamar mereka. Setiap hari Sabtu dan Minggu akan menjadi jadwal khusus bagi Ardan dan Keana. Bukan jadwal untuk berkencan, melainkan jadwal kerja bakti. Ardan tidak suka jika apartemen yang ia tinggali bersama Keana tampak kotor dan tidak rapi.

 

Ardan berusia 24 tahun. Sementara Keana berusia 21 tahun. Benar. Keana masih duduk di bangku universitas. Nama asli dari gadis itu adalah Keana Mauryn. Ia merupakan primadona difakultas Teknik jurusan teknik mesin. Keana yang parasnya luar biasa cantik, mampu membuat para pemuda haus wanita difakultas Teknik tunduk begitu saja.

 

Meski cantik, Keana bukan merupakan tipikal gadis yang manja. Sebaliknya, Keana menjadi ketua angkatan jurusan teknik mesin karena ilmu bela diri yang dikuasai olehnya. Keana merupakan si primadona kampus sekaligus macan kampus yang siapa saja yang berani menjelek-jelekkan nama jurusan teknik mesin.

 

Meski cantik dengan kedua pipinya yang menggemaskan, Keana tidak segan-segan untuk bertingkah bar-bar. Keana sempat beberapa kali terlibat pertengkaran di kampusnya. Semua itu bahkan bermula dari sejak dirinya masih merupakan mahasiswa baru.

 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Keana merupakan satu-satunya junior yang berhasil membanting seniornya ketika sang senior mencari kesempatan untuk menggoda dirinya dan memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki oleh sang senior untuk memaksa agar Keana turut pada perintahnya.

 

Kedua orang tua Keana yang putus asa dengan putrinya kemudian memutuskan untuk menjodohkan Keana dengan putera dari sahabat mereka dengan harapan bahwa Keana yang sudah menikah akan berubah menjadi lebih lembut dan mau menjaga tingkah lakunya.

 

Keana dijodohkan dengan Ardan. Saat itu, usia Keana masih menginjak 19 tahun. Lucunya, Keana yang lebih dahulu jatuh cinta pada Ardan. Keana jatuh cinta kepada Ardan yang pintar memasak. Keana selalu memimpikan sesosok pemuda yang pintar memasak yang mau memasak bersama dengan dirinya.

 

Keana kemudian memutuskan untuk mengejar Ardan. Ia mendatangi kampus Ardan yang pada saat itu yang tengah mengenyam pendidikan ditingkat akhir di universitasnya.Keana bahkan beberapa kali memanjati dinding kampus Ardan demi mengintip Ardan yang sedang belajar beberapa macam resep masakan.

 

Keana juga pernah mencegat motor Ardan ketika pemuda itu hendak kabur meninggalkan Keana. Motor Ardan yang mesinnya sudah menyala, tidak dapat melaju sama sekali karena dipegangi oleh Keana.

 

Jujur saja. Saat itu, Ardan justru takut dengan gadis bar-bar seperti Keana. Apalagi setelah dirinya mendengar rumor buruk tentang Keana.

Hingga kemudian Ardan tidak sengaja bertemu dengan Keana. Saat itu, hujan turun. Alih-alih memanfaatkan payung yang ia bawa, Keana justru memanfaatkan payungnya untuk melindungi seekor anak kucing yang kehujanan. Keana berjongkok menemani anak kucing tersebut sembari memberikan makanan kucing kepada anak kucing tersebut.

 

Pemandangan itu membuat hati Ardan terenyuh. Pemandangan itu membuat Keana Mauryn tidaklah menjadi sesosok wanita bar-bar dimata Ardan. Jantung Ardan berdetak dua kali lebih cepat saat itu juga.

 

Ardan kemudian memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Keana untuk menjadi kekasihnya. Mengenal Keana lebih baik lagi, membuat Ardan akhirnya tahu segala sisi positif mengenai Keana.

 

Hingga pada akhirnya perasaan keduanya sama besarnya. Diusia Keana yang menginjak 21 tahun, Ardan melamar Keana didepan kedua orang tua mereka. Keana yang memang benar-benar menyukai Ardan yang merupakan cinta pertamanya, tentu saja menerima lamaran Ardan.

 

Keana pikir, dirinya akan mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh dengan hal-hal romantis seperti yang biasa ia lihat pada drama-drama favoritnya. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

 

Dibanding tinggal dengan seorang suami, Keana lebih merasa seperti tinggal bersama ibu mertua. Ya, frekuensi Ardan mengomel jauh lebih banyak dibanding ibu mertua yang sesungguhnya.

 

"Mas, tidak bisakah kita membereskan kamarnya nanti saja?" Keana merengek kepada Ardan. Ia berjalan mendekati Ardan dan memeluk sang suami dari belakang.

 

Ardan menghela napas. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Keana sebelum kemudian mengacak-acak rambut Keana dengan gemas.

 

"Kamu tahu tidak? Saat ini kamu terlihat seperti singa betina. Kan aku selalu bilang padamu untuk menyisir rambutmu dan cuci muka terlebih dahulu ketika kamu bangun tidur. Jangan seperti ini. Kalau ada tamu di pagi hari bagaimana?" nasihat Ardan kepada Keana.

 

Keana mengerucutkan bibirnya. Ia memberikan sikutan diperut Ardan, membuat Ardan meringis kesakitan.

 

"Mas menyebalkan!! Mas berkata seperti itu karena malu memiliki istri seperti aku 'kan? Mas tidak benar-benar sayang padaku, ya?" Keana mulai merajuk, bertingkah selayaknya drama Queen.

 

Ardan memandangi Keana dengan tampang datarnya sebelum kembali menyibukkan dirinya dengan kegiatan memasaknya.

"Sana duduk dan tunggu aku selesai memasakkan sarapan untukmu. Jangan merajuk seperti itu. Berisik tahu," ucap Ardan sekenanya.

 

Keana menghentakkan kakinya, misuh-misuh sendirian sebelum kemudian duduk dengan patuh di ruang makan. Yah, meskipun ia masih memasang tampang merengut seolah ingin memakan Ardan hidup-hidup.

 

"Keana, setelah ini kamu temani aku belanja bulanan ya," ujar Ardan pada sang istri.

 

Keana mengerutkan keningnya. "Apa? Tidak mau ah! Aku lelah, Mas. Aku ingin tidur seharian," tolak Keana pada suaminya.

 

"Aku tidak terima penolakan. Kamu ikut belanja bulanan bersamaku. Titik," ucap Ardan, menutup percakapan diantara mereka.

 

Keana mengerucutkan bibirnya. Ia sebal pada sang suami yang selalu saja bertingkah bossy serta mengambil keputusan sendirian tanpa mengidahkan pendapat sang istri.

 

"Nah, sarapannya sudah jadi. Dihabiskan ya." Ardan meletakkan dua piring berisi sarapannya dan Keana diatas meja makan.

 

Keana melirik Ardan sejenak sebelum kemudian melahap sarapannya. Ia harus mengakui bahwa masakan sang suami memang tidak ada bandingannya. Ardan memang benar-benar cekatan dalam hal yang berhubungan dengan pekerjaan rumah tangga. Rasanya seperti memiliki seorang suami dan pembantu rumah tangga dalam satu waktu.

 

Iya. Pada awalnya, Keana memang menikmati sarapannya. Akan tetapi. Ia tiba-tiba saja berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya disana. Entah mengapa, Keana tiba-tiba merasa mual. Padahal, selama ini dia tidak pernah merasa mual ketika sedang sarapan.

 

"Keana? Kamu baik-baik saja?" Ardan menyusul sang istri. Ia memberikan pijatan lembut di tengkuk Keana.

 

Keana mengangguk singkat. "Aku merasa kurang fit hari ini," ucapnya dengan wajahnya yang tampak pucat.

 

"Sepertinya kamu masuk angin deh. Ac dikamar kita terlalu kencang, ya? Mungkin sebaiknya dimatikan saja," ucap Ardan yang masih memijati tengkuk sang istri.

 

Keana membulatkan kedua bola matanya seolah hendak mengatakan sesuatu. Namun, benak wanita itu yang dipenuhi oleh pemikiran tertentu membuat dirinya kemudian mengurungkan niatnya.

 

"Aku boleh istirahat di apartemen saja tidak? Aku lelah sekali dan badanku terasa lemas. Mas bisa belanja bulanan sendiri 'kan?"

 

Keana pikir, Ardan akan mengiyakan permintaannya. Namun, bukan Ardan namanya jika pemuda itu mau menuruti keinginan istrinya begitu saja. Ardan menggeleng pelan.

"Tidak bisa. Kamu harus ikut denganku. Tenang saja, kamu pasti akan segera sembuh kok. Kamu kan kuat."

 

Kalimat yang dilontarkan oleh Ardan membuat Keana merasa keki. Bahkan, disaat seperti ini pun, suaminya tidak begitu memperdulikan kondisi kesehatan sang istri.

 

"Jangan memasang tampang muram begitu. Belanja bulanan tidak akan membuat dirimu pingsan. Tenang saja." Ardan mencubit pipi Keana dengan gemas. Sementara Keana hanya mengangguk lesu tanpa berusaha membalas tanpa suaminya yang sedang menjadi penyebab suasana hatinya menjadi buruk.

 

Keana mencoba untuk mengerti Ardan yang sedikit galak dan senang mengomel. Ia juga mengerti Ardan yang perfeksionis. Namun, dirinya tidak mengerti Ardan yang tidak peka dan terkesan tidak peduli dengan sang istri. Terlebih lagi, ada alasan lainnya yang membuat Keana kini merasa sedikit kecewa terhadap sang suami.

 

Keana bersiap-siap untuk belanja bulanan bersama Ardan tanpa bersemangat sama sekali. Biasanya, ia akan senang mencatat barang dan bahan makanan apa saja yang ia butuhkan. Akan tetapi, untuk saat ini Keana sama sekali tidak tertarik melakukan hal tersebut. Gadis itu bahkan memutuskan untuk tidur di sepanjang jalan menuju supermarket tanpa mengidahkan Ardan yang menyetir di sebelahnya. Padahal, biasanya ia akan menyetel radio dan bernyanyi untuk sekedar menemani Ardan yang sedang menyetir.

 

"Keana, bangun. Kita sudah sampai."

Keana mengerjapkan kedua matanya, mendengar suara Ardan dan juga tepukan ringan dibahunya. Detik berikutnya, ia hanya mempu melongo kala Ardan membawa dirinya ke Rumah Sakit, bukannya supermarket.

"Ke ... kenapa kita ke sini?" tanya Keana pada Ardan.

 

"Karena kamu masuk angin. Sudah, cepat turun dari mobil." Ardan membuka sabuk pengaman Keana dan juga membukakan pintu untuk Keana.

 

Sementara Keana masih belum mengerti dengan jalan pikiran sang suami. Kalau memang hanya masuk angin, mengapa harus ke Rumah Sakit? Mengapa tidak ke Klinik saja?

Namun Keana semakin merasa heran kala Ardan membawa dirinya ke bagian ibu dan anak. Apalagi ketika ia melihat banyak sekali ibu hamil yang sedang menunggu giliran pemeriksaan di sana.

 

"Temanku adalah dokter di sini. Aku sudah membuat janji dengan dirinya. Dia sebenarnya dokter kandungan tapi dia juga menguasai ilmu kedokteran yang sifatnya general. Jadi, tidak masalah jika aku membawamu ke sini," terang Ardan pada Keana.

 

"Reza!!" Ardan membuka pintu ruang rawat dan mendapati seorang dokter yang sedang menulis laporan dimejanya.

 

"Reza! Apa kabar?" Ardan menjabat si dokter yang tampaknya memang dekat dengan dirinya.

 

Ardan kemudian menggandeng jemari Keana dan membawa istrinya kehadapan temannya.

"Ini istriku, Keana. Kau sudah pernah melihat dirinya kan di pesta pernikahan kami?"

 

Dokter yang bernama Reza itu mengangguk. "Iya, aku masih ingat wajah istrimu. Lalu, kenapa kamu membawa istrimu kemari?"

 

Jawaban yang diberikan oleh Ardan kepada Reza, sukses membuat Keana membeku di tempat.

"Istriku hamil dan aku ingin kau memeriksa kandungannya, memastikan bahwa janin yang berada di dalam kandungannya dalam kondisi yang baik-baik saja. "

 

Keana melirik Ardan. Darimana suaminya tahu bahwa dirinya tengah mengandung?

Ya, Keana memang tengah mengandung. Gadis itu tahu betul karena ia sendiri sudah mengecek dengan test pack dan pergi ke Klinik untuk memastikannya dengan dokter kandungan. Namun, Keana memutuskan untuk merahasiakan perihal kehamilannya dari Ardan karena ia takut.

 

Ardan tidak pernah tahu namun Keana yang dahulu sempat bertepuk sebelah tangan kepada Ardan membuat gadis itu hingga kini masih merasa takut jika sewaktu-waktu Ardan akan memilih untuk meninggalkan dirinya. Terkadang, Keana masih merasa bahwa perasaannya terhadap Ardan masih bertepuk sebelah tangan. Semua ini karena Ardan yang tidak pernah bersikap romantis.

 

Keana juga takut jika sesungguhnya Ardan ingin menunda momongan karena ingin fokus terhadap karirnya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan bagi Keana yang kemudian membuat dirinya memilih untuk bungkam perihal kehamilannya.

 

"Janin yang berada di dalam kandungan istrimu sangat sehat. Usianya sebentar lagi mencapai 1 bulan."

 

Ardan tersenyum memandangi layar yang menampakkan janin yang berada di dalam kandungan Keana. Ia masih tetap tersenyum selama berada di ruang pemeriksaan.

Namun, senyuman itu memudar kala dirinya dan Keana duduk berdua saja di dalam mobilnya.

 

"Mengapa kamu merahasiakan kondisi kehamilanmu dari diriku?"

Ardan pada akhirnya, membuka suara, menuntut penjelasan dari sang istri. Ia tahu perihal Keana yang sedang mengandung karena tidak sengaja menemukan test pack di tempat sampah. Lagipula, istrinya yang seringkali muntah di kamar mandi semakin menambah kecurigaan bagi dirinya

Keana menundukkan wajahnya. Entah mengapa, kedua matanya terasa panas. "A ... Aku takut kamu akan meninggalkan diriku. Aku sadar bahwa aku yang sudah memaksa kamu untuk menyukaiku. Aku takut jika perasaanku padamu masih bertepuk sebelah tangan dan kamu membenciku karena aku yang sedang hamil darah dagingmu ...."

 

Ardan menghela nafas. Perkataan Keana membuat dirinya tersadar bahwa ia belum benar-benar menjadi suami yang baik karena Keana masih meragukan perasaannya.

Ardan menangkup kedua pipi Keana, mengusap sudut mata Keana yang basah sebelum kemudian mengecup bibir sang istri dengan lembut. Ia kemudian merengkuh Keana ke dalam pelukannya, memeluk gadis itu dengan begitu erat.

 

"Keana, aku mencintaimu. Maaf jika selama ini aku tidak pernah bisa melakukan hal-hal yang sifatnya romantis untuk dirimu. Namun, ketahuilah bahwa perasaanmu padaku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku benar-benar mencintaimu. "

 

Ardan kemudian mengambil sebuah liontin cantik dari dalam saku celananya dan memasangkannya di leher sang istri. Ia tersenyum manis kepada Keana.

"Ini hadiah untukmu karena kamu sudah menjadi istri terbaik untukku dan juga menjadi calon ibu atas anakku. Aku mencintaimu, Keana. Selamanya, kamu akan selalu menjadi sumber bahagiaku. "

 

Sejurus kemudian Keana kembali pasrah kala Ardan memeluk dirinya untuk kedua kalinya.

Ah, Keana benar-benar mencintai suaminya yang super bawel ini.

 

Tamat.

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani