Profil instastories

Author yang masih harus banyak belajar.. ~Leci Seira 💞

Heart Stone

Meski kota ini bukan termasuk kota yang besar, tetapi teknologi di kota ini jauh melebihi kota-kota besar yang ada di dunia. Apapun bentuk barang elektronik yang kau inginkan, pasti bisa kau dapatkan di kota ini. Entah itu misalnya alat untuk mendeteksi perasaan cinta, alat yang bisa membuat tubuh transparan, sayap buatan untuk dipakai secara pribadi, rumah yang bisa dibawa kemana-mana, hingga alat teleportasi, semua ada di kota ini. Bahkan jika kau mengajukan sebuah usul untuk teknologi baru, maka para ilmuwan-ilmuwan terhebat disini akan langsung mewujudkannya.

Aku sendiri tak mengetahui darimana para ilmuwan-ilmuwan itu belajar membuat alat-alat yang begitu canggih seperti itu. Tetapi menurut buku yang aku baca, buku mengenai sejarah kota ini, semua kecanggihan yang ada disini dimulai sekitar lima ratus tahun yang lalu. Bukan waktu yang lama untuk ukuran sejarah sebuah kota. Tetapi untuk awal mula kecanggihan teknologi yang diluar batas nalar manusia, itu sungguh-sungguh waktu yang luar biasa lama bukan? Lima ratus tahun dengan kecanggihan yang luar biasa.

Menurut buku itu, dikatakan bahwa semua kecanggihan dan ilmu pengetahuan yang sekarang kami nikmati ini bermula dari jatuhnya batu aneh yang berbentuk mirip hati berwarna hijau army ke sebuah lapangan yang terletak di dekat pusat kota. Sekilas batu itu mirip dengan berlian karena memiliki kilauan yang indah. Namun ketika diteliti, batu itu sama sekali tak memiliki ciri-ciri sebagaimana batu berharga yang pernah ada di dunia. Karena bentuknya yang menyerupai hati, para ilmuwan menyebutnya dengan "Heart Stone". Mereka menduga bahwa kemungkinan Heart Stone dikirim oleh seseorang dari planet atau dimensi lain. Entah untuk urusan apa, tidak ada yang mengetahuinya.

Semenjak penemuan Heart Stone, kota ini perlahan mulai berubah. Kota yang awalnya dikenal karena kekeringan yang sering melanda hampir di setiap bulannya, perlahan mulai menghilang. Air dan bahan pangan melimpah ruah. Hasil panen pun selalu memuaskan. Para ilmuwan sendiri tidak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Namun mereka menduga bahwa ini adalah efek dari keberadaan Heart Stone. Mereka mengatakan bahwa Heart Stone memancarkan gelombang yang membuat air dan tumbuhan menjadi berlimpah. Entah gelombang apa. Mereka juga belum dapat memecahkannya hingga saat ini. Namun yang jelas, sejak itu, para ilmuwan mulai menggunakan kekuatan Heart Stone secara maksimal.

Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata gelombang yang dipancarkan Heart Stone bisa memberikan efek lebih dari sekadar menyuburkan tanaman dan melimpahkan air. Namun gelombang yang terpancar dari batu istimewa itu juga dapat membuat perkembangan otak sepuluh kali lebih cepat. Itulah sebabnya, ilmuwan-ilmuwan pada masa sekarang dapat membuat alat-alat yang bisa dibilang diluar batas nalar manusia biasa. Namun, semua keberhasilan yang sekarang kami rasakan tidak didapat dengan cara yang mudah dan sederhana. Karena cara kerja Heart Stone tidak sesederhana yang dibayangkan. Awalnya, para ilmuwan harus membuat percobaan berkali-kali. Bahkan ratusan kali untuk mengetahui cara agar bisa mengungkap kekuatan lain dari Heart Stone.

Segala cara telah dilakukan ilmuwan-ilmuwan itu. Namun hasil yang di dapat tetap saja nihil. Sampai-sampai beberapa ilmuwan mulai menyerah untuk menemukan caranya. Kota ini mempunyai air bersih dan bahan pangan yang melimpah saja sudah lebih dari cukup, pikir beberapa ilmuwan. Namun tetap saja ada beberapa ilmuwan yang tak ingin menyerah begitu saja. Bagi mereka, Heart Stone adalah anugerah yang turun dari langit. Yang dikirim untuk membuat kota ini lebih maju. Jadi, mereka harus menggunakannya sebaik mungkin.

Ternyata benar, bahwa setiap usaha yang keras akan mendapatkan hasil yang seimbang. Akhirnya salah seorang ilmuwan itu menemukan cara agar Heart Stone bisa memberikan kekuatan yang menjadikan otak bekerja sepuluh kali lipat lebih optimal. Caranya ternyata sangat sederhana. Namun tidak mudah. Yaitu dengan meletakkan kedua tangan di atas Heart Stone. Lalu memejamkan mata seraya mengharapkan bahwa kita dapat menciptakan teknologi yang sangat canggih dengan menggunakan kemampuan otak. Tentu saja hal ini harus dilakukan oleh seseorang dengan hati yang suci. Yang memintanya dengan tujuan kebaikan dan kemakmuran. Bukan untuk kepentingan pribadi. Itulah sebabnya, hingga kini hanya para ilmuwan saja yang dapat menggunakan kekuatan Heart Stone.

Sekarang aku baru mengetahui, mengapa batu itu diberi nama Heart Stone. Karena ia bekerja dengan cara mendeteksi kemurnian dan ketulusan niat dari hati para penggunanya. Lalu menyalurkan gelombang kebaikan kepada si pengguna. Sehingga apabila ada kebusukan sedikit saja dalam hati si pengguna, maka Heart Stone akan mengeluarkan sinar hijau yang menusuk yang dapat membuat pengguna tersebut tak sadarkan diri. Lalu ketika ia terbangun, ia sudah berada di dimensi lain dunia ini karena diasingkan oleh Dewan Kota melalui alat teleportasi dimensi lain yang diciptakan oleh para ilmuwan sekitar dua ratus tahun lalu. Hingga saat ini, sudah ada beberapa ilmuwan berhati busuk nan serakah yang dikirimkan kesana.

Hari ini, tiba-tiba saja terjadi pengajuan secara besar-besaran yang dilakukan oleh warga kota. Mereka meminta agar para ilmuwan membuat alat yang dapat menghidupkan kembali manusia. Sebelumnya, mereka pernah meminta agar dibuatkan alat yang dapat melihat masa depan. Katanya agar mereka bisa mencegah apabila ada bencana atau hal buruk yang akan terjadi di masa depan. Ajaibnya, para ilmuwan berhasil mewujudkannya. Alat itu berhasil dibuat hanya dalam waktu satu bulan saja. Benar-benar luar biasa efek yang diberikan Heart Stone untuk perkembangan otak para ilmuwan itu, pikirku. Sehingga mereka dapat membuat alat yang mustahil tercipta itu hanya dalam kurun waktu sesingkat itu. Namun hari ini, mereka meminta hal yang lebih gila lagi. Hal yang benar-benar mustahil. Alat yang dapat menghidupkan kembali manusia yang telah mati? Apakah benar-benar alat seperti itu bisa diciptakan? Mustahil. Benar-benar mustahil.

Tetapi seolah dengan adanya Heart Stone yang bisa membantu para ilmuwan menciptakan alat-alat yang luar biasa, para ilmuwan itu tidak ragu untuk mengatakan "Ya". Bahkan mereka berani menjamin bahwa pengerjaan proyek ini tak akan lebih dari satu tahun. Apakah benar-benar bisa? Menurutku hal ini tidak akan mungkin bisa terwujud. Meski kami memiliki Heart Stone sekalipun. Tetapi aku hanyalah seorang pemuda lusuh yang tak mengerti apa-apa soal ilmu dan teknologi. Jadi, sekeras apapun aku berpendapat, tidak akan ada yang mendengarkanku.

Hari-hari pun berlalu menjadi minggu. Minggu-minggu bergulir menjadi bulan. Dan bulan pun terus berganti. Saat ini sudah memasuki bulan ke sepuluh semenjak pengajuan yang dilakukan warga kota. Warga kota menanti dengan penuh harap. Sedangkan aku tak tahu apa yang tengah dilakukan oleh para ilmuwan dibalik laboratorium utama yang dipagari oleh tembok laser yang bisa mengambil nyawa siapa saja saat mencoba menerobos kedalamnya. Tak banyak pula warga kota yang mulai cemas menunggu hasil pembuatan alat tersebut. Pasalnya, banyak dari mereka yang keluarganya tengah sekarat. Dan berharap dengan alat itu, meskipun keluarga mereka mati, mereka masih dapat menghidupkannya kembali. Aku bukan salah satu dari mereka yang mengharapkan alat itu benar-benar tercipta. Tetapi aku sudah tak sabar melihat apa yang bisa diciptakan oleh para ilmuwan itu dengan mengandalkan batu yang muasalnya entah dari mana. Sehingga mereka menentang kehendak Tuhan.

Bagiku, Heart Stone itu adalah jawaban dari doa para leluhur kota ini yang sering mengalami kekeringan dan kekurangan pangan. Sehingga kemudian Tuhan mengirimkannya sebagai alat untuk memakmurkan kembali negeri ini. Itulah sebabnya Heart Stone bekerja dengan cara memancarkan gelombang kebaikan dari hati yang bersih yang dimiliki penggunanya. Namun entahlah. Itu masih dugaanku saja. Toh aku ini hanyalah manusia biasa. Bukan seorang sarjana, apalagi seorang ilmuwan. Tapi, jika saja pendapatku itu benar. Itu artinya ini benar-benar akhir dari dunia. Kota ini benar-benar melupakan Tuhan karena teknologi belaka. Padahal setiap hembusan napas mereka juga masih karena izin Tuhan.

Tiga hari kemudian, seluruh warga kota diminta berkumpul oleh Dewan Kota. Pasti hari ini mereka akan mempersembahkan ciptaan terbesar mereka sepanjang sejarah kehidupan manusia di bumi ini. Kota kecil kami akan segera dikenal sejarah karena telah berhasil menciptakan alat yang dapat menghidupkan kembali manusia. Sangat keren. Sekaligus mengerikan. Kemustahilan itu akan segera ditepis oleh para ilmuwan kota ini. Hari ini, mereka akan menunjukan hasil dari kerja keras mereka selama sepuluh bulan terakhir.

"Jadi, hari ini kami akan menguji coba alat ini dihadapan kalian semua. Alat ini bisa menghidupkan kembali manusia yang telah mati. Selama tubuh manusia itu masih utuh dan jasadnya belum melebihi lima hari setelah kematiannya."

Luar biasa, pikirku. Mereka mulai meletakkan jasad seorang pria tua diatas alat yang sekilas mirip dengan tempat tidur biasa. Hanya saja sepertinya alat itu terbuat dari besi yang bisa memancarkan sinar inframerah atau apapun itu dari permukaan tempat tidur yang terlihat seperti bintik berwarna hitam pada titik-titik tertentu. Aku jelas tidak begitu mengerti tentang hal ini. Namun ketika mereka mulai mengoperasikan alat itu. Sesuatu yang aneh terjadi. Alat itu bergoyang cukup kencang, meskipun bukan seperti itu mekanisme penggunaannya. Tak ada yang tahu mengapa hal ini terjadi. Bahkan para ilmuwan pencipta alat tersebut juga tak mengetahuinya. Setelah cukup lama bergoyang, alat itu berhenti. Namun yang terjadi tetap nihil. Jasad yang diletakkan di atas alat itu tak kembali hidup. Masih kaku dan beku, sama seperti beberapa menit yang lalu.

Semuanya terkejut. Termasuk para ilmuwan dan Dewan Kota. Terang saja, baru kali ini penemuan yang mereka ciptakan gagal total. Padahal mereka sudah bekerja keras dan meminta bantuan kekuatan Heart Stone. Namun sesuatu telah membuat penemuan itu tak berhasil seperti yang seharusnya.

Aku terkekeh. Ternyata benar dugaanku. "Apakah kalian tahu kenapa alat itu tidak bekerja? Itu karena kalian melawan kehendak Tuhan. Hidup dan mati hanya Tuhan yang berkuasa menentukannya. Karena Tuhan telah menganugerahi Heart Stone, kalian menjadi sombong dan menganggap bisa melakukan segalanya dengan batu itu. Kalian berusaha menjadi Tuhan. Itulah sebabnya kalian gagal." ucapku tak dapat lagi menahan segala kekesalanku yang telah lama terpendam dengan senyuman dan tatapan sinis pada mereka.

Semuanya terperangah mendengar ucapanku. Beberapa mata menatapku dengan marah dan tatapan ingin membunuh. Tak ubahnya para ilmuwan dan Dewan Kota yang merasa terhina. Dewan Kota memutuskan untuk mengusirku dari kota ini besok pagi. Baguslah. Akhirnya aku keluar dari segala penyimpangan yang selama ini membuat dadaku sesak. Para polisi yang ditugaskan untuk mengawal kepergianku bergegas menjalankan tugasnya. Bersamaan dengan dibubarkannya warga kota oleh Dewan Kota. Dewan Kota berjanji akan memperbaiki alat tersebut dan akan menguji cobanya kembali besok pagi. Meski dengan perasaan kecewa, warga kota masih berharap bahwa alat itu akan berhasil.

Keesokan paginya aku sudah dipaksa untuk meninggalkan kota. Bahkan matahari masih sayup-sayup menampakkan dirinya di ufuk timur. Dari berita yang aku dengar melalui polisi yang mengawalku, hari ini Dewan Kota dan para ilmuwan akan menggunakan kekuatan Heart Stone secara langsung di depan warga kota untuk pertama kalinya. Mereka berpikir bahwa ini akan membuat alat yang mereka ciptakan berhasil bekerja. Sebenarnya aku sangat ingin melihatnya. Ingin menyaksikan sendiri kegagalan mereka untuk kedua kalinya. Namun sebelum hal itu terjadi, aku sudah harus keluar dari kota ini jika tak ingin dilempar ke dimensi lain melalui alat teleportasi.

Matahari sudah memancarkan sinarnya ketika aku telah berjalan selama dua jam lebih. Mungkin kini semua warga kota telah berkumpul di lapangan kota. Menyaksikan secara langsung cara penggunaan Heart Stone yang selama ini selalu dirahasiakan dari khalayak. Aku menolehkan wajahku ke belakang. Memandang sayup kota itu untuk terakhir kalinya sembari tersenyum penuh misteri. Tak lama kemudian, suara ledakan yang amat dahsyat terdengar dari arah kota itu. Aku memejamkan mata sejenak. Kemudian melemparkan tersenyum sinis dan kembali melangkah.


 

~

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 8, 2020, 1:15 PM - Annisa mahmudah
Jul 6, 2020, 10:20 PM - Chocho_Yucho
Jul 3, 2020, 6:34 PM - Tjahjono widarmanto
Jul 3, 2020, 6:26 PM - Nnaga
Jul 3, 2020, 1:07 PM - Kristina Dai Laba
Jul 2, 2020, 2:25 PM - Mei Elisabet Sibarani