Profil instastories

HBD 18th

    Jujur, aku bingung jika harus mengawali apa-apa yang sudah lama berakhir. Namun jika kupikir kembali, bagaimana bisa berakhir jika sejengkal saja kita belum pernah benar-benar memulai? Baik, tak apa. Kali ini aku mengalah.

    Sekelebat pemikiran mengenai respon buruk pun kembali mengusik niat baik ini. Beberapa teman meyakinkan jika tidak ada salahnya mencoba, toh juga kita sudah saling mengenal sejak lama.

    Aku tersenyum, memang pernah sedekat itu dahulu, tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk kerenggangan seperti ini. Terlebih tidak ada dari kita yang mau untuk sekadar membuka percakapan, apa lagi merangkai obrolan sampai bersambung larut malam. Ku kira itu mustahil untuk keadaan sekarang.

    Canggung, pasti. Namun hari itu ku beranikan diri untuk mengetik beberapa kata sapaan di atas layar ponsel milikku. Lantas buru-buru menutupnya dan menonaktifkan data. Sungguh aku takut, kemungkinan yang paling kutakuti saat sapaan itu kau balas dengan tanya lagi [Siapa?]. Iya, itu bisa saja terjadi, kau lupa denganku.

    Sorenya kembali kubuka aplikasi chat pada ponsel. Ada tiga pesan yang kau kirimkan, tapi satu terhapus. Entah apa isinya, aku juga masih mengira-ngira. 

    [Kabarku baik.]

    [Maaf lama membalasnya,]

    Kau tidak menjawab sapaanku, tidak apa. Memang itu awalan yang sangat pasaran, maaf.

    Ku ketik lagi beberapa pesan di sana, bertanya alasan mengapa kau tidak pernah menyapaku duluan, apa tidak ada niatan? Atau mungkin memang sudah tidak ingat?

    Tak butuh dua menit pesan balasan kembali masuk. [Kau tau aku tak pandai membangun topik bahasan,] jawabmu. Aku tersenyum, aku juga tak pandai. Tapi setidaknya aku mencoba.

    Setelah itu kita berhenti cukup lama, sampai malamnya kau bertanya apa kepentinganku sampai-sampai bisa seberani itu untuk mengawali chat duluan. Ku kira ini termasuk sindiran, tapi entahlah. 

    [Tidak ada, hanya ingin tau kabar,] jawabku cepat. Kau langsung membacanya. Lalu mengetik balasan lagi [Oke, kuharap semua baik,] jawabmu. Aku mengamininya dalam hati sebelum berterus terang mengucapkan selamat ulang tahun yang ke tujuh belas. Entah kau mau berfikir bagaimana, aku hanya ingin mengucapkan itu sebenarnya.

    [Kau masih ingat? Terima kasih,]

    [Sebetulnya tidak pernah lupa sih, lebih ke susah mengutarakan,] balasku jujur.

    [Aku tahu, dari dulu memang seperti itu.] Kalimat terakhir darimu. Entah mengapa aku sudah tidak mau lagi membalas. Bukan tak ingin, tapi entahlah. Sesekali aku juga bingung dengan diriku sendiri.

    

Enjoyed this article? Stay informed by joining our newsletter!

Comments

You must be logged in to post a comment.

Stori terkait
Jul 2, 2020, 2:23 PM - Widi Purnamasari
Jul 1, 2020, 6:08 PM - Tika Sukmawati
Jul 1, 2020, 6:07 PM - Telaga_r
Jul 1, 2020, 5:47 PM - MARTHIN ROBERT SIHOTANG
Jul 1, 2020, 1:15 PM - INSPIRASI CERDAS